Kumpulan Khotbah

 

 

 

BAHAYA PERSEPSI YANG KELIRU

Bacaan: Kejadian 38:1-30

Yehuda berarti “Biarlah Dia, TUHAN, dipuji.” Keturunan Yehuda menghasilkan raja Daud, dan sampai ke Yesus Kristus, Tuhan. Kelahirannya menjadi kesukaan bagi ibunya (Kej. 29:35), memiliki nama yang harum, serta memiliki keturunan yang luar biasa sekalipun dalam perjalanan hidupnya ia jatuh juga dalam dosa.

Sebagai gereja Tuhan –hari-hari ini– apakah kita dapat terus mempertahankan iman percaya kita, seperti ketika kita lahir baru, tetap setia pada Tuhan sampai akhir?

Anak Yehuda yang pertama diberi nama Er (artinya: waspada), yang kedua, Onan (artinya: kuat), dan yang ketiga, Syela (artinya: permohonan). Nama mewakili karakter kita. Misalnya: Abram diganti menjadi Abraham (artinya: bapa segala bangsa, bapa orang beriman). Mengapa hal ini dapat terjadi? Sebab Abraham hidup dengan janji Tuhan, hidup dengan apa yang Tuhan berikan.

Cara pandang kita menentukan bagaimana respons kita. Cara pandang yang salah membuat Yehuda jatuh dalam dosa dimana ia meniduri menantunya sendiri.

Apa yang menyebabkan Yehuda dapat jatuh dalam dosa?

  1. Cara berpikir yang salah (ay.11, bd: Yoh. 12:3-6).

Seringkali cara pandang kita yang salah dikuasai oleh cara berpikir yang salah. Yehuda kuatir bahwa setelah kematian Er dan kemudian Onan, maka hal yang sama juga akan menimpa Syela. Karena itu Yehuda menyuruh Tamar untuk kembali ke rumah ayahnya. Di dalam Perjanjian Baru, Yudas memiliki persepsi yang salah mengenai apa yang dilakukan oleh Maria, yang dianggapnya sebagai suatu pemborosan. Cara berpikir yang keliru selain merusak diri sendiri juga merusak orang lain.

Roma 12:2, “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” Solusinya adalah dengan memperbaharui cara berpikir kita, yaitu dengan cara memenuhi pikiran kita hanya dengan Firman Tuhan.

Akibat dari adanya pemulihan (solusi): 1) Yes. 26:3 à ada damai sejahtera; 2) Efesus 4:23-24 à mampu hidup dalam kesucian; 3) III Yoh. 1:2 à kesehatan yang prima; 4) Yoh. 8:31-32 à bebas dari perbudakan.

  1. Nazar/janji yang tidak ditepati (Pengkhotbah 5:3-6)

Hal kedua yang membuat Yehuda jatuh dalam dosa adalah nazarnya kepada Tamar untuk memberikan Syela, anaknya, menjadi suaminya ketika dewasa. Tetapi ia tidak menepatinya. Kita, jemaat Tuhan pun sama. Apakah ada nazar kita, baik kepada Tuhan atau juga kepada saudara-saudara seiman kita, yang belum kita tepati? Nazar/janji tidak dapat dibayar dengan apapun kecuali dengan ditepati!

  1. Panas hati (Mazmur 37:8).

Penyebab kandasnya iman kita dapat disebabkan suasana hati. Untuk dapat terjadi pemulihan, miliki gaya hidup mengasihi dan mengampuni serta melupakan.

Apa akibat Yehuda jatuh dalam dosa?

Kejadian 38:18, ”Tanyanya: “Apakah tanggungan yang harus kuberikan kepadamu?” Jawab perempuan itu: “Cap meteraimu serta kalungmu dan tongkat yang ada di tanganmu itu.” Lalu diberikannyalah semuanya itu kepadanya, maka ia menghampirinya. Perempuan itu mengandung dari padanya.”

  1. Cap meterai, Efesus 4:30, “Dan janganlah kamu mendukakan Roh Kudus Allah, yang telah memeteraikan kamu menjelang hari penyelamatan.”

Ketika kita menerima Yesus sebagai satu-satunya Juruselamat hidup kita, maka keselamatan itu menjadi bagian kita dan kita dimeteraikan oleh Roh Kudus. Akan tetapi, kita menjual meterai tersebut, yang artinya kita menjual pribadi Tuhan sendiri.

  1. Kalung, Amsal 3:3, “Janganlah kiranya kasih dan setia meninggalkan engkau! Kalungkanlah itu pada lehermu, tuliskanlah itu pada loh hatimu,”

‘Leher’ berbicara mengenai hubungan. Kita menjual hubungan, yang adalah kasih dan setia kita dengan Tuhan. Dasar kita berhubungan bukan lagi atas dasar kasih dan setia, tetapi nafsu.

  1. Tongkat, Keluaran 4:2-3. Tongkat berbicara mengenai otoritas/kuasa/kepercayaan. Dan inipun dijual hanya karena nafsu (akibat memiliki pandangan yang salah).

Kejadian 38:27-30.

Tamar mengandung dan melahirkanlah 2 (dua) orang anak kembar, Peres (artinya: pelanggaran) dan Sera (artinya: matahari terbit).

Saat kita hendak memancarkan kehidupan seperti matahari terbit (Yesus), pasti kita akan mendapati pelanggaran-pelanggaran yang menghalangi. Ketika kita hendak memancarkan kehidupan Kerajaan Allah, maka akan muncul peres-peres yang akan menghambat bahkan menghalangi. Tetapi, jangan kuatir sebab ada “benang kirmizi” yang diikatkan pada tangan kita. Ada tanda Tuhan atas kita. Bersama Dia kita cakap menanggung segala sesuatu bahkan kita lebih dari pemenang! S E M A N G A T !!!

Amin.

Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu
(Filipi 4:8).

 

 

 

BUILDING KINGDOM GENERATION

 

FirmanTuhan: Kejadian 32:22-32

Allah kita adalah Allah yang memperhatikan generasi. Buktinya adalah Allah menyebut diriNya dengan sebutan Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub.

Kisah ini terjadi ketika Yakub telah berumur 97 tahun. Ia pertama kali bertemu dengan isterinya ketika berusia 77 tahun, kemudian bekerja pada Laban, mertuanya selama 20 tahun, dimana Alkitab mencatat gajinya sebanyak 10 kali diganti.

Yakub memiliki beberapa arti, yaitu:

- penangkap tumit; ketika Esau, kakaknya lahir tampak tumitnya dipegang oleh Yakub,

- perekayasa,

- penjegal, dan

- penipu.

Kejadian 32:22,”Pada malam itu …” Setiap kita pasti akan berada pada situasi ini, dimana setiap apapun yang kita lakukan akan kita pertanggungjawabkan. Yakub, 20 tahun sebelumnya. Ia menerima berkat dari ayahnya dan hak kesulungan kakaknya, dengan menipu.

Malam itu di tepi sungai Yabok, Yakub sendirian. Yabok berarti dikosongkan, dia akan mengosongkan atau bergulat.

Bagaimana kita memanifeskan Kerajaan Sorga di muka bumi? Dengan cara meminta intervensi dari kekuatan adikodrati di luar dunia untuk dapat menyelesaikan masalah yang ada di bumi ini, yaitu dengan berdoa (Kej. 32: 9-12). Maksudnya adalah bahwa Tuhan selalu mengosongkan seseorang sebelum memberkati dia (orang tersebut).

Pengalaman seperti ini tentu pernah kita alami, dimana hati, pengharapan, kepala, masa depan dan kepercayaan kita sepertinya kosong. Bukankah pada saat-saat seperti itulah orang baru berseru pada Tuhan? Perkataan ”lepaskanlah” dan ”bebaskanlah”, berasal dari ”Yahsya” akar kata dari ”Yeshua” atau ”Yesus”.

Pengertian doa tidak selamanya ”permohonan” tapi juga ”bergumul.” ”Lalu tinggallah Yakub seorang diri. Dan seorang laki-laki bergulat dengan dia sampai fajar menyingsing,” (ay. 24). Dikatakan seorang laki-laki bergumul dengan dia (Yakub); kata ”laki-laki” Memiliki 4 sebutan dengan arti yang berbeda, yaitu:

Ø Adam = manusia dibandingkan dengan El-Lohim (Tuhan).

Ø Ish = laki-laki (seorang isteri/pasangan laki-laki : isya atau perempuan/laki-laki yang punya kandungan);

Ø Enos = adalah pria yang tidak dewasa, kekanak-kanakan, dikuasai hawa nafsu,

Ø Geber = atau pria yang dewasa, satu kata dengan perbuatan, punya integritas dan warrior, dan pahlawan.

Kata bergumul/bergulat berbicara tentang respon manusia yang berlawanan dengan perintah Tuhan, sehingga mengakibatkan kita ”terpental” sebab tidak percaya dengan Sang Jurumudi atas kehidupan kita.

Banyak kita menjadi stres akibat bergulat dengan Tuhan!

Setelah Tuhan mengganti nama Yakub. Nama adalah karakter! Jika kita mau diberkati maka kita wajib menjadi ciptaan yang baru. Nama Yakub diubah menjadi ”Israel”, yang memiliki arti ”Prince with God.” Israel sendiri berasal dari kata ”Sara-El” atau bergumul dengan El (Tuhan).

Maksud Tuhan ketika menanyakan nama Yakub adalah pengakuan. Yang Tuhan perlu adalah pengakuan. Mengaku dengan jujur, sebab dengan jalan demikianlah kita dapat menyesuaikan diri dengan Tuhan; dan bukannya sebaliknya. Tuhan Yesus memberi contoh tepat dalam doanya di taman Getsemani (Mat. 26:39,42,44).

Kej. 32:28, ”Lalu kata orang itu: “Namamu tidak akan disebutkan lagi Yakub, tetapi Israel, sebab engkau telah bergumul melawan Allah dan manusia, dan engkau menang.” Kata ”menang” berarti juga unggul (bahasa asli ”Yakol”). Dan menang terhadap manusia di sini adalah manusia enos, berarti kita menang terhadap benci, dengki, amarah dan hawa nafsu (kedagingan) kita. Semuanya itu dapat terjadi bukan karena kuat dan gagah kita, tetapi Tuhanlah yang memberi kemenangan atas semuanya itu bagi kita.

Kemudian Yakub menamai tempat itu Pniel atau wajahNya Tuhan. Berdoa berarti membelai wajah Allah.

Pada akhir hidup Yakub (Kej. 47:7), di usia 130 tahun dengan kaki yang pincang ia bersama Yusuf menghadap Firaun dan memohonkan berkat untuk Firaun. Dalam bahasa Inggris, ”And Jacob blessed Pharaoh, …” Dalam Ibrani 7:7, ”Memang tidak dapat disangkal, bahwa yang lebih rendah diberkati oleh yang lebih tinggi.” Yakub tidak lagi meminta berkat tapi menjadi berkat dan memberkati raja paling besar pada jaman itu. Ini mengandung makna bahwa kita yang adalah perwakilan Tuhan di muka bumi dan yang juga memberkati raja-raja.

II Korintus 1:20 ”Sebab Kristus adalah “ya” bagi semua janji Allah. Itulah sebabnya oleh Dia kita mengatakan “Amin” untuk memuliakan Allah.”

Di dalam Kristus, semua janji Allah itu ”ya” dan respon kita adalah ”amin” untuk memuliakan Tuhan. Sebab ketika kita percaya akan setiap janji-janji Allah (amin) itu sama halnya dengan kita memuliakan Allah.

Amin!

Firman Tuhan: Lukas 15:11-32

Di gereja lokal ini, tahun 2007 adalah “Tahun Membangun”. Apa yang akan dibangun? Manusia Roh kita. Membangun bukan bicara soal yang tampak atau kelihatan dan menjadi besar, tetapi membangun juga berbicara ke dalam. Sebuah bangunan menjadi sempurna bukan karena model dan tampilannya yang indah, tapi memiliki pondasi yang kuat. Pohon yang kuat adalah pohon yang bertumbuh kedua arah, yang pertama bertumbuh ke bawah atau ke dalam: akarnya bertumbuh semakin dalam dan berhasil mengikatkan dirinya kepada batu besar. Yang kedua bertumbuh ke atas, ada batang pohonnya, daun-daunnya semakin rimbun. Inilah yang harusnya terjadi dalam kehidupan rohani kita. Kita bertumbuh ke bawah artinya semakin melekat, mengikatkan diri dengan batu karang itu, yaitu Tuhan Yesus. Yang kedua, bertumbuh ke atas, yaitu hasil kita melekat dan terikat dengan Yesus, maka kehidupan kita memberikan pengaruh yang benar sesuai firman Tuhan. Inilah yang dinamakan pertumbuhan rohani. Bertumbuh ke dalam bukan sebuah hal yang mudah, karena di dalamnya bertemu batu-batu kecil, tanah yang keras. Bertumbuh ke dalam membutuhkan keputusan dan keberanian untuk siap dibentuk, siap diarahkan dan mengikuti instruksi untuk sampai akhirnya melekat pada batu karang itu.

 

 

MEMBANGUN MANUSIA ROHANI

Lukas 15 :11-32

  1. Kehidupan Anak Bungsu.

Dikatakan bahwa si bungsu ini tinggal bersama-sama dengan ayahnya, dan tidak angin atau hujan, tiba-tiba si bungsu meminta haknya yaitu warisan, dan alkitab mencatat bahwa bapanya membagikan warisan. Kemudian si bungsu menjual warisan itu dan setelah itu pergi ke sebuah negeri yang jauh. Ia boroskan hartanya dengan berfoya-foya. Waktu habis semua hartanya, datanglah bencana. Untuk makan makanan babi saja, tidak ijinkan. Pertanyaannya mengapa ia meminta hak warisannya dan pergi ke negeri yang jauh ?

- Gagal mengenal isi hati bapanya.

Ia tinggal dirumah dan dekat bapanya tetapi tidak tahu isi hati bapanya, inilah akar mengapa ia meminta hak warisan dan meninggalkannya. “Menjadi dekat bukan berarti dapat hidup seenaknya dan menghilangkan aturan dan hukum. Saat ia melanggar semua aturan bapanya, ia menjadi tersesat dirumahnya sendiri. Ia menjadi tidak nyaman dan mulai melihat keluar, bahwa diluar rumah bapanya banyak hal yang menyenangkan hatinya.. Gagal mengenal isi hati bapa menyebabkan si bungsu melakukan apa yang diingini hatinya sendiri. Jika ada suatu peristiwa yang terjadi pada kita, maka pertanyaan pertama adalah “Ada apa dengan Saya?” Hari ini Tuhan mau kita mengenal isi hatiNya dan percaya bahwa Tuhan menyediakan yang terbaik

- Gagal mengenal apa yang menjadi kehendak bapanya.

Di rumah bapanya banyak orang yang bekerja. Mereka yang tinggal dirumah bapanya karena ada tanggung jawab, bukan karena suatu kedekatan yang berbeda. Kehendak Tuhan bukan berhenti pada tanggung jawab tapi memiliki kedekatan yang berbeda. Tuhan lebih tertarik pada apa yang ada dalam hati kita dari pada apa yang nampak keluar, karena yang di dalam adalah original, tidak dapat dipalsukan. Alasan apa pun yang membuat kita tidak dapat mengenal kehendak Bapa, tidak pernah membuat kita menjadi benar. Ketaatan kitalah membuat benar dihadapanNya.

Satu hal yang baik yang dapat kita contohi dari si bungsu dimana dia menyadari mengapa ditimpa masalah yang besar. Bagi kita yang telah melakukan sebuah kesalahan di masa lampau, mari datang dan selesaikan dengan Tuhan. ”Maka bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya. Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia,” (Luk 15:20).

Tidak hanya itu, dikenakan jubah (melambangkan ada penyediaan lagi dari Tuhan, kebesaran); cincin (melambangkan ada perjanjian/ikatan); dan sepatu (melambangkan kebebasan/kemerdekaan melakukan kehendak Bapa).

  1. Kehidupan Anak Sulung.

Pribadi yang kedua adalah gambaran seseorang yang dekat dengan bapanya tetapi tidak mengenal identitas pribadinya. Si Sulung melakukan pekerjaan yang menyenangkan untuk bapanya tetapi menjadi kecewa dan marah pada Bapanya karena melakukan rencana yang diluar pikirannya. Ia tidak menyadari bahwa ia adalah anak Bapa, Bapa yang memiliki semua yang ada dalam rumahnya. Sulung mempunyai motivasi yang tidak jauh berbeda dengan si bungsu. Ia melakukan semua pekerjaan untuk menyenangkan diri sendiri. Ubah paradigma kita, mari melayani dengan motivasi menyenangkan hati Tuhan tanpa melihat siapa yang diuntungkan sehingga dapat melakukan semua tanggung jawab dengan sebaik-baiknya. Untuk melakukan hal ini, kita perlu berjalan dalam hukum kasih kasih karunia yaitu menerima apa adanya tanpa memandang ke belakang. Ada 5 tanda hati yang masih belum pulih.

Ada 5 tanda hati yang belum pulih, yaitu:

  1. saat ada orang yang lebih baik, mulai suka menceritakan kesalahan sesama tapi tidak mau mengakui kelemahan sendiri;
  2. jiwa, pikiran, perasaan dan kehendak kita terganggu saat bertemu dengan orang yang pernah menyakiti kita atau hati kita menjadi pahit;
  3. hati berbicara berbeda dengan apa yang dikatakan mulut, selalu punya alasan untuk membela diri sekalipun ditemukan kesalahannya, cenderung berbohong;
  4. sulit mengampuni/meminta maaf dengan tulus (tulus = melupakan, tidak mengingat atau membicarakan lagi);
  5. suka menyendiri karena takut terluka (trauma).

Jika kita tidak memiliki kedekatan yang berbeda dengan Bapa di Surga, maka apa yang pernah terjadi dalam hidup ini akan terulang kembali. Miliki kedekatan yang berbeda dengan Bapa Di Sorga.

Orang yang mengalami anugerah dan kebaikan Tuhan adalah orang lebih mudah mengoreksi dirinya sendiri daripada mengoreksi orang lain. Amin!

 

 

“TEGAR MENGHADAPI BADAI”

 

Dalam kehidupan kekristenan, kita mempunyai tujuan hidup yaitu menyatakan “Kerajaan Allah.” Seringkali dalam kehidupan ini yang dicari manusia ialah kehidupan yang tanpa beban (masalah, sakit, kegagalan, dan lainnya). Tetapi semuanya itu pasti terjadi dan seringkali kita merasa sulit menghadapinya. Dosalah yang menjadi penyebabnya. Dosa yang ada dalam hidup manusia yang membuatnya hancur. Cara kerja dosa perlahan tetapi menghancurkan dan membuat kita tidak dapat hidup dalam janji Allah! Kita hidup dalam dunia ini dengan janji-janji Allah. Manusia tidak bisa mengeluarkan diri sendiri dari dosa, tapi kita membutuhkan satu pribadi yaitu Yesus Kristus; yang telah menanggung dosa kita di kayu salib (ini adalah suatu hal yang absolut). Dia Tuhan dan hanya Dia yang sanggup menarik kita keluar dari dosa-dosa kita. Untuk dapat keluar dari dosa kita tidak punya jalan yang lain, selain datang pada Yesus dan minta pengampunan. Karenanya kita perlu datang pada-Nya, meminta ampun dan bertobat.

Sebagai orang percaya, kehidupan rohani kita tidak hanya sampai pada batas itu saja. Ada sebuah perjalanan yang harus kita lewati, untuk dapat mengalami pertumbuhan kehidupan rohani yang sesungguhnya; yaitu dengan berjalan dan percaya dengan Yesus dan bukan berdiam diri. Kekristenan yang normal adalah berjalan dengan-Nya (kehidupan rohani yang sesungguhnya baru dimulai) tujuannya menyatakan Kerajaan Allah di muka bumi (di tengah-tengah kehidupan kita, seperti keluarga dan bisnis), yang dilakukan bukan berdasarkan pengalaman, cara kita sendiri atau pelayanan tetapi bersama dengan Yesus.

Pastikan hari ini, Anda berjalan bersama dengan Yesus.

 

 

APA ARTI KEHIDUPAN ROHANI?

Dalam Kisah 27:1-25, ini adalah gambaran kehidupan kita sendiri, yang seperti kapal di tengah lautan. Kita seringkali mengikuti jalan yang di depan tanpa mengerti jalan Tuhan hanya untuk mencapai tujuan kita. Kita memerlukan satu tangan yang kuat, yang tidak lain dari pribadi Roh Kudus sendiri, yang mengetahui jalan-jalan mana yang harus kita tempuh di depan kita.

1. Hidup adalah sebuah perjalanan (ayat 1-3).

Ketika kita percaya perkataan dan hati kita dengan Yesus dan hidup kita seharusnya tertawan hanya oleh Firman Tuhan (tidak punya kuasa apapun juga). Waktu kita memulai kehidupan ini kita seringkali hanya mengandalkan kekuatan, pengalaman, pikiran, pengetahuan kita sendiri (yang bukan dikehendaki oleh Yesus, sebab yang dikehendaki olah Yesus ialah berdasarkan FirmanNya); karena itu kita mulai tergoncangkan (goyah) pada saat badai/masalah itu datang dan akhirnya kapal kita kandas dan mulai tenggelam. Kita seringkali mencoba mengendalikan (menyelesaikan masalah) sendiri, kita berkata, “Saya bisa!” Yesus hanya menjadi jurumudi cadangan. Tapi saat badai besar (kesulitan) itu datang, akhirnya kita meminta tolong padaNya karena kita merasa sudah tak sanggup lagi yang dari awal kita mengandalkan kekuatan sendiri atau tidak mengandalkan Tuhan.

Yang dikehendaki Yesus adalah “kapal” yang dibangun atas dasar firman Tuhan.

Dalam Roma 1:16, Injil adalah kekuatan daripada Allah sendiri, yaitu menyatu dengan firmanNya. Tujuan hidup ini adalah mencapai Kerajaan Allah. Yesus tidak suka berdiam diri dalam hidup kita tapi Dia mau membuat kita mengalami hal yang luar biasa yaitu menjadi sukses dan diberkati di dunia ini dan di surga nanti. Kehidupan surga dapat nyata dalam hidup ini, ya Kerajaan Sorga bias ada di tengah-tengah kita.

Ketika Kerajaan Sorga itu nyata dalam kehidupan kita, ini sama seperti yang Yesus doakan sendiri dalam doa Bapa Kami, meminta agar Kerajaan Allah turun (… Datanglah KerajaanMu, jadilah kehendakMu di bumi seperti di surga …). Ini berarti, yang menjadi kerinduan Yesus adalah, agar setiap kita, mendatangkan Kerajaan Allah di muka bumi ini.

2. Hidup adalah sebuah ujian (ayat 13-15)

Memulai kehidupan ini dengan iman dan kepercayaan kepada Yesus, tapi iman dan kepercayaan itu akan diuji (kita tidak mengerti dan tahu kapan datangnya). Badai datang dalam kehidupan kita untuk menggoncangkan atau menggoyahkan kita ini adalah proses yang sifatnya pribadi. Tujuannya untuk menyerahkan hati kita kepadaNya. Tapi pertanyaannya, “Apakah iman dan kepercayaan pada Tuhan masih ada dalam hidup kita?” Ujian boleh datang dan membuat kita gelisah tetapi setiap ujian itu Tuhan telah menyiapkan lembar jawabannya yaitu firmanNya. Semua yang kita hadapi ada di dalam firmanNya maka apapun yang terjadi “back to the bible.”

Dalam ujian itu ada hal yang tidak mengenakkan datang,

~ Kita akan merasa sendirian ketika ujian itu datang pada saat kita diproses, tetapi kita harus mengerti bahwa dalam kita tidak pernah sendirian karena ada sobat yang senantiasa menemani kita.

~ Kita akan merasa bahwa ujian ini terlalu berat (pikiran dan perkataan kita), tetapi Tuhan berkata semuanya itu tidak melebihi kekuatan kita!

3. Hidup adalah sebuah kebersamaan (ayat 16-20).

Ciri dari Kerajaan Allah ada kesatuan dan kebersamaan di dalamnya. Kerajaan Allah bertentangan dengan kerajaan kegalapan. Sebab dalam kerajaan kegelapan menaruh pemberontakan dalamnya. Di dalam Kerajaan Allah kita mempunya otoritas untuk mengalahkan kerajaan kegelapan. Iblis yang membuat kita keluar dari Kerajaan Allah yang membuat tidak adanya otoritas dalam hidup kita untuk mengalahkan kerajaan kegelapan.

Akibat kita keluar dari Kerajaan Allah:

1. Kita akan kehilangan identitas warga Kerajaan Allah.

2. Kita akan kehilangan otoritas rohani dari Kerajaan Allah

3. Kita akan kehilangan perlindungan dari Kerajaan Allah

4. Kita akan kehilangan perjanjian dengan Kerajaan Allah

Kuasa dalam nama Yesus hanya ada dalam Kerajaan Allah dan saat kita menghadapi persoalan pastikan kita masih ada dalam Kerajaan Allah.

4. Hidup adalah sebuah kemenangan (ayat 22-25)

Ketakutan adalah keyakinan hidup pada ketidakpercayaan dalam petikan buku ”Ketika Surga menyerbu Bumi”. Diam dan tinggal dalam Kerajaan Allah, yaitu datang, menyembah, dan berdoa maka Tuhan akan menurunkan malaikatnya dan membawa pesan Kerajaan Allah yaitu damai sejahtera, keselamatan dan sukacita dalam dunia yang menyukakan hati manusia.

Itu karena iman dalam Allah. Ketakutan dan iman tidak dapat berjalan bersama-sama sebab mereka saling mengintimidasi. Dimana ada ketakutan maka iman akan hilang atau semakin kecil; dan sebaliknya apabila iman ada maka ketakutan akan hilang.

Pesan apakah yang akan kita sampaikan pada dunia ini? Pesan Kerajaan Allah yang menyukakan hati manusia dengan tetap tinggal dalam KerajaanNya.

 

 

 

”MENGALAMI PESTA RAJA SETIAP SAAT”

 

(Kingdom Party)

Berbicara tentang pesta, yang kita tahu pasti tentang pesta di dunia ini terbatas, tetapi ”pesta raja” itu tidak terbatas. Ini dimungkinkan karena adanya Kingdom Suplai. Adapun tujuan pertama Allah menciptakan manusia, adalah :

- agar manusia menikmati Kingdom authoriry dan Kingdom power.

- Kita tidak diciptakan untuk jadi hamba, tapi untuk dijadikan keluarga (family).

Yohanes 2:1-11

Ini berbicara tentang family. Berbicara tentang family berarti berbicara tentang dua pribadi yang dipersatukan (pria dan wanita). Jadi, untuk dapat mengalami pesta dalam keluarga kita, harus dimulai dari kesadaran yang dimulai dari pribadi terlebih dahulu. (Sebab pribadi yang sehat akan melahirkan keluarga yang sehat pula. Dan keluarga yang sehat akan melahirkan gereja yang sehat. Gereja yang sehat akan melahirkan kota yang sehat pula. Akhirnya, kota yang sehat akan melahirkan bangsa/negara yang sehat pastinya.) ini tidak lain dari transformasi itu sendiri, akibat mengalami pesta raja. Contoh : orang yang terikat kuasa gelap, mengalami kelepasan (deliverence); atau orang yang mengalami sakit, ketika mengalami pesta raja, akan mengalami mukjizat kesembuhan dalam dirinya.

Untuk dapat terus menikmati pesta (tidak mengalami kekeringan/kehabisan ”anggur”) itu, adalah :

  1. Ayat 2 à Yesus harus terlibat dalam segala perkara dan kita melakukan apa bagian kita.

Dalam setiap aspek kehidupan kita, pastikan libatkan Yesus di situ (entah itu ketika kita makan, berbicara, bekerja, berbisnis, dalam keluarga; semuanya libatkan Yesus). Dengan melibatkan Yesus berarti kita sadar Dia benar-benar ada dan dalam kesadaran akan keberadaanNya, kita tidak mungkin membiarkan Yesus seorang diri saja, tapi kita akan berdialog (ada komunikasi/hubungan terbangun à ini yang disebut Kingdom Connection.) dialog di sini bukan merujuk pada doa yang panjang-panjang dengan tata bahasa yang baik semata, tapi lebih ke doa yang penuh kuasa.

  1. Ayat 3 dan 5 à Jangan kita sombong!

Untuk dapat terus menikmati pesta, apapun kelebihan/kepintaran/talenta dan harta (uang); jangan membuat kita sombong. Ketika kita mulai sombong dengan kepintaran, uang, karunia atau bahkan khotbah kita, bisa dipastikan kita tidak akan mengalami pesta raja setiap saat. Sebab, kita tidak bisa membuat pesta raja dengan kekuatan/kemampuan kita, satu waktu kita pasti jatuh dan mengalami kekeringan/kehabisan ”anggur” itu. Setiap kita pasti membutuhkan orang lain. Mari, bawa hati kita melekat saja pada Tuhan, jangan sombong. Orang sombong, tidak percaya akan firman Tuhan. SEBAB ORANG YANG SOMBONG, SUATU WAKTU PASTI TERHEMPAS!

Apapun yang Tuhan percayakan kepada kita (baik itu kepintaran, harta/uang dan talenta) semuanya itu ada waktunya, jangan kita sombong. Tunggu waktuNya Tuhan.

  1. Ayat 6 dan 7 à Merendahkan hati kita, melayani kekotoran orang lain, bukannya menceritakan kesalahan orang/menggosipkan/menghakimi.

Setiap kita, manusia, pasti memiliki apa yang disebut dengan ”kelemahan.” Dan untuk tetap dapat menikmati pesta raja itu, kita harus melayani kekotoran orang lain. Teladan ini juga telah Tuhan Yesus berikan bagi kita, bahkan saat Dia berada di kayu salib. Salah satu dari 2 orang penyamun yang juga turut di salib (yang berada di samping kiri dan kanan Yesus), berkata ”Yesus, ingatlah akan aku, ketika engkau berada di Firdaus.” Yesus yang juga tersalib itu bisa saja tidak mengindahkan permintaan itu, tapi di sini Dia memberikan teladan dengan mengatakan, ”Hari ini juga engkau bersama-sama Aku di dalam Firdaus.”

  1. Ayat 8 dan 9 à Ujian penyerahan kita.

Untuk tetap dapat mengalami pesta raja itu tidaklah gampang, tapi hari ini Tuhan beri kita petunjuk, yaitu dengan adanya penyerahan hidup yang total padaNya. Penyerahan hidup secara total adalah sudah tidakada keraguan sama sekali terhadap apapun yang Tuhan katakan, itu pasti jadi, walau terkadang itu sepertinya tidak masuk di akal pikiran kita. Percaya saja. Only believe!

Itu yang tertulis dalam Ibrani 11:1, Iman. Ya, dengan iman kita dapat percaya pada apapun yang Tuhan bilang. Selama hati kita murni, Tuhan pasti percayakan hal-hal yang besar buat kita.

  1. Ayat 10 dan 11 à Hasil yang dari Tuhan pasti yang terbaik (the best).

Pesta raja itu pasti akan menjadi bagian setiap kita, yang mengasihiNya. Pada waktunya, ”anggur” yang terbaik itu akan disajikan kepada pemimpin pesta dan orang akan mengatakan ibi bukan suatu kebiasaan, dimana biasanya orang menghidangkan anggur yang baik dan sesudah orang puas minum, barulah anggur yang kurang baik, tapi kita menghidangkan anggur yang terbaik belakangan. Dimana anggur yang terbaik itu berbicara tentang adanya kesukaan Tuhan yang terpancar dari hidup kita, yang termanifestasikan lewat buah roh, seperti kasih, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan dan pengendalian diri).

Dengan memastikan Yesus terlibat dalam segala yang kita perbuat dan melakukan apapun yang menjadi bagian kita; bertanggung jawab dengan segala yang Tuhan percayakan bagi kita/tidak sombong; mau melayani kekotoran orang lain dengan merendahkan hati, dan juga ujian penyerahan kita, akhirnya pasti akan ada hasil yang the best dari Tuhan.

Hari ini, kita bertekad untuk tetap dapat menikmati pesta raja itu setiap saat. Itu yang Tuhan mau. Amin!

 

“PERKENANAN TUHAN”

 

Bacaan Firman Tuhan : Amsal 22:1

Dalam kehidupan kita, ada beberapa peristiwa yang membuat kita menjadi bingung dan kita tidak mengerti. Tetapi semuanya itu untuk menunjukkan kepada kita pentingnya bergantung sepenuhnya pada Tuhan. Sebab hanya Dia-lah TUHAN, yang mengerti segala sesuatu. Kita wajib bergantung dan berserah padaNya, dan bukannya menjadi orang yang sok tahu.

Keinginan setiap manusia adalah memiliki nama baik dan dikasihi orang lain. Tapi tahukah Saudara, bahwa kedua hal di atas hanya dapat memuaskan jiwa saja? Sebab ketika orang-orang di sekitar mulai tidak mengasihi dan mengusik nama baik kita, maka mulai timbul perasaan marah, jengkel, dan lain sebagainya.

Amsal 22:1, ”Nama baik lebih berharga daripada kekayaan besar, dikasihi orang lebih baik dari pada perak dan emas.” Tetapi ada hal yang lebih baik dari kedua hal tersebut, yaitu mendapat ”perkenanan Tuhan”. Hanya yang dikenan Tuhan yang memiliki nama baik dan dikasihi Tuhan dan sesama. Satu hal yang pasti, tanpa perkenanan Tuhan semua yang kita kerjakan akan menjadi sia-sia.

Ester 4:15-17; 5:1-2

Tuhan mempunyai rencana dalam kehidupan pertobatan setiap kita. Dari bacaan di atas, kita mendapati bahwa Ester diangkat menjadi ratu untuk menyelamatkan bangsa Yahudi dari nafsu jahat Haman. Begitu juga dengan kita, Tuhan mempunyai rencana besar atas kehidupan kita, yaitu untuk menyelamatkan bangsa kita. Hari ini, Saudara mungkin baru pertama kali datang beribadah, tapi mungkin ini adalah waktu dimana Tuhan mau memulihkan kehidupan Saudara dan menjadi berkat bagi orang lain. Ada maksud Allah dalam setiap situasi dan kondisi yang terjadi di kehidupan kita.

Sama halnya dengan Ester yang datang menyentuh ”tongkat emas” raja itu, begitu juga setiap kita ketika mendapat perkenanan Allah, Raja di atas segala raja. Tongkat emas berbicara tentang anugerah, kuasa dan kasih sayang Tuhan bagi kita. Sebab tongkat emas itu hanya diberikan kepada orang-orang yang mendapat perkenanan raja. Yang harus kita lakukan adalah datang ke tahta kasih karunia dan menyentuh ujung ”tongkat emas” itu.

Inti dari puasa Ester adalah mendapat perkenanan raja, bukan semata untuk keselamatan bangsa Yahudi. Demikian juga fokus kita ketika datang beribadah adalah mendapat perkenanan Tuhan dan bukan sekedar mencari berkat.

Empat hal untuk mendapat perkenanan Tuhan dalam Nehemia 20:39-44, yaitu :

  1. Ayat 39: nilai sebuah ibadah

Hal pertama yang membuat kita tidak mendapat perkenanan Tuhan adalah kita masih ”menyembah berhala.” Berhala masa dulu adalah batu dan pohon, tapi berhala masa kini adalah siaran televisi, uang, suami/istri, keluarga, dan hal-hal lain yang kita sukai lebih dari pada Tuhan. Untuk mendapat perkenanan Tuhan, kita harus mengerti esensi sebuah ibadah, sebab ibadah seharusnya merupakan sesuatu yang membuat kita bergairah (exciting).

1 Timotius 3:16, Ada sebuah rahasia agung di dalam ibadah. Banyak kita tidak menyadarinya karena kita tidak beribadah dengan sungguh-sungguh (sekedar memanaskan kursi raja). Kolose 1:27, Kristus ada di dalam kita, artinya kita ada di dalam Dia dan Dia ada dalam kita. I Timotius 4:8, ibadah berguna dalam segala hal karena ibadah mengandung janji, tergantung sikap hati kita dalam ibadah. Ibadah yang benar dan mendapatkan perkenanan raja (Yehezkiel 20:40). Jika kita hidup dalam kebenaran tapi semuanya berjalan lambat, jangan coba memaksa mempercepat waktunya. Mungkin kita sedang menjalani proses mengandung menurut waktunya Tuhan. Ibrani 10:25, jangan kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita.

  1. Ayat 42: Mengerti tujuan Tuhan dalam hidup kita

Selama kita mendapat perkenanan Tuhan, maka Tuhan akan membawa kita dalam janjiNya sehingga kita tetap berjalan denganNya menuju ke tanah perjanjian. Tuhan akan memimpin kita ke negeri yang dijanjikan. .

  1. Ayat 43: Ingat siapa kita sebenarnya

Jangan sombong ketika kita mendapat janji Tuhan. Orang yang sombong/angkuh, tidak mendapat tempat dalam hadirat Tuhan. Tetapi orang yang rendah hati, yaitu orang yang menjauhi dosa dan senantiasa mengucapkan syukur atas segala hal yang diberikan, akan mendapat perkenanan Tuhan, Raja di atas segala raja.

  1. Ayat 44. Tunggu waktu Tuhan, jangan mendahului Tuhan

Kita harus mengerti waktu Tuhan dalam hidup kita, sebab waktu Tuhan yang menentukan segalanya. Segala rencana kita dapat terealisasikan bila bertepatan dengan waktu Tuhan. Yang harus kita lakukan adalah menunggu waktu-Nya. Ketika masalah/problem menghadang, ikuti tuntunan Tuhan, sebab Dia-lah yang menentukan masa dan waktu. Tuntunan Tuhan itu nyata! Juga jangan menilai orang lain menurut cara pandang kita, tapi gunakan cara pandang Tuhan.

Marilah kita datang dengan penuh keberanian untuk menyentuh ujung tongkat emas dari Raja di atas segala raja, untuk mendapatkan perkenanan Tuhan. Amin.

”Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri tahta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya,”
(Ibrani 4:16)

Kehidupan Gereja Yang Membawa Pengaruh

Berbeda adalah ada sesuatu yang lain dari yang diketahui seseorang (sesuatu yang menarik, yang membuat bergairah atau yang merubah kehidupan).

Eklesia berarti membawa orang dari gelap kepada terang-Nya yang ajaib. Kita harus kembali kepada gereja yang sebenarnya, yaitu gereja yang berdampak, menjadi terang dunia dan menjadi saksi bahwa Yesus adalah Tuhan. Kehidupan kesaksian ini seharusnya ada di dalam gereja. Itu baru dinamakan gereja yang berdampak (memiliki pengaruh).

Jadi, siapakah gereja itu? Gereja bukan hanya hamba Tuhan/pendeta atau fulltimer, atau yang sudah terlibat pelayanan. Gereja adalah setiap orang yang percaya pada Yesus. Oleh karena kita adalah gereja itu, maka kita wajib menampakkan esensi gereja yang sesungguhnya, yaitu menjadi saksi (membagi pengalaman), mengalami kuasa dan mukjizat Tuhan. Kita menjadi gereja bukan karena kita memiliki harta/kekayaan, tapi karena ada harga untuk sebuah kehidupan, ada darah yang dicurahkan untuk kita, yaitu Yesus yang mati untuk kita.

Saat ini dunia sedang menantikan adanya bukti perbedaan dari kehidupan orang percaya, mulai dari etos kerja, perkataan, dan kehidupan kita. Seperti halnya yang terjadi dalam Yohanes 4:39, banyak orang di kota itu yang menjadi percaya bukan oleh Yesus tapi oleh perkataan dan kesaksian seorang perempuan Samaria.

Kita harus menjadi gereja yang berbeda yang memberkati banyak orang lewat kehidupan kesaksian kita (Kis. 2:41-47), bukannya menjadi seperti dalam Kejadian 11:4, dimana kita hanya untuk mencari nama/kedudukan/posisi/jabatan. Sama halnya dengan Babel, ketika kita mulai mencari nama maka Tuhan akan ijinkan kekacauan, yang berakibat terjadinya kesalahpahaman satu dengan yang lain. Hari ini, kita datang pada Tuhan bukan untuk mencari nama tapi untuk memuliakan nama Tuhan di atas segala-galanya.

Ketika kita percaya kepada Yesus, ada 3 tanda pertobatan dari Kisah 2:41-47 ini:

1. Mau menerima pengajaran

ROCK Ministry merupakan gereja misi, tapi sebelum menjadi gereja misi kita harus mau untuk dimuridkan (menjadi murid) terlebih dahulu. Di dalam pemuridan ada pengajaran. Pengajaran dalam bahasa aslinya adalah Didakkai, berarti: mau menerima setiap ajaran/instruksi. Matius 28:19, Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus.” Jadi, kita harus mengajarkan semua kebenaran Firman Tuhan. Tetapi sebelum itu, kita dulu yang harus mau menerima ajaran Yesus tersebut 100%. Kekristenan bukan teori, tapi kekristenan merupakan praktek kehidupan!

Murid dalam bahasa Yunani adalah Matetes, artinya seseorang yang mau menerima instruksi dan melakukannnya.

Yesaya 54:13, “Semua anakmu akan menjadi murid TUHAN, dan besarlah kesejahteraan mereka.” Ada bukti yang dihasilkan ketika menjadi murid, yaitu kesejahteraan. Arti kesejahteraan adalah kehidupan yang menjadi lebih baik dari sebelumnya.

2. Hidup dalam persekutuan

Persekutuan dalam bahasa aslinya koinonia, artinya saling berhubungan satu dengan yang lain. Koinonia di sini berarti hubungan (fellowship) yang tidak hanya antar sesama manusia tapi juga dengan Tuhan. Kita tidak bisa mengabaikan salah satunya, seperti hanya membangun hubungan dengan Tuhan dan tidak dengan manusia. Ini membuat kita (gereja Tuhan) menjadi eksklusif, sehingga fungsi murid untuk menyatakan kehidupan yang bersaksi itu tidak nampak. Tidak ada jiwa-jiwa yang dibawa kepada Tuhan akibat pertobatan kita. Begitu juga sebaliknya. Jika kita hanya mengutamakan hubungan dengan sesama, maka ketika terjadi gesekan (ada masalah) kita akan menjadi sakit. Akhirnya yang ditonjolkan adalah perbuatan baik, bukan anugerah.

Kita berbuat baik bukan karena kekuatan kemampuan kita, tapi karena kita hidup dalam anugerah-Nya. Alkitab menulis, perbuatan baik kita itu seperti kain kotor, jadi jangan ada orang yang bangga dengannya. Kita dapat melakukan perbuatan baik karena Tuhan yang memampukan kita untuk melakukannya. Tuhan yang memberi kemampuan itu dalam kita.

3. Berkumpul di dalam bait Allah

Dalam PL, Tuhan tinggal dalam bait Allah buatan tangan manusia. Itu dapat kita lihat dengan adanya bait Allah yang dibangun Salomo. Tapi dalam PB, Allah mau tinggal dalam bait buatan tangan-Nya sendiri yaitu tubuh kita. Kita menjadi bait-Nya ketika kita percaya pada-Nya. I Korintus 6:19-20, “Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, — dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri? Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!”

Sekarang kita mengerti bahwa Tuhan tinggal (berdiam) di dalam kita. Dan ketika Tuhan tinggal di dalam kita ada beberapa hal yang harus tampak, yaitu:

a. Kekudusan:

Ketika kita mengijinkan Tuhan masuk dan menguasai kita maka hal pertama yang Tuhan lakukan adalah membersihkan seluruh isi hati kita dan mengubahkan pola pikir kita. Misalnya: yang dulunya iri, kikir, pendendam dan kepahitan, sekarang penuh dengan kasih, pemurah, mudah mengampuni. Semuanya dapat terjadi sebab ada Yesus dalam kita.

b. Doa:

Artinya kita membawa segala sesuatu dalam doa dan minta keputusan Tuhan. Kehidupan doa ini nyata terlihat bukan pada saat kita berdoa, tapi setelah kita selesai berdoa (ada dampak). Kita yang suka berhubungan intim dengan Bapa yang baik, murah hati, lembut dan penuh damai, seharusnya menampakkan juga kemurahan hati, kebaikan, perkataan yang lemah lembut dan memberkati setelah berdoa. Ada perubahan karakter yang nyata.

c. Keyakinan akan kuasa Allah:

Mempunyai keyakinan bahwa Yesus dengan seluruh pribadi-Nya tinggal dalam kita, artinya tidak ada lagi alasan yang membuat kita ragu terhadap pribadi Yesus. Ketika kita percaya bahwa dalam diri kita ada kuasa Tuhan, kita tidak akan ragu terhadap apapun rencana Tuhan bagi kita. Yang membuat ragu justru karena kita belum yakin akan keberadaan Tuhan dalam hati kita.

d. Pujian dan penyembahan:

Artinya setiap saat memuliakan Tuhan. Tanda orang yang hidup dalam pujian dan penyembahan adalah dari mulutrnya keluar ucapan syukur. Mengapa pujian dan penyembahan kita tidak menjadi berkat? Karena itu hanya terjadi ketika kita sedang beribadah. Saat berada di luar ibadah, kita mengeluarkan perkataan yang tidak berguna.

Tidak semua masalah dapat kita kendalikan dan pecahkan. Jika keadaan semakin memburuk dan kita mulai kehilangan penguasaan diri, memuji dan menyembah Tuhan adalah tindakan yang lebih bijaksana daripada sebuah keberanian (Ams. 22:3)

 

 

 

“SIAPA YESUS UNTUKKU?”

Bacaan Firman Tuhan : Matius 16:13-19

Pertanyaan di atas adalah sebuah pertanyaan yang menarik untuk dijawab. Setiap hari Minggu, banyak orang datang beribadah dan mengikuti kegiatan kerohanian pada hari-hari lainnya dengan setia, tapi tatkala pertanyaan ini dilontarkan banyak yang tidak dapat menjawabnya.

Pertanyaan yang sama pernah ditanyakan pula oleh Yesus ditanyakan kepada para murid-muridNya. Hari ini, kita yang adalah “murid-murid Tuhan”, Mendapatkan pertanyaan yang sama. Apakah kita akan menjawabnya sekedar dari cerita orang lain ataukah karena kita mempunyai pengalaman pribadi dengan Tuhan? Pertanyaan ini penting! Sebab jawaban kita menentukan: apa tujuan (destiny) hidup kita, dan apa sikap serta ke mana arah hidup kita?

Matius 7:21-23; 25:1-13.

Kata “mengenal” dalam bahasa aslinya “gynosko”, berarti memiliki hubungan yang dekat (intim). Selain itu kata “mengenal” juga mengandung arti:

- Mengenal Tuhan secara benar;

- Mempunyai hubungan dengan orang yang kita cintai, seperti keluarga, isteri/suami;

- Mempunyai hubungan dengan orang lain.

Adanya keseimbangan dari hubungan/pengenalan ini menentukan apakah kita dikenal Tuhan atau tidak. Jadi, “mengenal” di sini bukan sekedar tahu, tapi memiliki pengalaman hubungan. Contoh: Kita bisa saja mengenal orang lain, tapi tentu saja kita jauh lebih mengenal keluarga (suami/isteri) kita. Mengapa? Sebab ada pengalaman yang dibangun setiap hari.

Semua ini menjelaskan bahwa Allah tidak hanya berfokus pada rutinitas kerohanian saja tapi lebih daripada itu Allah menginginkan pengenalan akan pribadiNya! Sebab, PENGENALAN AKAN TUHAN MENENTUKAN SURGA ATAU NERAKA! (Pengenalan akan Tuhan tidak dapat dideteksi melalui cara penyembahan/pelayanan/khotbah kita.)

Mayoritas manusia cenderung memandang Tuhan dan memperlakukanNya untuk memuaskan keinginannya. Tidak heran banyak kita dapati anak-anak Tuhan yang menjadikan adalah Yesus sebagai Bapa, kekasih, penolong atau juga tempat curhat. Ini tidak salah! Tetapi ada efek dari hal ini – dimana kita hanya memandang Yesus dari satu sisi kebaikanNya (pengasih/pemurah/pengampun) saja – dimana kita memang menjadi anak, tapi ANAK YANG MANJA (semaunya/sekehendaknya saja, harus dipenuhi keinginan/kemauan). Contoh: Kita ijinkan Allah (Bapa) mengatur segalanya dalam hidup kita, kecuali soal uang. Ketika dalam keadaan sakit, gelisah, bingung, menghadapi masalah, kita serahkan semuanya pada Tuhan untuk mengurusnya (hingga terselesaikan/ada jalan keluar). Tapi soal uang, kita bahkan sama sekali tidak melibatkan Tuhan. Kita beranggapan ini uangnya kita sendiri. Atau dalam hal jodoh. Tuhan boleh mengatur segala dalam hidup kita, tapi soal jodoh, kita yang memaksa Tuhan menyetujui pilihan kita itu.

Semuanya itu karena kita berpikir Tuhan pasti menolong/membantu/mengampuni kita, tanpa mau mengenal sisi lain dari pribadi Allah.

Matius 16:13-19.

Sebuah pertanyaan yang dilontarkan Yesus kepada para murid adalah bukan apa kata (opini) orang tapi pendapat mereka sendiri. Kata “Mesias” dalam PB ditulis 2 kali yaitu dalam Yohanes 1:31 dan Yohanes 4:25, yang berarti “Yang diurapi.” Sedangkan kata “Yang diurapi” dalam PL, mengandung arti “Dia yang datang dengan urapan raja, imam dan nabi.” Dalam terjemahan bahasa Inggris ditulis, “Thou art the Christ, the Son of the living God!” (KJV). Ini menjelaskan pribadi Yesus yang diutus dari sorga.

Satu hal yang mengerikan bilamana kita lupa bahwa Yesus adalah Tuhan, kita akan memperlakukan diri/tubuh kita sekehendak kita. Padahal Yesus adalah pemilik kita (kita telah dibeli dengan lunas terbayar, I Korintus 6:19-20).

Ketika kita hanya berfokus pada Yesus yang menyenangkan dan memuaskan keinginan kita, maka ketika ada tantangan/masalah atau hal buruk lainnya kita dapat menyangkal Yesus adalah Tuhan.

Dia TUHAN!

Keadaan menyenangkan atau tidak, mood kita baik atau sebaliknya, tidak mempengaruhi pengakuan kita bahwa Yesus adalah Tuhan. Seperti dalam kisah Sadrakh, Mesakh dan Abednego (Daniel 3:17-18), iman mereka tidak tergoyahkan. Perkatakan kalimat berikut ini, “Sekalipun dan apapun yang terjadi, YESUS TETAP TUHAN!”

Yesus disebut juga “Anak Allah yang hidup”, Ini menyatakan bahwa Yesus memang Tuhan tapi memiliki hubungan dengan Allah Bapa di sorga. Dalam I Petrus 2:9-10, kitalah yang disebut masyarakat Mesianik. Artinya, masyarakat yang di dalamnya ada Yesus. Saat kita melihat Tuhan dengan sudut pandang yang benar dan seimbang, Tuhan akan menyatakan sesuatu yang dahsyat buat kita.

Ketika kita mengakui Yesus adalah Tuhan maka Yesus mengatakan kita adalah orang-orang yang berbahagia (ay. 17); kita akan dipakai Allah untuk menjadi pembuat sejarah (ay. 18). Yang tadinya Simon bin Yunus, oleh Tuhan diganti menjadi Petrus (Petra = batu karang). Walau Simon sebelumnya telah menyangkal Yesus 3 kali, tapi Tuhan memakainya menjadi rasul yang luar biasa. Begitu juga dengan kita, segelap/seburuk apapun masa lalu kita – saat kita datang minta pertobatan dan mengakuinya sebagai Tuhan (Mesias) – Tuhan sanggup membuat terobosan (breakthrough) dan menjadikan kita alatNya yang ajaib untuk menyatakan Kerajaan Allah. Tidak sampai di situ saja, alam maut pun tidak akan menguasai kita (ay.18), dan kita diberi kunci Kerajaan Sorga (ay. 19). Ada otoritas sorgawi atau Kingdom Authority, yang memampukan kita untuk melakukan apa yang Yesus lakukan bahkan lebih daripada itu (Yoh. 14:12).

Hari ini, pastikan Yesus yang adalah Tuhan itu ada dan mengatur hidup kita.

“Barangsiapa memegang perintahKu dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku. Dan barangsiapa mengasihi Aku, ia akan dikasih oleh BapaKu dan Aku pun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diriKu kepadaNya”

(Yohanes 14:21)

 

 

“Mengatasi Krisis”

Bacaan Firman Tuhan: Mazmur 143:1-8

Hal yang normal terjadi dalam kehidupan kita, hari lepas hari, adalah mengalami krisis. Krisis ini dapat terjadi kapan saja dan dengan siapa saja. Krisis dalam terjemahan Inggris “Crisis” yang berarti “masa gawat atau saat genting atau terjadi kemelut dalam hidup.”Setiap kita dapat saja mengalami krisis tapi kita tidak perlu takut/khawatir Tuhan kita adalah Tuhan Penolong. Dia berfirman bahwa Dia (Tuhan) buka jalan, saat tiada jalan. Selama kita berjalan bersama Tuhan tidak ada kata putus asa melainkan pasti ada jalan keluar terhadap setiap krisis (masalah) dalam hidup kita.

Respon kita akan masalah menetukan siapa kita! Saat krisis itu datang kita – sebagai manusia rohani – tidak bertanya “Kenapa hal ini terjadi,” tapi “Saya belajar apa dari semua yang terjadi ini?” Ketika datang persoalan/krisis dalam hidup kita dan kita bertanya, “Kenapa?” sebenarnya kita sedang mencurigai seseorang. Dan jika pertanyaan yang sama kita ajukan ke Tuhan, ini tidak lain dengan kita pun sedang mencurigai Tuhan. Sebaliknya, ketika datang krisis dan bertanya, “Saya belajar apa dari semua yang terjadi?” Hal ini akan membuat kita “mendapatkan sesuatu” dari Tuhan, dalam berbagai hal yang datang dalam kehidupan kita.

Ayub 28:28; “tetapi kepada manusia Ia berfirman: Sesungguhnya, takut akan Tuhan, itulah hikmat, dan menjauhi kejahatan itulah akal budi.” Kata “Tuhan” dalam ayat ini adalah “Adonai” yang berarti “Sang Pemilik.” Jadi, segala yang ada di muka bumi (termasuk alam semesta ini) adalah milikNya Tuhan.

Hakim-hakim 16:27-31

Selama 20 tahun Simson menjadi hakim atas Israel, baru sekali ini Simson memanggil Tuhan dengan sebuatan “Adonai” atau Sang pemilik hidupnya. Orang yang dipakai sebagai nazir Allah yang luar biasa semasa hidupnya, tapi di akhir hidupnya menjadi “lawakan” bagi musuh-musuhnya. Ini adalah akibat dari mengandalakn diri sendiri dan bukannya mengandalkan Tuhan. Saat Simson mengakui Allah adalah pemilik hidupnya, oleh Alkitab ditulis bahwa ia membunuh lebih banyak dari yang dibunuhnya semasa hidupnya. Hal yang sama juga buat kita, ketika kita mengakui Tuhan dan keberadaanNya sebagai Adonai, Sang Pemilik hidup kita, yang didalamnya termasuk harta, kekayaan, kekuatan dan pelayanan kita; maka akan ada hasil dua kali lipat daripada ketika kita hanya memakai kekuatan kita sendiri.

Markus 10:28-31

Ini adalah kisah dari seorang anak muda yang kaya raya, yang bertanya kepada Tuhan Yesus tentang bagaimana caranya agar menjadi pengikut Tuhan. Jawaban Tuhan ternyata di luar perkiraannya dan mengejutkannya; dimana Tuhan mengatakan bahwa dia harus menjual seluruh hartanya barulah ia dapat mengikut Tuhan. Jawaban Tuhan itu membuatnya sedih sebab banyak hartanya. Dia tidak menyadari bahwa Allahlah sang empunya segala sesuatu termasuk segala harta kekayaannya. Ketika kita meninggalkan segala sesuatunya dan mengikut Tuhan, maka Tuhan, yang adalah Adonai itu, akan memperhitungkan semuanya dan menerima kembali seratus kali lipat. Dia Tuhan dan Dia sanggup melakukannya bagi kita!

Krisis boleh saja datang dalam kehidupan kita, tapi ketika kita berjumpa dengan Tuhan, Adonai itu, kita pasti aman sebab Dialah empunya segala sesuatu, termasuk kehidupan kita ini. Agar tidak terjadi krisis, ada beberapa langkah, yaitu:

  1. Ayat 1-2; Doa dengan sikap hati yang benar/murni.

Datang pada Adonai dengan doa yang disertai sikap hati yang benar. Tidak ada motivasi yang lain waktu menghadap Adonai, selain Tuhanlah pemilik segala sesuatu dan yang sanggup menolong kita kapan saja. Inilah doa yang dijawab Tuhan! Jangan kita datang berdoa, supaya Tuhan membalaskan dendam kepada orang yang telah menyakiti hati kita. Atau juga, berdoa tapi dengan memerintah Tuhan melakukan kehendak kita. Tapi milikilah sikap hati yang benar seperti Musa, saat bangsa Israel yang dipimpinnya memberontak, Musa berdoa agar jangan Tuhan menghapus nama bangsa itu tapi hapus saja namanya dari kitab kehidupan. Dalam doanya, Musa tetap mempertahankan umat pilihan Allah tersebut.

Kita yang adalah anak-anak Allah, kita pun harus berbuat hal yang sama. Saat ada orang yang menyakiti kita, kita datang pada Tuhan dan meminta belaskasihan Tuhan tercurah untuk orang tersebut. Milikilah sikap hati yang murni! Dalam kitab Wahyu, sorga itu seperti lautan kaca yang bening. Dalam beberapa literature, disebutkan bahwa kaca yang bening adalah kaca murni yang sama sekali tidak membiaskan cahaya yang masuk/melewatinya. Hal yang sama yang Tuhan mau, agar kita juga menjadi orang yang tidak membiaskan apa yang baik dari Tuhan. Apa yang kita ucapkan melalui bibir kita harus sama dengan apa yang dikandung hati kita. Itulah doa dengan sikap hati yang benar/murni. Dan otomatis Tuhan akan menyatakan PribadiNya dalam Jehovah (Allah yang menyatakan diri) dan Elohim (Allah yang dahsyat). Apapun persoalan/krisis, dalam Tuhan , pasti ada jalan keluar.

  1. Ayat 3-5. Ingat selalu akan Firman Tuhan

Ada banyak kita ketika menghadapi krisis membuat kita lupa akan keberadaan kuasa Firman, dan yang tinggal dalam pikiran kita tentang bagaimana kita dapat membalas dendam pada orang yang telah menyakiti kita. Kita terbiasa membiarkan “daging” kita merespon terlebih dahulu. Jelas ini bukan kehendak Tuhan, melainkan yang diinginkan Tuhan adalah kita dapat mengatasi krisis dengan selalu mengingat akan Firman Tuhan. Hari ini, adakah Firman Tuhan dalam hidup kita?

Saat Firman Tuhan itu ada dalam hidup kita, krisis boleh saja datang, tapi yang keluar dari kita adalah berkat kehidupan Tuhan. Kita yang masih hidup dalam dunia ini, tidak ada yang kebal dosa! Saat kita tidak selalu mengingat FirmanNya (berjaga-jaga), maka yang masuk dalam kehidupan kita hanya sampah-sampah duniawi. Sebagai anak-anak Allah, ketika orang lain menyakiti kita, maka ada kemampuan Tuhan dalam kita yang memampukan kita untuk dapat melepaskan berkat pengampunan. Ucapkanlah syukur, sebab dibalik itu semua ada berkat besar yang Tuhan siapkan.

  1. Ayat 6. Terbuka dengan Tuhan.

Hari ini, yang tahu kedalaman hati kita hanya diri kita sendiri dan juga Tuhan, bukannya suami/isteri, gembala/pemimpin rohani kita sekalipun. Ketika menghadapi krisis, yang TUhan inginkan kita terbuka dihadapanNya (ada sikap hati yang murni). Jangan mengharapkan kita akan dipenuhi dengan kapasitas Allah kalau kita tidak terbuka denganNya. Mari robek “hati kita” untuk Tuhan mencurahkan anugerahNya.

  1. Ayat 6b. Miliki rasa lapar dan haus akan Tuhan terus-menerus.

Sadarkah kita bahwa dalam ibadah kita itu ada mengandung janji? Sebab dalam ibadah ada rahasia agung yaitu Kristus ada dalam kita dan Kristus ada ditengah-tengah kita. Kristus yang adalah pengharapan akan kemuliaan (Kolose 1:27). Jadi, saat kita datang beribadah mari datang dengan rasa lapar dan haus akan janji-janji Tuhan. Jangan menjadi bilangan orang-orang yang meremehkan ibadah. Sebab Alkitab mengatakan, “Segala yang dikerjakan orang yang demikian tidak akan berguna apa-apa.”

  1. (Ayat 8). Datang pada kasih setia Tuhan (anugerah dan kebenaran).

Untuk dapat mengatasi krisis, kita harus datang pada kasih setia Tuhan sebab itu kekal adanya. Kasih manusia itu terbatas, tapi kasih Tuhan selama-lamanya. Dalam terjemahan Inggris ditulis, “Mercy” dan Truth” yang artinya “Anugerah’ dan “Kebenaran”. Hanya anugerah dan kebenaranlah yang dapat mengatasi segala krisis dalam hidup kita. Dan Yesuslah Anugerah dan Kebenaran itu, Sang Adonai.

Tidak ada yang baik dalam kehidupan kita, tapi oleh anugerahNya kita ditebus sehingga menjadi orang-orang yang dibenarkan/mendapat anugerah. Oleh karenanya datang padaNya, Sang Adonai, setiap saat untuk menerima anugerah dan kebenaran, kasih dan setiaNya sebab itu kekal selamanya.

Sekalipun kita tidak setia, Dia tetap setia! 

 

 

“CINTA MEMATAHKAN KUK”

 

Bacaan Firman Tuhan: Ibrani 12:16-17

Dari bacaan di atas, kita mendapati dua nasehat didalamnya, yaitu: jangan cabul dan jangan memiliki nafsu rendah! Kita tidak membahas perbuatan cabul, sebab sebagai anak-anak Tuhan kita seharusnya sudah tidak melakukannya. Yang akan kita bahas adalah nafsu rendah.

Apa itu nafsu rendah? Nafsu rendah adalah menukar hal yang rohani dengan yang tidak rohani. Contoh: Esau yang memandang rendah hak kesulungannya dan menjualnya hanya untuk sepiring kacang merah. Atau, pada hari Minggu (atau waktu-waktu pertemuan ibadah lainnya) tidak beribadah karena ada urusan keluarga; bukannya urusan keluarga tidak penting tapi waktu itu telah dipersiapkan untuk ke gereja.

Berbicara tentang nafsu rendah, semua kita terlibat, baik itu jemaat maupun para hamba Tuhan. Alkitab memberikan contoh yang jelas. Musa diganti Yosua, Elia diganti Elisa, setelah itu seharusnya Gehazi menggantikan Elisa, tapi karena nafsu rendah Gehazi maka ia kena kusta (II Raja-raja 5:19b-27). Jika peristiwa ini dikorelasikan ke jaman sekarang ini, maka Gehazi (hamba Tuhan) meminta sumbangan (ke Naaman, yang baru saja dipulihkan Tuhan) dengan alasan untuk hamba Tuhan desa. Padahal semuanya itu untuk dirinya sendiri, dikuasai nafsu rendah (II Raja-raja 5:24). Gereja pun dapat terjerat nafsu rendah, misalnya membeli alat-alat sound system dari persembahan diakonia.

Contoh lainnya, imam Eli. Tuhan menegur imam Eli karena ia lebih menghormati anak-anaknya daripada Tuhan dan memandang loba persembahan bangsa Israel (I Samuel 2:29). Ini berarti melayani untuk mencari untung, sehingga lebih memilih tempat pelayanan yang dapat memberi persembahan kasihnya paling besar (prinsip untung-rugi).

Nafsu rendah dapat “menyerang” siapa saja, kapan saja. Para mahasiswa yang berteman dekat atau teman sekost yang diminta tolong mengabsenkan temannya. Orang tidak masuk diisikan daftar hadirnya, itu menipu! Sepertinya menolong orang, tapi itu nafsu rendah.

Apa akibat melakukan nafsu rendah ini?

Nafsu rendah bukan soal sorga atau neraka Alkitab menulis, “Saatnya (akan) mendapat berkat, ia ditolak!” Artinya, dapat berkat tapi tidak jadi. Contoh: sudah menang tender tapi proyek itu dibatalkan; sudah hamil tapi mengalami keguguran; sudah melahirkan tapi meninggal; sudah makan enak, pas dimakan keselek. Dapat berkat tapi tidak jadi.

Kejadian 27:34-40.

Kisah ini menceritakan tentang Ishak yang meminta Esau pergi berburu dan menghidangkan hasil buruannya seperti kegemarannya, setelah itu ia akan memberkati Esau. Tetapi Ribkah mendengar dan menyuruh Yakub, adik Esau mengambil berkat untuk kakaknya tersebut. Dengan berpura-pura sebagai Esau, setelah menyamarkan kulitnya dan mengenakan pakaian Esau – masuklah Yakub mendapati Ishak, ayah mereka, menipu ayahnya dan mencuri berkat yang disediakan untuk kakaknya tersebut. Tidak lama setelah itu, masuk jugalah Esau dengan membawa hidangan dari hasil buruannya, tapi berkat itu telah diberikan kepada adiknya, akibat tipu daya.

Yang kita pelajari di sini. Esau tidak membunuh, mencuri, merampok, atau berzinah; ia hanya memandang rendah hak kesulungannya. Banyak kita – saat sekarang ini – yang juga memandang rendah pelayanan. Sebuah dosa yang semua orang juga pernah melakukannya, bukan? Siapa di antara kita, semenjak lahir barunya ia tidak pernah merasa jengkel, kecewa, tidak berpikiran kotor, iri hati, curiga, hatinya lurus, penuh pengampunan dan sabar?

Kejadian 27:41

Berkat yang untuk Esau, dicuri adiknya. Ishak mengatakan bahwa ia akan menjadi budak dan mengalami hidup susah. Hal yang mengakibatkan Esau menaruh dendam dan berikhtiar untuk membunuh adiknya tersebut. Hal terakhir inilah yang membuat Yakub lari menuju Mesopotamia.

Setelah 20 tahun berlalu. Kembalilah Yakub dengan membawa keluarganya beserta seluruh kekayaannya yang didapati selama 20 tahun itu. (Pada Kejadian 30:25-43, dituliskan bagaimana Allah memberkati Yakub dengan luar biasa.)

Kejadian 33:1-8

Di tengah perjalanan pulangnya itu Yakub teringat akan ikhtiar Esau, kakaknya, dan ketakutanlah ia (Kej. 32:7). Jadi mulailah Yakub mengatur barisannya dengan maksud mendapat kasih (pengampunan) dari Esau, yang datang dengan diiringi empat ratus orang. 20 tahun yang lalu, Esau – akibat nafsu rendahnya – menerima kuk perhambaan dan mengalami hidup susah. Namun, karena ia berusaha dengan bersungguh hati, ia dapat melepaskan kuk itu darinya (bd. Kej. 27:40b dgn Kej. 33).

Buktinya bahwa Esau telah lepas dari kuk itu, ialah:

  1. lepas dari kuk perbudakan;

- Esau diiringi 400 orang (Kej. 33:1), berarti ia menjadi peimipin,

- Yakub sampai 7 (tujuh) kali sujud kepadanya, tidak hanya itu Yakub menyebut Esau dengan panggilan “tuanku” (ayat 8).

  1. lepas dari kuk ekonomi;

- Yakub memang diberkati Allah luar biasa (Kej. 30:25-43),, tapi apa yang dimiliki Esau jauh lebih banyak (ay. 9).

Berkat Esau lebih banyak dari yang dimiliki Yakub!

  1. lepas dari kuk soal keluarga;

- (dalam Kejadian 36, Alkitab menulis satu pasal khusus tentang daftar keturunan Esau, yang sekali lagi, daftar keturunan Esau jauh lebih banyak dari keturunan Yakub).

Yang kita pelajari hari ini dari Kejadian 27:40 dan Ibrani 12:16-17, dapat disarikan sebagai berikut:

- Jika kita telah terlanjur melakukan nafsu rendah, yang mengakibatkan kita berdosa dan tidak kudus/tidak tahir, sehingga membuat kita tidak diberkati, kita masih dapat mengambil berkat itu kembali, bukan dengan mencucurkan air mata, melainkan dengan kesungguhan hati.

Esau menangis minta berkat dari Ishak tapi tidak mendapatkan, tapi dia telah berusaha dengan bersungguh hati dan ia dapat mengambil kembali berkat itu. Jadi, apa sebenarnya “berusaha dengan bersungguh hati” itu? Dalam Kejadian 33:4; ini tidak lain, yaitu MENGAMPUNI! Esaulah yang berlari mendapatkan Yakub, lalu mendapatkan Yakub, didekapnya dia, dipeluk lehernya dan diciumnya dia, lalu bertangis-tangisanlah mereka.

Bukti Esau lepas dari kuk perbudakan (balas dendamnya).

Begitu juga dengan kita, bukti kesungguhan hati kita dengan Tuhan hendaknya ada dampaknya (meluap keluar) dengan sesama.

Untuk MINTA AMPUN dibutuhkan KERENDAHAN HATI,

tetapi untuk MENGAMPUNI dibutuhkan KEBESARAN HATI.

 

 

“Kesadaran Lebih Penting daripada Sebuah Pengertian”

 

Bacaan Firman Tuhan: Kisah 26:12-23; 9:3-6

Paulus yang baru saja mengalami Tuhan (perjumoaan dengan Tuhan), dalam perjalanan menuju ke Damsyik, setelah itu mengalami penderitaan. Bagaimana dengan kita? Maukah kita, saat ini mengalami Tuhan (mengalami kasih dan kuasaNya) dan setelah itu kita juga masuk dalam penderitaan? Beberapa dari kita pasti takut dan beranggarapan bahwa bukankah lebih baik tidak menglami Tuhan saja, itu pilihan yang lebih baik? Dengan demikian, bukankah kita tidak masuk ke dalam penderitaan?

KeKristenan bukanlah seperti itu! Paulus setelah percaya Tuhan, dia mengalami yang namanya proses. Setelah menjadi orang percaya, tidak mungkin kita tidak masuk dalam prosesnya Tuhan. Tuhan tidak menginginkan kita hanya sekedar menjadi percaya saja, tapi lebih daripada itu agar menjadi murid!

Tuhan menginginkan kita menjadi murid!

Saat kita menjadi murid inilah saat dimana kita diproses, baik itu proses melalui pikiran, hati, perkataan, tingkah laku dan juga keputusan kita. Jadi, hari ini ketika kita mengalami proses, sadarilah bahwa itu adalah tandanya kita menjadi murid.

Kenapa kita (murid) harus mengalami proses? Semuanya itu bertujuan agar kita menjadi seperti yang Tuhan kehendaki yaitu menjadi seperti Kristus! Berbicara tentang “proses” adalah berbicara tentang menderita, rasa tidak nyaman dalam hati.

Tuhan menghendaki kita agar menjadi serupa denganNya!

Selama kita tidak mau diproses maka sifat, hati dan ciri Kristus tidak akan nampak. Dan jangan khawatir, selama kita diproses – Alkitab mengatakan – bahwa kita tidak dibiarkanNya sendirian, ada Yesus selalu bersama-sama. Tetapi acapkali, dalam kehidupan sehari-hari kita hanya sebatas mengerti Tuhan tanpa menyadari akan keberadaanNya. Kita mengerti Dia Allah yang menyembuhkan, memulihkan, menolong atau juga memberkati. Lebih daripada itu, Dia Allah yang hadir dalam kehidupan kita. Seringkali mengkotak-kotakkan kehadiran Tuhan, misalnya: Tuhan hanya ada pada hari Minggu (di gereja) atau pada saat kita melakukan semua aktivitas/pelayanan rohani kita (seperti doa puasa, baca Firma Allah, berdoa dan puasa), tanpa menyadari bahwa Dia Tuhan, kehadiranNya setiap saat dalam hidup kita.

Tuhan berada dalam hati kita setiap saat/kondisi! Buah kesadaran akan keberadaan Tuhan ini adalah kita tidak membeda-bedakan kehidupan kita, baik itu hari Minggu (saat ibadah) atau juga hari-hari lainnya. Ketika kita mengkotak-kotakkan Tuhan dalam pikiran kita, itu justru membuat kitalah yang terkotakkan oleh pikiran kita sendiri. Berbicara kesadaran itu berbicara iman kita kepada Tuhan.

Motto ROCK Ministry adalah “Kami mermbantu Anda untuk menggenapi rancangan Tuhan dalm hidup Anda!” ini bukan soal program/acara gereja semata, tapi rencana Tuhan. Gereja lokal ini membantu jemaat menggenapi rencana Tuhan melalui:

  1. KM (Kelompok Sel Mesianik)

Dengan komunitas yang terdiri dari 10-12 orang itu, kita dapat lebih saling mengenal satu dengan lainnya, seperti membagi kehidupan, perhatian dan juga penggembalaan. Dalam KM pertumbuhan rohani para anggotanya lebih baik dari sekedar datang beribadah raya hari Minggu.

  1. Kelas SMaRT (Sekolah Mengalami Rencana Tuhan)

Melalui Kelas SMaRT ini kita diarahkan/diajar tentang bagaimana melayani, pelepasan, memulihkan gambar/citra diri, mengampuni, dan lebih dari semuanya itu, kita (para siswa) mengalami Tuhan secara pribadi.

Dari 2 hal tersebut diatas, kita dapat mewujudkan visi kita yaitu “Membangun Masyarakat Mesianik.” Masyarakat mesianik adalah (komunitas) masyarakat yang mengalami Tuhan secara pribadi atau masyarakat yang di dalamnya punya kesadaran akan Tuhan.

Hal apa yang menyebabkan Paulus dapat mempertahankan iman percayanya, padahal ia mengalami penderitaan, antara lain:

  1. Sadar akan tujuan yang Tuhan berikan sebagai saksi dan pelayan Tuhan (ayat 16).

Hal pertama yang membuat Paulus dapat bertahan dalam menghadapi proses adalah Tuhanlah yang menetapkan dirinya sebagai saksi dan pelayan. Begitu juga dengan kita, kita bukan hanya sekedar menjadi orang yang dating guna memenuhkan bangku gereja tapi guna menjadi saksi dan pelayan Tuhan.

Ada perbedaan antara kehidupan yang dahulu (yang belum bertobat) dengan kehidupan yang sekarang. Contoh dalam keluarga: keadaan keluarga sebelum percaya, dimana tidak ada damai sejahtera, sukacita, saling menyalahkan (egois) tapi setelah bertobat mulai ada damai sejahtera, saling menguatkan, saling menghibur dan ada kasih. Sebab pertobatan itu dapat diukur dan dilihat. Perubahan pribadi yang dikerjakan oleh Tuhan akan berdampak lebih kuat daripada kita memberikan kesaksian orang lain.

Gereja yang mengalami pertumbuhan adalah gereja yang jemaatnya memiliki gaya hidup bersaksi. Paulus dapat bertahan dalam proses itu karena dia telah menemukan tujuan hidupnya. Hari ini, temukan tujuan hidupmu!

  1. Kemuliaan Tuhan dibalik proses (ayat 17a)

Dalam Kisah 8:1; Paulus (Saulus dulunya) adalah saksi kunci dari kejahatan orang-orang Yahudi, oleh karenanya ia dicari-cari. Ketika Paulus mengalami Tuhan, ia dapat bertahan dalam proses itu karena Paulus melihat kemuliaan Tuhan dibalik semuanya itu.

  1. Melakukan apa yang Tuhan kehendaki (ay.17b-18).

Dalam menghadapi proses, seringkali kita merespon keingingan diri sendiri. Dan kebanyakan setelah itu menuntut Tuhan yang bertanggungjawab atas resiko yang kita buat tersebut. Jika sekiranya kita membiarkan kehendak Tuhan yang jadi dalam menyikapi prose situ, maka Tuhan jugalah yang akan bertanggungjawab dengan segala resiko yang terjadi dibelakangnya.

Yohanes 4:34; Paulus menyadari kebutuhan rohaninya adalah melakukan kehendak dan menyelesaikan semua perintah yang Tuhan berikan dalam kehidupannya. Yang antara lain adalah sebagai berikut:

Ø Membawa jiwa-jiwa berbalik dari kegelapan menuju terangNya yang ajaib; sebab dimana ada satu orang yang bertobat seisi sorga bersorak;

Ø Berbalik dari kuasa iblis kepada Allah. Ada banyak orang di sekitar kita yang membutuhkan kelepasan yang dari Tuhan, melalui kita (bukankah ada Yesus berdiam dalam kita);

Ø Membawa orang-orang memperoleh pengampunan dosa;

Ø Mendapatkan bagian dalam apa yang ditentukan untuk orang dikuduskan; artinya setiap kita (jemaat Tuhan) dapat berfungsi di dalam gereja (lokal) Tuhan.

Sebab di dalam Tuhan, jerih payahmu tidak sia-sia!

Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia.

[ I Korintus 15:58 ]

 

 

“Benih Kerajaan”

 

Bacaan Firman Tuhan: Pengkhotbah 9:4

Setiap kita yang masih dapat bangun pagi hari ini, dan selama masih ada nafas pada kita, itu berarti masih ada pengharapan besar atas kita. Walaupun, ada masalah besar menghimpit kita. Sebab ada harapan besar bagi setiap orang yang masih hidup (bernafas).

Alkitab mengajarkan kita kali ini bahwa adalah lebih baik anjing yang hidup daripada singa yang mati. Singa dapat saja memiliki taring yang menyebabkan penampilannya kelihatan ganas dan buas, tapi jika singa tersebut mati maka yang semua dimiliki itu tiada bermanfaat sedikitpun. Hal yang sama berlaku untuk manusia juga, dimana kita dapat memiliki segalanya tapi apa artinya jika kita mati (meninggal), tidak ada pengharapan baginya.

Kita yang masih hidup hari ini, maka haruslah kita menatap masa depan, sebab Tuhan kita, Yesus Kristus, berjanji adalah Allah yang setia dalam menepati setiap janjiNya. Mungkin hari ini kita belum melihat pertolongan Tuhan tapi percayalah dan tunggu waktunya Tuhan (khairos); dan bukannya waktunya manusia.(kronos).

Selama manusia hidup, pastilah ia ada memiliki pengharapan!

Kejadian 1:11,12,29

Ke tiga ayat di atas menceritakan tentang “tumbuhan berbiji.’ Saat kita makan bauh mangga, tentulah kita tidak ikut serta memakan biji mangga. Begitulah Allah, saat ia memberkati kita sebenarnya di situ ada unsur kesinambungan. Akan tetapi, acapkali kita “memakan habis” semua berkat Tuhan tersebut. Tanpa kita sadari di situ juga ada benih untuk kita tabur. Ada benih untuk dimakan dan ada pula benih untuk ditabur. Jikalau kita memakan habis semua benih yang ada maka pada saat menuai kita tidak akan menuai apapun juga, akibat dari tidak ada benih yang kita tabur. Mengapa Tuhan memberi kita benih? Sebab dalam benih itu ada kehidupan. Dan selama ada kehidupan maka pastilah ini dapat menimbulkan multiplikasi atau pelipatgandaan. Dan benih itu adalah Firman Allah (Lukas 8:11).

Setiap Allah memberkati kita pasti ada unsur kesinambungan.

Namun, sebelum benih tumbuh dan berkembang serta menghasilkan buah, maka benih itu harus ditanam mati terlebih dahulu. Ini berbicara mengenai kita, adakalanya Tuhan menghendaki pertumbuhan ke dalam (Tuhan mau berurusan dengan hati kita terlebih dahulu). Sekarang ini, banyak orang yang ingin langsung kelihatan (muncul keluar) tanpa mau terlebih dahulu dimatikam. Ini bukan ide orisinilnya Tuhan (sebab ide orisinilnya Tuhan adalah pertumbuhan ke dalam terlebih dahulu, berakar hingga menemukan “Sumber” yang sejati itu.)

I Yohanes 3:9.

Benih dalam bahasa aslinya ialah “sperma.” Jadi, sperma Ilahi ditambah ketaatan manusia, itu akan menjadi sebuah kekuatan yang powerfull. Benih Ilahi dapat juga berbicara tentang sifat Allah yang dilepaskan kepada manusia. Dan akan menjadi luar biasa dasyat dampaknya bila bertemu (digabungkan) dengan ketaatan manusia. Dan tujuan benih Kerajaan itu dilepaskan agar supaya kita hidup berpadanan dan diubahkan dengan Tuhan, misalnya tidak berbuat dosa lagi.

Setiap kali Tuhan mau melepaskan sesuatu maka dicariNyalah terlebih dahulu wadah, ada atau tidak. Tuhan cari wadah, yang tidak lain adalah manusia. Pertanyaannya adalah, “Apakah kita siap menjadi wadahNya?”

Matius 1:18-35

Agar dapat ‘benih Ilahi’ itu dilepaskan maka Tuhan memerlukan wadah. Tuhan ingin bekerjasama dengan manusia, contoh Maria. Jadi, hal-hal yang mempengaruhi Tuhan untuk melepaskan ‘benih Ilahi’ itu adalah:

  1. Kita harus menyiapkan wadah.

Dalam Matius 1:18-25, Maria menyiapkan wadah, yang tidak lain adalah kandungannya sendiri. Saat itu Maria masih remaja dan belum bersuami. Dan resiko wanita Yahudi yang hamil di luar nikah pada jaman itu adalah dilempari dengan batu sampai mati. Maria mengetahui akibat dari hal ini.

Saat pengharapan kita pada Tuhan, apapun resikonya, Dia atur segala sesuatunya.

Maria tahu, akibat dari hal ini adalah dapat berakibat hukuman mati, tapi Maria berkata, “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” (Lukas 1:38).

Adakalanya Tuhan mencari ketaatan lebih dari kemampuan kita. Contoh: Nuh (Kejadian 6) diperintah Allah untuk membangun sebuah bahtera dengan panjang 300 hasta, lebar 50 hasta dan tinggi 30 hasta di atas sebuah gunung. Dan Nuh melakukan seperti yang diperintahkan Allah. Hanya taat melakukan pembuatan bahtera itu.

Dari dalam diri kita harus ada memancarkan kehidupan kepada orang lain. Dalam Yohanes 7:38, wadah kita itu adalah hati yang tidak lain adalah rahimNya Allah (tempat mengandung janji-janjiNya). .

  1. Jangan takut (Matius 1:20).

Jangan takut dengan situasi apapun. Sekalipun banyak orang mengatakan bahwa tidak ada jaminan. Akan tetapi bersama Yesus ada jaminan akan pengharapan. Ketakutan itu membuat kekuatan kita berkurang. Waktu ketakutan itu datang, arahkan hati dan pandangan kita pada Yesus, yang memberi kemenangan (ada jalan keluar).

Jika kita memiliki ‘benih Ilahi’ maka kita akan memiliki keberanian sama seperti Bapa kita di sorga yang berani mengatakan kebenaran.

  1. Tunduk pada kehendak Allah (Matius 1:24-25).

Tidak ada benih manusia di sana Yusuf tidak bersetubuh dengan Maria, sampai Anak yang dikandung Maria itu lahir. Dia tidak mau mencemarkan apa yang sedang Tuhan kerjakan. Artinya, Yusuf tunduk pada kemauan/kehendak Allah dan bukannya kemauannya sendiri.

Selama ‘benih Ilahi’ itu ada pada kita, kita memiliki pengharapan yang besar dengan Tuhan. Apapun yang terjadi Tuhan pasti bersama-sama dengan kita.

“Pengharapan itu adalah sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita,
yang telah dilabuhkan sampai ke belakang tabir,”

(Ibrani 6:19)

 

PERCEPATAN ILAHI

 

Bacaan Firman Tuhan: Kisah 9:19b-31

Pastor Benny Hinn, beberapa waktu lalu di Indonesia, menubuatkan bahwa dalam 3-4 tahun akan terjadi hal-hal yang sangat ajaib. Hal ini dapat berarti, akan terjadi yang namanya ”Percepatan Ilahi” atas bangsa dan negara ini. Hari ini, kita akan belajar bagaiman kita (baca = gereja Tuhan) dapat masuk dalam ”percepatan rohani” itu? Gereja Tuhan harus mulai mempersiapkan dirinya akan hal tersebut.

Dari bacaan di atas kita dapati bahwa Paulus (yang awalnya bernama Saulus, seorang yang menentang Jalan Tuhan à ayat 1-2); yang bukan merupakan kedua belas rasul (12 murid TuhanYesus semasa pelayananNya di bumi), tapi yang mengalami perjumpaan ilahi ketika hendak ke Damsyik untuk menangkap dan menganiaya pengikut Jalan Tuhan. Justru dalam perjalanan ke Damsyik itulah, ia mengalami perjumpaan ilahi dengan Kristus. Tidak hanya itu, ia pun mengalami percepatan ilahi dalam kehidupan percayanya. Menyimak kisah Paulus diatas, apa yang telah Tuhan buat atas Paulus, kita pun belajar mengenai apa yang harus kita buat (dalam diri kita) agar terjadi percepatan ilahi itu?

Beberapa kebenaran, agar terjadi percepatan ilahi itu adalah:

  1. Ayat 19b-20 : ”… tinggal bersama-sama… memberitakan Yesus…”

Punya gaya hidup bersaksi atau memberitakan Yesus atau selalu ingat akan Yesus. Awal keberadaan Paulus masih ditakuti (dijauhi) tapi setelah mengalami percepatan ilahi lewat perjumpaan ilahinya yang membuat hidupnya berubah. Setelah tinggal bebrapa hari bersama-sama para murid ia pun memberitakan Yesus; sekalipun ia dijauhi dan ditolak.

Seringkali kita berkata, yang penting hidup kita jadi contoh tidak perlu ”kewel-kewel” (bahasa Ambon = cerita besar); tidak usah banyak bicara. Istilahnya tikung sana, tikung sini. Itu sudah cukup. TIDAK BISA! Kita harus punya gaya ahidup bersaksi. Begitupula jemaat ini, dalam ibadah mengalami jamahan dan lawatan Tuhan, tapi ketika kembali ke kehidupan kesehariannya tidak pernah keluar membagi / menceritakan kebaikan Tuhan tersebut, kita tidak masuk dalam percepatan ilahi ini.

Begitupula dengan para hamba Tuhan di ROCK Ministry ini, tidak hanya berkhotbah dibelakang mimbar saja. Sebab – saat ini – penggembalaan secara apostolik itu adalah tidak berdiam diri di tempat, tapi juga harus siap diutus kemana-mana dan bercerita tentang Yesus itu Tuhan.

Dunia tidak membutuhkan kita datang dengan kuasa dan hebatnya kita, tapi dunia butuh saksi dan pengalaman hidup akan kebaikan Kristus! I Korintus 11:24-25, ”jadilah peringatan akan Aku..”

Sebab kalau Tuhan yang menyuruh atau memerintah, dibalik semuanya itu pasti ada perkara-perkara besar (yang disediakan buat kita). Inilah yang disebut dengan ”A Harvest Mentality” atau mental penuaian. Adapun ciri orang yang punya mental penuaian adalah orang yang selalu punya hati Tuhan dan disaksiakan (diceritakan, dibagikan) kepada orang-orang lain; seperti tentang apa yang sudah Tuhan buat dalam hidup kita. Kalau kita bisa cerita itu, itu akan bawa peranan (dampak) dan itulah yang namanya kita masuk dalam percepatan ilahi.

  1. Ayat 26-28. Punya kerinduan bergaul dengan orang-orang yang cinta Tuhan. Dengan bergaul pada orang-orang yang cinta akan Tuhan, juga baca buku-buku dari orang-orang yang mengalami perjumpaaan ilahi dan yang diubahkan hidupnya oleh Tuhan lalu bergaul dengan apa yang mereka buat, untuk kita terima intinya. Hal-hal semacam inilah yang membuat kita masuk dalam percepatan ilahinya Tuhan. Dengan bergaul dengan orang-orang seperti itulah yang dapat membuat iman kita bertumbuh. Ini berbicara tentang “Kingdom Community” atau Komunitas Kerajaan.
  1. Ayat 23,29,31. Justru sedang diancam untuk dibunuh, justru yang keluar (dari hidupnya Paulus) bukanlah ketakutan / kekuatiran, tapi yang keluar justru “sesuatu” yang menguatkan / membangun akan orang lain. Kita lihat sekarang ini, dimana keadaan alam sedang dikacaukan, tidak menentunya situasi politik, ekonomi, keamanan dan lain sebagainya. Ada roh-roh yang membuat timbul ketakutan / kekuatiran tapi ketika kita masuk dalam percepatan rohani; hal-hal itu tidak akan menguasai atau nahkan mempengaruhi kita.

Jadi berkat ketiga ini adalah : Melihat kesengasaraan / penderitaan; dibalik itu ada berkat! Contoh : dalam segi ekonomi. Mungkin saat ini, kelihatannya ada masalah; tidak ada kemajuan (dalam usaha / bisnis), percayalah, selama kita masuk dalam percepatan ilahi pasti dibalik itu ada berkat Tuhan yang besar (yang disediakan bagi kita). Jangan mundur, jangan lari. Seperti Paulus, ia tidak mundur. Ia maju terus, apapun intimidasinya sebab Paulus tahu semuanya itu bukan karena kekuatannya tapi karena kekuatan Tuhan semata, yang memampukan Paulus melakukan perkara-perkara besar. Jangan takut dalam menghadapi persoalan yang menimpa atau masalah yang menghimpit. Selama kita masuk dalam percepatan ilahi percayalah dalam melihat kesengsaraan / penderitaan; dibalik itu ada rencana berkat Allah yang besar. Kalau ROCK di Makasar ini melihat dan menangkap (esensi) ini, maka pastilah akan terjadi penuaian besar-besaran dan nama Tuhan dimuliakan.

Ada juga ”A Covenant Mentality” atau mental perjanjian. Dimana Tuhan bayar kita dengan nyawanya untuk selamatkan kita, manusia. Saat kita mengalami kesengsaraan, Yesus terlebih dahulu mengalami hal itu. Selain itu ada juga ”A Warfare Mentality” atau mental peperangan. Bahwa kita harus berperang melawan diri kita dan strategi dunia, bahwa dibalik itu semua, ada berkat besar. Misalnya : kita yang berusaha / bekerja, sepertinya kok mulai sepi atau biasa-biasa saja. Mulai melihat dengan iman yang besar, bahwa dibalik ini ada berkat Allah yang besar yang disediakan. Tuhan sudah buat itu SEMUA! Jangan buat sesuatu itu maunya kita, tapi maunya Tuhan itu apa? Sehingga kita mengerti kehendak Tuhan, hal-hal yang ajaib pasti Tuhan buat.

  1. I Timotius 6:17-19. ”A Worship Mentality atau mental penggembalaan. Paulus mengajar kita bahwa ketika kita diberkati berkelimpahan (kekayaan) hati-hati kija itu hanya untuk kepentingan diri sendiri. Jadi, ini berarti kehidupan yang dapat dipercaya! Ketika kita diberkati (dalam hal uang / harta) yang berkelimpahan itu bukan hanya untuk kepentingan diri sendiri tapi juga untuk memberkati orang lain. Begitu juga dengan karunia-karunia rohani, itu semua untuk memberkati orang lain. Kita sehat untuk memberkati orang sakit; kita kuat untuk memberkati orang yang sakit; kita kuat untuk memberkati orang yang lemah.

Uang itu mewakili kehidupan kita. Cara kita menggunakan uang itu mencerminkan cara hidup kita. Ketika kita tidak jujur (dalam hal uang) itu merupakan pertanda karakter kita. Tetapi ketika kita menjadi pribadi- pribadi yang dapat dipercaya, maka ada jaminan Tuhan yang akan mempercayakan akan hal-hal yang lebih dan lebih dan lebih lagi, bagi kita.

Punyalah hati untuk memberkati orang lain!

A worship mentality bukan saja berbicara tentang pujian dan penyembahan, tetapi hal ini lebih ke sikap hati. Contohnya : rendah hati, tidak sombong, mau memberkati, bermurah hati, berbelaskasihan dan mengerti orang lain.

Kalau Anda memiliki mental-mental Kerajaan Allah di atas ada dalam hidup kita, percayalah, Tuhan akan bikin perkara-perkara besar.

SELAMAT MENIKMATI PERCEPATAN ILAHI !!!

9 Juli 2006

 

3 SIKAP WARGA KERAJAAN ALLAH

 

Ulangan 8:1-18

Seperti yang telah kita ketahui dalam beberapa waktu terakhir ini, beberapa bani Tuhan menubuatkan bahwa dalam 3-4 tahun ke depan ini, ”Kaki Dian” Tuhan itu akan berada di bangsa kita, Indonesia. Berbicara tentang ”kaki dian” ini berbicara tentang kedaulatan Tuhan (otoritas dan pribadiNya). Timbul sebuah pertanyaan disini, mengapa kaki dian itu berada di bangsa ini? Dan jika benar, mengapa masih saja banyak bencana terjadi di bangsa ini. Misalnya : banjir, tanah longsor, gempa hingga ke masalah perekonomian. Mengapa?

Jawabannya adalah karena Tuhan punya rencana yang besar di balik semuanya ini, atas Indonesia! Dia, Tuhan Allah, mengasihi Indonesia. Ada banyak orang di bangsa ini yang memerlukan Tuhan dalam hidupnya. Dan Allah serius dengan jiwa-jiwa yang terhilang itu! Oleh karenanya, kita, gereja Tuhan harus dapat menangkap hal ini. Inilah waktu dimana Allah sedang mengadakan percepatan ilahiNya.

Tuhan sedang buat semuanya itu dan Dia serius!

Waktunya bagi gereja Tuhan untuk bersungguh hati dalam mempersiapkan diri dan masuk dalam pergerakan yang besar ini. Contohnya: dalam sebuah pertandingan sepakbola yang resmi (seperti FIFA World Cup 2006 baru-baru ini), saat pertandingan berlangsung TIDAK ADA satu pemain manapun yang tidak berkosentrasi penuh. Semuanya serius. Tidak ada pemain yang hanya main dengan asal-asalan, seperti asal menendang dan mengoper bola misalnya. Ini yang Allah buat sekarang. Dia serius dengan bangsa ini. Allah sedang bergerak dengan cepat dan Dia serius melakukanNya! Kita gereja Tuhan yang adalah representasi Kerajaaan Allah harus memahami ini dengan baik.

Dari bacaan di atas, Musa sedang mengingatkan kembali bangsa Israel bahwa segala yang terjadi, semuanya, adalah rencana Tuhan. Di balik segala kelimpahan yang dialami, itu adalah anugerah Tuhan. Anugerah kelimpahan yang sama itu juga yang Tuhan mau curahkan bagi gerejaNya, hari-hari ini. Tuhan akan mencurahkan kelimpahan itu dengan maksud menyatakan kuasa kerajaan Allah di muka bumi ini. Kerajaaan Allah yang dimaksudkan di sini bukan yang dibangun dengan menggunakan pedang tapi dengan Kasih. Kasih yang tidak lain adalah Yesus Kristus Tuhan. Dia yang telah membuktikan kasihNya bagi kita dengan mati di atas salib guna menebus dosa setiap manusia.

Berbicara mengenai pergerakan Allah, maka itu bukan hanya pergerakan Allah dan para malaikatNya semata. Tapi lebih kepada adanya kerjasama antara Tuhan dengan manusia. Mengapa Allah memerlukan manusia (baca : gereja Tuhan), tidak lain karena Allah mengasihi gerejaNya. Kita dikasihi oleh Allah; anugerahNya bagi kita! Kalau pergerakan itu begitu dahsyat, maka kita harus mempersiapkan diri kita dengan sebaik-baiknya.

Kita juga jangan terlalu cepat puas kalau kita telah menyeberangi sungai Yordan (berbicara soal kekelaman); atau ketika kita mengalahkan Yerikho (berbicara soal kekuatan manusia). Bahkan jangan puas, ketika kita dapat masuk ke tanah Kanaan (berbicara tentang kelimpahan, pemulihan dan berkat). Jangan puas hanya sampai di situ. Tapi, kita harus dapat mencapai satu tempat yaitu gunung Sion. Apa arti gunung Sion? Gunung Sion berarti tempat dimana Allah memerintah dalam kehidupan kita atau tempat dimana kepenuhan Allah itu ada dalam hidup kita.

Inilah yang Allah inginkan dari setiap kita yaitu mencapai gunung Sion. Jangan puas menjadi manusia yang biasa-biasa saja. Ayo maju terus, motivasi kehidupan kita! Apa perbedaaan antara Yosua dan Daud? Yosua hanya sampai masuk ke tanah Kanaan, memang ia mengalami berkat kelimpahan, dia dikenang; tapi Daud sampai ke gunung Sion. Bahkan hidupnya dikenal oleh Tuhan. Apakah kita dikenal hanya sebataas mengalami berkat kelimpahan? Atau kehidupan kita dikenal oleh Tuhan? Hal inilah yang membuat Daud dan keturunannya, turun temurun, dikenal oleh Allah. Kalau gereja merupakan representasi Kerajaan Allah, maka ada sikap hidup yang harus ditunjukkan keluar. Dan sikap hidup itu adalah :

1. Semakin hari semakin rendah hati (ayat 1-16).

Mungkin ada banyak hal yang membuat kita tidak nyaman, yang membuat kita bertanya-tanya, masalah dan tantangan yang datang terus, tidak ada kebaikan kelihatannya, tapi ketahuilah semuanya itu diijinkan untuk mendatangkan kebaikan pada kita (ayat 16). Semuanya untuk membuat kita menjadi rendah hati. Sebab jika kita tidak menjadi rendah hati, pastilah kita menjadi sombong, tinggi hati, yang membuat pintu anugerah itu tertutup bagi kita. Saat kita menjadi rendah hati maka kita bergantung 100% pada kuasa Tuhan, menyadari siap diri kita.

Kesadaran untuk berubah lebih penting dari sekedar mengerti kebenaran! Artinya kita tidak mungkin berubah sampai kita sadar bahwa kita butuh berubah. Tidak hanya itu, kita juga harus menyadari (mengakui) akan kelemahan kita. Mengapa kita harus rendah hati? Agar kita dijadikan orang kepercayaan Tuhan. Ada 3 tingkatan kepercayaan, yaitu : orang yang percaya, orang yang dapat dipercaya dan orang yang menjadi kepercayaannya Tuhan.

Dimana tingkat kepercayaan kita. Apakah kita hanya sekedar menjadi orang percaya. Ataukah menjadi orang yang dapat dipercaya; ataukah kita menjadi orang kepercayaanNya Tuhan.

2. Roma 12:1-2 à Hidup di dalam kekudusan.

Alkitab menulis bahwa tubuh kita adalah bait Allah. Dan persembahan yang hidup adalah persembahan yang kudus. Tubuh kita adalah tempat Roh Allah tinggal dan seharusnya Roh Allahlah yang terpancar keluar dari kehidupan kita, yaitu kasih, kesabaran, kemurahan hati (dan buah roh lainnya). Saat Roh Allah itu yang terpancar keluar, itu merupakan persembahan yang hidup, kudus dan berkenan. Hidup kudus juga adalah ketika hidup kita takut akan Tuhan. Setiap orang yang telah mengalami Tuhan hidupnya pasti takut akan Tuhan.

3. Roma 12:1! à Ada semangat yang berkobar-kobar.

Saat pertama kali kita menerima Tuhan Yesus sebagai Tuhan, ada kasih yang menyala dalam kita. Hari ini, sudah berapa lama kita menjadi orang percaya, masih adakah semangat yang berkobar-kobar itu? Semangat itu tidak ditentukan oleh tujuan, tapi digerakkan oleh apa yang ada dalam kehidupan (hati) kita.

”Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan.” ”Kendor” dalam bahasa aslinya adalah okneros (Yunani) artinya menjadi lambat; menjadi lamban. Sedangkan kata ”bernyala-nyala” itu adalah ”zeo” (Yunani) artinya menjadi lebih sungguh-sungguh.

Kalau hari-hari ini, kita mengalami kekeringan rohani, kelesuan, dan kejenuhan, Firman Tuhan mengajar bahwa kita berarti harus lebih bersungguh-sungguh lagi. Oleh sebab itu, pastikan, jangan ada satupun yang dapat memisahkan kita dengan kasihNya Tuhan! Kehidupan kita dalam mengikut Yesus bukan berarti kehidupan yang tidak ada masalah, tapi justru kehidupan kita bersama Yesus adalah kehidupan yang mengalahkan masalah itu. Kehidupan kita adalah kehidupan yang masuk dari kemenangan kepada kemenangan yang lainnya. Ada semangat berarti ada pertumbuhan. Kita harus siap membuka hati kita dengan pergerakkan Roh Allah, dan nama Tuhan dimuliakan.

Amin!

 

“Empat Tingkat Hubungan dalam Kerajaan Allah”

 

Bacaan Firman Tuhan: Yohanes 15:1-8

Ayat !, “Akulah pokok anggur yang benar dan Bapa-Kulah pengusahanya.” . Yesus adalah pokok dari segala-galanya, baik itu pokok berkat, pujian, pemulihan dan segalanya. Oleh karenanya, “menempellah” pada pokok Itu. Kita yang bukan bangsa Israel ini merupakan cangkokkan saja. Jadi kalau Bapa tidak menyayangkan yang “dahan” atau “ranting” asli (orang Israel sendiri) apalagi kita, yang hanya cangkokkan saja. Kita yang mendapat kasih karunia ini, marilah kitta tinggal dalam kebenaran Firman Tuhan; “Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu…” (ayat 4a). Dan kalimat ini diulang beberapa kali, ini berarti Allah sedang serius dengan perkataan ini.

Kalimat di atas menggambarkan “suatu hubungan, antara kita (manusia) dengan Allah.”

Dalam terjemahan lain, ayat 1 ini, ditulis dengan “My Father business” atau bisnis BapaKu.” Berarti kita sedang berada dalam bisnis Bapa kita di sorga; begitu juga dengan gereja ini. Yang dimaksudkan adalah bahwa Gereja adalah tempat menyatakan kemuliaan Allah dan Kerajaan Allah harus hadir di situ. Sebagai cabang/ranting, kita harus tinggal melekat (menjadi bagian yang tidak terpisahkan) atau punya hubungan yang baik dengan pokok itu. Sehingga kita dapat berbuah banyak. Saat kita menjadi satu dengan Tuhan, maka kita akan berbuah banyak. Sebaliknya, saat hubungan kita rusak, kita akan seperti ranting kering yang akan dicampakkan ke dalam api.

Saat Alkitab menulis tentang “uang” tidak serta-merta itu hanya berbicara tentang uang (dalam arti materi) saja. Jadi, jangan kita membangun hubungan atas dasar uang secara nominal. Sebab uang bukanlah segalanya.

Lukas 16:10-15

Dari bacaan dalam ini ada 7 hal yang dapat mewakili uang, yaitu :

  1. Kesetiaan
  2. Kebenaran
  3. Kejujuran
  4. Integritas
  5. Pengabdian
  6. Kasih
  7. Iman (juga berbicara tentang hati)

Milikilah hubungan yang benar dengan Tuhan dan sesama bukan hanya berdasar pada nominal (uang). Hubungan yang dibangun atas dasar uang, bisa hancur.

Ada 4 (empat) tingkatan hubungan dalam Kerajaan Allah, yaitu :

I. Hubungan Tingkatan Suka.

Merupakan tingkatan orang-orang percaya yang belum dapat memberi apa-apa. HubunganNya dengan Tuhan baru sebatas hanya pada selera (cita rasa). Fokus dalam beribadah lebih karena pujian penyembahannya (juga musik) yang wah, suasana ibadah yang ada demontrasi kuasa Allah yang besar. Lebih berfokus pada yang kelihatan saja. Orang yang ada pada tingkatan ini adalah punya sikap suka membanding-bandingkan!

Contoh tingkatan ini adalah dalam II Raja-raja 5:9-15. Naaman masih membanding-bandingkan, keinginannya adlah dengan cara-cara yang spektakuler ayat 11-12). Bila fokus kita dalam ibadah salah, maka kita tidak dapat menikmati jamahan Tuhan, yang muncul justru marah, jengkel dan rasa tidak senang.

II. Hubungan Tingkatan Cinta

Pada tingkatan ini, orang sudah mulai memberi tapi masih menuntut balasan. Contoh : ketika berdoa, kita bilang, “Tuhan, saya cinta Tuhan! Tapi, mana janjimu Tuhan. Sudah bertahun-tahun mana hasilnya, Tuhan?” kita menuntut. Firman Tuhan menulis, “Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu..” berarti tinggallah dalam Tuhan dan Tuhan yang akan menyediakan bagian-bagian (porsi) kita. kita lihat, cabang tidak dapat hidup dari dirinya sendiri, ia membutuhkan pokok itu. Saat kita menuntut Tuhan, yang adalah pokok itu, kita sebenarnya sedang memisahkan diri kita dari pokok itu. hal yangjustru membuat “daun” kita menjadi layu, lalu kering. Yang akan membuat kita, dikumpulkan lalu dibuang ke dalam api. Terus menempel atau tinggallah (menjadi satu kesatuan) dalam Tuhan. Akan ada suplai terus-menerus dalam kehidupan kita. jangan menuntut.

Allah kita adalah Allah yang menyediakan! Kita berbuah banyak, agar Bapa kita di sorga dipermuliakan.

III. Hubungan Tingkatan Kasih

Tingkatan ini adalah memberi dari kekurangan dengan prioritas yang benar. Contoh: janda di Sarfat dalam I Raja-raja 17:1-16. Apapun yang kita miliki berikanlah terlebih dahulu untuk Tuhan maka semua yang kita miliki (biar sedikit) akan Tuhan cukupi! “Tepung dalam tempayan itu tidak habis dan minyak dalam buli-buli itu tidak berkurang seperti firman TUHAN yang diucapkan-Nya dengan perantaraan Elia”, (ayat 16).

IV. Hubungan Tingkatan Kasih Karunia

Ini adalah dimana kita memberikan segalanya termasuk hidup kita tanpa menuntut balas. Fokusnya hanya memberi. Contoh: Tuhan Yesus yang telah memberikan segalanya bagi kita lewat pengorbanan di kayu salib sehingga Bapa mengaruniakan kerajaan kekal baginya dan kita yang percaya kepadaNya akan menerima kasih karunia demi kasih karunia (Yohanes 1:16 – terjemahan lainnya: lapisan kasih karunia).

Ketika kita masuk dalam kasih karunia Tuhan, jika kita sadar bahwa semuanya yang kita miliki adalah anugerah; kita adalah penilik (pengelola) dan Bapa-lah pemilikinya. maka Kerajaan itu akan diberikan bagi kita juga. Kita akan ikut memerintah dalam Kerajaan Allah, Bapa kita di sorga. Kita adalah orang kepercayaanNya dalam kekekalan!

 

 

“PENEROBOS”

 

Bacaan : 2 Timotius 3:1

Apa yang harus kita kerjakan – sebagai gereja – pada hari-hari terakhir?

Menilik berbagai hal yang terjadi silih berganti (tidak kunjung selesai) atas bangsa kita ini, hal ini apakah merupakan bagian dari kutuk; salah satunya dengan mengutuki Israel. Atau bahkan ini penghukuman Tuhan? Melihat dari sisi Alkitab, ini harus dicermati sebagai saat penggenapan Firman Tuhan yang sedang terjadi. Allah sedang melakukan penggenapan demi penggenapan.

Ayat 1, ”Ketahuilah bahwa pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar.” Masa sukar mengandung arti :

  1. Jaman berbahaya; dimana dosa tidak jauh dari ujung jari,
  2. Jaman kekerasan; dimana hampir seluruh stasiun televisi tidak ada yang tidak menayangkan siaran dengan kekerasan,
  3. Jaman yang menyedihkan; dimana-mana orang menjadi ketakutan dengan alam sekitarnya. Contoh : Orang Indonesia takut dengan tsunami, gunung meletus dan tanah longsor. Di Amerika, takut dengan badai (seperti badai Cathrina dan yang terakhir, Wilma). Di Taiwan, orang takut dengan badai Liong Kwan.
  4. Jaman sulit; dimana terjadi pergeseran dari zaman manual menjadi digital. Semakin menciutkan tenaga kerja manusia di dalamnya.

Di dunia ini tidak ada tempat yang aman! Tempat yang aman hanya ada dimana Yesus juga berada di sana. Dimana kita berada, di situ juga ada Yesus.

Hakim-hakim 7:1-6; Mikha 2:13.

Mengapa kita membutuhkan Tuhan yang namaNya ”Penerobos.” Ada hal-hal dalam kehidupan kita yang dapat kita kerjakan dengan akal-pikiran kita, tapi juga ada hal-hal dalam kehidupan kita yang tidak dapat kita kerjakan dengan akal-pikiran kita. Oleh karenanya, kita membutuhkan Tuhan.

Kita membutuhkan Tuhan dalam menerobos masa sukar (tekanan-tekanan hidup) yang terjadi di depan kita. Sebagai orang percaya, hari ini, Allah penerobos yang namanya ”Paras” mengajak setiap kita untuk keluar menghadapi segala yang terjadi. Jangan lari dari masalah. Jangan menghindar sebab lewat masalah – ketika kita berani menghadapinya – ada peningkatan dalam hidup iman kita. Itu yang mengakibatkan ada kualitas. Gereja dituntut kualitas, bukan hanya pada kuantitas saja.

Dalam segala aspek, kita harus mengalami terobosan! Begitu juga dengan Gereja Tuhan, Kita (baca : Gereja) harus mengalami terobosan, jika tidak, akan timbul roh agamawi. Arti Penerobos itu adalah : keluar, bertumbuh, bertambah, terbuka. Jadi, orang yang mengalami terobosan itu harus keluar, hidupnya bertumbuh dan bertambah serta ada keterbukaan! Bukan lagi menjadi orang yang kalah dengan masalah, tapi justru kita yang harus mengalahkan masalah.

Alasan-alasan orang yang tidak mengalami terobosan, yaitu antara lain :

  1. Kita tidak akan mengalami terobosan kalau kita takut dan gentar (ayat 3).

Ada banyak arti kata ”takut” tapi ada 3 macam ketakutan (menurut bahasa aslinya), yaitu:

- delio à ketakutan usia anak-anak, mis = anak-anak takut ketika disuruh tampil di depan mimbar/pentas.

- phobia à ketakutan yang sesaat; mis : takut dengan ketinggian.

- prubos à ketakutan yang menguasai seseorang secara terus-menerus; mis : takut akan masa depan, takut akan gelap.

Dari ayat ini terlihat jelas, bahwa ketakutan yang dimaksudkan adalah ketakutan tingkat prubos. Prubos inilah yang membuat mundurnya (pulang) dua puluh dua ribu orang dari rakyat itu dan tinggallah sepuluh ribu orang. Iman tidak bisa bekerja sama dengan prubos! Prubos ini yang harus dihalau.

Mantan presiden AS, Franklyn Rossevelt, berkata, ”Ketika menghadapi masa-masa yang sukar hal-hal yang perlu kita takuti, yaitu ketakutan itu sendiri!” Masa sukar boleh saja terjadi, tapi kita tidak boleh takut. Jangan hidup dalam ketakutan!

  1. Tidak siap berperang (ayat 5-6).

Jumlah sepuluh ribu ternyata masih terlalu banyak, menurut Tuhan (ayat 4). Jadi, ada seleksi tahap kedua. Gideon lalau menyuruh rakyat itu untuk turun minum. Atas perintah Tuhan, dibagilah rakyat itu menjadi 2 kelompok berdasarkan cara mereka minum. Kelompok yang minum dengan cara menghirup dengan membawa tangannya ke mulutnya, ada tiga ratus orang, tetapi yang lain dari rakyat itu semuanya berlutut minum air. Yang mimum dengan berlutut itu berarti mereka menanggalkan peralatan perangnya. Berarti mereka ini tidak siap untuk berperang (tidak waspada). Fokusnya teralihkan.

Hidup keKristenan penuh dengan peperangan. Hari-hari ini, roh agamawi sedang tumbuh dimana-mana. Oleh karenanya, kita ada peperangan rohani. Yang harus kita perangi adalah :

  • Diri kita sendiri. Seperti perang terhadap kemalasan musuh terbesar kita adalah diri kita sendiri.
  • Lingkungan (sekeliling) kita. Mis. = lewat televisi, hobby.
  • Iblis.

Untuk menang atas semuanya itu, mari hari ini, pastikan kita bersama dengan Yesus.

Tiga alasan supaya kita mengalami terobosan, yaitu :

Ø Percaya dan pegang apa yang Tuhan katakan (Hakim-hakim 6:16). Gideon pegang apa yang Tuhan katakan (dia percaya). Walau yang bersama dengan dia ciut dari 32.000 orang menjadi 300 orang saja, dimana musuhnya malah tidak berkurang jumlahnya. Gideon percaya (pegang) apa yang Tuhan katakan. Setiap yang dijanjikan Tuhan, pasti akan digenapi.

Ø Hidupnya dtpenuhi kuasa Roh Tuhan (Hakim-hakim 6:34). Dengan adanya Roh Kudus tinggal dan berdiam dalam kita, seharusnya Itu dapat mengubah kita. Dari perasaan takut menjadi berani. Seperti : Saulus yang diubah menjadi Paulus.

Ø Setia (ayat 5-6). “Barangsiapa yang menghirup air dengan lidahnya seperti anjing menjilat…” Mengapa Tuhan memilih memakai anjing sebagai perbandingannya. Salah satu sifat anjing adalah setia. Pertanyaannya? Apakah kita, manusia, setia? Ayo, kita belajar dan milikilah sifat setia ini. Orang yang mengalami terobosan adalah orang yang setia dengan Tuhan.

Gideon dengan 300 orang mengalami terobosan dalam perkara yang luar biasa. Itu juga dapat terjadi dalam hidup kita. Mari nikmati kuasa terobosan Tuhan dalam perkara yang luar biasa, dalam hidup kita!

Pdt. Ir. Timotius Arifin
30 Juli 2006

 

THE SPIRIT of GRACE

 

Bacaan Fiman Tuhan: Zakharia 12:1-8

Ayat 8, “Pada waktu itu TUHAN akan melindungi penduduk Yerusalem, dan orang yang tersandung di antara mereka pada waktu itu akan menjadi seperti Daud, dan keluarga Daud akan menjadi seperti Allah, seperti Malaikat TUHAN, yang mengepalai mereka.”

Malaikat Tuhan yang tidak lain adalah gambaran dari Tuhan Yesus Kristus. Inilah yang menjadi proyek yang sedang Tuhan kerjakan di akhir jaman ini, bahwa orang yang paling lemah akan menjadi seperti Daud; sedangkan mereka yang menjadi keluarga Daud, akan menjadi seperti Allah. Goal tertinggi dari setiap orang percaya adalah menjadi seperti Yesus. Tujuan kebangunan rohani adalah untuk memuliakan umat Tuhan; supaya mereka menjadi seperti apa yang mereka sembah. Kita akan menjadi seperti yang kita sembah (yang kita kagumi). Sebab kita ini bukan hanya sekedar menjadi orang Kristen atau anggota gereja, tetapi Alkitab berkata bahwa kita adalah WARGA KERAJAAN SORGA.

II Samuel 9:1-13

Ini merupakan sebuah kisah yang indah ketika Daud naik tahta. Kata ”kasih” itu adalah ”Hezet” yang berarti kemurahan (mercy), rahmat, kasih setia (loving kindness). Daud merupakan gambaran yang kurang sempurna dari the Greater David yaitu Yesus Kristus sendiri. Tapi dari Daud ini, paling sedikit kita dapat mengetahui gambaran apa yang terjadi dalam Kerajaan Allah.

- Daud adalah seorang raja yang rendah hati

Daud yang awalnya adalah seorang gembala, oleh Tuhan diangkat menjadi raja atas Israel. Kitab I Samuel 30 dan II Samuel 9 menunjukkan walau Daud telah memerangi banyak peperangan (dan merebut daerah seperti Tirus, Sidon, Aram dan Filistin), tapi ia tetap rendah hati. Daud tidak menjadi sombong dan angkuh.

God give grace to the humble. Tuhan senang dengan orang yang rendah hati. Dan salah satu ciri dalam kerajaan sorga adalah kerendahan hati (humility). Kalau mau mendapatkan favor-Nya Tuhan (kebaikan Tuhan), minta satu hal saja – hari ini, putuskan – yaitu mintalah kerendahan hati!

Bagaimana untuk menjadi rendah hati? Yaitu dengan selalu sadar bahwa Tuhan selalu bersama dengan kita. Menyimak Daud, walau penuh dengan kemenangan (Victorious), ia memilih untuk tetap rendah hati. Ini berarti, dalam kehidupan kita kalau ada keberhasilan/kesuksesan jangan kita menjadi sombong/angkuh, tapi kembalikanlah semuanya itu pada Tuhan. Berikan segala kemuliaan hanya bagi Dia. Hal ini yang disadari oleh Daud!

- Daud adalah seorang raja yang baik

Kelaziman saat seseorang itu punya kedudukan, maka yang dia lakukan adalah mengamankan kedudukannya itu. Begitu juga dengan kebiasaan raja, di mana pun di dunia ini adalah saat dia naik tahta, hal yang dia lakukan adalah membasmi dinasti atau keturunan sebelumnya. Saat ada presiden baru, maka ia akan menyingkirkan lawan politiknya (dari pemerintahan), dan begitu seterusnya.

Tapi hal berbeda yang Daud buat.. Daud malah memperhatikan Mefiboseth yang telah jauh tersingir; dengan menunjukkan hezet padanya. Mefiboseth telah jauh berada di rumah Makhir bin Amiel, di Lodebar (ayat 4).

  1. Makhir artinya terjual. Orang yang jadi budak itu terjual (dirinya).
  2. bin Amiel, artinya bukan umatku; dan
  3. Lo-debar, (Lo = tidak, Debar = padang rumput). Artinya tidak punya padang rumput.

Mefiboseth yang sudah tersingkir itu dibawa Daud ke meja perjamuannya, makan sehidangan dengan Daud. Itu juga yang Yesus buat bagi kita. Yesus lebih besar dari Daud. Daud merupakan gambaran yang kurang sempurna dari Tuhan Yesus.

- Daud adalah seorang raja yang adil

Semua ladang Saul semasa hidupnya diberikan kepada Mefiboset.. Saul adalah anak dari seorang pengusaha besar, sehingga ketika ia menjadi raja, ia menjadi raja yang yang kaya raya. Tapi ketika Daud menjadi raja, semua itu, yang seharusnya menjadi milik Daud, ia serahkan kembali ke Mefiboset (ayat 9-10); padahal semasa hidupnya Saul berencana untuk membunuh dan mengejar-ngejarnya. Hal seperti ini yang membuat Tuhan berfirman, ”Aku menemukan Daud bin Isai, seseorang yang berkenan di hatiKu.” (Kisah 13:22; I Samuel 13:14).

Hari ini, mungkin kita sedang mengalami ketidakadilan, baik dalam warisan, keluarga atau pun pekerjaan. Ada kabar gembira! Sebab raja kita, Yesus Kristus namanya, adalah raja yang adil.

He is a Jugde King. He is a Good King. He is a Humble King. (And He is a Faithfull King).

Raja itu membawa setiap kita ke meja perjamuanNya. Di meja perjamuan Yesus, ada kesembuhan, ada kekuatan, ada kemenangan, dan ada keberhasilan. Dalam meja perjamuan Allah ada semuanya. Meja perjamuan disebut juga rumah pesta.

Kidung Agung 2:4, ”Telah dibawanya aku ke rumah pesta, dan panjinya di atasku adalah cinta.

- Daud adalah seorang raja yang setia

Daud setia dengan ikatan perjanjiannya dirinya dengan Yonathan, ayah Mefiboset. Walau Yonathan telah meninggal, Daud tetap memegang perjanjiannya itu. Ketika kita berkata, “AMIN”, itu ada artinya. Artinya adalah Allah Raja Kesetiaan (GOD, the King of Righteousness). Kesetiaan di masa kini merupakan “barang” komoditi yang sudah langka kita jumpai. Tapi itu ada di dalam rumah Tuhan, sebab nama Yesus adalah Saksi Yang Setia.

- Daud adalah seorang raja yang menjaga hatinya tetap manis di hadapan Tuhan.

Ini adalah kunci kemenangan yang luar biasa. Sebab Daud tidak mengalami kepahitan sedikitpun. Ada 3 kekayaan, yaitu:

  1. The great richest atau kekayaan yang besar.
  2. The great family atau keluarga yang hebat.
  3. The great freedom atau kebebasan yang besar.
  4. (dan the great power atau kekuatan yang besar).

Ibrani 12:14,16-17

Tanda-tanda orang yang ada akar pahit, yaitu :

  1. menimbulkan kerusuhan (troublemaker); karena ada dendam / kemarahan,
  2. mencemarkan; karena hati yang tidak murni,
  3. cabul, dan
  4. nafsu yang rendah.

Mari minta hati yang setia, saat kita menghadapi the Lord’s table. Biarkan hatimu didapati setia dan berkenan di pemandanganNya.

“Anointing”

Bacaan Firman Tuhan: Kejadian 28:10-22

Nama Yakub berarti penipu. Sebuah nama yang tidak bagus untuk didengar, bukan? Menilik dari hal di atas, kehidupan kita pun sebenarnya tidak jauh berbeda dengan kehidupan Yakub. Tidak berarti apa-apa. Kehidupan masa lalu kita tidak ada artinya buat Tuhan, tapi oleh kasih karuniaNyalah kita boleh mendapatkan “rasa berarti” itu dihadapanNya. Kita dijadikan berarti oleh Tuhan!
Firman Tuhan hari ini adalah mengisahkan – ketika – Yakub tiba disebuah tempat (yang akhirnya dinamainya Betel : Rumah Allah, ayat 17-18). Yakub pun tidur di situ dengan menggunakan sebuah batu sebagai alas kepalanya. Tampaklah, dalam mimpinya itu, ada sebuah tangga yang ujungnya sampai ke langit dan para malaikat naik-turun di tempat itu.
Ayat 13. “Berdirilah TUHAN di sampingnya dan berfirman: “Akulah TUHAN, Allah Abraham, nenekmu, dan Allah Ishak; tanah tempat engkau berbaring ini akan Kuberikan kepadamu dan kepada keturunanmu.” Kita lihat Yakub tidur di atas sebuah batu, batu ini disebut “batu impian”. Setelah keesokan harinya, Yakub bangun dan mengambil batu tersebut membuat tugu serta menuang minyak ke atasnya, ini disebut dengan “batu pengurapan.”
Ini berarti, Pengurapan itu Tuhan mau ada dalam kita. Tanpa pengurapan Tuhan, tidak satu pekerjaan yang dapat dikerjakan. Hanya pengurapan Tuhan yang dapat menjaga setiap kita. Dan mimpi yang sejati itu adalah bukan mengutak-atik dalam pikiran kita (mengkhayal), tapi yang keluar dari kerinduan hati kita yang terdalam; apa yang kita rindukan dari Tuhan.
Kita tidak bisa menguji sumber-sumber Allah, kalau kita tidak pernah mencoba sesuatu yang mustahil. Mari bermimpilah yang besar, sebab Allah kita adalah Allah yang besar! Dan yang sanggup melakukan semuanya ini adlaah adanya pengurapan Tuhan dalam hidup kita, tentunya. Sebab tidak ada perkara yang mustahil bagi Allah. Permasalahannya, adalah kita tidak tahu / tidak sadar, ada pengurapan itu dalam kita.

Pengkhotbah 3:11
Alkitab jelas menulis, bahwa Ia, Yesus kita, membuat segala sesuatu indah pada waktunya. Sebab rancanganNya adalah rancangan masa depan yang penuh harapan, bukannya rancangan kecelakaan.
Kalau hari ini, masih ada mimpi kita yang belum tergenapi ini karena :
a. ada waktu Tuhan, untuk saudara, dan / atau
b. kita masih hidup dalam “kedagingan” kita.
Kerinduan Tuhan adalah Ia mau memberikan kekekalan bagi kita, umatNya. Hal-hal yang kekal Tuhan mau berikan bagi kita. tapi banyak kali kita hidup dalam hal-hal duniawi, seperti : kedudukan, promosi, untuk dipuji dan dihargai orang lain. Kita melenceng dan tidak mencari hal-hal yang kekal.
Kita memang tidak dapat menyelami pikiranNya dan segala pekerjaan Tuhan, tapi yang dapat kita lakukan adalah mendengar apa kata Firman Tuhan dan melakukanNya, hari ini juga! Dengan Tuhan, kita akan melakukan perkara-perkara yang besar. Sebab dalam setiap kita, ada potensi-potensi khusus yang kasih bagi kita. ini hanya soal waktu. Tuhan menginfuskan kekekalan (urapan) itu dalam hidup kita. kita harus mengejar dan merebutnya. Contoh : Simson (Hakim-hakim 15:14). Ketika urapan Tuhan turun atasnya, dengan berbekal rahang keledai, Simson membunuh seribu orang Filistin. Hari ini sama, kalau urapan itu turun atas kita, apa yang sederhana ada di tangan kita, itu akan memukul seribu musuh dihadapan kita. Jika banyak (seribu) masalah datang, pakai yang sederhana yang ada pada kita, yaitu kita punya Tuhan, kita punya iman, pengharapan dan kasih. Pakai itu untuk memukul “musuh-musuh” kita.
Pengurapan itu akan membuat batu impian itu menjadi tugu pengurapan, tapi juga harus diimbangi dengan karakter! Efesus 3:20, ”Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita.” Ketika pengurapan itu turun atas kita, maka Tuhan akan melakukan jauh lebih banyak dari apa yang kita minta dan doakan.
Kata “annointing” itu berasal dari kata “Charis” atau kharisma. Definisi urapan, yaitu : kesanggupan Tuhan untuk kita dapat menjalankan apa yang Dia perintahkan.

Bagaimana urapan itu dapat turun ?
1. Urapan itu turun dengan sendirinya; sejalan dengan tugas dan panggilan, jabatan dan rencana Allah, dalam hidup kita. Misalnya :
Saat kita dipanggil menjadi guru, urapan guru itu turun mengikuti kita (begitu juga gembala, nabi, penginjil atau juga saat diangkat menjadi koordinator). Urapan itu turun sesuai dengan tanggung jawab. Artinya, saat seseorang diberikan sebuah tanggung jawab, maka urapan itu pasti mengikutinya. Dan ketika kita tidak bertanggungjawab dengan sepenuh hati, kita sebenarnya melecehkan pemberian Tuhan dalam hidup kita. Roma 12:6-8, kita dipanggil, dalam jawatan dan tugas rencana Tuhan, urapan Tuhan turun mengikuti.
Jangan minder, sebab yang sederhana ditangan Simson dapat dipakai untuk mengalahkan seribu musuh. Mungkin kita berkata, kita hanya memiliki pengharapan atau iman yang kecil, tapi itu dapat memindahkan gunung yang besar, kata Tuhan. Alkitab menulis, Iman yang kecil memindahkan gunung, sedangkan iman yang besar mengalahkan dunia.
Bilangan 11:16-17, ketika para tua-tua itu diangkat (tanggung jawab diberikan) urapan itu langsung turun. Belajar bertanggungjawab dengan bersama-sama (ada tim).
2. Kita harus punya asosiasi (kedekatan dengan orang-orang yang punya pengurapan sejenis). Saat kita dekat dengan orang-orang yang punya urapan sejenis, urapan itu bisa transfer. Pengurapan bisa transfer, tapi karakter tidak dapat ditansfer, tapi melalui proses. Contoh :
- Kisah 4:13, Petrus dan Yohanes. Mereka pernah berasosiasi dengan Yesus.
- Elia dan Elisa. Mereka bergaul.àII Raja-raja 3:11-12
- Seorang tuan yang memberikan talenta kepadaàMatius 25:14,18 hamba-hambanya (perumpamaan tentang talenta).
Kita harus tahu dengan siapa kita bergaul. Alkitab menulis, pergaulan yang buruk merusak kebiasaan yang baik (I Kor. 15:33). Tuhan Yesus berkata, kalau kamu menuruti perkataanKu, kamu bahkan akan melakukan perkara-perkara yang lebih besar dari yang Aku lakukan (Yoh. 14:12).

Survei tentang alasan-alasan orang-orang yang dapat menjadi pemimpin :
a. Bakat alami hanya 5 %;à
10 %, danàb. Adanya krisis/masalah (yang memunculkan pemimpin)
c. Adanya pengaruh dari pemimpin lain 85 %.à
Hidup yang penuh kuasa adalah sebuah hidup yang membuat hidup orang lain menjadi lebih indah.

I Yohanes 2:27a,

“Sebab di dalam diri kamu tetap ada pengurapan

yang telah kamu terima dari pada-Nya.”

“Kingdom”

Bacaan Firman Tuhan: Mazmur 8:4

Representative itu sebenarnya ada sejak Adam diciptakan. Kata ini, mengandung arti bahwa sejak awal mula penciptaan Allah menjadikan Adam serupa dan segambar dengan diriNya (Kej. 1:26).

Yang harus kita ketahui, yang pertama, adalah Allah itu Roh, tidak kelihatan. Ide penciptaan itu dimaksudkan adalah Allah ingin menciptakan replika sorga. Bumi ini replika sorga yang bisa dilihat. Dan ”Eden” sendiri berarti ”the present”. Jadi, Adam diciptakan dalam ”the present”-nya Tuhan. Adam saat itu, mulia banget! Ide awal Allah itu adalah Adam itu representatif of God. Adam itu “Allah” yang bisa dilihat. Allah menyuruh Adam untuk berkuasa dan taklumkan bumi (diberikan otoritas yang luar biasa).

Tapi begitu dosa masuk, apa yang hilang dari Adam? Otoritasnya yang luar biasa dan kemuliaan. Pada masa hari-hari ini, apa yang seharusnya gereja lakukan? Yaitu : ”KINGDOM!” Apakah Kingdom itu? Bukankah kerinduan Allah itu agar semua manusia itu berkuasa/taklukkan bumi (alam). Ingat! Manusia tidak diperintahkan untuk saling menaklukkan/berkuasa atas manusia. Dosa membuat kekacauan dengan manusia beralih bukan menaklukkan bumi, tapi manusia saling menaklukkan.

Manusia tidak diciptakan untuk dikontrol, manusia diciptakan untuk memimpin. Itu yang terjadi dalam keluarga. Terjadi konflik, karena suami mau mengubah istri, atau sebaliknya. Tidak mungkin! Kita bukan Allah yang berkuasa untuk mengubah seseorang. Pernikahan tidak diciptakan untuk saling mengubah tapi untuk saling mengerti dan memahami. Ini berlaku juga di gereja, tidak mungkin gereja dapat mengubah manusia. Dengan berjemaat dan mendengar khotbah saja tidak cukup. Yang dapat mengubah seseorang itu HANYA KARYA ROH KUDUS! Tidak ada yang berjasa dalam perubahan seseorang. Tiga karya Roh Kudus adalah: menginsafkan dunia akan dosa, memimpin manusia pada kebenaran dan penghakiman yang akan datang.

Saat berbicara Kerajaan Allah disini berbeda jauh dengan kerajaan di bumi, kedaulatanNya dan kedahsyatanNya itu luar biasa. Lebih jauh lagi, apa mimpi Allah terhadap bangsa-bangsa di bumi ini? Di planet bumi ini, Tuhan mau ada satu bangsa yang disebut Kerajaan Imam! Inilah yang Allah mau dari Israel atau ”prince of God”. Tapi Israel gagal, hingga datangnya Tuhan Yesus ke bumi yang mengakibatkan lahirlah gereja. Gereja inilah yang merupakan Israel yang spiritual. Mimpi Tuhan/keinginan Allah diwujudkan di gereja (I Petrus 2:9).

Yohanes 1:12, ”Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya.” Tuhan mau kita tahu bahwa kita adalah anak-anak Kerajaan. Ubah mindset (pola pikir) kita! Kita akan menjadi seperti apa yang kita pikirkan.

Dalam Mazmur 8:5-6, ”apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya? Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat.”

Ini yang seharusnya kitya perbuat. ”Saya lahir untuk menggenapi rencana Allah!” Jangan mundur, jangan takut! Dalam menghadapi masalah/cobaan, ”Untuk itulah Saya lahir!” Hittler saja, mengatakan, ”Satu kebohongan, kalau secara konsisten, kita bilang dan terus bilang, itu akan diterima sebagai sesuatu kebenaran! Masakan kita yang sedikit lebih rendah dari Elohim, kita menyerah!

Hal-hal yang terdapat dalam Kerajaan, yaitu :

· Raja, atau yang tidak lain adalah perwujudan dari kerajaan itu sendiri.

Ambil contoh, kalau raja kita narkoba, rakyatnya pasti narkoba. Kalau rajanya mafia, rakyatnya juga pasti mafia. Begitulah perwujudannya, bukan? Disini timbul pertanyaan, ”SIAPAKAH RAJAMU?” itu yang paling penting.

· Teritorial, adalah wilayah kekuasaan. Di dalamnya ada sumber-sumber, orang-orang; dan semua yang ada didalamnya itu disebut Properti dari raja itu sendiri. Jadi, teritorial Tuhan yang mana? Dia menjadi Tuhan atas semuanya, karena Tuhan memiliki segala sesuatu. Ada kepemilikan diatas segalanya. Mazmur 24:1, ”Mazmur Daud. TUHANlah yang empunya bumi serta segala isinya, dan dunia serta yang diam di dalamnya,” itu adalah teritorial Tuhan.

· Konstitusi, yaitu ikatan perjanjian seorang raja dengan wargaNya. Kita, orang percaya, bukan rakyat tapi warga Kerajaan Allah. Ini 2 hal yang berbeda. Perjanjian itu mengekspresikan semua pikirannya raja. Konstitusi itu perjanjiannya didokumentasikan.

· Hukum, adalah standar dari prinsip yang ditetapkan raja. Jadi, hukum harus ditaati oleh semua warga, tidak terkecuali orang asing dalam teritorial dalamnya. Sebab hukum melindungi semua orang (hal yang tidak terjadi di bangsa kita ini). Hukum Kerajaan itu cara yang dibuat untuk melindungi semua warga / seseorang dijamin mendapat kebaikan raja.

Kenapa kita harus hidup rohani? Kita melakukan semua hukum-hukum rohani, tidak ada hubungannya agar supaya kita masuk sorga. BUKAN! Kita melakukan semua hukum-hukum rohani itu supaya kehidupan itu berlaku atas kita. Kita menjaga kekudusan, agar hidup kudus itu berlaku atas kita. Saat diperlukan, penyertaanNya, perlindunganNya dan berkatNya, ada pada kita.

Dalam Kerajaan, tidak berlaku demokrasi. Demokrasi dalam hukum Kerajaan, frustasi! Kerajaan itu teokrasi. Presiden dipilih, raja tidak. Raja dilahirkan! Ini bedanya. Sebab perkataan raja itu sudah merupakan suatu hukum. Daud mengerti hal ini, seperti yang tertulis dalam Mazmur 138:2. JanjiNya melebihi segala sesuatu.

· Hak istimewa, adalah kebaikan raja yang dicurahkan kepada warganya yang setia. Dalam suatu kerajaan, warganya akan selalu dilindungi. Jadi, orang sangat ingin menjadi bagian dari warga kerajaan. Sekali Anda menjadi warga suatu kerajaan, raja bertanggungjawab untuk memelihara dan melindungi Anda secara pribadi. Yang harus kita ketahui, bahwa seseorang menjadi warga itu karena raja yang memintanya untuk menjadi warga kerajaannya. RAJA YANG MINTA. Bukan kita yang datang membawa harta (uang) kita untuk dapat diterima sebagai warga. Siapa yang mau setiap kita menjadi warga Kerajaan Allah? Bukan kita, bukan harta kita. Kita tidak layak. Tapi Raja itu yang meminta kita untuk menjadi warga KerajaanNya. Tapi ada hal lucu, dimana kita sudah menjadi warga KerajaanNya tapi kita tidak tahu hak-hak kita, kita tidak hidup didalamnya.

· Kode etik, yaitu tingkah laku warga yang bisa diterima dalam Kerajaan.

· Pasukan, adalah sistem yang mengamankan teritorial dan melindungi warganya. Dalam sebuah kerajaan, warga tidak menjadi tentara, warga tidak bertempur. Di kerajaan, raja melatih suatu pasukan khusus, digaji yang besar, untuk melindungi raja dan juga warga kerajaan itu. Pasukan itu disebut Host, pasukan komponen militer. Malaikat adalah tentara Kerajaan Allah yang akan melindungi wargaNya.

· Persemakmuran, yaitu sistem perekonomian suatu kerajaan, yang menjamin setiap warga memiliki akses yang sama untuk keamanan finansial. Contoh : lihat persemakmuran Inggris, seperti Malaysia, Hong Kong atau juga Australia. Inggris akan malu kalau persemakmurannya miskin. Itu dunia.

Lukas 12:22.29-32.

Intinya adalah ”Maukah Kamu percaya pada Raja itu atau tidak?” Apa yang ditakuti hatimu, Dia, Raja itu akan melindungi kita, wargaNya. Allah kita (Raja itu) memiliki segalanya dan kemuliaanNya luar biasa, kita yang adalah wargaNya, percaya padaNya dan nikmati persemakmuranNya.

 

 

“GIVING MENTALITY”

 

Bacaan Firman Tuhan: Kisah 2:41-47

Christianity is a life style!

Yesus, Tuhan, datang bukan untuk membawa agama Kristen tapi Dia membawa Kerajaan. Artinya, adalah Yesus datang membawa sebuah gaya hidup yang bertentangan dengan gaya hidup dunia. Tidaklah mungkin untuk menaklukkan kota ini (memenangkan jiwa bagi Kristus), jika gaya hidup kita tidaklah sangat berbeda dengan gaya hidup dunia ini. Kekristenan adalah sebuah gaya hidup, bukan seperangkat peraturan agama atau ritual, setiap hari minggunya. Itu GAYA HIDUP!

Kisah 2:41 à Cara Hidup Jemaat Mula-mula.

Gaya hidup jemaat yang pertama mencengangkan dunia. Misalnya: tahukah Anda bahwa orang Yahudi itu pelit? Tapi yang luar biasa terjadi atas jemaat ini. Dimana saat Roh Tuhan turun atas mereka dan melingkupi mereka, ini yang terjadi : tiba-tiba di Yerusalem muncul sekelompok “orang aneh” yang juga Yahudi, yang mengalami lawatan Tuhan dan berubah gaya hidupnya. Dimana kelompok “orang-orang aneh” ini menjadi baik dan membagi-bagi harta miliknya (tidak pelit lagi).

Ayat 44-45, “Dan semua orang yang telah menjadi percaya tetap bersatu, dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama, dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing.” Ini bukan program, tapi gaya hidup!

Dalam Kisah 4:32, kekuatan jemaat ini tidak lain adalah gaya hidup!

Yang membuat jemaat ini dapat mengubah kota, yaitu :

  1. ada roh Yesus Kristus (diantara mereka), dan
  2. punya cara hidup yang berkuasa.

Yohanes 2:14-17

Terjadi sebuah kejadian yang belum pernah terjadi disepanjang kitab Injil, dimana Yesus menjadi semarah ini. Timbul pertanyaan dalam benak kita, alasan apa yang membuat Yesus semarah ini. Alasannya adalah Yesus mendapati bait Allah digunakan sebagai tempat berdagang. (Perlu kita ketahui, bahwa halaman bait Allah di Israel disebut “Korg of the gentile” atau halaman untuk bangsa-bangsa lain). Halaman bait Allah, yang diperuntukkan bagi bangsa-bangsa lain itu, dimana seharusnya dipergunakan untuk misi dan memenangkan bangsa-bangsa lain, malah dipergunakan bangsa sendiei (bangsa Israel sendiri), untuk mencari untung.

Kita lihat sekarang ini, banyak orang hidup bersekutu dalam suasana bait Allah, misalnya : setiap hari Minggu kita datang bersekutu; tapi dibalik semuanya itu, dalam benak kita, ada motivasi lain, kita datang hanya untuk sekedar mencari untung. Contoh : kita datang bergereja, dengan maksud toko (tempat usaha kita) menjadi laris; atau untuk secepatnya menemukan jodoh semata. Atau bahkan alasan utama kita datang ke gereja, agar kita diberkati! Tidak ada bedanya gereja dengan gunung Kawi, bukan? Tapi kita menjadikannya seperti itu!

Yesus menjadi marah? Mengapa? Sedangkan Dia mengajar, jika ditampar pipi kiri, beri juga pipi kanan; dan mengampuni musuh kita serta berdoa untuknya. Apa yang membuat Yesus marah? Tidak lain, adalah kita datang padaNya dengan maksud mencari keuntungan semata. Cek motivasi kita. Apakah kita datang untuk give my best atau tidak?

Yesus tidak marah saat diriNya difitnah, dianiaya dan disiksa; justru untuk itulah Dia lahir (Chris Manusama, 20 Agustus ‘06), tapi Dia marah dikala dijumpai kita datang padaNya dengan maksud memuaskan keinginan kita yaitu mencari untung (mementingkan diri sendiri). Kita cenderung untuk mencari untung daripada KerajaanNya, tapi Alkitab mengajarkan bahwa carilah KerajaanNya terlebih dahulu, maka tambahan itu akan mengikuti (Mat. 6:33). Inilah waktunya, dimana gereja tidak hanya memandang “tanganNya” tapi pandang wajahNya.

Gereja mula-mula telah tahu hal ini, dimana mereka telah mengalahkan roh materialistis sejak awal. Kita lihat pada jaman Kisah Para Rasul awal, mereka sudah buktikan dengan memberi secara habis-habisan (ini sebuah gaya hidup). Makanya materialisme tidak …. kehidupan gereja mula-mula. Selain kasus Ananias dan Safira (Kisah 5), tidak terjadi kasus yang besar. Hanya karena menyembunyikan sebagian hasil penjualan tanah itu, suami-isteri ini meninggal. Wow!

Tiga nilai/prinsip/paradigma yang menjadi motifasi terkuat dalam gaya hidup memberi, yaitu :

  1. Memberi adalah tanda utama mengasihi (Yohanes 3:16).

Tanda orang mengasihi adalah memberi, sebab tidak mungkin kita mengasihi tanpa memberi. Kita dapat memberi tanpa ada rasa mengasihi, tapi tidak mungkin kita mengasihi tanpa memberi (atau juga pengorbanan).

Paul J. Karam, seorang pengajar Kekristenan Sejati, mendefinisikan Kasih adalah: tidak mementingkan diri sendiri. Alkitab menulis, Kasih itu sabar, murah hati, lembut; seperti tertulis dalam I Kor. 13:4-7. jadi, Kasih itu tidak mementingkan diri sendiri. Mother Theresa, mengatakan, “Kasihlah yang menjadi alasan saya berada disini, yang membuat saya tidak memiliki lagi apa yang harus saya berikan!” Mother Theresa memberikan segalanya sampai tidak ada lagi yang bisa diberikannya. Alasannya hanya satu : kasih.

Dalam I Kor. 13:3, bukti memberi tanpa kasih, Alkitab mengatakan tidak ada faedahnya! Karena memberi tanpa ada faktor kasih didalamnya, itu tidak lain dari sekedar aktifitas sosial belaka. Intinya, cara Allah memenangkan dunia yaitu dengan kasihNya (memberi). Jadi, jika kita ingin memenangkan kota ini, mulailah dengan gaya hidup memberi (tunjukkan Kasih itu). Manifestasinya adalah memberi.

  1. Memberi adalah rahasia bahagia Makarios.

Makarios adalah bahagia yang dari dalam dan tidak tergantung faktor luar apapun. Banyak orang Kristen berpikir (paradigma), bahagia adalah makin banyak harta makin bahagia. Tapi, Alkitab punya ukuran bahagia, seperti yang tertulis dalam Kisah 20:35,” Dalam segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu, bahwa dengan bekerja demikian kita harus membantu orang-orang yang lemah dan harus mengingat perkataan Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah mengatakan: Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima.” Jadi, kunci/ukuran bahagia yang dimaksudkan adalah : bukan menerima lebih banyak lagi tapi melepaskan lebih banyak lagi! Kalau kita mengerti akan hal ini, kita tidka lagi bertanya, “Apa lagi Tuhan?”, tapi “Mengapa? Mengapa saya memiliki semuanya ini? Mengapa saya mempunyai uang, rumah yang besar dan lainnya? Mengapa?

Saat kita sangat kaya tapi sangat pelit, sebenarnya kita belum menjadi sangat kaya! Itu bukan gaya hidup Kerajaan.

Paradigma yang benar akan membawa perilaku yang benar. Semua orang yang berperilaku salah, karena paradigmanya salah. Orang menjadi pelit, juga karena paradigmanya salah tentang gaya hidup Kerajaan (memberi). Jadi, bahagia kita itu karena memberi ataukah menerima?

  1. Memberi adalah pintu gerbang kepada pewahyuan Jehovah Jireh.

Jehovah Jireh artinya : Tuhan mensuplai kebutuhan, Tuhan menyediakan semuanya. Kapan untuk pertama kalinya, nama Jehovah Jireh ada? Nama ini muncul setelah ada tindakan memberi yang radikal dari Abraham. Pertanyaannya apa yang Abraham berikan? Ishak, anaknya (Kej. 22). Lalu Tuhan menyediakan gantinya seekor domba jantan.

Hari ini, banyak kita hanya mengejar penyediaan Tuhan atau nama Jehovah Jireh tanpa memasuki gaya hidup pengorbanan (memberi). Tidak ada pewahyuan dan pengalaman Jehovah Jireh yang sejati dalam hidup kita, tanpa hati memberi yang radikal. Pastikan dirupiah paling kecilmu, engkau punya sasaran cinta dan pemberian.

GIVE YOUR BEST FOR GOD!

 

 

“ANUGERAH”

 

Bacaan Firman Tuhan: Yohanes 1:16,17

Kerajaan Allah disebut the up side down Kingdom atau kerajaan sangat berkebalikan dengan kerajaan dunia. Ketika kita memaksakan cara/kehendak kita (dunia), kita tidak akan pernah bisa on-line dengan Kerajaan Allah. Ketika sudut pandang/pola pikir kita adalah pola pikir dunia ini, kita tidak akan bisa paralel dengan Kerajaan Allah. Sebab yang Yesus mau cara/pola pikir adalah yang sama dengan pola pikir KerajaanNya.

Dalam Yohanes 1:16-17 di atas, kita melihat bahwa Yesus datang bukan membawa hukum, tapi kasih karunia. Tujuan Yesus datang untuk yang membawa sesuatu yang baru, yang sebelumnya mereka tidak pernah memikirkan, melihatnya dan mengalaminya. Tapi, gaya hidup yang seperti inilah yang Tuhan Yesus mau itu terjadi dalam setiap kehidupan kita.

Yesus datang membawa KASIH KARUNIA (ANUGERAH).

Dengan kita menerima Dia sebagai Juruselamat, sebenarnya kasih karunia itu telah ada dalam kita. Jadi, mari kita ubah paradigma kita kita (Metanoia : pembaharuan pikiran/perspektif).

Yohanes memulai pelayanannya dengan mengatakan, “Yesus datang membawa kasih karunia, Musa datang membawa hukum” Jadi, apakah kita tidak memerlukan hukum? Tidak. Kita memerlukan hukum, tapi hukum adalah hukum (low is low). Hukum tidak bisa mengubah apapun/siapapun, sebaliknya hukum lebih banyak gagal daripada merubah. Contoh : hukum selalu berkata, “Jangan!” Kecenderungan manusia semakin dilarang, bukankah manusia itu cenderung semakin melanggarnya.

Pola kerajaan Allah begitu berbeda dengan dunia ini. Dunia memandang sistem fairness, justice, dan righteousness (pola keadilan); tapi pola Kerajaan itu adalah grace, mercy dan love. Apa kewajiban Tuhan sehingga Dia harus datang ke dalam dunia dan mati buat manusia (kita)? Jawabannya : TIDAK ADA! Saat Adam dan Hawa (manusia) mengambil keputusannya sendiri untuk tidak mentaati/melanggar Firman Allah, tidak ada intervensi Allah disitu.

Problem manusia itu hanya satu, yaitu “dosa”. Pertanyaannya adaah mengapa Allah mengijinkan manusia (Adam dan Hawa) itu jatuh dalam dosa, yang mengakibatkan seluruh keturunannya dilahirkan dengan sifat dosa (sin nature), bukankah Allah Maha Tahu? Sifat itu tidak bisa diubah, sifat itu menetap. Dosa ada dalam DNA kita. Misalnya, anak balita, tanpa pernah kita kita ajari untuk berbohong, anak itu bisa saja berbohong. Jawabannya, adalah Tuhan mengijinkan itu terjadi karena Tuhan begitu menghargai ciptaanNya. Manusia diciptakan bukan untuk menjadi robot, tapi dengan kehendak bebas. Maksudnya adalah bahwa Adam dan Hawa bisa mengambil pilihan sesuai dengan keinginan mereka sendiri, tanpa intervensi Tuhan.

Kalau di taman Eden, Allah tidak memberikan pilihan, apa artinya kehendak bebas. Allah menghargai pilihan manusia dan memberitahu konsekuensi pilihan mereka tersebut. Dan mereka jatuh!

Tapi oleh anugerahNya, kita diselamatkan! Anugerah itu pemberian (gift)!

Hukum hanya untuk anak kecil (sebab hukum itu hanya 2 hal, yaitu ”boleh/ya” dan ”jangan/tidak”). Hukum itu menuntut; anugerah itu memberi. Semakin kita ”bercermin” padanya, semakin kita menyadari kesalahan/kegagalan yang berulang kali kita lakukan. Tidak ada satu manusia pun yang layak masuk ke hadiratNya, tapi hanya anugerahNya, kita dilayakkan menghampiri tahtaNya yang kudus, berjumpa dengan Raja diatas segala Raja dan Tuhan diatas segala Tuhan.

(Tahukah Saudara : Standar Alkitab adalah standar di atas rata-rata? Kita berzinah, bukah saja ketika kita melakukan itu, tapi ketika kita memandang lawan jenis dan timbul berahi dalam hati kita. Kita dikatakan berzinah. Atau, kita tidak perlu membunuh, ketika kita membenci saudara-saudari kita. Kita sama dengan membunuh mereka. Dan berapa banyak kali kita melakukannya?)

Dalam kehidupan kekristenan, hal yang tidak mudah ditaklukkan adalah ”pengampunan.” Tidak gampang untuk mengampuni. Kita sering berdoa doa Bapa Kami, ”dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami,” (Mat.6:12). Kita berdoa minta dosa kita diampuni, tapi kita tidak mengampuni orang lain. Kenapa? Karena kita hidup dengan pola pikir hukum. Hukum menuntut keadilan. Tapi kalau kita mengerti anugerah, kita akan mudah untuk mengampuni. Kasih karunia bekerja lebih dasyat dari hukum. Dunia ini diselamatkan bukan oleh hukum tapi oleh anugerahNya.

Hukum hanya untuk anak-anak, tapi kasih karunia untuk orang dewasa. Sebab, anugerah menunjukkan kedewasaan.

Yesus adalah cerminan dari kasih karunia. Kita dipilih dan diselamatkan itu semata hanya oleh anugerah. Waktu Yesus di kayu salib dia mengatakan, ”Sudah selesai!” Artinya, tidak ada lagi yang bisa kita kerjakan/perbuat. Semuanya telah diselesaikan di kayu salib. Tidak ada sedikit pun usaha/andil kita (Efesus 2:8-9).

Kita memerlukan mukjizat. Mukjizat adalah sesuatu yang tidak bisa/dapat lakukan. Apa pun yang kita lakukan dan dengan cara apa pun itu, kita tidak bisa melakukannya sendiri. Kita perlu mukjizatNya. Hari ini, masalahmu, persoalanmu, dan pergumulan rumah tanggamu, Yesus bilang, ”Sudah selesai!”

Bahkan semua yang kita dapat kerjakan, itu karena kasih karunia yang dianugerahkan pada kita, ada kemampuan Tuhan dalam kita (I Korintus 15:9,10). Jadi, tidak ada alasan untuk kita memegahkan diri. Nilai dari ROCK adalah kerendahan hati (humility). Milikilah kerendahan hati, bukannya rendah diri. Kerendahan hati baru dapat terjadi kalau ada kasih karunia. Karena pada dasarnya manusia itu sombong. Saat kita merasa diri kita adalah orang yang rendah hati, sebenarnya kita sedang menjadi orang yang sombong.

Belajarlah hidup dalam anugerah atau kasih karuniaNya! Anugerah itu kuasa untuk menang atas semua kelemahan dalam diri kita akibat dosa. Anugerah itu memampukan kita untuk melakukan apa yang tidak dapat kita lakukan. Anugerah menciptakan rasa aman dalam diri kita.

GOD GIVE GRACE TO THE HUMBLE!

 

 

Ujian Penyerahan Hidup

 

Saat kita merajakan Yesus dalam hidup (hati) kita, otomatis Kerajaan Allah (Kingdom) itu akan memenuhi hidup kita. kerajaan Allah ini bukan hanya soal perkataan tapi soal kuasa; bukan juga soal makan-minum tapi lebih soal kebenaran, sukacita, damai sejahtera oleh Roh Kudus. Jadi, ketika hidup kita dikuasai Kerajaan Allah maka Kingdom mentality itu pun memenuhi kita. Dan perwujudannya adalah: Kingdom power (kuasa kerajaan); yang tidak hanya bekerja dilingkup keluarga saja tapi juga antarbudaya; Kingdom authority (otoritas kerajaan); Kingdom community (komunitas kerajaan); Kingdom strategi (strategi kerajaan); dan Kingdom connection (koneksi kerajaan) serta Kingdom harmonious (Keharmonisan Kerajaan).

Kali ini, kita akan belajar bagaimana agar Kingdom itu terus terwujud dalam kehidupan kita, hari lepas hari. Ambil contoh, kita bisa hebat dalam pelayanan sebagai pengkhotbah misalnya, tapi dalam keluarga kita ada perpecahan/tidak harmonis; itu bukanlah Kingdom mentality. Atau juga, kita yang melayani di gereja anak. Kita bisa begitu hebat mengajar, tapi anak-anak kita tidak bisa diajar. Itu bukan Kingdom mentality tapi Church mentality. Sebab wujud Kerajaan Allah berbicara tentang HIDUP.

Matius 15:21-28, I Petrus 4:19.

Kingdom itu bukan agamawi. Sebab kingdom itu adalah kita percaya sepenuhnya, bahwa Yesus, Raja di atas segala raja itu pasti mengatur yang terbaik.

Dalam kisah di atas, kita dapati seorang wanita Kanaan datang kepada Yesus ketika Yesus berada di daerah Tirus dan Sidon. Wanita ini datang meminta kesembuhan akan anaknya yang sedang terbaring sakit. Ini seharusnya menjadi hal yang benar, sebab wanita ini datang ke sumber yang tepat. Tapi lebih jauh kita baca, justru terjadi hal yang tidak mengenakkan. Dimana Tuhan sama sekali tidak menjawabnya (ayat 23).

Dalam ayat 22, wanita datang kepada Yesus karena anaknya kerasukan setan dan sangat menderita. Kebenaran yang dapat kita ambil disini adalah Penyerahan hidup secara umum (natural). Contoh dalam kehidupan masa kini adalah ada yang mengalmi kebangkrutan usahanya, barulah datang mencari Tuhan dengan bersungguh hati. Contoh lain, ada yang keluarganya meninggal akibat sesuatu sebab, barulah datang mencari Tuhan. Itu umum (natural).

Untuk dapat terwujudnya Kingdom itu dalam kehidupan kita, kita harus melewati ujian yang Tuhan berikan. Kalau kita hanya masuk ke dalam ujian penyerahan hidup secara umum ini saja, kita tidak akan dewasa. Hal yang sama akan terjadi juga bagi ibu ini. Anaknya tidak akan sembuh, jika ibunya hanya sampai tingkat penyerahan hidup secara umum saja. Kita harus meningkat.

Ayat 23, ini berbicara tentang penyerahan hidup secara wajar (logis). Wanita ini datang kepada Yesus, tapi yang terjadi adalah Yesus sama sekalii tidak menjawabnya. Adalah hal yang wajar, dimana Yesus tidak mau menjawab. Hal yang wajar juga dimana wanita ini datang berteriak-teriak. Contoh lain, kita bertemu dan menyapa orang lain, lalu bersalaman dengannya, tapi orang tersebut tidak menaruh simpati kepada kita (tidak tersenyum dengan kita); itu adalah hal yang wajar. Kita tidak perlu kecewa hati dan marah. Adalah hak setiap orang untuk mau tersenyum atau tidak.

Kembali ke wanita ini, adalah wajar dimana Yesus tidak menjawabnya. Ini yang disebut dengan Penyerahan hidup secara wajar (logis). Sebenarnya, Tuhan lagi melihat apakah wanita ini tahan uji atau tidak. Seringkali kita sampai pada tingkatan menjadi kecewa dan mundur (hanya perihal tidak ada respon positif dari orang lain kepada kita). kita menjadi tersinggung dan pahit hati (jengkel). Kita tidak lulus pada tahap ini. Untuk bertumbuh adalah keputusan pribadi kita dengan Tuhan.

Kebenarannya adalah apapun masalah yang sedang kita hadapi, penyerahan hidup kitra masih di level umum dan wajar ini, jangan mundur, jangan kecil hati. Tapi terus maju dan fokus seperti wanita ini, hanya lihat Tuhan! Wanita ini tidak peduli apa kata orang (para murid) tapi malah terus mendekat pada Tuhan.

Hal berikut yang terjadi malah lebih tidak mengenakkan. Ayat 25, “Tetapi Yesus menjawab: “Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing.” Wanita ini disamakan dengan “anjing”. Itu bukan perkara yang mudah dan pasti tidak mengenakkan daging kita.

Kita sering gagal di level ini. Kita tahu kita benar, tapi kenapa kita masih saja dipersalahkan. Kita sudah melakukan sesuai Firman mungkin, tapi masih saja belum terjadi sesuatu apapun juga. Ini yang disebut dengan Penyerahan hidup secara ketidakadilan. Justru titik utama/penentu (final test) dari Kingdom bisa terjadi itu, ada pada tingkatan ini. Mengalami ketidakadilan tapi masih mau dekat dengan Tuhan atau tidak?

Wanita ini, mengalami masalah datang pada Tuhan, tapi malah Tuhan Yesus tidak menjawab, lalu para murid meminta Tuhan untuk mengusirnya, hingga diumpamakan seperti “anjing”, tapi tetap datang mendekat dan menyembah Tuhan. Itu yang membuat Tuhan Yesus menjawab dan berkata kepadanya: “Hai ibu, besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki.” Dan seketika itu juga anaknya sembuh” (ayat 28). Kesembuhan terjadi karena Tuhan melihat iman ibu ini. (Catatan : Alkitab hanya mencatat 2 kali dimana Tuhan Yesus takjub dengan iman seseorang, satu wanita Siro-Fenisia ini dan satunya lagi seorang perwira di Kapernaun; baca Lukas 7:9 dan Matius 8:10).

Fokus Tuhan. Semuanya Tuhan. Sebab adakalanya, Tuhan minta kita hidup dalam penyerahan secara ketidakadilan. Ketika kita lulus tingkatan ini, itulah yang menyentuh hati Tuhan. Dan wanita ini. Oleh Tuhan, dinyatakan lulus pada tingkatan ini. Selanjutnya, ada Penyerahan hidup secara kerelaan. Jadi orang yang rela dengan Tuhan, pasti melewati tingkatan-tingkatan tadi dan mereka lulus. Baru dibilang “Besar imanmu!” Artinya orang ini bertekun dalam iman yang benar. Iman yang benar adalah dalam segala keadaan/ hal, tetap setia sampai akhir, walau yang tidak adil harus dialami.

Akhirnya anak itu sembuh. Tuhan berjanji bahwa dalam kehidupan kita bisnis kita akan pulih, keluarga dan apa saja Tuhan akan buat menjadi baik adanya. Kita akan menikmati apa yang Tuhan buat, pastikan bahwa hidup kita ada dalam KerajaanNya (Kingdom).

 

 

TEMPAT KESUKAAN / FAVORIT TUHAN

 

Bacaan Firman Tuhan : Matius 21:17; Markus 11:11-12; Lukas 24:50

Berbicara tentang memberkati kota bukan berbicara tentang memberkati secara fisik tapi lebih ke personnya (masyarakat dalam kota tersebut). Dari ketiga bacaan di atas, ada hal yang membuat Yesus menjadi tertarik dan betah untuk tinggal di Betania. Ada perasaan feel at home di sana. Hal ini juga yang menjadi kerinduan setiap kita dimana dalam pribadi, keluarga, pelayanan, gereja lokal sampai ke lingkungan masyarakat kita, Yesus membuat tempat kesukaanNya dalam kita.

Dengan uang yang banyak membeli sebuah rumah yang mewah dan bagus, tapi kita tidak dapat membeli suasana dalam rumah tersebut.

Betania berarti rumah kencan (house of date). Setiap kita harus menjadi rumah kencanNya Tuhan, dimana Dia dapat menggendong, merangkul dan berinteraksi dengan kita. Yang membuat Tuhan Yesus tertarik dengan Betania, bukan soal ada objek wisata atau adat istiadat, tapi lebih karena Yesus mendapati ada 3 (tiga) pribadi dalam kota itu yang membuatNya Tuhan jatuh hati.

  1. Marta; yang melayani sifat lahiriah (kemanusiaan) Yesus. Orang yang senang mengadakan fellowship dan duduk dalam strukur/organisasi.
  2. Maria; yang melayani sifat keilahian Yesus. Orang yang suka duduk dalam menara doa dan berdoa, mengikuti seminar-seminar doa, bernubuat dan kegiatan-kegiatan prophetic apostolic lainnya.
  3. Lazarus; saat Lazarus mati barulah Tuhan menyatakan kuasa kebangkitan. Artinya, jika kita mau mati dari keakuan / kedagingan kita, maka Tuhan akan membangkitkan kehidupan yang baru.

Setiap kita pasti punya penonjolan-penonjolan baik itu di pelayanan Marta, Maria atau juga Lazarus. Tempat terbaik bukan soal posisi pelayanan tapi tempat yang Tuhan mau dari kita. Setiap kita punya bagian dan tempat dalam menyenangkan hatiNya Tuhan. Yang buat Tuhan senang adalah ada gaya hidup pelayanan atau gaya hidup Tuhan dari ketiga pribadi ini. Kalau ketiga hal ini yang kita buat dan selalu tanya Tuhan apa yang kita buat, terjadi kematian ”daging” kita, pelayanan yang selalu berfokus pada Tuhan, adanya kehidupan doa, hidup dalam hikmat, dan gaya hidup berfellowship. Itu yang buat Tuhan senang dan betah.

Sebelum menjawab hal ini marilah kita lihat terlebih dahulu level-level rohani, yaitu:

  1. I Korintus 3:1-3; level bayi. Level dimana kita selalu minta diperhatikan, hidup secara manusia duniawi.
  2. Filipi 2:19-22; level pelayanan. Mulai memperhatikan kepentingan orang lain, tapi saat ada masalah yang maunya mundur dari pelayanan, mementingkan diri sendiri (motivasi untuk keuntungan diri sendiri).
  3. Lukas 17:7-10; level hamba. Berserah sepenuhnya pada Tuhan dan tidak mengharapkan terima kasih.
  4. Yohanes 15:13-15; level sahabat. Memberikan nyawa, mau mati bagi sahabat. Maka Tuhan yang akan memimpin hidup kita. Hasilnya, kita mengetahui rahasia-rahasia Allah.

Saat kita mau ”mati” kedagingan kita, inilah yang menjadi rumah kesenangan Tuhan. Dan apabila Tuhan yang hidup, hidupNya yang penuh berkat itu melingkupi kita.

Kenapa banyak orang tidak mau ”mati”?

- Karena masih sering kepahitan (Ibrani 12 : 15, Jagalah supaya jangan ada seorangpun menjauhkan diri dari kasih karunia Allah, agar jangan tumbuh akar yang pahit yang menimbulkan kerusuhan dan yang mencemarkan banyak orang.)

- Masih mencintai sesuatu lebih dari Tuhan (I Timotius 6:10; Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka)

- Masih mencintai diri sendiri

- Masih menyimpan dosa.

Apapun yang kita lakukan semuanya untuk kemuliaan Tuhan. Saat kita taat, Tuhan akan buat segala sesuatu !

 

 

”MURID SEJATI”

 

Apa sebenarnya yang dimaksudkan dengan murid sejati? Murid sejati adalah orang yang senantiasa mau bertumbuh dalam kebenaran dan keberanian. Seperti seorang serdadu yang berlatih untuk berperang, seorang dokter yang berlatih untuk penyembuhan; sedangkan murid sejati berlatih untuk mewujudkan gambar Tuhan serta memberitahukan ”alamatnya” (keberadaan) Tuhan, di sorga.

Mengapa Allah menganggap penting seorang murid sejati? Hal ini disebabkan, karena Allah menginginkan sampai akhir (kehidupan kita) pun kedapatan tetap setia padaNya. Haleluya !!!

Matius 4:23-25;5:1

Dari bacaan di atas, kita dapati bahwa banyak orang yang datang kepada Yesus hanya untuk mencari berkat (makan dan minum), cari kesembuhan, atau cari kekuatan saja. Tapi ada hal yang yang tidak lazim, yang justru Tuhan Yesus lakukan. Ia malah naik ke atas bukit. Tuhan tahu kenapa Ia harus naik ke atas bukit, karena orang yang mengalami pemulihan jassmani, tokh masih bisa sakit; orang yang diberkati (uang) uang inipun bisa ”terbang” (walau uang tidak bersayap / hilang). Sebab hal-hal itu hanyalah sebuag ”kebenaran yang sementara”. Tapi Tuhan Yesus memberitahukan bahwa ada ”kebenaran yang kekal”, yaitu dengan menjadi murid. Artinya, kita tidak datang masuk ke gereja hanya untuk jadi pengunjung / turis atau sekedar penunjang bahkan sekedar berkomirmen supaya menjdapat pelayanan pastoral nantinya.

Lukas 5:15-16

Ini menunjukkan bahwa kadangkala kita – sebagai pengikut Kristus – cenderung senang kalau beribadah berada di tempat yang ramai. Tapi saat sendirian (saat teduh dengan Tuhan) kita tidak lagi memiliki gairah untuk berdoa dan baca Firman Tuhan, bahkan kita malamnya kita tertidur tanpa mengerti apa kehendak Tuhan saat itu. Juga ada yang suka berbahasa roh pandang dan lama sekali dalam ibadah, padahal bagsa roh itu untuk membangun diri sendiri, ini dilakukan saat teduh. Baru dalam ibadah bersama, kita membangun jemaat melalui nubuat. Selidikilah hati kita; saat kita sendirian apakah fokus kita tetap tertuju kepada Tuhan ataukah tidak.

Yohanes 6:22-27;66

Yesus tidak hanya datang sebagai entertainment atau hanya memuaskan keingingan “daging” kita! Akan Tetapi Dia, Yesus, membawa kita kepadaNya naik satu level iman lebih lagi. Yang dimaksudkan dengan naik satu level iman lebih lagi adalah soal penderitaan, proses atau pembentukan. Oleh karenanya di ayat 66, banyak murid yang meninggalkan Tuhan Yesus.

Hari ini sama. Seringkali kita dlam pengiringan kita akan Tuhan Yesus hany didasari ingin diberkati semata. Sehingga saat proses datang (ada tantangan), kita bukanlah menjadi orang yang mundur. Sebab ada kebenaran kekal, yang membuat kita kuat menghadapinya.

Namun juga, acapkali kita yang ”memaksa” Tuhan turun ke levelnya kita, dan bukannya mengijinkan Tuhan yang membawa kita naik ke level yang Dia kehendaki, bukan?

Matius 8:18-23

Kita tentu senang saat ada orang terpelajar, ahli agama, atau pejabat pemerintahan yang datang ke tempat ibadah dimana kita beribadah. Akan tetapi dari pembacaaan di atas, Tuhan Yesus malah mempunyai pandangan berbeda dengan pandangan kita pada umumnya. Yesus malah naik kapal dan menyeberang. Apakah Tuhan Yesus tidak senang dengan hal itu. Kita belajar bahwa bukan itu tujuan utama, karena orang-orang itu hanya mau datang pada Yesus dan tinggal pada level yang disebut murid saja.

Hari ini, kita memang membutuhkan banyak orang yang bertitel, jumlah jemaat yang banyak, ada orang dari pejabat pemerintahan, orang yang berduit. Terlepas dari semuanya itu, gereja harus punya goal 7ntuk mencapai level yang lebih tinggi yaitu menjadi “murid sejati”.

Apa itu bukti seorang murid?

  1. Yohanes 8:31-32. Bukti kita adalah murid Tuhan Yesus yaitu tinggal dalam Firman Tuhan.
  2. Yohanes 12:34-35. Bukti kita adalah murid Tuhan Yesus adalah dengan saling mengasihi. Tuhan Yesus memberi bukti Dia tidak hanya menerima orang-orang yang baik saja, tapi justru tujuan Dia datang ke bumi adalah untuk mencari dan menyelamatkan orang-orang yang terhilang (berdosa).

Lantas mengapa ada banyak murid yang gagal (dalam hal ini mereka tidak sampai menjadi murid sejati)? Tuhan Yesus memberikan jalan keluar :

- I Yohanes 2:6; seorang murid berlatih untuk menjadi sama dengan gurunya. Guru kita adalah Yesus Kristus. Jadi, kita harus hidup sama seperti dengan kehidupan Yesus, atau menjadi seperti apa yang Yesus jalani ini berbivara tentang gaya hidup Yesus).

Apa itu gaya hidup Yesus? Yohanes 5:19; menjelaskan gaya hidup Yesus adalah melakukan apa yang Bapa kerjakan. Ini gaya hidup intimacy atau hidup bergaul dengan Bapa, yaitu dengan menyediakan waktu lebih dengan Tuhan.

- Yakobus 1:12-15; jika kita mau berbahagia, alamilah pencobaan. Sebab berbahagialah orang-orang yang bertahan dalam pencobaan, dia akan menang, bahkan dia akan lebih dari pemenang.

Kita akan intim dengan Tuhan bukankah saat kita sedang mengalami pencobaan? Oleh karenanya, tanamkan ini, dibalik masalah ini pasti ada berkat, ada tuntunan tangan Tuhan, ada janji-janji Tuhan, juga ada jalan keluar.

Namun jangan juga bergaul dengan Tuhan hanya saat masalah datang menghimpit. Ini juga salah. Saat kesembuhan terjadi, ada pemulihan, pertolongan Tuhan, promosi; jangan lupakan Tuhan. Maka latihlah terus waktu kebersamaan kita dengan Allah; menyadari keberadaan Tuhan, menyembah dan berbicara dengan Dia. Mulai latihan itu dari 1 jam, 2 jam dst. Latih dan latih terus hingga menjadi kebiasaan, saat dimana Tuhan menguasai kita (Galatia 2:20).

Saat kita bergaul karib dengan Dia (intim), kita tidak hanya menerima berkat, tapi kita juga akan dijadikan berkat bagi sesama.

Yehezkiel 34:26

”Aku akan menjadikan mereka dan semua yang ada di sekitar gunungKu menjadi berkat; Aku akan menurunkan hujan pada waktunya; itu adalah hujan yang membawa berkat.”

Amin !!!

 

 

Kekuatan yang Diperbaharui

 

Bacaan Firman Tuhan: Yesaya 40:13

Kita yang hidup di jaman ini adalah orang-orang yang spesial karena Allah memiliki tujuan dan maksud yang yang luar biasa. Menurut John Avanzini, “Ini merupakan waktu dimana Allah tidak akan menahan kebaikanNya dalam kehidupan kita” (Allah tidak akan menunda-nunda berkatNya atas kita, umat kepunyaanNya.) Orang-orang yang menanti-nantikan Tuhan, kekuatannya diperbaharui; disamping itu ada percepatan rohani, dari yang tadinya tidur, bangun lalu berjalan; yang berjalan lalu berlari; dan yang berlari menjadi terbang.

Karena ini adalah waktu dimana Allah ingin memberkati kita dan hal yang harus dilakukan adalah dengan ”perbaharuilah kekuatan kita”. Hal ini berarti adanya pertukaran kekuatan kita (manusia) dengan kekuatan Tuhan. Dengan adanya pertukaran kekuatan kita dengan kekuatan Allah, hal inilah yang memampukan kita untuk mulai berjalan dengan kuasaNya yang berbeda (mulai dari hanya tidur, lalu bangun dan berjalan, kemudian berlari hingga terbang).

Maksudnya ialah berhubung Allah telah mempersiapkan berkat-berkat itu atas kehidupan kita, maka Allah menghendaki agar kita mengambilnya dengan cepat. Alah mau kita mengalami keberkatan yang bersumber dariNya itu agar dunia tahu bahwa Yesuslah Tuhan yang sanggup melakukannya.

Kekuatan manusia terbatas adanya. Oleh karenanya kita perlu menukarkan segala kekuatan / kemampuan kita dengan kekuatan Allah yang tidak terbatas tersebut. Tetapi, acapkali kita mempertahankan keterbatasan kekuatan kita yang kecil yang tidak berarti itu dengan kekuatan Tuhan. Saat ini, Tuhan mau terjadi suatu pertukaran.

Bagaimana caranya supaya kekuatan kita diperbaharui :

Dalam Kisah 28:1-10, menjelaskan :

  1. Memiliki tuntunan sorgawi (Kisah 27:10-14)

Disini kita dapati bahwa dari kisah perjalanan Paulus bahwa ada tuntunan dari sorga buat Paulus mengenai apa yang terjadi dalam perjalanan pelayanan mereka. Tapi saat Paulus memberitahukannya ke perwira tersebut tapi sang perwira itu malah lebih mendengarkan nahkoda dan jurumudinya.

Kapal ini dapat juga berbicara tentang kehidupan kita. Artinya kita yang berjalan dengan kekuatan kita sendiri. Orang yang sangat mempercayai diri sendiri, itu sangat berbahaya. Tapi kalau kita mempercayakan perahu kehidupan pada Tuhan, sekalipun ada bahaya Tuhan berjanji pasti ada pertolongan!

Hal inilah yang membuat Paulus tidak tidak gentar dalam perjalanannya.

Memang Allah berjanji akan ada berkat yang besar, ada perkara-perkara besar, kekayaan bangsa-bangsa datang pada kita; tapi kita juga akan mengalami gelombang yang besar. Hari ini, jangan hanya percaya pada nahkoda atau jurumudi (berbicara tentang kemampuan manusia) tapi percayakanlah kapal kehidupan kita pada Yesus sebagai Jurumudinya. Orang yang dipimpin dari sorga sama halnya dengan langit terbuka (open the heaven); atau jendela-jendela sorga; atau dalam terjemahan lain disebut dengan pintu gerbang banjir.

  1. Ada terobosan.

Bayangkan! Saat kita berdiri di depan sebuah pintu air (bendungan, pintu gerbang banjir). Dan ketika pintu itu dibuka, maka air yang ada dibalik pintu tersebut akan menerobos keluar denga kekuatan yang besar dan menerjang apa saja yang dilaluinya, termasuk kita. Bahkan juga, daerah pemukiman di sekitarnya juga akan dilanda dengan air itu.

Artinya, saat Tuhan melepaskan berkat berkat-berkatNya atas kita, sebelum semuanya itu terjadi Tuhan mau menerobos seluruh bagian dalam kehidupan kita terlebih dahulu. Semuanya dengan maksud, memperbaharui kehidupan kita.

  1. Air itu akan menyergap

Saat kekuatan kita diperbaharui, bersiap-siaplah Tuhan akan menyergap kita dengan berkat-berkatNya (dalam lawatan Allah).

Hari ini sama! Saat kekuatan kita diperbaharui Tuhan, maka Tuhan akan membuka pintu gerbang banjir itu buat kita. Kita akan terkaget-kaget, tercengang-cengang dan terheran-heran dengan semua yang Tuhan limpahkan pada kita. Bersiap-siaplah untuk menerima terobosan dan sergapan yang daripada Tuhan!

Orang yang dipimpin dari sorga, orang tersebut akan mengerti kemana Tuhan sedang mengarahkan ”kapal” kehidupannya. Contoh : Yosua (Yosua 3:1-4); yang Yosua lakukan adalah membiarkan tabut Tuhan berjalan di depannya dan biarkan Tuhan yang melakukan mukjizatnya. Yusuf (Kejadian 37-42), Yusuf dalam masa mudanya adalah seorang yang biasa menggembalakan kambing domba ayahnya. Artinya, orang yang dipimpin oleh Tuhan adalah orang yang biasa untuk melakukan segala hal dari Tuhan. Hal lainnya, Yusuf oleh bapanya, Yakub, mendapat perhatian lebih dari saudara-saudara lainnya hingga membuat Yusuf tidak disukai. Dengan memberikannya sebuah jubah yang maha indah (dalam terjemahan lainnya, jubah yang berwarna-warni) sebuah jubah yang hanya biasa dikenakan para bangsawan. Jadi, sejak mudanya Yusuf diperlakukan sebagai penguasa, oleh Yakub.

  1. Memiliki perlidungan sorgawi (Kisah 28:3-5).

Hari ini pastikan, bahwa dalam kehidupan kita ada perlindungan dari sorga. Sekalipun ada banyak hal yang bergoncang, di kota dan bangsa kita, tapi percayalah ada ada kuasa perlindungan/penjagaan dari sorga.

Hari-hari ke depan, Alkitab telah menulis, tidak akan menjadi lebih baik memang. Tapi orang yang diperbaharui kekuatannya, ada perlindungan dari sorga.

  1. Memiliki kuasa sorga.

Tuhan berjanji bahwa apa saja yang diperbuat tangan kita, Tuhan akan memberkati. Tuhan melakukan perbuatan-perbuatan besar, juga melalui tangan manusia. Sebab inilah waktu dimana Tuhan sedang mencurahkan kuasa sorga atas manusia. Setiap kita yang telah diurapi Tuhan mesti bergerak bersama-sama.

Tidak ada kemuliaan bagi Allah, jika manusia bisa bekerja sendiri;

Iman dimulai saat kekuatan manusia berakhir.

”Rahasia Kelimpahan”

Bacaan Firman Tuhan: Yohanes 6:1-13

Kisah ini menceritakan tentang bagaimana orang banyak berbondong-bondong mengikuti Yesus (ayat 2). Karena mereka telah melihat mukjizat, akan apa yang telah Yesus buat. Seperti menyembuhkan orang sakit, membangklitkan orang mati. Hal-hal yang belum pernah terjadi, dilakukan olehYesus.

Kalau mau jujur, acapkali kita pun dalam pengiringan akan Tuhan hanya karena kita telah melihat mukjizat, ada pertolongan Tuhan dan mengalami kelepasan dari masalah, bukan? Kita ikut Tuhan bukan hanya karena kita diselamatkan, tapi biasanya kita punya masalah, beban, atau dalam kesesakan. Itulah manusia. Kita datang pada Tuhan karena kita butuh pertolongan, jawaban dari Tuhan. Puji Tuhan, kalau kita sudah sampai pada satu kesimpulan bahwa, ”Pertolongan, jawaban itu hanya ada dalam Kristus Tuhan!”

Tetapi biasanya keadaan masalah/persoalan yang kita hadapi dalam kehidupan, kita datang pada Yesus masih tetap pada cara hiup yang lama, seperti murid-muridNya. Karena banyak orang itu sudah mengikuti Yesus beberapa hari, maka persediaan (bekal) mereka pastilah sudah habis atau pun kalau masih ada, tentu sudah menipis sekali (dipakai dengan irit-irit dan untuk diri sendiri).

Di sini justru Tuhan malah Yesus bertanya, ”Dimanakah kita akan membeli roti, supaya mereka ini dapat makan?” Terkadang cara hidup kita yang lama dalam menangani masalah / persoalan pikiran kita sangat terbatas, sehingga memang Tuhan berkuasa, tapi kita (seperti Filipus) akan menjawab ”Mana mungkin. Mustahil! Bahkan kayaknya semua pintu tertutup/buntu bagi kita.” Sudah coba ini, coba itu; semua cara sudah dilakukan, à semua orang bisa berkata itu.

Atau, seperti juga Andreas, yang mengatakan ”Di sini ada seorang anak, yang mempunyai lima roti jelai dan dua ikan; tetapi apakah artinya itu untuk orang sebanyak ini?” (ay.9). Saat dalam masalah, orang disekeliling kita akan tertawa dan berkata, ”Hmm, berdoa, berdoa lagi. Mana Tuhanmu!” Mungkin itu orang-orang yang kita kasihi, seperti orang tua, suami/istri, anak, teman/kerabat kita. Kalau kita tetap berada pada cara berpikir dengan melihat keadaan, apa kata orang; kita tidak pernah naik tingkat; mengalami kuasa Tuhan bahkan tidak menikmati pelipatgandaan dari kerajaan Allah.”

Tahukah kita, bahwa dalam hidup ini Tuhan ijinkan datang masalah, proses atau ujian, bukan supaya kita ini hancur (mati kutu), sebab ”Dia tahu apa yang Dia perbuat!” Tuhan sanggup mengerjakannya buat kita. Tapi orang-orang model Filipus, Andreas, para murid lainnya, manusia lama kita; kita hanya tetap pada tingkatan biasa-biasa saja atau kita tidak pernah naik lebih lagi, menikmati kuasa dan mukjizat, keberkatan dalam Tuhan. Inilah yang membuat kita menggerutu, mengomel dan bersungut-sungut.

Ayat 10-13.

Disini kita lihat, sebenarnya masalah, tantangan dan persoalan datang, Tuhan sudah tahu cara menyelesaikan semuanya itu, hanya Dia perlu ”kerjasama” kita, manusia. Dia perlu kita meningkat (naik level) dari cara hidup ke cara hidup baru kita. Cara berpikir lama diubahkan menjadi cara berpikir sesuai Firman Tuhan.

Dikatakan, di situ ada seorang anak yang mempunyai lima roti jelai dan dua ikan. Selain anak ini, tentu masih ada orang lain yang juga memiliki bekal/makanan tersebut, biarpun sedikit. Tapi mereka berpikir, ini tinggal sedikit, sisa-sisa; untuk saya dan keluargaku saja tidak cukup lagi. Untuk apa mesti membagi untuk orang lain.

Saudara, kalau kita tidak pernah menabur, jangan bermimpi untuk menuai. Kalau tidak pernah memberi, jangan berharap menerima. Ini hukum Kerajaan Allah! Dan untuk setiap kita menjadi kaya, berlimpah-limpah dalam hal jasmani dan rohani, hingga sampai ke anak cucu; hukum ini tetap berlaku untuk setiap kita, manusia.

Lihat anak ini, dikala murid-murid sibuk mencari roti, dai datang dan memberikan semua apa yang dimilikinya. Anak ini melambangkan kesederhanaan, kepolosan. Jangan pernah menganggap enteng anak kecil. Tuhan Yesus mengajarkan, ”Belajarlah dari anak kecil (sederhana, tidak ada prasangka buruk, tidak motivasi dalam memberi, seperti mau dikenal atau dipuji; ada rekayasa, siasat-siasat buruk). Anak ini polos , tulus dan rendah hati! Bukankah ini merupakan nilai-nilai ROCK Ministry. Kita dibentuk Tuhan supaya rendah ahti. Tidak peduli siapa kita. Apakah kita itu seorang pengusaha kaya dan terkenal, punya pengaruh besar bahkan seorang hamba Tuhan yang sudah melayani puluhan tahun; semuanya dituntut rendah hati.

Tidak mudah memang. Kecenderungan kita ingin dipuji atau dikenal, suka menonjolkan diri, suka diterima. Tapi terkadang dalam hidup kita, kita mengalami masalah yang teramat sukar bahkan kita digencet habis-habisan, agar kita mau menjadi orang yang rendah hati. Semua yang kita punya dan miliki, semuanya itu anugerah Tuhan. Kita ini dipilih, dipakai, dipakai dan diberkati; semata-mata anugerahNya.

Apa yang kita beri dalam Kerajaan Allah. Itu tidka berakhir pada kita saja, tapi juga sampai ke anak-cucu kita. Sebab di sorga hanya ada orang-orang yang rendah hati saja, lain tidak.

Yesus terlebih dahulu memberi buat manusia. Dia menjadi miskin, menderita hingga mati di salib, supaya setiap kita, umat manusia, memiliki hidup dan hidup dalam segala kelimpahan. Jadi, saat waktu kita, nama baik, harta, kesehatan, ekonomi diminta; itu semata-mata Tuhan ajar kita untuk memberi.

Anak itu beri semuanya pada Yesus. Dan lihatlah bagian Tuhan melakukan pelipatgandaan, dari lima roti jelai dan dua ikan, semua orang itu makan, hingga kenyang bahkan masih ada sisa 12 bakul. Anak itu jadi berkat besar buat orang banyak itu.

Dalam memberi Tuhan tidak melihat jumlah, tapi ketulusan hati. Begitupula, dalam kehidupan pelayanan kita, kita melayani dengan tulus. Bukan untuk cari nama, uang semata, kepopuleran atau embel-embel lain. Tuhan periksa hati!

Terakhir Tuhan suruh orang banyak itu untuk duduk semuanya. Diangkatnya lima roti jelai dan dua ikan itu lalu mengucap syukur. Artinya, seberat apapun masalah kita, jangan kita bersungut-singut, mengumpat atau mencari kesalahan orang lain (mencari kambing hitam). Tuhan bilang ”duduk”, ini berbicara tentang mari, cari wajahNya Tuhan, dan nantikanlah Tuhan!

Dengan diam tinggal tenang, bukankah disitu letak kekuatan kita! Yesaya 30:15, menulis, Sebab beginilah firman Tuhan ALLAH, Yang Mahakudus, Allah Israel: “Dengan bertobat dan tinggal diam kamu akan diselamatkan, dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu.”

Walaupun apa yang kita pinta dan doakan masih belum terjawab, tapi ucapkanlah syukur atasnya. Dengan mengucap syukur, tembok Yerikho runtuh, rantai di kedua kaki dan tangan Paulus dan Silas terlepas, bahkan pintu-pintu penjara terbuka.

Setialah!

Sebab kesetiaan dalam hidup kita diperhitungkan Tuhan!

 

 

KUNCI HIDUP BERKELIMPAHAN

 

Setiap kita pasti mau untuk hidup berkelimpahan, bukan? Hidup berkelimpahan bukan berarti dengan memiliki banyak harta (uang). Ada orang yang mempunyai banyak uang tapi kalau makan harus menggunakan selang; ada orang yang lainnya uangnya pas-pasan tapi bisa makan apa saja; dan orang yang lain lagi, uangnya tidak berlebihan tapi bisa menyekolahkan anaknya di luar negeri.

Ada 2 kunci untuk hidup berkelimpahan :

  1. Kita harus mengerti maksud dan tujuan Tuhan memberikan hidup berkelimpahan bagi kita (Ulangan 8:18). Tuhan memberikan kekuatan untuk menerima kekayaan. Tuhan tidak pernah mengatakan bahwa Dia akan memberikan kekayaan, tapi kekuatan untuk menerima kekayaan. Kalau kapasitas kita hanya 1 milyar, Tuhan tidak akan memberikan berkat 5 milyar. Sebab kalau demikian maka :

- kita tidak kuat mengangkatnya

- kita bisa jatuh (murtad).

Kalau Tuhan berjanji itu ya dan amin. Dan saat Tuhan berjanji Dia bersumpah. Apapun yang dijanjikan Tuhan tidak pernah meleset ataupun ditarik kembali. Justru kita manusialah yang seringkali berjanji dan tidka menepati apa yang kita telah janjikan tersebut.

Apa arti perjanjian? Perjanjian adalah kesepakatan dari dua pihak (atau juga orang) yang masing-masing pihak harus bertanggungjawab akan perjanjian yang dibuat tersebut.

Dalam Kejadian 1:26-28; itu disebut dengan perjanjian Eden. Eden berarti kaya, sukacita, berlimpah ruah (joyfullness). Saat manusia pertama diciptakan Allah bermufakat untuk menciptakan manusia segambar dan serupa dengan Allah. Itu artinya, Adam dan Hawa memiliki kuasa untuk memerintah dan mengusahakan apa yang diciptakan oleh Allah di muka bumi ini (termasuk kuasa untuk memberikan nama-nama kepada semua binatang, satu per satu). Bahkan, Allah memberikan perjanjian (Kejadian 2:16-17).

Tapi karena masuknya dosa, sehingga perjanjian Eden itu kini berubah menjadi “perjanjian edan”. Contoh : suami dan istri mulai ada ketidakterbukaan hingga terjadi perselingkuhan; dalam gereja yang seharusnya menjadi pusat joyfullness tapi yang terjadi “gontok-gontokan”.

Berkat itu pasti menjadi miliknya kita asalkan kita kuat. Sebab kesuksesan itu dimulai dari lingkup keluarga. Seorang suami yang sukses itu karena ditopang oleh seorang istri yang bijaksana. Ajarkanlah anak-anak juga takut akan Tuhan, agar ada Eden (joyfullness) dalam keluarga kita. Dalam Perjanjian Lama, Tuhan ijinkan tulah atas bangsa Mesir hanya untuk satu alasan saja, yaitu untuk pergi beribadah kepada Tuhan (bahkan 6 kali Tuhan menyuruh Musa memberitahukannya kepada Firaun, dalam Keluaran 4:23; 7:16; 8:1; 8:20; 9:1 dan 9:13).

Apa visi Tuhan atas manusia, khususnya setelah manusia jatuh dalam dosa? Adalah supaya manusia hidup harus menjadi serupa, segambar, seutuhnya dengan Tuhan (Keijadian 1:26).

Misinya yaitu manusia diciptakan untuk memperbanyak gambar/rupa Allah dengan cara membagikan atau memberitakan Firman Tuhan, sehingga kita menghasilkan anak-anak rohani.

Ada 6 perjanjian Allah kepada manusia, yaitu ;

a. Perjanjian Hawa (Kejadian 3:15)

b. Perjanjian Nuh (Kejadian 9:11-13)

c. Perjanjian Abraham (Kejadian 12:2-3)

d. Perjanjian Sinai (Kejadian 19:5,6)

e. Perjanjian Lewi kepada Harun (Bilangan 25:12-13)

f. Perjanjian Daud (II Samuel 7:6-29;23:5)

Segala sesuatu yang terjadi di dalam kehidupan kita sebagai orang percaya bukanlah terjadi dengan kebetulan.

  1. Perjanjian Tuhan itu pasti adanya, karena Alllah berjanji dengan cara bersumpah. Yesaya 54:10, ”Sebab biarpun gunung-gunung beranjak dan bukit-bukit bergoyang, tetapi kasih setia-Ku tidak akan beranjak dari padamu dan perjanjian damai-Ku tidak akan bergoyang, firman TUHAN, yang mengasihani engkau.”

Kalau kita cermati, keadaan alam dengan berbagai hal yang terjadi, seperti tanah longsor, sebenarnya semuanya itu membuktikan bahwa apa yang Alkitab tuliskan itu terjadi.

Bagaimana mengerti visi dan misinya Tuhan? Yohanes 15:7-8, ” Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya. Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku.”

Hari ini, kita akan mendapat kekayaan

oleh karena kekuatan yang Tuhan berikan

 

 

TEMUKANLAH GOSYEN-MU

 


Bacaan Firman Tuhan: Keluaran 8:20-23; 9:22-26

Gosyen adalah tempat yang subur dan terletak di dekat istana Firaun, yang dibatasi oleh sebuah sungai. Kita lihat dari pembacaan di atas, ada tulah lalat pikat dan hujan es yang melanda mesir, tapi Gosyen tidak mengalami tulah-tulah tersebut. “Hanya di tanah Gosyen, tempat kediaman orang Israel, tidak ada turun hujan es,” (Kejadian 9:26). Gosyen menjadi sesuatu yang luar biasa di mata Tuhan. Gosyen menjadi satu fokus buat Tuhan? Mengapa?

Alasannya sederhana, karena orang Israel tinggal di Gosyen!

Gosyen adalah tempat dimana Allah membuat perbedaan antara orang Israel dengan orang Mesir. Kita yang telah percaya pada Yesus dan telah menyerahkan hidup kita pada Yesus, seharusnya ada perbedaan dalam hidup kita, antara sebelum dan sesudah kita percaya Yesus.

Kekristenan kita tidak ditentukan pada saat ibadah setiap hari minggu atau pada saat melakukan kegiatan rohani, tetapi ditentukan oleh siapa kita pada hari Senin sampai Sabtu. Ukuran kekristenan kita bukan pada saat ibadah, berdoa, pelayanan, dan berpuasa. Tapi ukuran kekristenan kita terletak pada apa yang kita lakukan setelah kita beribadah.

Ada 4 kebenaran untuk menemukan Gosyen, yaitu :

  1. Dipisahkan karena mengalami kelahiran baru (Kej.43:32)

Merupakan suatu kekejian bagi orang Mesir apabila orang Mesir makan bersama orang Israel. Begitu pula letak Gosyen, walau dekat dengan Mesir tapi terpisah, Gosyen sepertinya terisolasi. Kita sebagai orang percaya pun – saat kita percaya Yesus dan menerima kelahiran baru – secara otomatis dunia akan menolak kita, menolak karena cara hidup, cara berpikir, cara berbicaranya berbeda dengan cara dunia. Mengapa? Karena kita ini bukan berasal dari dunia ini, tapi dari sorga.

Karena kita telah mengalami kelahiran baru dalam Yesus – yang adalah Tuhan – kehidupan kita seharusnya menjadi berbeda dengan dunia ini.

  1. Dipisahkan karena cara kerja kerajaan Allah berbeda dengan cara kerja dunia (Kej. 46:31-34)

Salah satu alasan mengapa orang-orang Israel disuruh tinggal di Gosyen adalah karena orang-orang Israel merupakan penggembala kambing domba. Pekerjaan yang merupakan kekejian bagi bangsa Mesir. Ketika orang-orang Israel tinggal dan menetap di Mesir, mereka hidup dengan cara kerja yang berbeda dengan bangsa Mesir.

Hal inilah juga yang harus kita lakukan sebagai orang percaya, yaitu kita hidup dengan cara kerja Kerajaan Allah dan bukannya cara kerja dunia. Begitu juga dalam dunia pekerjaan, sebagai orang percaya seharusnya kita melakukannya karena takut akan Allah dan bukan karena takut akan manusia (pimpinan), dengan memberikan lebih dari yang bisa dilakukan orang lain, bertanggungjawab terhadap apa yang dikerjakan dan menjadi contoh/teladan di lingkungan pekerjaannya. Jika kita bekerja dengan cara-cara dunia (suap, tidak jujur, sembarangan dengan waktu) maka pada saat dunia dihukum, maka kita juga akan mengalaminya juga. Minta kepada Roh Kudus, agar kita mempunyai keberanian ilahi untuk bekerja sesuai dengan cara Kerajaan Allah, sehingga saat dunia berguncang (mengalami krisis), kita tidak terguncang.

Ketika kita hidup dalam kebenaran dan Yesus hidup dalam kita, maka orang-orang di sekitar kita akan respek dan hormat, maka Gosyen akan kita temukan.

  1. Mempunyai korban yang berkenan padaNya [Keluaran 8:25-28]

Orang Israel dalam mempersembahkan korban kepada Tuhan adalah dengan mempersembahkan semua bagian yang terbaik, termasuk lemak yang terbaik. Hal ini dipandang sebagai suatu kebodohan bagi orang Mesir, sebab mereka mengambil bagian-bagian tertentu untuk dirinya sendiri.

Kita, orang percaya, sebagai “keturunan rohani” bangsa Israel, seharusnya kita berbuat demikian. Memberikan persembahan yang terbaik pada Tuhan. Tidak seperti kebiasaan beberapa orang, kalau ada kebenaran firman Tuhan yang berbicara tentang perpuluhan, persembahan dan korban yang terbaik bagi Tuhan; kebenaran itu sangat sulit diterima. Jika cara kita memberikan perpuluhan, persembahan dan korban yang terbaik bagi Tuhan sama seperti cara-cara dunia kita tidak mungkin menemukan Gosyen. Jika masih memikirkan / mempertimbangkan apa keuntungannya, kita belum mengerti tentang mempersembahkan “korban”. Mempersembahkan korban merupakan momen terbaik untuk menguji kita, apakah hati kita hanya terpaut pada semua pemberian Tuhan, yang kita miliki, atau pada Sang Pemberi itu. Kita hanyalah pengelola bukanlah pemilik. Kita harus menyadari apa yang diperintahkan pemilik, kita sebagai pengelola, harus melakukannya!

  1. Mempunyai perlindungan Ilahi (Keluaran 12:21-23).

Bangsa Mesir terkena 9 tulah, dan orang Israel terluput. Tetapi pada tulah ke-10 (kematian anak sulung), Allah memberikan syarat kepada orang Israel. Mereka harus menyembelih anak domba dan darahnya dioleskan pada ambang pintu dan kedua ambang pintu. Maka saat malaikat maut datang, ia melewatinya dan tidak ada kematian. Itulah Paskah pertama yang artinya Allah melewatinya.

Di Gosyen ada perlindungan Ilahi karena orang Israel menggunakan cara yang telah ditentukan Allah untuk mendapatkan perlindungan Allah, kita harus mengikuti cara yang telah ditentukan Allah. Mengurapi adalah salah satu cara untuk mendapatkan perlindungan ilahi.

Saat kita mendapat perlindungan ilahi saat itulah kita menyadari Gosyen kita.

Selamat menikmati Gosyenmu!

Amin!

 

 

MENGENAL BERBAGAI MACAM

URAPAN / BERKAT

 

Bacaan Firman Tuhan: I Sam 16:12-13

Keberhasilan Daud, antara lain :

  1. Melalui kecapinya, Daud mengusir roh jahat (16:18,23)
  2. Melalui batu dan umban, dapat mengalahkan Goliat (I Sam 17:49)
  3. Melalui refleknya, dapat luput dari kematian (18:11-14)

Kata kunci segala keberhasilan Daud adalah :

- adanya urapan dari Tuhan yang Daud terima dan dipelihara.

Beberapa jenis urapan, yaitu : urapan untuk :

  1. Kesembuhan / Kesehatan (Mar. 16:18b; Yak. 5:14).

Allah menghendaki agar kita, umatNya, baik dan sehat-sehat saja. Sakit itu bukan rencana Tuhan (Wahyu 2:22), tapi merupakan ‘paket’ yang dibawa iblis akibat manusia yang jatuh dalam dosa. Dan cara paling efektif agar kita tidak sakit, adalah dengan saling mendoakan, baik dengan minyak urapan ataupun penumpangan tangan, serta menjaga kesehatan melalui pola hidup yang sehat. Tuhan telah menyediakan kuasa kesembuhan didalam kita.

  1. Pergumulan “Rumah Tangga” (I Samuel 1:17)

Dalam kehidupan rumah tangga, ada banyak hal yang dihadapi dan tanggungjawab-tanggungjawab yang berat. Tetapi, yang Tuhan sediakan adalah bagaimanapun dan seberat apapun pergumulan, Allah kita adalah Allah yang memberkati dan Dia Allah yang bertanggungjawab atas setiap rumah tangga. Setiap masalah yang diijinkan terjadi atau sedang kita dihadapi dalam rumah tangga adalah jalan untuk kita mengalami mukjizat dan berkat-berkat yang baru daripadaNya.

  1. Seisi rumah / Harta (Keluaran 12:23)

Penting sekali agar setiap barang atau harta kita diurapi. Agar ada penyertaan Tuhan. Tuhan tidak pernah membiarkan anakNya mengalami kehilangan tanpa Dia bermaksud memberikan yang baru (Allah memperhitungkannya)..

  1. Hidup di masa tua (Yesaya 46:4)

Kecenderungan manusia adalah orang yang semakin tua adalah orang yang mengalami penurunan dalam berbagai aspek, mulai dari kehidupan kesehatannya merosot, imannya mengalami lemah bahkan tidak siap untuk hidup tua (maunya muda terus). Walaupun sudah lanjut umur janji Tuhan adalah Dia akan menyelamatkan, menggendong dan yang bertanggungjawab atas hidup kita. Orang yang hidup dalam urapan Tuhan, semakin tua semakin dia diberkati.

  1. Hidup kudus (Yesaya 6:7)

Orang yang mau bertobat, yang mau bertumbuh dalam Tuhan dan meninggalkan dosanya, cenderung untuk dihantui dengan perasaan bersalah akan masa lalu (terintimidasi). Karena itu perlu diurapi untuk memiliki kemampuan untuk meninggalkan dosa masa lalu tersebut.

  1. Melunasi hutang (II Raja-raja 4:3,7)

Hutang adalah tanggungjawab yang sudah jatuh tempo. Kunci rahasia agar kita diberkati adalah dengan melunaskan (membayar kewajiban) hutang kita tepat pada waktunya. Dan Tuhan memberi kita kemampuan untuk kita dapat melunasi hutang-hutang kita, sejauh mana kita mau bertanggungjawab.

  1. Hidup diberkati (Bilangan 6:24-27)

Berkat seperti apa yang Saudara harapkan (Seperti pelunasan hutang, atau panen, atau langit yang terbuka?) Mulailah dari memberi persepuluhan.

Apa itu persepuluhan? Sepersepuluh dari Penghasilan yang kita terima dari Tuhan :

- Bisa Melalui Gaji sebagai Pegawai,

- Bisa Melalui bisnis (Laba Bersih),

- Bisa Melalui Orang lain yang dipakai Tuhan untuk memberkati kita.

Contoh : Yakub (dalam Kejadian 28:20-22)

Siapa yang harus melakukan perpuluhan? Setiap orang percaya yang tertanam (komitmen) didalam satu gereja.

Bawalah seluruh persembahan persepuluhan itu ke dalam rumah perbendaharaan, supaya ada persediaan makanan di rumah-Ku dan ujilah Aku, firman TUHAN semesta alam, apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan. Mal 3:8-10

Untuk apa persepuluhan? Ulangan 14:28-29; “Pada akhir tiga tahun engkau harus mengeluarkan segala persembahan persepuluhan dari hasil tanahmu dalam tahun itu dan menaruhnya dalam kotamu; maka orang Lewi, karena ia tidak mendapat bagian milik pusaka bersama-sama engkau, dan orang asing, anak yatim dan janda yang di dalam tempatmu, akan datang makan dan menjadi kenyang, supaya TUHAN, Allahmu, memberkati engkau di dalam segala usaha yang dikerjakan tanganmu.“

  1. Seorang profesional (Kejadian 4:20-220)

Tuhan kita adalah Tuhan yang telah melengkapi kita dengan keahlian-keahlian kepada setiap pribadi agar kita dapat menjadi profesional di dalam setiap bidang yang ditekuninya. Setiap orang percaya harus menjadi ahli (skillfullness).

  1. Persiapan kematian

Matius 26:12, “Sebab dengan mencurahkan minyak itu ke tubuh-Ku, ia membuat suatu persiapan untuk penguburan-Ku,”.

Idealnya setiap orang yang mau meninggal, tahu kapan kita akan kembali ke rumah Bapa kita. Saat kematian menjelang seharusnya kerohanian kita dewasa; contoh : Yakub, sebelum meninggal, ia memanggil seluruh anak-anak dan keluarganya lalu memberkati setiap mereka, satu demi satu, setelah itu dia naik ke pembaringannya dan meninggal.

Perlunya urapan persiapan kematian agar kita tidak perlu takut akan kematian. Sebab kematian bagi setiap orang percaya Yesus hanyalah “perpindahan” dari dunia ke Firdausnya Allah. Untuk mencapai tujuan akhir dari kehidupan kita, harus dimulai sekarang ini.

Saat seseorang diurapi Tuhan, yang dahulunya orang itu biasa-biasa bahkan cenderung diabaikan, ia akan menjadi seseorang yang luar biasa yang hatinya berkenan kepada Tuhan. Tuhan menyediakan urapannya bagi setiap kita yang mau untuk menyatakan kemuliaanNya.

 

 

DOA YANG MENJUNGKIRBALIKKAN DUNIA

 

Bacaan : Yakobus 5:16

Dalam Kejadian 16:1-16; 21:1-34, menceritakan tentang Hagar dan Ismael. Nama Ismael itu berasal dari Tuhan yang memberikan nama tersebut. Ismael sendiri berarti “Tuhan mendengar”. Ismael lahir saat Abraham berumur delapan puluh enam tahun. Sara, isteri Abrahan, melihat bahwa dia tidak dapat memberikan anak bagi suaminya, maka Sara memberikan Hagar budaknya untuk suaminya. Setelah tahu bahwa Hagar mengandung, Hagar mulai memandang rendah akan nyonyanya. Dan atas persetujuan Abraham, Sara menindas Hagar sehingga Hagar lari daripadanya. Saat dalam pelarian itulah Hagar bertemu dengan Tuhan dan menamakan tempat tersebut dengan nama “El-Roi” yang artinya “Bukankah di sini kulihat Dia yang telah melihat aku?”

Mulai dari dalam kandungan Ismael ada benih penolakan, hal yang membuatnya menjadi “keledai liar”. Bahkan saat Ismael berusia 14 tahun dan Ishak masih kanak-kanak –dalam terjemahan bahasa Inggris – kata “bermain-main” diterjemahkan dengan “menganiaya, menindas” (lihat juga Galatia 4:29). Jadi, penganiayaan atas umat Tuhan itu sudah ada sejak jaman dahulu.

Ada tiga hal yang membuat kita dapat menyingkirkan keledai liar itu dari dalam kehidupan kita, yaitu :

1. Milikilah hati yang murni dan tulus (Kejadian 16:10-13;21:16-19)

Apa yang tidak mungkin dalam segala aspek kehidupan di dunia ini, mungkin bagi Allah. Permasalahannya, adalah apakah kita berseru kepada Tuhan atau tidak? Dengan Saudara berseru, Tuhan mendengar, Dia melihat kita, tapi kalu kita tidak melihat, kita tidak akan melihat “sumur-sumur yang terbuka” itu (lewat hati kita). Biarkan dengan hati kita melihat sumur-sumur berkat dalam semua aspek kehidupan kita yang dibukakan bagi kita, di tengah-tengah situasi yang tidak menentu ini.

Hal yang perlu kita lakukan agar kita dapat melihat dengan hati kita adalah memiliki hati yang murni dan tulus; atau kita “menendang” keledai liar keluar dari kehiduapan kita. Keledai liar dapat berbicara tentang mudah tersinggung, ingin dihormati, dihargai, iri dengki.

Dan saat kita berseru padaNya dan melihat dengan hati kita, kita akan mendapatkan otoritas/wibawa dan warisan Ilahi yang dari Tuhan tentunya. Dunia ini, tanah Kanaan kita. Ada sumur-sumur yang banyak. Apa yang sedang kita lihat? Mungkin sumur ekonomi kita tertutup sekarang; Tuhan akan bukakan itu bagi kita. Atau, sumur dalam masalah keluarga dimana kita terhimpit didalamnya hingga mencapai batas-batas perceraian, kemampuan Tuhan akan membukakan sumur damai sejahtera bagi kita. Tapi, sekali lagi, adakah kita mau agar keledai liar itu disingkirkan dari kehidupan kita?

Dalam apapun yang kita lakukan, kerjakan, dalam pelayanan, mari koreksi kehidupan kita? Apakah masih ada keledai liar itu dalam kita atau tidak? Agar apa pun yang kita lakukan, kerjakan dan dalam pelayanan yang kita lakukan itu menyenangkan hati Tuhan semata.

2. Kedudukan kita haru dlebih tinggi dari cara-cara/pandangan dunia [Lukas 16:7-8]

Kalau kita cermati mengapa Tuhan memuji anak-anak dunia yang tidak jujur tapi dibilang cerdik. Artinya, kita yang adalah anak-anak terang, tidak bisa hanya hidup dengan standar yang sama dengan dunia, yang pas-pasan (rata-rata). Kalau mau menikmati akan berkat dan besar kuasanya Tuhan, kita harus hidup dengan “standar di atas rata-rata”. Hal ini yang Tuhan bilang, “Kalau kita ditampar pipi kiri beri pipi kanan; kalau kita disuruh berjalan satu mil, berjalanlah 2 mil; saat baju kita diminta berikanlah jubah kita.”

Hanya orang-orang yang berada “satu tingkatan” di atas rata-rata / dunia, barulah doanya dapat menjungkirbalikkan dunia, penuh kuasa dan dasyat. Contohnya :

a. Elia (I Raja-raja 18:20-40).

Yang membuat doanya Elia didengar Tuhan adalah ini : Elia menggunakan iman di atas rata-rata, dengan menambahkan air pada korban persembahannya. Dimana pada saat itu, sedang terjadi masa kekeringan akibat hujan tidak turun selama tiga setengah tahun. Elia memberikan air justru pada saat krisis air. Elia membuat sesuatu cara yang lebih tinggi dari cara nabi-nabi Baal.

Begitu juga dengan kita sekarang ini saat kita berdoa dengan iman yang diatas rata-rata, kita juga akan melihat kehebatan yang Tuhan sediakan di tahun 2006 ini.

b. Abraham.

Ketika orang lain mempersembahkan kambing dombanya, Abraham justru diminta untuk mempersembahkan Ishak, anak semata wayangnya. Ini membutuhkan kematian atas kedagingan dan rasa memilikinya.

3. Ada persekutuan dan penaburan (Kejadian 1:26-29).

Tuhan telah taruhkan – dalam kita – daya pelipatgandaan. Dengan Tuhan berfirman terjadi kuasa pelipatgandaan. Begitu juga saat kita dengar firman Tuhan, daya pelipatgandaan itu masuk dan berdiam dalam kita.

Kita juga dipercayai dalam pelipatgandaan dalam soal uang. Potensi itu adalah kita. Kuncinya adalah :

- ada fellowship (persekutuan);

- ada penaburan biji; berbicara hidup kita. (Kisah 10:1-4)

Matius 6:21, “Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.”

Amin.

 

 

PEGANGLAH APA YANG ADA PADAMU!

 

Firman Tuhan : Wahyu 3:7-15

Hari-hari ini gereja, orang-orang percaya bahkan dunia sedang masuk dalam “kamar-kamar terkunci” yang membuat mereka mengalami kesulitan dan kebingungan. Ada kamar sakit penyakit, kesulitan ekonomi, masalah keluarga, dan lain-lain. Kita bisa menjadi kebingungan dikarenakan kita tidak memiliki “kunci” itu. Jadi, apa dan bagaimana kita bisa menemukan “kunci” tersebut?

Dalam ayat 7, dijelaskan bahwa pemegang kunci yang dimiliki Daud adalah satu Pribadi yaitu adalah Yesus. Yesus merupakan “kunci” dan merupakan pemegang kunci itu sendiri dan Yesus menjaminkan diriNya bahwa setiap kita, orang-orang yang percaya padaNya, maka kita semua pasti memiliki kunci! Persoalan bisa ada dan kita terjebak di dalamnya, tapi kita punya kunci itu untuk membuka pintu masalah itu.

Apapun masalah kita, dengan Yesus, kita punya kunci untuk semua permasalahan yang sedang kita hadapi ini.

Bagaimana supaya Ia (Yesus yang adalah kunci) dapat membuka hal itu :

  1. “Aku tahu segala pekerjaanmu: lihatlah, Aku telah membuka pintu bagimu,..” (ayat 8). Tuhan yang membuka pintu itu untuk kita. Mengapa? Itu membuktikan kasih karunia Tuhan bagi kita. Dia mengasihi kita manusia ciptaanNya. Tuhanlah yang memampukan kita dan merupakan sifatNya yang suka menolong umatNya.
  2. “Aku tahu segala pekerjaanmu …” (ayat 8). Tuhan memperhatikan pekerjaan kita, umatNya. Justru saat kita setia dalam perkara-perkara kecil, Alkitab mengatakan, Tuhan akan memberikan tanggung jawab dalam perkara-perkara yang lebih besar. Saat Tuhan melihat karunia dan talenta kita, kita bekerja dengan dengan jujur, loyalitas dan penuh tanggung jawab; maka Tuhan memperhitungkan semuanya itu. Dan itu tmerupakan jalan untuk Tuhan membuka pintu.

Kita lihat dalam jemaat Filadelfia. Tuhan memuji pekerjaan jemaat ini karena Tuhan tahu walaupun kekuatan jemaat ini tidak seberapa (ayat 8). Namun mereka tetap setia dan tekun menantikan Yesus. Kita mungkin adalah orang-orang biasa, tapi karena ada Yesus ada Yesus dalam kita, pekerjaan kita menjadi luar biasa. Dan Tuhan rindu melihat saat-saat dalam situasi genting sekalipun kita tetap setia padaNya.

Hal-hal yang terjadi, saat Tuhan membuka pintu, yakni :

  1. Musuh akan Tuhan hancurkan (ayat 9), baik itu musuh sakit penyakit, masalah ekonomi dan lain sebagainya. Sebab Tuhanlah yang memberikan kemenangan kita itu.
  2. Kita dilindungi Tuhan dari kesesakan yang melanda seluruh bumi (ayat 10).
  3. Kita akan diberikan mahkota (ayat 11). Kita akan menjadi kepunyaan Tuhan.
  4. Kita akan menjadi sokoguru dalam Bait Suci.
  5. Kita akan diberikan nama Allah (ayat 12).

Dari jemaat Filadelfia, ada 3 hal yang bisa kita pelajari di sana, yang perlu kita pegang dan tahan agar pintu itu tetap terbuka hingga kesudahan jaman, yaitu :

- Injil. Injil itu adalah kekuatan Allah. Bagaimana kita memegang Injil itu? Caranya, adalah dengan membacanya setiap hari, kita jadikan makanan untuk menggemukkan roh kita. Baca, renungkan perkatakan dan melakukannya. Sebab kasih karunia Allah cukup buat kita.

Mengapa harus dipegang? Yehezkiel 33:12; sebab keselamatan orang benar dapat hilang bila kita tidak bertobat lagi.

- Kasih persaudaraan. Mari wujudkan potensi kita tidak hanya dalam jemaat yang adala dalam gereja lokal saja, tapi mari kita bagikan (berkati) kasih itu juga kepada orang-orang yang di luar komunitas kita, agar mereka pun dapat merasakan indahnya kasih Tuhan yang termanifestasikan melalui kita. teruslah berbuat baik dan jangan jemu-jemu melakukan kebaikan.

- Kasih karunia, terbagi atas 3, yaitu:

Grace (anugerah). Dalam bahasa Ibrani, dilambangkan seperti : seorang yang kuat yang membungkukkan tubuhnya untuk mengangkat seorang yang lemah menjadi setara/sejajar dengan dirirnya;

Charismata (karunia-karunia atau urapan) yaitu : kemampuan yang Allah berikan kepada kita supaya bisa berfungsi;

Pengaruh Ilahi di dalam kehidupan manusia. Yesus adalah pribadi yang sangat berpengaruh. Kita ada dalam gereja karena kita terpengaruh oleh Dia.

Jadi, kasih karunia adalah kemampuan yang Tuhan berikan kepada kita supaya sanggup melakukan hal-hal yang tidak mampu kita lakukan dengan kekuatan kita sendiri.

Dan untuk memegang kasih karunia ini, ada dua hal ibarat 2 koin yang kita lakukan, yaitu :

- Koin yang pertama :

a. Jangan pernah sombong, karena semua itu karena anugerah.

b. Jangan minder, karena ada kemampuan Allah dalam kita.

- Koin yang kedua :

a. Jangan pernah membanggakan/mengandalkan orang lain lebih daripada kita mengandalkan Tuhan.

b. Jangan pernah menganggap enteng orang lain.

 

 

“IMAN”

 

Kita sedang hidup dalam jaman yang menuntut kita ke dalam jalur penghancuran diri sendiri. Semua orang sedang mencoba untuk mengambil jalannya sendiri. Penyakit (penghancuran diri sendiri) ini membawa kerusakan yang besar sekali dan mengerikan, hingga berdampak ke semua bidang kehidupan : politik, sosial, budaya, agama, dan lain-lain, contoh : ada etnis yang mau dihapuskan, pertentangan rasial, perang agama, kriminalitas, drugs, bahkan ada perang yang mengatasnamakan Tuhan. Jadi, pengertian manusia tentang benar dan salah, standarnya rendah.

Jadi, apa jawaban Alkitab tentang hal-hal tersebut di atas, :

1. Kasih.

2. Anugerah

Kasih membuat yang tidak setara menjadi setara. Tuhan Yesus turun dari sorga – yang penuh kemuliaan – datang ke dunia, mau mengenakan “baju” manusia supaya manusia setara dengan diriNya lewat karia penebusanNya. Lihat manusia seperti Allah melihat manusia.

Melihat semua yang terjadi, lantas apa yang harus kita perbuat? Alkitab menulisnya dalam satu kata, “IMAN.” Setiap kali kita mnggunakan kata iman ada ratusan cara yang berbeda setiap harinya. Iman merupakan kebutuhan dasar orang Kristen/orang percaya.

Saat kita hendak bepergian dengan menggunakan pesawat terbang misalnya. Kita tidak perlu menganalisa apakah pesawat itu laik terbang atau tidak. Kita tanpa ragu untuk menggunakan pesawat terbang tersebut, dan yakin bahwa kita dapat sampai ke tempat tujuan dengan selamat. Iman yang seperti ini disebut : iman alamiah.

Tapi kita tidak bisa mengikatkan diri kita pada Kristus dengan iman alamiah. banyak orang Kristen, perjalanan hidupnya beriman-beriman tapi tidak ada hasilnya, karena kita berjalan dengan iman alamiah itu tadi. Iman kita takar dengan apa yang bisa kita pikirkan, yang kelihatan, dan yang bisa diukur. Kristus tidak kelihatan, bagaimana kita beriman kepadaNya? Jawabannya adalah kita membutuhkan Iman Alkitabiah.

Iman alamiah dan iman alkitabiah beroperasi denagn cara yang sama, tapi alamnya berbeda. Misalnya : kita tidak dapat menyaksikan program tayangan RCTI di siaran TVRI. Sama-sama beroperasi di pertelevisian tapi alamnya berbeda. Begitu pula dengan alamiah tidak bisa beroperasi di alam rohani.

Iman alkitabiah tidak bisa kita buat, sebab itu diberikan oleh Allah. Dalam Efesus 2:8, itu merupakan pemberian Allah. Iman itu bukan meyakinkan diri sendiri bahwa segala sesuatu itu benar, tapi iman itu adalah kita bergantung pada kemampuan Allah, yang memampukan kita untuk percaya (percaya kepadaNya yang tidak kelihatan).

Yohanes 12:37-40.

Tanpa iamn kita tidak berkenan kepada Allah. Bahkan apapun yang kita lakukan, tanpa iman kita berdosa! Menghampiri Allah dengan iman, sebenarnya menghampiri Allah dengan iman yang telah Tuhan berikan pada kita. Dan hal yang harus kita lakukan adalah PERCAYA SAJA.

Bagaimana Allah menanamkan iman? Yaitu melalui FirmanNya.

Kita perlu memiliki pengetahuan akan Firman. Banyak kita melakukan kesalahan, yaitu bahwa kita menganggap iman pengganti Firman Allah. Contoh : Seringkali kita berkata, “Saya tidak tahu dimana ayatnya, tapi pokoknya saya beriman!”

Matius 14:31. Saat kita tidak memiliki pengetahuan akan Firman Allah, kita akan menjadi mudah bimbang.

Markus 6:52; Roma 10:14,17. Kita tahu banyak, dengar banyak tapi seringkali kita tidak belajar banyak. Oleh karena itu, yang harus kita lakukan adalah kita minta Tuhan memampukan untuk bisa belajar mendengar dan mengerti kehendakNya. Iman timbul karena Tuhan memampukan kita untuk percaya padaNya. Iman timbul karena Tuhan memampukan kita untuk percaya padaNya.

Bagaimana mendengar secara rohani, adalah PERCAYA. Bagian Tuhan adalah taruh iman, dan bagian kita adalah (hanya) percaya saja.

Dengan adanya iman dalam hidup kita, sebenarnya adalah untuk membuat kita belajar bergantung sepenuhnya pada kuasa adikodrati Allah. Sebab hanya Dialah yang telah memampukan kita untuk dapat menghadapi semua hal dalam kehidupan yang sedang kita jalani.

IMAN DIPRAKARSAI OLEH ALLAH,

DITANAM OLEH ALLAH,

TANGGUNG JAWAB KITA CUMA PERCAYA.

 

 

 

 

KEMULIAAN TUHAN

 

Kemuliaan Tuhan, yaitu :

- seluruh keberadaan Tuhan; hakiki keberadaan Tuhan (pribadi hakiki yang utama), dan cara yang bisa kita lihat dari kemuliaan Tuhan, yaitu: demonstrasi kuasanya, terangNya yang ajaib, dan pengaruh suasana hadiratNya.

Bagaimana kemuliaan Tuhan turun atas kita? Bagaimana kemuliaan Tuhan itu betah dalam hidup kita sehingga hidup kita bisa berdampak (mempengaruhi), juga atas kota dan bangsa.

Agar kemuliaan Tuhan itu turun atas kita, harus ada keseimbangan antara : anugerah (GRACE) dan kebenaran.

Arti, G : (Gift), Karunia, Pemberian.

R : (Redemption), Penebusan.

A : (Access), Jalan masuk

C : (Character), Karakter.

E : (Eternal Life), Hidup Kekal.

Cara menikmati anugerah yang melimpah, yaitu dengan berani melakukan hal-hal yang tidak mungkin bersama Allah.

Ada 3 (tiga) macam kebenaran berdasarkan Yesaya 6:5, yaitu :

1. Ada beban yang mau diserahkan.

Beban itu ada bermacam-macam; kalau beban itu dosa, kita harus mengaku dosa, barulah kemuliaan Tuhan turun. Dalam hal perkataan, kalau perkataan kita hanya untuk menghakimi, menjelekkan, mengkritik atau menghakimi orang lain, dan bukan untuk membangun kebenaran Firman, beban itu harus diserahkan.

Juga dalam hal marketplace, apapun yang kita lakukan, serahkan semuanya itu pada Tuhan karena kita tidak mampu untuk jalan dengan kekuatan, metode/cara kita sendiri. Satu waktu kita akan kehilangan kemampuan kita tersebut. Hanya pribadi Tuhan saja yang memampukan kita dan pribadi Tuhan akan menyatakannya kepada kita. Orang yang bebannya diserahkan, selalu berkata, “Apa kata Tuhan, dia percaya.”

2. Karakter yang semakin serupa.

Karakter itu menentukan seberapa kelak ketinggian seseorang di hadapan Tuhan. Dan karakter (isi hati) itu akan nampak saat masalah/pencobaan itu datang. Apa reaksi kita? Sikap hati menentukan ketinggian harkat dan martabat kita di hadapan Allah. Setinggi apapun karakter, di situlah kehidupan kita berpijak. Bahkan, kesejahteraan kota Makassar bukan tergantung soal kepintaran, tapi soal karakter yang siap ditempa.

Orang yang setia dalam uang, pasti karakternya setia pada Tuhan (setia dalam perpuluhan dan setia menabur benih). Karena berbicara tentang uang berbicara tentang integritas. Saat karakter kita serupa dengan Tuhan, kita tidak akan pelit dengan Tuhan soal uang.

Ukuran terbaik untuk karakter kita uji lewat :

o bagaimana kita memperlakukan orang yang tidak dapat memberikan apa-apa pada kita;

o bagaimana kita memperlakukan orang-orang yang tidak dapat melawan kita.

3. Punya hati yang siap diutus (Yesaya 6:8).

Akibat penuh dengan kemuliaan Tuhan (ayat 2):

o “dua sayap dipakai untuk menutupi muka mereka,” artinya rendah hati;

o “dua sayap dipakai untuk menutupi kaki mereka,” artinya melangkahkan kaki dalam kekudusan;

o “dua sayap dipakai untuk melayang-layang,” artinya punya semangat Ilahi untuk bergerak di mana saja.

 

 

 

FUNGSI GEREJA

Bacaan Firman Tuhan: Yesaya 42:1-3

 

Ayat I, “Lihat, itu hambaKu yang Kupegang, orang pilihanKu, yang kepadanya Aku berkenan…”

Kalau ada Tuhan yang mengakui keberadaan umatnya, kalau ada Tuhan yang mengakui penyembahnya; itu hanya Tuhannya orang Kristen. Tuhannya orang beragama tidak mengakui keberadaan umatnya. tidak mengakui keberadaan penyembahnya. Karenanya kita, orang Kristen milikilah “PD” Ilahi. Sebab kita ini adalah orang-orang pilihan Tuhan. Bagaimana dengan Saudara ?

Bahkan untuk mengikat pengakuan Tuhan atas kita, Tuhan memberikan jaminan (garansi) yaitu dengan Roh Kudus tinggal di dalam kita (juga sebagai materai.)

Dalam Yesaya 42:1-3, Keberadaan kita diakui, keberadaan kita dipilih dan ada jaminan Roh Kudus dalam kita. Sedangkan, Yesaya 61:1-6; Keberadaan kita yang diperlengkapi untuk dipercayakan melakukan tugas Ilahi. Roh Allah ada pada kita oleh karena ada urapan atas kita.

Ada 3 (tiga) macam urapan, yaitu :

1. Urapan pentahiran (Yun : Talepho)

II Kor.5:17; “Jadi siapa yang ada dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru : yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.”

Filipi 3:13,14, “Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.”

Ketika Saudara dilahirkan kembali, saat itulah kehidupan Saudara yang dulu ada sakit penyakit, kutuk, kemiskinan, kesukaran, kegagalan, dan segala macam hal akibat dosa; diubahkan menjadi manusia baru. Yang lama berlalu, yang baru sudah datang. Saatnya kita melangkah dengan satu keyakinan, manusia baru penuh sukses, diurapi, kemenangan, punya kuasa, penuh iman, punya otoritas dan tidak ada satupun yang mampu menghalangi ketika kita berjalan. Semua ini bisa terjadi karena hati kita sudah dibaharui. Dan kita ditahirkan agar mentahirkan juga orang lain.

2. Urapan untuk melakukan tugas Ilahi (Yun : Krisma)

Gereja ROCK (Representative of Christ’ Kingdom) ini merupakan inspirasi dari Roh. Kenapa? Karena, kita adalah perwakilan Kerajaan Allah di bumi. Untuk apa? Bertujuan untuk melaksanakan atau melakukan tugas dari yang mengutus kita.

Dalam Yohanes 14:12, “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa percaya kepadaKu, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu. Sebab Aku pergi kepada Bapa.”

Efesus 4:12, “untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubu Kristus.”

Nilai hidup kita adalah Roh Tuhan yang berdiam didalam kita.

3. Urapan kepemilikan (Yun : Kriyo, artinya milik)

Roma 8:14-17. Kita ini miliknya Tuhan. Umat yang dikasihi dan dipilihNya untuk menyatakan kemuliaanNya.

Ayat 17, kata “ahli waris” artinya sewaris dengan apa yang Kristus punya. Apa yang Kristus terima dari Bapa, Kristus berikan itu bagi kita sebagai hak waris. Karena kita adalah ahli waris Kerajaan.

Kebenaran, kasih, kehidupan yang benar, teladan hidup, hidup tanpa cacat cela itulah warisan Ilahi.

Kesimpulan :

- Allah menjadikan kita, gerejaNya, menjadi partner atau rekan kerja Tuhan; untuk menyatakan pekerjaan-pekerjaan yang Dia lakukan terhadap dunia ini.

- Tugas gereja adalah memperlengkapi orang-orang kudus, untuk melakukan perbuatan baik, seperti yang telah Kristus lakukan terhadap dunia ini.

SETIAP KITA YANG TELAH DIAKUI, DIPILIH,

DAN ROH KUDUS DIAM DALAM KITA;

KITA DIPERLENGKAPI GUNA MELAKUKAN TUGAS/PEKERJAAN ILAHI.

 

 

 

MENGALAHKAN KRISIS KEBINGUNGAN
DAN KETAKUTAN

 

Bacaan Firman Tuhan: Kejadian 32:22-32

Seringkali saat kita melihat situasi yang terjadi dalam bisnis kita, dalam keluarga kita, berita apa yang kita dengar, hal itu dapat membuat kita menjadi bingung dan takut. Saat kita mulai bingung dan merasa kuatir, itu dapat mengakibatkan ketakutan; dan akar ketakutan itu sendiri adalah kematian.

Seperti halnya, Yakub. Yakub merupakan tokoh yang penuh dengan ketakutan. Yakub takut terhadap Esau, kakaknya. Karena Yakub pernah berbuat dosa terhadap Esau. Yakub takut untuk bertemu dengan kakaknya. Justru dalam ketakutan Saudara akan menemukan Tuhan, bergumul dengan Allah. Sebab itu adalah kerinduan Allah sendiri.

(Kebingungan dan ketakutan terkadang membuat kita susah untuk tidur, apa yang dialami Yakub mungkin juga itu yang sedang kita alami. Dengan membiarkan ketakutan itu menguasai kita, membuat kita merasa kecil, masalah itu terlalu besar dan Allah terlalu jauh dari kita. Semakin kita fokus pada masalah, kita akan menjadi takut dan kuatir sehingga kita LEBIH SUSAH untuk dapat tidur.)

Dalam menghadapi ketakutan, ada beberapa hal (tempat) yang dapat kita lakukan :

1. Yakub menemukan tempat yang sunyi.

Yakub menemukan tempat kesendirian. Waktu kita mengalami krisis kebingungan, ketakutan, pergumulan yang berat. Hal pertama yang bisa membawa kita kepada kemenangan, adalah melewati tempat yang sunyi (hanya berdua dengan Tuhan). Yakub mengijinkan dirinya untuk sendiri (berhadapan) dengan Tuhan.

Hal ini dimaksudkan agar kita tidak bergantung dengan siapapun, dengan apapun. Tapi mengajarkan kepada kita untuk bergantung sepenuhnya denganNya (sampai tingkat berhubungan intim), mengandalkan Tuhan; agar Tuhan dapat memberkati kita. [baca : Yeremia 17:5-8]

2. Tempat Proses (ayat 24).

Proses untuk mengalahkan diri sendiri, rasa nyaman kita, kedagingan kita. Acapkali, tanpa kita sadari, kita hidup dengan keangkuhan, berjalan dalan kesombongan kita, mengandalkan kekuatan sendiri. Hal-hal seperti karakter Yakub dalam kita (karakter Yakub = karakter penipu) yang Allah “hajar” agar karakter itu hilang dari kita. Sehingga hanya tinggal karakter Allah saja yang nyata dalam kita.

Alkitab berkata, “Barangsiapa Kukasihi, ia Kutegor dan Kuhajar; sebab itu relakanlah hatimu dan bertobatlah!” (Wahyui 3:19)

Yakub dipukul pangkal pahanya, artinya keakuannya dipukul, kesombongannya dan kekuatannya dipatahkan. Agar kekuatan Tuhan yang masuk didalam Yakub dan Yakub diubahkan oleh Tuhan.

3. PUSH = “Pray Until Something Happen” (ayat 26-27)

Dibalik proses dalam kehidupannya kita percaya bahwa pasti Tuhan punya berkat atas kita, maka kita perlu berdoa sampai sesuatu terjadi, kita berdoa dan percaya, Tuhan pasti memberikan apa yang kita inginkan.

Setelah melewati ketiga tempat ini, maka hal yang akan kita alami dalam kehidupan kita adalah :

a. Yakub mengalami transformasi pribadi; Yakub diubahkan dari yang tadinya “seorang penipu” menjadi “Israel, yang artinya Pangeran Allah.”

b. Yakub diberkati (ayat 28),

c. Yakub melihat matahari terbit (ayat 30).

Dalam Mazmur 84:12; matahari itu adalah Allah sendiri. Kita akan memandang wajahNya Tuhan. Ada jaminan hidup kekal dalam Tuhan semata.

d. Yakub diluputkan dari Goliat (kebingungannya dan ketakutannya). Apa yang kita takutkan, justru hal itu akan datang menjadi berkat didalam hidup kita.

Alkitab menjamin bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan Anda. Dalam keadaan bingung, panik, kuatir atau dalam keadaan yang tidak mengenakkan apapun yang menimpa kita, Tuhan tetap setia mendampingi kita. Sebab Dia adalah Allah IMMANUEL, yang selalu menyertai baik dalam keadaaan susah ataupun senang. Sebab Dia tidak bisa menyangkal diriNya sendiri yang adalah SETIA adanya. Allah pasti menepati setiap janji dan firmanNya.

ALLAH KITA SANGGUP MENGUBAH MASALAH, KEBINGUNGAN

DAN KETAKUTAN (GOLIAT) ANDA MENJADI BERKAT,

ATAS SETIAP KITA YANG MENGASIHI ALLAH

“Di dalam kasih tidak ada ketakutan:
kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan;
sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih.”
[I Yohanes 4:18]

 

 

KEHIDUPAN YANG BERPENGARUH
DAN YANG DAPAT DIPERCAYA

 

Luk 2:6-7 “ Ketika mereka di situ tibalah waktunya bagi Maria untuk bersalin, dan ia melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung, lalu dibungkusnya di dalam lampin dan dibaringkannya di dalam palungan, karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan.”

Mat 2:6 “Dan engkau Betlehem, tanah Yehuda, engkau sekali-kali bukanlah yang terkecil di antara mereka yang memerintah yehuda, karena dari padamulah akan bangkit seorang pemimpin, yang akan mengembalakan umat-Ku Israel”.

Kelahiran Yesus Kristus di muka bumi adalah wujud kasih-Nya yang tidak dapat diukur oleh apapun. Dia yang adalah Raja menyetarakan Diri Nya dengan manusia untuk maksud penyelamatan, dan rela menjadi miskin untuk menjadikan kita kaya.

Kelahiran sang Raja Damai di kandang domba yang hina dan kotor tidak mempengaruhi status ke-Allah-anNya, sebaliknya Dia membawa pengaruh bagi dunia. Betlehem tidak lagi menjadi yang terkecil ketika bangkit seorang pemimpin bangsa Israel yaitu Yesus Kristus.

Jika Kristus yang ada dalam hati kita dan memenuhi hidup kita, otomatis kita bukan lagi yang terkecil dan miskin melainkan kita menjadi yang terbesar dan kaya, dimana kita dapat melakukan perkara yang besar bersama Yesus. Kita juga dapat menjadi pengaruh jika kehidupan kristus terekspresi dalam kehidupan kita. Mat 5:13, “Kamu adalah garam dunia.” Kita harus jadi garam dunia sehingga hidup kita membawa pengaruh bukan saja dalam hal kekayaan atau materi melainkan juga dalam hikmat, pengetahuan, karunia-karunia Roh dan urapan yang melimpah di dalam Yesus Tuhan.

Yesus datang ke muka bumi untuk menjangkau manusia. Demikian juga hidup kita yang sudah diperbaharui dan dipenuhi kehidupan Kristus harus bisa membawa manusia kepada Kristus. Kristus mmebawa pengaruh dan terkenal bukan karena Dia mempromosikan diriNya, melainkan karena kehidupanNya yang benar di hadapan Bapa, yang mengakibatkan Dia terkenal dan berpengaruh. Jika hidup kita diberkati itu adalah akibat dari kehidupan Kristus yang nyata dalam diri kita sehingga Allah mempercayai kita.

Hal-hal yang tidak boleh ada dalam diri kita jika ingin menjadi pengaruh dan dapat di percaya:

1. Jangan ada agenda jabatan dalam hati kita. Mat 18:1-4, “siapakah yang terbesar dalam kerajaan sorga?”.

2. Jangan ada dalam hati kita keuangan melebihi dari yang kita cintai. Mat 26:18-26, “…Yudas, yang hendak menyerahkan Dia itu menjawab, katanya: “bukan aku, ya Rabi?“ kata Yesus kepadanya: ”Engkau telah mengatakannya.”

3. Jangan memiliki sikap merasa berjasa/punya andil. Mat 19:27, “lalu petrus menjawab dan berkata kepada Yesus: “Kami telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikuti Engkau; jadi apakah yang akan kami peroleh?”.

4. Jangan memiliki mental pemilik tetapi milikilah mental pengelola. Mat 19:20-23, “Kata orang itu kepada-Nya…pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga…”.

5. Jangan ada di hati kita tuntutan untuk di hargai. Luk 17:7-10, “… Adakah ia berterima kasih kepada hamba itu, karena hamba itu telah melakukan apa yang di tugaskan kepadanya?… Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu hendaklah kamu berkata: kami adalah hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan.”

Leave a Comment

 

 

PERJALANAN KITA

 

Hidup ini adalah suatu perjalanan dan setiap kita punya tujuan yang pasti. Namun seringkali yang menjadi masalah dalam hidup kita bukan tujuannya tapi pada perjalanan kita, sebab di tengah perjalanan kita mengikuti Tuhan ada banyak hambatan, godaan, tantangan, persoalan yang bisa saja membuat kita mundur dan berhenti.

Sebagai contoh:

1 Kor 10:1-11 menjelaskan perjalanan bangsa Israel keluar dari tanah Mesir. Tuhan berjanji untuk membawa bangsa Israel ke tanah Kanaan dimana janji-janji Allah digenapi, dan di Kanaanlah tempat dimana peperangan bangsa Israel terjadi. Pada waktu Israel keluar dari Mesir, bangsa Israel tahu tujuan yang jelas yaitu Kanaan. Namun di tengah jalan mereka memberontak Semua ini terjadi sebagai contoh bagi kita untuk memperingatkan kita, supaya jangan kita menginginkan hal-hal yang jahat seperti yang mereka perbuat. Tujuan kita pasti yaitu surga, namun yang jadi pertanyaan apakah perjalanan kita berada dalam rencana Tuhan ataukah di luar kehendakNya. Seperti Israel mengalami mujizat pada waktu berada di padang gurun yaitu proses keuangan, keluarga, sakit penyakit namun kita jangan putus asa dan berhenti ditengah jalan. Elisa tidak mau melepaskan Elia, maka sebagai gereja, jangan kita melepaskan Tuhan tetapi teruslah berjalanlah bersama dengan Dia.

Kita akan melihat bagaimana perjalanan Elia dan Elisa.

Elia artinya Tuhan adalah Bapa. Elia adalah gambaran Bapa surgawi, yaitu Tuhan Yesus. Elisa artinya Tuhan adalah penolong. Elisa adalah gambaran jemaat Tuhan. Perjalanan Elia dan Elisa dimulai dari Gilgal dimana akhirnya Elia terangkat kesorga dalam 2 Raja 2:1.

1. Gilgal artinya lingkaran batu. Ada banyak orang Kristen yang hidupnya dalam satu lingkaran, berputar putar seperti bangsa Israel di padang gurun yang tetap melakukan dosa yang sama, jatuh di tempat yang sama dan tidak mau meninggalkan dosa.

Dalam Yos 5:4, Tuhan memerintahkan Yosua di Gilgal untuk menyunat bangsa Israel sebab generasi yang lahir di padang gurun belum disunat. Dalam Yos 5:9, Tuhan menghapuskan celah mesir dari mereka. Dari Gilgal mereka menuju Betel.

2. Betel artinya rumah Allah. Dahulu Betel bernama Lus, yang artinya penundaan/persinggahan. Waktu Tuhan menyelamatkan kita, darahNya menyucikan kita dan Dia menghendaki kita menjadi rumahNya, bait, tabernakel dimana Roh Allah diam dalam kita.hati. Transformasi harus terjadi dalam diri kita seperti Lus berubah jadi Betel, Yakub menjadi Israel.

Bagaimana bentuk Bait Allah yang dikehendaki Tuhan? (Matius 21 : 12-16).

· The House of purity (rumah kesucian). Ay 12, “lalu Yesus masuk kebait Alah dan mengusir semua orang yang berjual beli di halaman Bait Allah. Ia membalikkan meja-meja penukar uang dan bangku-bangku pedagang merpati.” Dia menyucikan bait Allah, artinya menyucikan pikiran, hati, seluruh hidup kita sehinga layak menjadi baitNya .

· The House of Pray. (Rumah doa). Ay 13 “…Rumah-Ku akan disebut rumah doa.” Tuhan menyucikan kita karena dia mau menjadikan kita rumah doa. Artinya dimanapun, kapanpun, apapun yang kita kerjakan hati kita senantiasa menaikkan doa.

· The House of Power (Rumah dari kuasaNya). Ay 14, “Maka datanglah orang-orang buta dan orang orang timpang kepadaNya dalam Bait Allah itu dan mereka disembuhkan-Nya. Artinya Tuhan mau menjadikan kita rumah yang menyatakan kuasaNya.

· The House of Praise (Rumah puji-pujian). (Ay 16) “Lalu mereka berkata kepadaNya:” Engkau dengar apa yang dikatakan anak-anak ini?” kata Yesus kepada mereka : “Aku dengar: belum pernahkah kamu baca: Dari mulut bayi-bayi dan anak-anak yang menyusui Engkau telah menyediakan puji-pujian?”. Artinya dimana saja, dalam situasi apa saja hati kita melimpah dengan puji-pujian kepada Tuhan. Dari Bethel mereka menuju Yerikho.

3. Yerikho, artinya indah mulia/bau harum. Di sini Tuhan mau kita menjadi saksi dan bersaksi bagi orang lain. Sebagai saksi, tugas kita adalah seperti yang dituliskan dalam Yesaya 61:2. Mendoakan orang lain (ay 1), Menghibur (ay 2a), membagi kesukaan dengan orang lain (ay 3a), memberkati (ay 4a). Dari Yerikho mereka menuju Yordan.

4. Yordan, artinya sungai kematian. Di sinilah Elia terangkat ke surga dan Elisa menerima pengurapan ganda. Rahasia untuk dipromosi oleh Tuhan adalah mati bagi diri sendiri (ego, ambisi, kebenaran pribadi). Namun kalau hari ada kegagalan dalam perjalanan hidup kita jangan berhenti. Kita kalah bukan saat kita gagal, tetapi saat kita menyerah. Benih yang mati dan ditanam justru akan menghasilkan pertumbuhan dan menghasilkan buah yang tetap. Justru dalam angin badai (sesuatu yang menakutkan), Tuhan mengangkat Elia ke surga. Amin.

Rahasia keberhasilan dalam perjalanan hidup kita adalah terus bersedia mengalami perubahan
sampai seluruh kepenuhan Kristus berkenan diam di dalam kita.

 

 

KEHIDUPAN YANG MEMANCARKAN TERANG

 

Yos 1:1-2 “…Berfirmanlah Tuhan kepada Yosua bin nun abdi musa itu,”

Yos 24:29 “…Maka matilah Yosua bin Nun, hamba Tuhan itu,”

Yos 3:7; 4:14 “…Tuhan membesarkan nama Yosua dimata seluruh orang Israel.

Dari kebenaran firman di atas kita melihat kehidupan Yosua yang diproses Tuhan dari seorang abdi menjadi hamba Tuhan.Tuhan tidak memandang latar belakang, status sosial, budaya seseorang. Yang Tuhan mau kita diubahkan oleh-Nya sehingga membawa dampak.

Mat 5:13-16 “Terang dan garam dunia.”

Kehidupan kita harus menjadi garam yang membawa dampak dalam keluarga kita, lingkungan masyarakat hingga ke kota. Garam kegunaannya, memberi kelezatan pada satu makanan yang walaupun dalam jumlah sedikit garam dapat mempengaruhi sekitarnya. Untuk menjadi garam kita harus mengalami proses yang dari Tuhan seperti Yosua. Sering kita senang dengan sesuatu yang sudah jadi tapi kita tidak mau dengan proses yang ada. Misalnya kita senang dengan hamba Tuhan yang memiliki karakter Kristus dan itu membuat kita juga mau menjadi hamba Tuhan. Kita tidak melihat proses yang harus dilaluinya seharusnya kita tahu bahwa proses yang kita jalani dengan kerendahan hati, mengucap syukur dan menikmati itu akan membawa dampak. Ketika kita melakukan kebenaran tetapi dipersalahkan bahkan dikecam oleh seseorang kita harus pergi meminta maaf dan hati yang mau menerima koreksi.

Apa yang membuat Yosua bisa menikmati proses hingga mengalami keberhasilan:

1. Gambar dirinya sehat. (Amsal 13:7a) Apa yang dipikirkan orang itu seperti itulah dia,

Gambar diri yang sehat adalah:

  • Orang yang hidupnya selalu menurut pandangan Tuhan bukan menurut pandang orang lain, tradisi dan agama,

· Orang yang menghargai pengeorbanan Yesus di kayu salib.

· Orang yang selalu yakin bahwa Tuhan itu ada dalam dirinya.

2. Memiliki visi (Yos 3:1-4) “….hanya antara kamu dan tabut itu harus ada jarak kira-kira dua ribu hasta panjangnya, janganlah mendekatinya- maksudnya supaya kamu mengetahui jalan yang kamu tempuh…”.

Kita harus memiliki Visi. Visi adalah seni melihat sesuatu yang tidak nampak. Orang yang tidak punya visi adalah orang yang miskin di muka bumi, firman Tuhan berkata, liarlah orang yang tidak mempunyai wahyu.

Untuk memiliki visi harus berjalan menurut firman dan terus maju untuk melihat Tuhan sehingga kita tahu apa yang Tuhan mau kita lakukan. Orang yang tidak punya visi adalah orang yang terjerat dengan masa lalu, orang yang tidak punya visi sama dengan orang lumpuh.

3. Menuai pada musimnya. (Yos 3:14-15) “…Imam pengangkat tabut itu mencelupkan kakinya kedalam air ditepi sunggai itu – sunggai Yordan itu sebak sampai meluap sepanjang tepinya selama musim menuai.

Kita harus menuai pada musimnya. Waktu tabut dipikul oleh para iman dan memasukkan kaki ke sungai Yordan air itu meluap ke tepi selama musim menuai. Yang artinya selama musim menuai air sungai Yordan meluap. Kita melihat bagaimana kondisi bangsa Israel saat itu sepertinya tidak mungkin melakukan yang Tuhan suruh karena alam lagi tidak ramah tapi karena di tengah-tengah sungai Yordan ada perkara besar yang Tuhan mau nyatakan. Jika waktunya Tuhan kita harus bergerak. Walaupun ada masalah menghalangi, tetapi bersama Tuhan kita lakukan perkara besar.

4. Mengerti hukum ekonomi Allah. (Yos 5:10-12) “…Berhentilah manna itu, pada keesokan harinya setelah mereka makan hasil negeri itu. Jadi orang Israel tidak beroleh manna lagi, tetapi dalam tahun itu mereka makan yang dihasilkan tanah Kanaan.”

Mengerti hukum ekonomi Allah. Waktu Musa memimpin bangsa Israel ke tanah Kanaan ada burung puyuh, manna, tiang awan dan tiang api dan air yang keluar dari batu.

Dunia ini luas tetapi mengambil tanah itu tergantung keputusan kita. Hukum ekonomi Allah adalah tabur tuai. Walaupun ladang luas tetapi jika kita tidak menabur artinya kita tidak mungkin menuai. Kalau kita mau memiliki tubuh yang sehat kita harus menabur dengan doakan orang sakit, mau memiliki pengetahuan, hikmat dan kebijaksanaan kita harus jangkau jiwa dan memberitakan Injil demikian juga kita menabur di ladang misi dan diakonia.

Hukum ekonomi juga menyangkut pengelolah, kita harus setia dalam mengelola karena apapun yang kita miliki itu adalah milik Tuhan.

Misalnya mobil dinas yang dipercayakan untuk kita pakai kemudian kita menjualnya otomati kita akan dipenjara karena itu milik pemerintah. Demikian juga halnya kita harus setia mengelola milik Tuhan, setia menerima dalam doa, iman dan bekerja kita harus selalu menyadari bahwa Allah kita adalah Adonai artinya Allah pemilik segala-galanya.

Bangkitlah, menjadi teranglah,
sebab terangmu datang, dan kemuliaan Tuhan terbit atasmu
(Yesaya 60:1)

 

 

KRISTEN DI PUNCAK/KAKI GUNUNG?

 

Dalam Kej. 22:1-19 kita temukan 3 orang yang berperan waktu Abraham pergi untuk mendaki Gunung Moria, yaitu Abraham, Ishak, bujangnya. Ketika mereka mendaki gunung, bujangnya tetap di bawah kaki gunung sedangkan Abraham dan Ishak mendaki Gunung Moria. Ayat 17-18, waktu Abraham dan Ishak mengalami hal-hal supranatural di puncak gunung, mereka tidak tetap tinggal di atas gunung tetapi kembali turun untuk memberkati bangsa-bangsa.

Salah-satu misi Rock Ministry adalah memperluas kerajaan Allah. Orang-orang yang berada di puncak gunung adalah orang-orang yang mau dipanggil dan mau mengambil keputusan untuk menjadi golongan orang-orang di atas gunung.

Dalam keristenan terdapat tiga golongan: 1) golongan yang hanya di kaki gunung (bujang Abraham), artinya anak Tuhan yang tidak mau maju, hanya diam di tempat; 2) golongan anak Tuhan yang hanya di lereng gunung, artinya kadang kala naik tapi tidak sampai di puncak gunung, 3) golongan yang Tuhan inginkan, yaitu golongan orang yang sampai di puncak gunung. Untuk bisa naik ke puncak gunung kita pasti harus melewati proses melalui masalah yang Tuhan izinkan sehingga iman kita semakin teguh.

1. Ciri-ciri Golongan orang di kaki gunung dan di lereng gunung adalah:

a. Matius 14:13-21 > Yesus memberi makan lima ribu orang. Ada banyak orang senang menerima berkat, mujizat, dan pemulihan tetapi tidak ada kerinduan untuk dimuridkan dan menjadi berkat untuk orang lain.

b. Matius 27:32 > Simon dari Kirene, dia datang membantu waktu melihat Yesus jatuh saat memikul salib. Apa yang dilakukan Simon sepertinya baik, tetapi dilakukan karena dorongan lingkungan. Sering kali kita mengambil bagian dalam pelayanan hanya karena pengaruh lingkunggan atau kondisi yang mendesak. Kitapun kadang ke gereja hanya karena kita keturunan kristen.

c. Markus 8:15 > Raja Herodes menghalalkan segala macam cara untuk kepentinggan pribadi. Ada banyak orang yang senang mendengarkan Firman hanya untuk menambah pengetahuan sehingga bisa dijadikan bahan untuk adu argument dengan orang lain.

d. Matius 16:11 > Orang Saduki, tidak percaya firman Tuhan, hatinya penuh dengan kebimbanggan.

e. 1 Korintus 5:1,7 > Ragi Korintus, ada penyimpangan seksual, tidak memiliki rasa takut pada Tuhan.

f. Galatia 5:9 > Ragi Galatia, orang yang percaya Yesus Tuhan tetapi juga percaya pada adat istiadat, tradisi yang menyimpang dari kebenaran.

2. Golongan orang yang naik ke puncak gunung.

  1. Kejadian 22:3 > Orang yang mengutamakan Firman lebih dari segala-galanya dan menjadi pelaku-pelaku Firman (Yoh. 6:1; Maz. 119:105; 1 Yoh. 2:25; Yak. 1:23-24; Ef. 6:17). Kita tidak akan bertumbuh jika tidak hidup dalam Firman (1 Pet. 2:2). Maz. 19:8, “Taurat Tuhan itu sempurna, menyegarkan jiwa;…”. Mengetahui Firman/kehendak Allah adalah ilmu yang tertinggi. Mengenal kehendak Tuhan adalah penemuan yang paling besar. Melakukan kehendak Allah adalah karya yang paling agung. Ketika Abraham dan Ishak naik ke atas gunung pasti ada saja yang menghalangi perjalanan mereka. Mungkin ada batu, kerikil dan semak-semak, tetapi karena mengutamakan Firman lebih dari segala-galanya maka sampailah mereka di puncak Gunung Moria.
  2. Kej. 22:6 > Orang yang punya gaya hidup berkomunitas (bekerja sama). Abraham tidak akan bisa mendaki sampai ke puncak gunung kalau tidak bersama dengan Ishak. Demikian juga halnya dengan Ishak Kita pun demikian, seorang suami tidak akan bisa tanpa istri dan anak-anaknya. Kej. 1:26 “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita…” Ini adalah gambaran Bapa, Anak, Roh Kudus. Ams. 6:6-8 > semut bekerja sama; Yoh. 17:23 > Yesus berdoa supaya kita bersatu.
  3. Kej 22:11-12 = Orang yang dikenal Allah.

1 Kor. 8:3 “Tetapi orang yang mengasihi Allah, ia dikenal oleh Allah”. Orang yang mengasihi Allah adalah orang yang memiliki gaya hidup yang selalu mengampuni, artinya kita harus selalu memberitakan Injil kasih karunia melalui hidup kita. Misalnya, ketika kita memiliki masalah dengan orang lain, kita harus menyelesaikannya dengan baik. Orang yang lebih dahulu mengampuni adalah pemenang. Jika kita tidak memiliki gaya hidup untuk selalu dikenal Allah, yaitu mengasihi dan mengampuni, melainkan hanya menghancurkan perbuatan baik dan hidup sebagai pendusta maka kita akan tetap dalam maut. 2 Tim. 2:9-10 > Orang kepunyaan Tuhan selalu rindu untuk orang lain di ubah Tuhan

Golongan orang yang di puncak gunung selalu melihat persoalan di bawah, bukan persoalan yang menghimpit/menenggelamkan kita, karena Yesus adalah jawaban dari semua masalah kita.

“Siapakah yang boleh naik keatas gunung Tuhan? Siapakah yang boleh naik berdiri ditempatnya yang kudus? Orang yang bersih tanggannya dan murni hatinya, yang tidak menyerahkan dirinya kepada penipuan, dan yang tidak bersumpah palsu.”
(Maz. 24:3-4)

 

 

Duta Besar Kerajaan Allah

 

Firman Tuhan: 2 Kor. 5:20; Fil. 3:20a

Kita berbicara tentang Ambassador (duta besar). Beberapa tugas/kriteria duta besar secara umum:

· Perwakilan dari raja/ratu/presiden atau suatu pemerintahan di negara sahabat. Seringkali suatu organisasi internasional juga memiliki duta besar. Dalam kaitannya dengan negara, duta besar merupakan perwakilan politik di negara asing.

· Memiliki tugas dan tanggung-jawab untuk mewakili kepentingan negaranya di negara sahabat atau di manapun ia ditempatkan.

· Harus mampu melindungi warga negaranya yang berada di negeri asing.

· Diberi kewenangan yang besar bahkan seringkali tidak terbatas dalam mewakili pemerintahan negaranya dan melindungi warga negaranya.

Dalam bacaan FT di atas, kita adalah utusan-utusan Kristus, duta besar kerajaan Allah. Berarti kita adalah pengantara Allah yang bertugas membawa orang-orang berdosa untuk diperdamaikan dengan Allah. Kewarganegaraan kita adalah kerajaan sorga. Kita memakai nama ROCK (Representative of Christ’ Kingdom) untuk meneguhkan identitas kita sesuai dengan FT ini.

Duta besar kerajaan Allah di muka bumi memiliki tugas-tugas khusus:

1. Perwakilan Kristus

  • Menjadi perwakilan yang diberi wewenang (authorized representative): apa yang dilakukan atau dihadapi oleh Tuhan Yesus dapat kita lakukan juga. Bukan sekedar wewenang untuk makan/minum/bekerja, tetapi untuk menjala manusia bagi kerajaan Allah. Ada 2 misi yang harus dilakukan oleh perwakilan yang diberi wewenang ini, yaitu 1) Misi Umum : Mat. 28:19-20 >> pergi dan menjala manusia, membawa manusia yang berdosa untuk didamaikan dengan Allah. Kita selalu ingat untuk menceritakan tentang Yesus kepada orang lain, tidak hanya dalam lingkungan gereja, tetapi dalam lingkungan bisnis juga. 2) Misi khusus: kita melayani Tuhan dengan talenta-talenta yang Tuhan berikan secara khusus kepada kita, karena itu setiap kita harus saling menghargai. Seorang duta besar harus membela warga negaranya, bukannya menghakimi, menghantam, hanya mengoreksi, tetapi sebaliknya, memberikan jalan keluar. Menjadi perwakilan yang
  • Berbicara untuk Kristus Ditunjuk (appointed representative): Tuhan yang menunjuk kita untuk ada di dunia. Karena itu, jangan minder dengan kondisi atau keadaan jasmani kita. Jangan sampai ada sakit hati atau gambar diri yang rusak. Kita berharga bagi Tuhan, Tuhan sendiri yang menunjuk kita sebagai perwakilanNya di bumi ini.
  • Agen Kristus: dalam dunia sekuler, agen adalah individu/lembaga yang diberi wewenang dan tugas tertentu oleh individu/lembaga lain yang biasanya memiliki posisi lebih tinggi. Kita adalah agen dari Tuhan sendiri, dan karenanya memiliki kedudukan yang tinggi, sehingga setiap permasalahan ada di bawah kita. Kita adalah agen Tuhan untuk membawakan kesembuhan bagi orang-orang yang sakit, membawa damai bagi orang lain, memberikan pekerjaan bagi orang yang memerlukannya.

2. Berbicara untuk Kristus: 1) bahwa Yesus adalah Juruselamat. Kita berbicara bukan sekedar berkata-kata, tetapi hidup kita sendiri yang mengalami Kristus yang berbicara untuk Kristus. Artinya kita selalu memuliakan Allah; setiap perkataan mulut kita hanya meninggikan Tuhan. Kita harus dapat menguasai lidah, tahu kapan harus diam, dan kapan harus bicara, 2) tentang Injil Kerajaan; Mat. 24:14 >> Tuhan Yesus baru datang datang kembali kalau Injil Kerajaan sudah diberitakan di seluruh dunia. Kerajaan Allah berbicara tentang kuasa; bukan sekedar soal makan/minum, tetapi soal damai, sukacita, dan kebenaran oleh Roh. Dalam situasi apapun, sebagai agen Kristus kita harus selalu membawa damai, 3) pelayanan umat manusia: kita melayani manusia, bukan gedung gereja atau acara ibadah. Dalam melayani manusia, pasti ada proses yang harus kita lalui. Tetapi kalau kita mau datang pada Tuhan, segalanya pasti dapat diselesaikan dalam damai. Setiap kita dipakai Tuhan untuk melayani orang lain. Apapun kekurangan kita, tidak membatasi kita untuk melakukan pelayanan kepada sesama. Sebagai orang yang berbicara untuk Kristus kita harus memiliki keputusan hati untuk memberi makan kepada orang yang jahat sekalipun. Bukan hanya makanan jasmani, tetapi juga makanan rohani. Tetap berbuat baik kepada yang berbuat jahat kepada kita.

3. Berdiri untuk Kristus: 1) memiliki standar hidup yang sesuai dengan FT. Ingat dari mana kita diangkat Tuhan. Kadang kala kita lupa dan menganggap bahwa kita diangkat dengan kekuatan kita sendiri, sehingga tidak lagi mengontrol diri. 2) Selalu memuliakan Tuhan, 3) membangun gerejaNya. Kita adalah gereja Tuhan, dan karena itu kita harus saling menasehati, menghibur dan membangun.

Leave a Comment

 

 

TAKLUKKANLAH LIDAHMU

 

Amsal 18:21 “Hidup dan mati di kuasai lidah, siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya. Dari ayat ini tidak dikatakan bahwa hidup dan mati kita di kuasai penyakit, masalah, naik turunnya dollar dan sebagainya. Melainkan dengan jelas dikatakan bahwa hidup dan mati kita dikuasai lidah berarti apa yang kita katakan hari ini, menetukan apa yang akan terjadi besok. Jika lidah kita suka menggemakan perkataan yang baik maka hasilnya juga baik, jika lidah kita menggemakan perkataan yang tidak baik hasilnya juga tidak baik. Seringkali kita menemukan, orang tua mengeluarkan perkataan-perkataan yang mematikan misalnya mengatakan, anjing, babi, bodoh dll terhadap anak. Itu sangat tidak baik karna berdampak negatif. Alkitab mengatakan apa yang kita perkatakan itu pasti terjadi (Amsal 26:28). Amsal 12:18 “Ada orang yang lancang mulutnya seperti tikaman pedang, tetapi lidah orang bijak mendatangkan kesembuhan”. Amsal 15:14 “Lidah lembut adalah pohon kehidupan”, jika kita ingin melihat masa depan kita dan anak-anak kita gilang-gemilang kita harus hidup dengan perkataan-perkataan kebenaran (Firman). Mat 12:36-37 “Setiap kata sia-sia yang diucapkan orang harus dipertanggungjawabkannya pada hari penghakiman…engkau akan dihukum”.

Yakobus 3:1-12 → Dosa karena lidah

Ayat 2 salah satu syarat menjadi orang sempurna adalah kita dapat mengekang/menguasai lidah kita.

Mengapa kita harus menaklukkan lidah kita?

  1. Ay 6 → lidah adalah api, “ia merupakan suatu kejahatan ….dinyalakan oleh api neraka”. Kita harus selalu sadar bahwa dalam mempergunakan lidah untuk berkata-kata kita harus berhati-hati karena banyak terjadi pertengkaran oleh karena perkataan dan karena keinginan kita untuk menerima penghormatan lewat puji-pujian melalui perkataan Filipi 2:3.
  2. Ay 8 → Lidah kita bisa liar, dan penuh racun yang mematikan.

Di daerah Timur Tengah untuk menjinakkan kuda liar, kuda itu dimasukkan kedalam kandang sehingga bisa bebas berlari. Kemudian seseorang yang menunggangi kuda jinak masuk menangkap kuda liar dengan memasukkan tali pada lehernya. Ditaruhlah pelana dan kekang pada mulutnya dan dipakaikan kacamata kuda, sehingga pandangan kuda dapat terkendali dan menjadi jinak. Jika kita selalu berada dalam hadirat Tuhan dan hidup dalam firmanNya maka kita akan fokus dan lidah kita akan dikuasai oleh Roh kudus.

Pengkh 3:7 “Ada waktu berdiam diri”.

Ada waktu kita harus berdiam dimana kita jangan mengurus hal-hal yang bukan urusan kita karena akan berakibat negatif.

Kapan kita berdiam diri? Pkh. 3:7, Yak. 1:26, Luk. 11:54

  1. Pada saat kita marah. Karena saat marah, lidah kita akan menucapkan perkataan yang salah dan menyakitkan hati orang lain. Neh 5:6-8,“… berdiam diri karena tidak dapat membantah”. Pada waktu dimarahi oleh pemimpin, kita harus belajar untuk diam. Karena marah pada Ham, Nuh mengeluarkan perkataan kutuk padanya (Kej 9:20,25).
  2. Pada waktu kita diuji untuk menentang pemimpin-pemimpin kita. Otoritas Allah melekat/menyatu dengan para pemimpin, karena itu jangan melawannya. Miryam dan Harun mengatai Musa berkenaan dengan perempuan Kush. Maka turunlah murka Tuhan, Miryam dan Harun kena kusta putih (Bil 2:1-2), jika kita menentang pemimpin kita, murka Tuhan akan turun dalam kehidupan kita, bahkan pertumbuhan rohani kita akan terhambat. Oleh sebab itu jika kita bermasalah dengan pemimpin sehingga hati kita terganggu, lebih baik datang//bertemu langgsung dengannya dan menyelesaikan masalah dengan cara yang sesuai dengan firman Tuhan.
  3. Waktu kita dicobai untuk menyebarkan gosip.

Ada dua hal agar kita terhindar dari gosip:

a. Apakah yang orang sampaikan/bicarakan itu benar?

b. Apakah yang orang sampaikan/bicarakan itu ada saksinya?

Sebagai gereja kita harus mengubah gosip menjadi gospel.

  1. Pada saat iman kita diuji. Ada saat kita dibawa masuk ke padang gurun untuk mengalami proses yang menguji kadar iman kita. Pada waktu Tuhan membawa bangsa Israel (generasi pertama) keluar dari Mesir, mereka tidak menjaga lidah mereka, selalu bersunggut-sungut dan akibatnya mereka berputar-putar di padang gurun selama empat puluh tahun bahkan generasi ini tidak masuk ke tanah perjanjian (Bil. 14:1-3).

Sebagai masyarakat mesianik kita harus menjag lidah karena perkataan yang tidak membangun iman, mematikan benih ilahi/panggilan Tuhan dalam diri setiap orang.

Amsal 21:23 “Siapa memelihara mulut dan lidahnya, memelihara diri dari kesukaran.”

Hasil dari kita memelihara lidah:

  1. Hidup yang kekal.
  2. Mendatangkan berkat dan bukan kutuk
  3. Dibenarkan di hadapan Tuhan.

Tuhan akan memuji kita ketika Dia memeriksa mulut kita dan Dia tidak menemukan racun yang mematikan pada lidah kita. (Kid. 4:11 “ Bibirmu meneteskan madu murni, pengantinku, madu dan susu ada di bawah lidahmu, dan bau pakaianmu seperti bau gunung Libanon”.)

Janganlah ada perkata kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, dimana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia.
( Luk. 4:29)

 

 

TUJUAN HIDUP MASYARAKAT MESIANIK

 

Fil 3:17-21 dituliskan oleh rasul Paulus kepada jemaat di Filipi waktu Paulus berada di dalam penjara. Hari-hari ini gereja Tuhan sedang mengalami intimidasi oleh berbagai macam isu dan tekanan dari luar, baik antar-gereja maupun dari dalam keluarga kita. Tetapi kita harus selalu sadar bahwa semua itu hanya mengalihkan fokus kita dati kehendak Tuhan dalam hidup kita. Itu adalah siasat iblis. Rasul Paulus pun dalam melayani Tuhan mendapat banyak tekanan, namun justru menjadikan dia lebih berkualitas sehingga dia berani mengatakan “ikutilah teladanku”. Di akhir zaman ini sangat sulit untuk menemukan sosok yang dijadikan figur. Ada begitu banyak pemimpin, orang tua, bahkan orang berpengaruh yang mengecewakan. Rasul Paulus sebagai hamba Kristus yang sungguh memberi teladan dan figur yang baik bagi kita.

I. Teladan yang patut dicontoh dari kehidupan Paulus

a. Ay. 13-14: Memiliki fokus/sasaran yang jelas. Paulus memiliki latar belakang yang cukup berpengaruh dari segi keturunan, kualitas hidup, pengetahuan, kedudukan. Tapi semua itu dianggapnya sampah karena pengenalan akan Kristus. Paulus berfokus bukan pada hal-hal sementara tetapi mengejar panggilan sorgawi, yaitu sesuatu yang belum kelihatan tapi dia percaya dan berharap bahwa hal itu nyata, yakni kerajaan kekal.

b. Ay. 15: Bertumbuh. Yang dituntut dalam hidup kita adalah pertumbuhan. Jangan puas dengan apa yang sudah kita dapatkan lewat ibadah, komsel, dll, tetapi kita harus memberi hidup untuk terus dituntun oleh Roh kudus, masuk lebih lagi dalam kesempurnaan, yaitu pribadi Yesus.

Kita harus bertumbuh dalam hal:

** Ay. 10: Kehendak. Dulu Paulus hidup dalam kehendaknya, menganiaya pengikut Kristus. Setelah dia bertemu dengan Tuhan, kehendaknya berupah menjadi menjadi serupa dengan Kristus.

** Fil 4:8; 2:5-6: Bertumbuh dalam pikiran. Memiliki pikiran Kristus artinya kita menyadari bahwa tanpa Kristus kita tidak dapat berbuat apa-apa. Pikiran kita sangat mempengaruhi tindakan kita. Jika pikiran kita negatif, tindakan kita juga negatif demikian juga sebaliknya.

II. Tujuan yang salah

a. Ay. 19b: Fokus. Pikiran kita pada perkara-perkara didunia sehingga kita tidak punya fokus/tujuan. Fokus dikuasai oleh pikiran, jika pikiran kita ke perkara dunia otomatis fokus kita pada perkara dunia yang akan binasa.

b. Ay. 19: Kehendak. Kehendak/keinginan kita melakukan hal-hal dunia yang sementara. Manifestasinya:

** Menjadi seteru salib Kristus.

Salib adalah jembatan yang menghubungkan manusia dangan Allah dan manusia dengan sesama. Menjadi seteru salib Kristus berarti kita memutuskan hubungan dengan Tuhan dan memutuskan hubungan dengan sesama kita.

** Bertuhankan perut.

Fokus kita bukan Tuhan Yesus melainkan pekerjaan, pelayanan dan perkara-perkara dunia untuk kepuasan diri.

** Kemuliaan mereka adalah aib mereka.

Mereka bangga jika melakukan perbuatan yang memalukan, yang tidak patut dilakukan, misalnya menggosip, memberontak, hal-hal yang memuaskan nafsu kedagingannya.

III. Tujuan hidup masyarakat mesianik

a. Ay. 20: Tahu asalnya. “ Karena kewargaan kita adalah di dalam sorga”.

Kita sebagai gereja Tuhan sedang menantikan satu pemindahan dan perubahan yang akan terjadi dalam setiap kita.

** Tempat yang baru (sorga)

Kita tidak bisa bergantung kepada siapapun untuk menerima keselamatan kekal. Itu adalah tanggung jawab dan keputusan pribadi kita. Setelah kita melakukannya, kita memiliki pengharapan dan penantian akan perkara kekal (sorga).

** Tubuh baru

Kita menantikan tubuh kemuliaan yang tanpa noda dan cela. Karena itu, dalam tubuh dosa ini kita harus mengalami proses perubahan pikiran dan kehendak, terus berjalan dalam kehendak Tuhan, bukan karena terpaksa tetapi kehendak kita sendiri sampai mengalami kepenuhan Kristus.

** Hidup kekal

Allah memerintah sepenuhnya dalam hidup kita sebagai Raja sebab kita adalah warga kerajaan Allah.

b. Memiliki kehendak yang benar, yaitu:

** Ay. 10-11: Mengenal PribadiNya dengan benar

Mengenal artinya yadah yang berarti hubungan intim. Tuhan mau agar kita memiliki hubungan yang intim dengan Dia, yang akan menghasilkan buah kebenaran (Fil 1:9-11) dan pengenalan akan Dia (Hos 6:6), sehingga kita semakin disempurnakan dalam karakternya.

** Ay. 10: Kuasa kebangkitanNya

Oleh kebangkitanNya kita menjadi pemenang. Menang dari diri sendiri, iblis, dunia dan maut. Yesus mengalami kebangkitan karena Dia masuk dalam proses padang gurun. Jika kita mau hidup dalam kemenangan, kita pun harus mengalami proses padang gurun yang diawali dengan berpuasa menaklukkan segala hawa nafsu dunia.

** Ay. 10: Bersekutu dalam penderitaanNya

Mat. 4:1-2: Yesus dibawa oleh Roh ke padang gurun. Ia menaklukkan diri sendiri dalam tuntunan Roh Kudus sehingga iblis dan dunia dikalahkan.

Miliki tujuan hidup masyarakat mesianik, yaitu menjadi serupa dengan Yesus, sebab itu adalah syarat menjadi ahli waris kerajaan surga dan memerintah bersama Yesus.

Umat Mesianik Yang Dewasa

ROCK, Representative of Christ’ Kingdom artinya perwakilan kerajaan Allah di muka bumi. Dengan begitu, kita tidak menceritakan/mempromosikan nama gereja, perorangan atau kehebatan seseorang, melainkan menceritakan tentang Raja kita, yaitu Yesus Kristus. Itu yang Tuhan kehendaki untuk kita lakukan.

Dalam Luk. 15:11-32, Tuhan menyatakan bahwa di dunia ini, bahkan di dalam gereja terdapat beberapa golongan/kelompok manusia yaitu:

1. Golongan anak bungsu (Ay 12-16)

Golongan seperti ini adalah golongan orang-orang yang terhilang dari gereja secara denominasi. Ciri-ciri orang yang ada dalam golongan ini antara lain:

  1. Menuntut hak. Ada banyak orang di dalam gereja yang menuntut hak untuk dihargai, dihormati, dan dipedulikan. Kita harus tahu bahwa tidak ada manusia yang bisa memperlakukan sesamanya seperti demikian dengan sempurna.

b. Memberontak. Ada banyak pemberontakan saat ini yang disebabkan oleh ketidakpuasan, khususnya di kalangan mahasiswa. Mereka melakukan demo di mana-mana, namun ini tidak akan membawa perubahan yang baik jika isinya bersifat pemberontakan. Demikian juga halnya dengan kita, apabila kita sudah merasa tidak diperhatikan, diperdulikan, tersinggung dengan khotbah yang disampaikan sehingga menimbulkan penilaian negatif terhadap pemimpin rohani dan akhirnya mengambil langkah untuk keluar dari gereja (denominasi).

2. Golongan anak sulung (Ay 27-30)
Golongan seperti ini adalah golongan orang-orang yang terhilang dalam gedung gereja. Mereka hidup dalam gereja, beribadah, mengikuti komunitas sel tetapi tidak bersukacita ketika anak bungsu itu kembali untuk bertobat dan mengalami pemulihan. Ciri-ciri orang yang ada dalam golongan ini antara lain:

a. Agamawi. Selalu menganggap diri sendiri paling benar, menganggap peraturannya yang terbaik dan tidak suka melihat orang lain mengalami pertumbuhan rohani

b. Tinggi hati, mementingkan diri sendiri, tidak menghormati, tidak menghargai, tidak mengampuni dan sombong rohani. Misalnya kita tidak bisa menerima ketika seseorang memberikan koreksi dan mengusik zona kenyamanan kita. Kalau kita menyadari dan mengerti bahwa ROCK Ministry adalah perwakilan kerajaan Allah di muka bumi dan kita adalah warga kerajaan Allah, kita harus keluar dari golongan anak bungsu dan anak sulung.

3. Golongan Bapa (Ay 20-24)

a. Ay 20: “Dari jauh ayahnya telah melihatnya”. Hal ini melambangkan ketekunan dan kesabaran dalam melayani sesama. Dengan tekun dan sabar bapa menunggu anak yang terhilang itu kembali kepadanya. Untuk hidup dalam kesabaran harus ada penyangkalan diri. Meskipun hal ini sangat pahit tetapi dampaknya memuliakan nama Tuhan. Karena dalam ketekunan dan kesabaran orang yang terhilang akan kembali dipulihkan Tuhan. Golongan bapa berbicara tentang kebenaran yang utuh, yang artinya bukan saja melayani program dan acara tetapi yang utama adalah manusianya. ROCK Ministry ada untuk melayani manusia, itu adalah kualitas yang Tuhan kehendaki.

b. Ay 22: “Kenakanlah cincin”. Artinya membangun hubungan dan keseimbangan. Kej. 1:26, “Berfirmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita…” Mat. 18-20, “Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.” Mat. 5:23-24, ”jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu”. Ini adalah gaya hidup Tuhan Yesus dalam membangun hubungan dan keseimbangan. Misalnya Tuhan Yesus membangun hubungan dengan murid-muridnya melalui makan bersama. Kita harus mempunyai hubungan ke atas (dengan Tuhan), hubungan ke dalam (komitmen dengan gereja lokal), hubungan ke luar (penjangkauan/penginjilan). Keseimbangan adalah disiplin dan mengampuni dalam kasih. Disiplin tanpa kasih akibatnya brutal, mengampuni tanpa disiplin akan berakibatkan kompromi. Karena itu harus ada keseimbangan dalam keluarga.

c. Ay 22: “Jubah yang terbaik, pakaikanlah”. Artinya membangun manusia menuju kepenuhan Kristus. Hidup dalam kebenaran dan kekudusan akan membawa kita ke dalam kepenuhan Kristus. Kepenuhan Kristus artinya setia melakukan Firman sehingga seluruh aspek kehidupan kita akan mencerminkan Kristus.

d. Ay 22: “ Sepatu pada kakinya”. Artinya mengalami Tuhan terus-menerus. Orang yang memiliki hati bapa selalu mau melihat orang yang hidupnya hancur dan tidak bisa dipercaya lagi kembali diberikan kesempatan untuk dipulihkan dan diberi kepercayaan lagi. Mengalami Tuhan terus-menerus berarti tidak melihat kesalahan dan kekurangan seseorang tetapi melihat orang itu mau berubah dan dipulihkan Tuhan.

e. Ay 24-25: “Bersukaria… seruling dan nyanyian tari-tarian”. Artinya mempersiapkan pemimpin generasi baru. Anak bungsu kembali dan diterima oleh bapa karena dipersiapkan menjadi pemimpin. ROCK ministry membuat pelatihan lewat kelas SOM dengan tujuan mempersiapkan, memperlengkapi pemimpin generasi baru agar terjadi pelipatgandaan dimana-mana sehingga nama Tuhan dipermuliakan.

Jika kita berada pada golongan anak bungsu atau anak sulung, sadarlah, ambil keputusan dan lakukan dari hati dan pikiran yang mau berubah. Kalau kita adalah masyarakat mesianik yang berkualitas, masuklah dalam golongan bapa yang memiliki hati Bapa sorgawi dan berkarakter Kristus.

Leave a Comment

 

 

DUA MACAM DASAR

 

Dalam Kej. 15:7-12 ada perjanjian antara Abram dengan Tuhan, dan dalam perjanjian itu ada korban darah. Pada waktu kita mendengar firman Tuhan dan mengambil keputusan untuk melakukannya, saat itu juga terjadi satu covenant/pengikatan janji dengan Tuhan. Ay. 9-10, “Ambillah bagi-Ku seekor lembu betina berumur tiga tahun, seekor kambing betina berumur tiga tahun, seekor domba jantan berumur tiga tahun, seekor burung tekukur dan seekor anak burung merpati.” Diambilnyalah semuanya itu bagi TUHAN, dipotong dua, lalu diletakkannya bagian-bagian itu yang satu di samping yang lain, tetapi burung-burung itu tidak dipotong dua. Pada waktu binatang-binatang dipotong menjadi dua, yang satu ditaruh di sebelah kiri, satunya lagi ditaruh di sebelah kanan, otomatis darah ada di tengah-tengahnya dan wujud nyatanya dalam Perjanjian Baru adalah Yesus mati untuk kita, (Yes. 53:1-12), setiap tetesan darahNya adalah untuk membasuh dosa kita. Inilah satu perjanjian kekal bahwa Dia telah menebus hidup kita.

Pertanyaan buat kita apakah kita mau mendengar dan mau melakukan firmanNya? Dan ini adalah dasar dalam membangun kehidupan dengan Tuhan.

Ada 2 hal yang perlu kita waspadai dalam membuat satu covenant dengan Tuhan yaitu:

1. Ay. 11: roh-roh jahat (tipu daya iblis). Dikatakan bahwa pada waktu korban ditaruh oleh Abram, “burung-burung buas hinggap pada daging binatang-binatang itu”, berbicara tentang roh-roh jahat. Iblis mencoba untuk menghalangi kita membangun hubungan dengan Tuhan, melakukan firman Tuhan, bahkan iblis memutuskan perjanjian dengan Tuhan. Iblis tidak menghalangi kita untuk menjadi aktifis rohani dalam satu denominasi, tetapi yang iblis tidak suka adalah pada waktu kita melakukan firmanNya. Iblis berusaha merebut korban-korban yang kita seharusnya bawa kepadaNya, yaitu hidup yang melakukan firmanNya sehingga hidup kita hancur dalam keputusasaan, kekecewaan, dan kegagalan. Abram dulunya adalah penyembah berhala, orang yang tidak berarti yang dijadikan berarti oleh Tuhan pada waktu Abram mendengar dengan iman, bertindak dengan iman, hidup oleh iman, melihat dengan iman, sehingga hasilnya adalah iman. Abraham melangkah dari iman kepada iman sehingga Abraham disebut bapa orang beriman.

2. Ay. 12,17: gelap-gulita (tantangan, masalah). Ketika tantangan datang, kita harus mengambil posisi seperti Abram, yaitu ‘tertidur’, yang artinya rest in peace (tidur dengan damai). Tidak melihat persoalan menjadi suatu beban, tidak melihat tipu daya iblis menjadi perkara yang besar, tapi percaya akan firman dan janjiNya bahwa Tuhan pasti menolong kita. Tidur berarti juga kehidupan yang intim dengan Tuhan, dan memperbaharui kekuatan. Ada banyak orang yang tidak bisa tidur sewaktu dalam masalah. Tingkat stres meningkat. Berbeda dengan orang yang mendengar firman dan melakukannya, dia pasti memilih tidur dengan tenang, artinya diam dengan Tuhan/menantikan Tuhan.

Ada 2 sifat dasar dalam diri kita yang berdampak positif dan negatif dalam kita melakukan satu perjanjian dengan Tuhan, yaitu:

1. Sifat batu. Batu itu keras, tidak berubah, tetap kuat (mendengar dan melakukan = bijaksana). .Kej. 15:6: Abram tetap percaya bahwa pasti bukan hambanya, Eliezer, yang akan mewarisi seluruh janji-janji itu tetapi anak kandungnya sendiri. Ada banyak pertanyan yang tidak bisa kita jawab, hanya Tuhan yang bisa menjawabnya. Sifat batu adalah mendengar dan melakukan.
2. Sifat pasir. Pasir mudah berubah, tidak tetap (mendengar tapi tidak melakukan = bodoh). .Kej. 16:1-4: “Abram mendengarkan perkataan Sarai”. Sarai artinya suka bertengkar. Pertengkaran akan membuat iman kita luntur. Ini adalah gambaran dari diri kita. Ada waktu-waktu dimana kita bersemangat melayani Tuhan, ada waktu juga kita merasa lemah, jenuh. Akibat Abram lebih mendengar dan taat kepada manusia (istrinya) daripada kepada Allah yaitu dengan menghampiri Hagar (Kej. 16:7-12) lahirlah Ismail, yang menimbulkan banyak pertengkaran saudara. Seperti Firman Tuhan yang mengatakan tangan Ismail akan menentang saudaranya. Karena Abram tidak menunggu waktu Tuhan maka telah menghancurkan generasi-generasi selanjutnya.

Orang yang mendengar dan melakukan adalah orang bijaksana tetapi orang yang mendengar tapi tidak melakukan disebut orang bodoh. Orang bodoh tidak mendapat bagian dalam kerajaan Allah. Kej. 16:16, 17:1 ”Akulah Allah yang Mahakuasa, hiduplah di hadapanku dengan tidak bercela.” Menghampiri Hagar adalah perbuatan tercela (keinginan daging, mata, keangkuhan hidup). Ketidak taatan Abram juga menyebabkan hari-hari hilang dihadapan Tuhan. Bandingkan kej 16:16 umur Abram 86 tahun, dan kisah selanjutnya tercatat dalam kej 17:1 pada usia yang ke 99. Sebab itu pemazmur Musa berdoa dalam Maz. 90:12“ Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian hingga kami beroleh hati yang bijaksana”. Tuhan mencari hati yang bijaksana yang mendengar dan melakukan firmanNya.

Kita harus memiliki sifat Batu dalam melakukan satu hubungan dengan Tuhan seperti tertulis dalam 1 Kor. 3:10-13, “… Tetapi tiap-tiap orang harus memperhatikan, bagaimana ia harus membangun di atasnya. Karena tidak ada seorangpun yang dapat meletakkan dasar lain dari pada dasar yang telah diletakkan, yaitu Yesus Kristus…”. Suatu saat nanti pekerjaan kita akan diuji. Entah kita bersembunyi atau menutup-nutupi, akan tiba harinya bahwa tidak ada yang dapat kita tutupi di hadapan Tuhan. Kalau kita dibangun diatas batu karang (ROCK), yaitu Yesus Kristus, kita pasti akan tetap kokoh bersama dengan Dia.

 

 

HIDUP ADALAH SEBUAH PERLOMBAAN

 

Amsal 3:3-5: “Janganlah kita tinggalkan kasih karunia dan kebenaran Allah, tetapi kalungkanlah itu pada leher dan tuliskanlah pada loh hati kita” (ay. 3).

1 Kor. 9:24-25: “Tidak tahukah kamu, bahwa dalam gelanggang pertandingan semua peserta turut berlari, tetapi bahwa hanya satu orang saja yang mendapat hadiah? Karena itu larilah begitu rupa, sehingga kamu memperolehnya! Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal. Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi.”

Ada dua hal yang Tuhan berikan kepada orang percaya:

  1. Hidup kekal
  2. Kerajaan Allah

Hidup ini adalah suatu perlombaan (pertandingan) untuk mendapatkan MEDALI (mahkota yang abadi) dari Tuhan. Dalam Ibrani 12:1 dikatakan bahwa ada 2 (dua) hal yang diwajibkan untuk kita tanggalkan, yaitu: beban dan dosa. Jika kedua hal ini tidak ditanggalkan maka akan merintangi atau menjadi penghalang dalam perlombaan.

Ada 3 (tiga) arti dari perlombaan:

  1. Perlombaan itu sendiri; ada aturan-aturan yang harus diikuti dalam perlombaan, yaitu Firman Allah itu sendiri. Firman Allah berfungsi sebagai rambu-rambu, sebab jalur yang harus dilewati dalam perlombaan tersebut sudah ditentukan oleh Allah. Untuk mengikuti perlombaan ini kita harus terus melatih diri, mengikuti rambu-rambunya.
  2. Konflik; dalam suatu perlombaan konflik seringkali terjadi. Tapi selama anugerah dan kebenaran ada dalam kita maka pasti ada jalan keluarnya. Adakalanya kita menolak masalah yang Tuhan ijinkan dalam hidup kita karena kita tidak melihat bahwa di baliknya ada sesuatu yang ingin Tuhan perlihatkan bagi kita. Tuhan tahu segala hal yang tersembunyi dalam hidup kita, dan Tuhan mau menyentuh itu supaya kita tetap ada di dalam Dia dan mengikuti jalur perlombaan dengan benar (… janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri, Ams. 3:5). Percaya dan tetap berpegang pada aturan-aturan dan jalur yang ditetapkan Tuhan.
  3. Perkelahian, pertengkaran, pertaruhan; hal ini sering terjadi dalam perlombaan. Misalnya dalam bentuk sesuatu yang membingungkan kita. Jika terjadi hal yang membingungkan atau mengejutkan, kita harus menguasai diri.

Kejadian 32:22-32

Pada saat kita mengalami masalah (pergumulan yang berat) kita harus mengerti bahwa dalam hidup kita ada:

  • Manahaim – tuntunan Tuhan untuk kita tetap berada dan mengikuti jalur yang Tuhan tentukan;
  • Sungai Yabok, Kej. 32:22-24 – ujian kesendirian. Adakalanya Tuhan mengijinkan kita melewati Sungai Yabok (kekosongan) agar kita tidak mengandalkan diri sendiri, tetapi bergantung penuh pada Tuhan;
  • Pniel – tempat terjadinya transformasi, Kejadian 32:28-30. Sebelum mengalami transformasi Yakub dipukul pangkal pahanya terlebih dulu oleh Tuhan. Transformasi dalam hidupnya membawanya menemukan dan melihat kemuliaan Allah (Pniel).

Kalau kita memikirkan hal kemarin, kita sedang berjalan mundur

Kalau kita memikirkan hal sekarang, kita sedang bertahan

Kalau kita memikirkan hal mendatang, kita sedang bertumbuh

 

 

MENYIKAPI ANUGERAH TUHAN

 

Ada banyak orang Kristen mengganggap kekristenan adalah hal yang biasa-biasa saja. Kekristenan mereka hanya agamawi dan tidak ada hubungan intim dengan Tuhan. Roma 11:11-24 mengatakan bahwa kita adalah pohon zaitun liar (bangsa bukan Yahudi) yang dicangkokkan pada Zaitun Sejati yaitu Kristus. Kita yang seharusnya binasa, namun oleh penolakan dan ketidakpercayaan bangsa Israel, memperoleh keselamatan. Sebagai orang Kristen (pengikut Kristus) kita seharusnya selalu bermegah dan bersyukur dalam Tuhan, karena berkat terbesar yang tidak dapat dibandingkan dengan apapun yang telah kita terima adalah keselamatan kekal. Oleh karena itu, apapun yang terjadi dalam hidup ini kita harus tetap bersyukur.

Tanda-tanda orang yang melekat dengan Zaitun Sejati – Yesus, yaitu:

1. Ay. 18: tidak sombong/berbangga diri.

Sadar bahwa segala sesuatu kita dapatkan karena kemurahanNya

2. Ay. 19: mengucap syukur.

Mengucap syukur dalam segala hal karena sebagai tunas liar kita dipungut dan dicangkokkan, hanya melalui percaya kepada Yesus Kristus.

3. Ay. 20: memiliki iman yang teguh.

1 Pet. 5:8-9: “Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu si iblis berjalan keliling… lawanlah dia dengan iman yang teguh”.

Walaupun kita dalam tekanan, aniaya, di-diskreditkan, di-diskriminasi bahkan apapun yang terjadi di dunia saat-saat ini, kita harus tetap melekat pada Tuhan. Kalau kita tetap melekat pada Tuhan tidak ada yang mustahil untuk Dia lakukan dalam hidup kita. Oleh sebab itu kita harus mempertahankan iman, jangan membuka celah sehingga iblis mengambil kesempatan untuk mengalahkan kita.

4. Ay. 20: “Takutlah akan Tuhan!”

Orang yang takut akan Tuhan hidupnya pasti bergantung pada Tuhan. FirmanNya mengatakan “terkutuklah orang yang mengandalkan kekuatannya sendiri dan diberkatilah orang yang mengandalkan Tuhan.” Jika kita takut akan Tuhan maka damai sejahtera, berkat, perlindungan dan pemeliharaanNya akan mengikuti kita. Kita jangan seperti jemaat di Laodikia Wah 3:17, “Aku kaya dan aku telah memperkaya diriku dan aku tidak kekurangan apa-apa…padahal engkau melarat, miskin, buta dan telanjang.” Menganggap kekayaan dunia adalah segalanya akan membuat takut akan Tuhan tidak ada dalam diri kita. Oleh karena itu kita harus meminta minyak Roh Kudus untuk melumas indera rohani kita sehingga kita senantiasa bergairah dan bersemangat melayani, dalam takut akan Tuhan.

Tuhan Adalah Tuhan yang mengasihi, memberkati, tetapi kita juga harus mengetahui bahwa Tuhan juga adalah Tuhan yang menghukum. Karena itu kita harus menikmati hidup di dalam anugerahNya, jangan kita sampai keluar dari jalurNya. Untuk itu, kita harus melekat pada Dia. /MK

Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku

tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki,

dan kamu akan menerimanya.

-Yoh 15:7-

Ditebus dari kuasa yang menyesakkan

Bangsa kita sedang mengalami yang disebut krisis, krisis ekonomi maupun krisis sumber daya hayati. Tetapi justru dalam kondisi seperti ini, kita sebagai gereja yang membawa dampak harus menyadari bahwa ini adalah peluang besar bagi kita. Jika kita memiliki pandangan Allah bahwa kesesakan adalah waktu Tuhan bagi gerejaNya untuk menggenapi janji-janjiNya dan melakukan perkara yang besar yaitu penuaian. Dalam menghadapi krisis kita harus percaya bahwa kita tidak sendiri tapi Tuhan ada bersama kita. Allah yang membuat jalan waktu tidak ada jalan, dan Allah yang menolong waktu semua pintu tertutup. Tuhan pasti ubah krisis menjadi berkat besar bagi anak-anakNya. Di dalam Maz 107:1-3 “Ditebus dari kuasa yang menyesakkan”, Tuhan berjanji bahwa kita akan ditebus dari kesesakan yang besar.

Ada 4 hal yang membuat kita mengalami kesesakan :

1. Ay. 4 : Tidak memiliki tujuan hidup.

Alkitab mengatakan bahwa kita hanyalah pendatang dimuka bumi ini. Tempat tinggal kita yang sebenarnya adalah surga. Ada waktu dimana kita dibawa dalam situasi seperti di padang gurun, tidak ada yang menyenangkan, yang ada terik matahari, binatang buas, ular dan kalajengking (iblis). Kalau kita tidak memiliki tujuan hidup, kita akan disengat oleh iblis, dikuasai oleh tipu muslihat iblis.

Ciri-ciri orang yang tidak punya tujuan hidup (Luk. 15:11-20):

· Ay 12 : Tidak mau dikontrol oleh Bapa. Orang yang diurapi adalah orang yang tahu aturan, dan yang menjadi pengontrol dalam hidup kita adalah Firman Tuhan (Maz 119:19).

· Ay 16 : Lapar dan haus akan perkara-perkara duniawi. Hidup dalam kedagingan dan mengikuti hawa nafsu (1 Yoh. 2:15-16).

· Ay 17a : Tidak memiliki kesadaran tentang siapa kita. Tidak menghargai kasih karunia.

· Ay 20 : Menolak kasih Bapa. Jika kita tidak punya tujuan hidup kita akan kehilanggan segalanya bahka tidak masuk dalam kehidupan yang kekal (lihat Maz. 107:9)

2. Ay. 10 : Kuasa gelap.

Penyebab orang terikat kuasa gelap:

· Ay 11 : a) Memberotak terhadap perintah-perintah Allah. Misalnya Korah, Datan dan Abiran. b) Menista nasihat yang Mahatinggi, tidak percaya akan kuasa mujizat Tuhan dan tidak percaya akan firmanNya. Akibat memberontak dan menista yang Mahatinggi:

· Hati mereka ditundukkan pada kesusahan. Sekalipun kita miliki kekayaan dunia hati kita tetap susah tidak ada sukacita.

· Tergelincir. Selalu hidup dalam masalah dan dosa.

Ciri-ciri orang yang terikat kuasa kegelapan:

Pandangan kosong, keadaan yang tidak sadarkan diri, ketakutan yang berlebihan, gangguan pencernaan (seperti ada sesuatu yang bergerak-gerak dalam perut kita), reaksi yang aneh, seksualitas yang meningkat, perasaan seperti tercekik, bunyi-bunyian yang diucapkan kedengaran aneh dan berlebihan, tindakan yang membahayakan, bau yang tidak enak.

3. Ay. 17 : Kuasa sakit penyakit

Sakit-penyakit tidak datang dari Tuhan meskipun Tuhan mengizinkan kita mengalami sakit. Sebab dari Tuhan datang segala yang baik. Iblis berusaha mencuri kesehatan kita sehingga kita bisa mengatakan Tuhan tidak adil bahkan Tuhan tidak ada.

Penyebab orang sakit:

· Perbuatan berdosa, misalnya suka marah-marah akibatnya darah tinggi

· Merokok akibatnya gangguan pernafasan, hati dan jantung, misalnya, seks bebas akibatnya aids.

· Kesalahan-kesalahan, misalnya: pola makan yang salah akibatnya kolestrol.

Ciri-ciri orang sakit karena perbuatan dosa dan kesalahan-kesalahan:

Ay. 18 : muak terhadap segala makanan dan mereka sampai pada pintu gerbang maut. Akibat tidak ada lagi keinginan atau rasa lapar sehingga tubuhpun terganggu. Organ tubuh tidak berfungsi lagi dengan baik (ay. 20, 1Yoh. 1-9, Yes. 43:25).

4. Ay 23 : Dunia dagang/niaga.

Krisis pasti tidak lepas dari dunia perdagangn. Tetapi kita harus melihatnya sebagai peluang untuk kita diberkati dengan melimpah, dan peluang untuk naik ke level yang lebih baik, dan mendapat kesempatan untuk menjarah kekayaan bangsa-bangsa.

Ciri-ciri orang yang mempergunakan peluang dengan benar adalah selalu memiliki pertanyaan dan keyakinan ini dalam mengambil setiap keputusan:

1. Adakah ini sesuai dengan firman Tuhan/dikehendaki Tuhan ?

2 Menyadari bahwa dibalik segala yang terjadi ada maksud Tuhan yang besar. Dan kita harus tahu bahwa kita tidak akan bisa mengerti seluruh kehendak Tuhan.

Kunci untuk kita keluar dari kesesakan (Ay. 6, 12, 13, 19, 28):

“Berserulah dalam kesesakan kepada Tuhan” karena dia telah menebus kita dan menjadikan hidup kita berarti. Yesus mengalami kegelapan agar kita menerima terang itu, Yesus mengalami sakit supaya kita sembuh, Yesus dijual oleh Yudas supaya kita diterima dalam kerajaanNya.

Kesesakan apapun yang terjadi, jika kita hidup dalam firmanNya yakinlah bahwa Dia akan melepaskan kita dan akan menuntun kita ke pelabuhan kesukaan (Maz. 107:30) /MK

Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia (Roma 8:28)

 

 

TEROBOSAN TANPA BATAS

 

Ada tiga hal yang merubah sejarah dalam hidup manusia yaitu:

1. Kekerasan

Di luar Yesus tidak ada kedamaian. Kalau kita mengikuti perkembangan di dunia melalui media TV hari-hari ini, dimana-mana terjadi kekerasan. Sebagai orang Kristen, hanya bila hidup di dalam kebenaran firman kita dapat membawa damai dan menyelesaikan pertengkaran. Hal itu hanya didapat bila kita menerima damai yang adalah diri Yesus.

2. Pendidikan

Kalau dalam pendidikan tidak ada Tuhan, maka generasi dan keluarga kita akan menjadi rusak

3. Kekayaan

Kalau kekayaan ada pada orang di luar Tuhan, maka bisa menjadi brutal. Misalnya kekayaan yang dipakai untuk mendalangi orang narkoba.

Dalam Mat 14:13-21, Yesus sebagai Kepala Gereja suka membuat terobosan, contohnya mendoakan orang sakit sembuh, demonstrasi kuasa Tuhan dan tanda-tanda heran, juga membuat terobosan dalam hal materi, contohnya saat memberi makan orang banyak. Murid-muridNya tidak mengerti dan bingung, bagaimana mungkin memberi makan 5000 orang dengan lima roti dan dua ikan. Kondisi ekonomi saat ini yang semakin terpuruk membuat kita berpikir tidak mungkin. Tetapi lewat kebenaran ini kita melihat bahwa bagi Tuhan tidak ada yang mustahil. Kalau kita percaya Yesus adalah Tuhan dan mengikutiNya, maka kita akan melihat perubahan di dunia pendidikan, di dunia orang-orang yang memiliki kekayaan dan di dunia kekerasan. Yang ada hanya damai dan kelemahlembutan.

Ada beberapa arahan kebenaran agar terjadi pemulihan dalam ketiga hal diatas, yaitu:

1. Mat 14:16: artinya tim (semua yang terlibat dalam mewujudkan visi dan misi), punya tanggung jawab dalam setiap bagiannya dan keterikatan dalam kerjasama yang baik, juga harus memiliki hati yang suka memberkati. Bukan sekedar memberi perpuluhan, dan persembahan di gereja. Tetapi juga memberkati Tuhan dengan penyembahan kita setiap hari, di mana saja kita berada. Itu yang disebut extending church (gereja perpanjangan). Contohnya, lingkungan pendidikan, lingkungan pemerintah (ABRI), dunia usaha/dunia kesenian. Sehingga hamba Tuhan berjawatan tidak hanya ada di gereja, tetapi di dunia market place juga. Untuk terjadi perubahan ada pintu-pintu gerbang pokok yang harus dibuka yaitu:

  • Gerbang transformasi sosial, yaitu kunci absolut dibidang kemasyarakatan, sehingga dimana saja kita berada harus terjadi terobosan/ transformasi.
  • Gerbang transformasi perpindahan kekayaan, yaitu kunci absolut perpindahan kekayaan bangsa-bangsa kepada orang-orang yang dalam kebenaran. Tranformasi Tuhan percayakan hanya kepada gereja yang suka memberkati. Kalau kita tidak mengerti tentang gereja perpanjangan, maka akan berbahaya karena keuangan yang kita miliki hanya untuk membangun gedung gereja, organisasi, hanya memikirkan kelompok sendiri, dan bukan lagi untuk membangun kerajaan Allah. Kerajaan Allah tidak terbatas diantara dinding gereja lokal tetapi juga extending church. Kerajaan Allah bukan kerajaan dunia. Kerajaan Allah ada dimana sekumpulan orang-orang percaya yang mengaku bahwa Yesus kristus adalah Tuhan.

2. Yoh 6:9: miliki hati seorang anak.

Hati seorang anak:

  • Maz 131:2 > selalu bergantung pada orang tua. Kita tidak mungkin tidak bergantung pada Yesus Tuhan. Tuhan memakai orang yang mau dipakai oleh Dia dan yang karib dengan Dia.
  • Yoh 15:20 > sifat anak memiliki kesamaan dengan orang tua. Tujuan Bapa di dalam hidup AnakNya, yaitu memenangkan jiwa, melayani, meninggikan Bapa, menjadi keluarga Bapa, dan juga harus dimuridkan. Kita juga harus melanjutkan tujuan Tuhan dalam hidup kita.
  • Yoh 6:9 > kejujuran (integrity). Orang yang hidup jujur pasti berserah. Dalam berserah, iman kita semakin terlatih dan nyata, sehingga kemanapun Tuhan tuntun, kita pasti mengikutinya karena kita percaya padaNya. Ada saat dimana kita diuji oleh Tuhan. Terkadang ada suasana yang sepertinya tidak mungkin, tetapi percayalah Dia sebagai Bapa pasti menopang dan mengarahkan kita sehingga Tuhan dipermuliakan. Kita harus jujur bahwa kita membutuhkan orang lain dalam hidup kita. Jujurlah dengan hidup kita di hadapan Tuhan, ingat siapa kita, maka Dia pasti akan membuat terobosan dalam hidup kita. Kebohongan menghambat Tuhan berkarya dalam hidup kita. Kejujuran adalah batu penjuru dari keberhasilan, kejujuran adalah batu penjuru dari karakter. Kalau kita tidak jujur maka Allah tidak akan mempercayakan segala kemampuan Tuhan. Sekali saja kejujuran itu kita gadaikan maka kepercayaan itu susah untuk kita dapatkan kembali.

Mat 14:18-19: doa deklarasi artinya pernyataan yang singkat dan jelas. Doa deklarasi dimana kita berteduh dalam kasihNya, anugerahNya, hadiratNya, dan melakukan hal yang benar, tanpa peduli konsekuensinya, karena mengetahui bahwa Tuhan akan mendatangkan kebaikan. Yesus mengucap syukur dan memberkati kemudian membagi-bagikan roti dan ikan. Deklarasi juga berarti kita meyakini pernyataan-pernyataan yang tidak dapat dirasakan atau dilihat tapi kita punya keyakinan bahwa Dia ada dan Dia buat mujizat dalam hidup kita.

 

 

DARI KEKOSONGAN MENUJU KELIMPAHAN

 

Perkataan yang paling penting dalam tahun ini adalah favor, atau yang gampang dimengerti untuk diartikan dalam bahasa Indonesia adalah ‘favorit’. Kalau kita mem-favoritkan seseorang, maka kita akan melimpahkan segala sesuatu kepada yang di-favorit-i itu. Favor adalah keinginan untuk memberi, mempromosi, keinginan untuk membuat hidupnya mudah, keinginan untuk membuat lebih baik.

Angka 5 dalam tahun tahun 2005 ini adalah angka favor, grace (anugerah). Favor of God dan favor of man (favoritnya Allah dan manusia). Favor itu mencangkup kebaikan, kemurahan dan anugerah.

Kita melihat dalam Rut 1:1-5 ada satu keluarga yang mengalami tragedi. Ada seorang yang bernama Elimelek, artinya ‘Allahku adalah Raja’. Elimelek tinggal di Betlehem, artinya the house of bread (rumah roti). Rumah Tuhan adalah rumah makanan bagi jiwa, roh dan tubuh kita. Ephrata (Efrata) artinya double fruitfulness, berubah berlipat ganda. Rencana Allah dalam hidup kita adalah berbuah bagi Tuhan, bukan sekedar ada, sekedar hidup dan bernafas. Elimelek nama istrinya Naomi artinya pleasant (menyenangkan), menyenangkan itu rencana Allah buat kita. Eden artinya menyenangkan. Ketika Elimelek pindah ke Moab, dia tidak bertanya kepada Tuhan,tidak konsultasi dengan hamba Tuhan. Sebagai orang rohani, dalam mengambil keputusan kita perlu tuntunan Roh kudus yang tinggal dalam roh kita. Kita melihat di sini kisah Elimelek tragis. Elimelek mati, bahkan kedua putranya mati. Naomi kehilangan semuanya, Naomi berakhir dengan kedua menantunya. Ketika kita dalam kesulitan, jangan bergaul dengan orang yang salah. Dengan siapa kita bergaul menentukan masah depan kita, bergaullah dengan orang yang takut akan Tuhan, bergaullah dengan orang-orang positif. Itulah sebabnya siapa menabur angin dia akan menuai angin puting beliung.

Pasal 1:6 Berkemaslah ia dengan kedua menantunya… Mesir adalah gambaran dari teritorial kegagalan, Kanaan adalah gambaran teritorial kesuksesan. Oleh karena itu janganlah kita menjauh dari Tuhan pada saat kita mengalami kesulitan.

Ada 4 poin menuju kesuksesan.

1. Pasal 1- be decisive! ambillah keputusan

Banyak orang tidak bisa ambil keputusan untuk menikah dengan siapa, kerja di mana. Rut mengambil keputusan terakhir. (Rut 1:16-17) “bangsamu adalah bangsaku, Tuhanmu adalah Tuhanku…” Banyak orang saat-saat ini menjual Yesus dengan hal-hal dunia yang semu semata. Naomi yang dalam keadaan pahit, gagal, hampa, kosong tidak punya apa-apa bahkan minus ini adalah jembatan emas bagi Rut. Apakah artinya sukses? Sukses adalah menjalankan tugas yang Tuhan berikan dan menyelesaikannya. Pasal 1:19-22, kalau kita bersungut-sungut kita akan menuai semak duri, karena itu taburlah yang baik.

2. Pasal 2- be diligent! Rajin

Banyak orang tidak diberkati karena malas (ayat 1). Kaya raya artinya keberkatan. Gibor berarti gagah perkasa. Arti lain dari nama Boas yaitu cepat, tangkas, kuat, trampil, bukan saja dalam keuangan tapi juga pengaruh. Di waktu semua orang tidak berani menabur, Boas menabur. Itulah kelebihan pengusaha dengan orang biasa. Orang biasa takut tapi seorang pengusaha berani mengambil resiko. Rut berkata kepada Naomi, “biarkan aku pergi ke ladang memungut buli-buli jelai di belakang orang yang murah hati.”

Orang yang rajin tangkas pasti menerima berkat. Rut punya tenaga, kesehatan.

3. Pasal 3 – be submissive! Tundukkan dirimu

Ada satu hal yang menjamin kita tinggal di tanah yang gundul, yaitu apabila kita menjadi pemberontak tidak mau tunduk. Itu roh daripada setan, tapi Roh daripada kkristus adalah menundukkan diri, dan Roh itu diberikan pada kita. Boas harus menikahi Rut, dan ini adalah teladan yang baik. Boas jadi penebus bagi Rut. .Rut bukan saja rajin, tunduk, tidak undur dan berlindung di bawah Elshadai, Rut adalah orang yang submissive (Rut 4:3-4). Ini adalah kunci kunci yang luar biasa bagi orang yang diurapi Tuhan. Dia pasti tahu aturan, dia mengerti order. Mungkin engkau tidak dapat menyelesaikan masalahmu tapi jika engkau berada di bawah favor of God engkau akan mengalami hal yang luar biasa. Pengurapan datang dari atas. Jika pemimpinmu diberkati maka engkau juga di berkati. Rahasia hidup adalah melayani. Putra dari Rut dan Boas adalah Obet artinya melayani; Rut artinya “friendship”, persahabatan. Orang tidak akan berhasil tanpa persahabatan.

4. Pasal 4 – be a blessing!

Ayat 13, Boas mengambil Rut menjadi istrinya, maka atas kasih karunia TUhan, perempuan itu mengandung. Suami Rut yang dahulu namanya Maklon, artinya sakit-sakitan, dan suaminya yang sekarang Boas, artinya kuat. Pada waktu Rut masih bersama Maklon, Rut mandul. Kalau ada hal-hal yang mandul dalam diri kita mungkin financial atau apapun, Tuhan membuat engkau mengandung, berbuah-buah berlipat ganda (Pas 2:17;3:12). Dia beri yang terbaik karena kita biji mata-Nya. Ibu dari Boas adalah Rahab, seorang pelacur. Masa lalu kita tidak mempengaruhi masa depan kita.

Musim baru telah tiba, musim menuai jelai sudah tiba. Apapun yang terjadi kita tetap bersorak-sorai. Promosi telah tiba, pelipatgandaan terjadi bagi kita. Oleh sebab itu jadilah favor of God dan favor of man.

Pkh 9:10

Segala sesuatu yang di jumpai tanganmu untuk di kerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenaga,karma tak ada pekerjaan, pertimbangan, pengetahuan dan hikmat dalam dunia orang mati, kemana engkau akan pergi.

 

 

MENYENANGKAN TUHAN

 

Bacaan Firman Tuhan: Mazmur 103:1-5

Kekristenan adalah kehidupan yang menyenangkan karena setiap saat kita bertemu dengan Tuhan. Kalau kita tahu menyenangkan Tuhan, Dia pasti memberikan apa yang diinginkan hati kita. Kehidupan kekristenan adalah kehidupan yang paling exciting di dunia ini, karena itu Tuhan menghendaki kita untuk melayani Dia.

Dalam kita melayani Tuhan ada bentuk/pola, yaitu :

1. SHAPE dimana kita diciptakan untuk melayani Tuhan:

  • Spiritual Gift (karunia Roh): melayani dengan karunia-karunia Roh (Kis. 12:1-11): karunia berkata-kata dengan hikmat, pengetahuan, iman, menyembuhkan, kuasa mengadakan mujizat, bernubuat, membedakan bermacam-macam roh, berkata-kata dengan bahasa roh, menafsirkan bahasa roh.
  • Heart (hati): melayani dengan hati, maksudnya memiliki kerinduan, kemauan untuk menyerahkan seluruh hidup untuk melayani Tuhan. Di mana hartamu berada di situ hatimu berada.
  • Ability (kemampuan): melayani berdasarkan kemampuan, ketrampilan, yang kita kerjakan dengan maksimal. Misalnya: administrasi, tata suara, musik, dll.
  • Personality (kepribadian): melayani dengan karakter yang terbentuk di dalam Kristus. Melayani tanpa memiliki karakter Yesus bagaikan rajawali yang hanya memiliki satu sayap, yang tidak akan bisa terbang. Karakter Kristus bisa nyata dalam hidup kita melalui masalah dan proses yang kita hadapi dan bisa kita lewati. Pemimpin yang sejati dapat kita lihat ketika dia menghadapi masalah. Di sana akan terlihat kepribadian/karakternya.
  • Experience (pengalaman): hal-hal yang kita alami sebagai hasil hubungan pribadi kita dengan Tuhan. Inilah yang disampaika kepada orang sebagai kesaksian yang hidup.

2. Gaya hidup kita adalah MENGAMPUNI (Maz 105:3), karena sifat Yesus adalah mengampuni. Artinya kita tidak suka menghakimi sesama. Gereja yang dewasa adalah gereja yang mengerti bahwa di balik semua masalah yang datang, ada rencana Tuhan yang indah. Sehingga kita tidak mudah untuk sakit hati melainkan selalu mengampuni. Seorang pemenang adalah orang yang lebih dulu mengampuni sesamanya.

  • Sakit hati membusukkan tulang, hati yang gembira adalah obat yang manjur.

· Ketika Yesus disalibkan, Dia mengatakan “ampunilah mereka sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat”

· Kita harus menghargai pengorbanan Yesus, menghargai darah Yesus (Maz 103:4).

· Jika kita menghargai pengorbananNya otomatis kita tidak mau lagi hidup dalam dosa baik dalam kita bersikap, berpikiran, bertingkah laku, karena kita sudah dilepaskan dari alam maut. Misi Tuhan yang kita bawa di kota ini adalah membawa damai.

3. PEACE (damai): dalam melayani Tuhan kita harus membawa damai.

· Plan churches (rencanakan gereja-gereja): misi “ROCK” adalah memperluas kerajaaNya, memperlengkapi orang-orang kudus, meninggikan Tuhan.

· Equip leaders (lengkapi pemimpin-pemimpin): melalui kelas Sekolah Mengalami Rencana Tuhan (SmaRT), SOM, dan pelatihan lainnya.

· Assist the poor (bantu yang orang-orang miskin)

· Care for the sicks (peduli terhadap yang sakit)

· Educate the next generation (didik generasi baru). Mempersiapkan generasi selanjutnya.

4. Melayani dalam kepuasan yang dari Tuhan (Maz 103:5).

Tuhan berjanji bahwa segala keinginan kita akan terpuaskan oleh kebaikan Tuhan, sehingga sukacita Allah memenuhi kita. Semakin giat kita melayani Tuhan, semakin kekuatan yang dari Tuhan melimpah-limpah dalm hidup kita. Rajawali emas adalah jenis rajawali yang usianya bisa mencapai 60 tahun. Tetapi pada masa tertentu, ia akan mengalami masa paruh, dimana ia akan mencari air terjun, masuk ke dalamnya, lalu mengembangkan sayap lebar-lebar sehingga air terjun itu akan merontokkan bulu-bulunya. Setelah itu, rajawali emas ini akan naik ke sarangnya, melompat dari batu karang yang satu ke batu karang yang lain, dan di situ dia akan mencengkeram batu karang dan menatap matahari. Dia hanya bisa melihat rajawali lain terbang sementara dirinya tidak bisa.

Mungkin kita juga sedang mengalami masa paruh. Dulu usaha kita diberkati, pelayanan kita di mana-mana, karir menanjak, tetapi sekarang sepertinya mengalami masa fakum, bisnis tidak jalan, tidak melayani, karier tidak berkembang. Tetapi jangan sekali-kali kita mencoba dengan kekuatan sendiri, karena hal itu sangat berbahaya. Cengkeramlah batu karang itu, yaitu Yesus, dan tataplah matahari (Maz 84:12), yaitu Tuhan Allah. Keadaan ini akan memacu pertumbuhan bulu-bulu baru pada rajawali dan setelah tumbuh lagi maka dia akan terbang kembali dengan kekuatan dan kecepatan terbang melebihi yang dulu. Sampai menjelang ajalnya, rajawali akan naik ke tempat tinggi, mencengkeram bukit batu, menatap matahari dan mati disana.

Kita dipanggil untuk melayani Tuhan seumur hidup kita dan tetap menyenangkan hati Tuhan.

Nantikanlah Dia, maka dia yang akan “…memuaskan hasratmu dengan kebaikan, sehingga masa mudamu menjadi baru seperti pada burung rajawali” (Maz 103:5). Amin.

Penyembahan dari hati yang menyenangkan Tuhan membuahkan mujizat

Penyembahan yang datang dari hati yang mengaihi Tuhan akan membuahkan mujizat.

Matius 15 : 21- 28 : “… perempuan itu mendekat dan menyembah …besar imanmu maka jadilah padamu apa yang kau kehendaki dan seketika itu juga anaknya sembuh”. Mendekat dan Menyembah membuahkan mujizat (ayat 25-28).

Apa yang dilakukan oleh perempuan Kanaan sebagai gambaran dari gereja adalah suatu wujud yang dia tunjukkan sebagai tindakan penyembahan. Bukan sekedar lagu yang dia nyanyikan tetapi merupakan tindakan yang baik berdasarkan kebenaran. Sekalipun kita pemuji, worship leader, pemusik, tetapi jika tindakan hidup kita tidak berdasarkan kebenaran maka itu bukan penyembahan, itu suatu show untuk mencari nama.

Matius 22:37-39; Mar 12:30-33 : “Mengasihi Tuhan dengan segenap hatimu” berarti semangat yang berkobar-kobar untuk mengasihi Tuhan. “Mengasihi Tuhan dengan segenap jiwamu” artinya akal budi dan seluruh pikiran kita hanya dikuasai oleh firman Tuhan sehingga kita hanya memikirkan hal-hal yang menyenangkan Tuhan. “Mengasihi Tuhan dengan segenap kekuatan” berbicara tentang melayani dalam kehidupan sehari-hari, dimana semua yang kita kerjakan adalah untuk menyenangkan hati Tuhan.

Bukti kita mengasihi Tuhan dengan segenap jiwa, akal budi dan kekuatan hanya bisa dilakukan melalui penyembahan, yaitu setiap hal yang kita katakan dan lakukan bermotivasi menyenangkan hati Tuhan.

Agar penyembahan kita keluar dari hati yang mengasihi Tuhan dan membuahkan mujizat, kita perlu tahu bahwa kasih karunia Allah masih berlaku untuk kita. Untuk membuktikan kita hidup dalam kasih karunia dalam tindakan penyembahan yang benar, kita perlu melewati proses, sekalipun hal itu menyakitkan (Mat 15:23-26). Semua itu dilakukan Yesus untuk mendidik kita.

Gereja Tuhan butuh hati penyembah seperti perempuan Kanaan di atas, barulah kita dapat melihat satu kegerakan dan menghasilkan mujizat.

Dalam Mat. 15:28 : “Besar imanmu, maka jadilah kehendakmu.” Bukan lagi kehendak Tuhan, karena hati sebagai penyembah sudah melekat menjadi satu dengan Tuhan dan Tuhan menjadikan dia orang kepercayaanNya. Agar kita dipercaya Tuhan kita perlu tahu bahwa iman yang besar berarti bertekun dalam iman yang benar, percaya kepada Tuhan dalam segala hal, segala keadaan dan tetap setia kepadaNya.

Penyembahan dalam Mat. 15:22 adalah:

1. Memusatkan perhatian hanya kepada Yesus sebagai Tuhan

2. Meresponi kasih Tuhan

Ada beberapa hal yang harus kita lakukan agar penyembahan kita membuahkan mujizat:

1. Mencari pribadi Tuhan

Dipenuhi dengan kehidupan Yesus (fokus pada kehidupan kristus). Saat kita fokus kepada Tuhan pasti ada masalah/problem yang datang, tetapi Tuhan memakai setiap masalah untuk menguji hati kita.

2. Bersedia dan punya keputusan untuk ditaklukkan keakuan dan kedagingannya

Orang yang bisa ditaklukkan hanyalah orang-orang yang memiliki sifat hamba dan anak.

Sifat hamba:

  1. Tidak egois (Mar. 2:4-5)
  2. Tidak sombong (Mat. 11:28-29)
  3. Rendah hati, tidak mudah tersinggung, tidak mudah sakit hati, tidak mudah marah, punya watak lemah lembut
  4. Tidak suka menuntut (Mat. 5:3), selalu bersyukur
  5. Tidak independen, selalu bertanggung jawab dengan apa yang dipercayakan (2 Tim. 2:10), tidak perlu merasa mempertahankan nama baik.

Sifat Anak :

  1. Mudah percaya (Ams. 3:6), tidak ada tipu daya, bersandar sepenuhnya pada Tuhan, tidak suka menentang.
  2. Mudah diajar, mau menerima, bersikap terbuka, haus untuk diajar, mudah dibentuk (Ams. 2:1-10)
  3. Tidak menaruh curiga, apa adanya, melakukan apa yang Tuhan mau, tidak rewel, sederhana, tidak mengkotak-kotakkan manusia.

3. Mengerti arti hidup

Setiap berkat, kepintaran, skil, karunia-karunia yang diterima adalah pemberian dan kita hanya pengelola. Sebagai pengelola kita harus mengerti bahwa hidup adalah proses, artinya kita masuk dalam jalur keberhasilan dan bukannya menunggu hasil.

4. Percaya dengan segenap hati dan taat

Bertindaklah dengan iman. Ingat bahwa dengan iman semua yang kita jalani di dunia adalah proses pendewasaan.

Hidup kita mahal karena telah dibayar lunas oleh darah Yesus. Untuk itu jadilah pribadi yang berharga, hidup dalam penyembahan yang benar sehingga membuahkan mujizat. Dengan terlibatnya kita dalam Komunitas Sel Mesianik kita akan membawa perubahan bagi keluarga dan lingkungan sehingga kita dipercayakan perkara-perkara besar oleh Tuhan Yesus. Amin.

 

 

 

Mengapa Komunitas Mesianik?

 

Bacaan Firman Tuhan: Yeremia 2:13

“Sebab dua kali umat-Ku berbuat jahat: mereka meninggalkan Aku, sumber air yang hidup, untuk menggali kolam bagi mereka sendiri, yakni kolam yang bocor, yang tidak dapat menahan air.”

Ada 2 (dua) peringatan Tuhan untuk bangsa Israel, yaitu:

1. Mereka meninggalkan Tuhan yang merupakan sumber air hidup

2. Mereka menggali kolam yang bersumber pada ide mereka sendiri

Peringatan ini sebenarnya untuk kita. Kalau kita mencoba melayani dengan kemampuan, kekuatan, dan pengertian kita sendiri, maka hal itu akan dipandang jahat di mata Tuhan.

Gereja, khususnya ROCK Ministry, harus berada dalam sumber air yang hidup yaitu hubungan intim dengan Yesus yang menghasilkan pertumbuhan -melalui Komunitas Mesianik (KM)- dan tidak hanya bermain-main di sungainya Tuhan (senang dengan tanda-tanda heran sesaat saja).

Kita tahu bahwa visi ROCK Ministry adalah membangun masyarakat mesianik, yaitu harmonious, victorious, glorious (esa, jaya, mulia). Sebagai masyarakat Mesianik, kita semua dilatih mendoakan orang sakit, melepaskan orang yang terikat dosa dan kuasa gelap, dan membawa orang yang terhilang dan kesusahan untuk masuk dalam keselamatan dan kesukaan Tuhan. Bila kita hanya terlibat dalam ibadah raya saja, sama artinya dengan rajawali yang hanya punya satu sayap sehingga tidak bisa terbang. Itu sebabnya kita memerlukan satu sayap lagi, yaitu Komunitas Mesianik.

Mengapa Komunitas Mesianik penting? Karena dalam KM kita dapat mempraktekkan Firman Tuhan yaitu membangun kasih persaudaraan, saling melayani dan mendorong dengan karunia-karunia Roh dan talenta setiap orang, sehingga terus bertumbuh dan dapat menghasilkan pelipatgandaan bilangan murid.

Seperti sumber air dari sungai kehidupan Tuhan, kita harus keluar semakin jauh dari bait Allah dan tenggelam semakin dalam di sungai kehidupan Allah. Artinya kita tidak hanya tinggal dalam rutinitas dan kepentingan pribadi, tetapi keluar dari diri sendiri dan membawa kemuliaan Allah bagi orang lain. Jemaat yang digembalakan di dalam KM harus diberi motivasi untuk melayani dan memenangkan jiwa.

Dalam KM kita dapat memenuhi 3 kebutuhan dasar manusia yaitu dikasihi, dihargai dan diakui. Sebab itu seorang gembala KM diharapkan memiliki hati Bapa, kasih Bapa, dan kuasa Yesus, sehingga Tritunggal itu nyata melalui terpenuhinya kebutuhan tersebut.

Apa untungnya jika kita berada dalam sumber air kehidupan?

Yehezkiel 47:1-12 :

1. KEDALAMAN (ay. 1): Artinya semakin dalam kita tenggelam dalam sumber sungai kehidupan, maka karunia-karunia Roh dan talenta kita akan makin dipertajam sehingga kita dapat menjadi berkat bagi orang lain.

2. ARAH (Ay. 12): Arah sungai berbicara tentang tugas kita melayani dan memberitakan injil ke ‘arah timur’, yaitu ke tempat yang ada kematian (laut mati). Di mana ketika ada kematian, perceraian, dan masalah lain, di sana kita harus pergi untuk mendoakan mereka. Segala sesuatu yang dilintasi sungai kehidupan akan menjadi hidup. Dunia saat ini sangat membutuhkan hal-hal yang hidup, karena itu sebagai perwakilan kerajaan Allah kita juga harus membawa kehidupan.

3. KUASA (ay. 12): kuasa sungai kehidupan berarti kita harus membawa dampak yaitu menampakkan kasih (1 Petrus 3:8), dan pelayanan kasih yang dapat dilihat, seperti persahabatan adalah kasih yang bersifat pribadi, musik adalah kasih yang dapat didengar, pemberian adalah kasih yang dapat dipercaya, kebaikan adalah kasih yang dapat dipegang.

Kita bisa efektif dalam misi dan pelayanan jika kita berada dalam sumber air hidup, yaitu pribadi Kristus. Kita menjadi hamba Tuhan yang militan dan radikal kalau kita dalam sumber sungai kehidupanNya.

Tidak ada seorangpun yang dapat benar-benar kuat, terhormat, murni dan baik tanpa berdampak pada lingkungannya dan itu bisa direalisasi melalui KOMUNITAS SEL MESIANIK.

 

 

Apa Yang Kau Mau?

 

Seringkali kita dihadapkan pada situasi-situasi dimana dalam keadaan tidak siap kita didesak untuk mengambil keputusan. Jangan menganggap remeh hal ini, karena kesalahan dalam mengambil keputusan dapat berakibat kehancuran, baik dalam keluarga, generasi, atau bangsa..

beberapa contoh tentang orang-orang dalam Alkitab yang mengambil keputusan :

1. 1 Raja-raja 1 – Barsyeba

Barsyeba adalah seorang ibu yang tahu cara mendidk anaknya dengan baik. Dalam beberapa kitabnya, Salomo berkali-kali menulsikan agar kita mengingat didikan ibu. Berbeda dengan Adonia, anak Daud lainnya yang dari statusnya adalah pewaris tahta Daud. Adonia dibesarkan sebagai anak yang dimanja dalam segala hal. Hasil didikan Barsyeba terlihat dari pilihan Tuhan kepada Salomo untuk membangun Rumah Tuhan. Ketika Adonia mengangkat dirinya sendir menjadi raja atas Israel, Barsyeba mempersiapkan dirinya menghadap Daud dan meminta Daud menepati janjinya untuk mengangkat Salomo anaknya menjadi Raja atas Israel.

2. Ester 1 – Ester

Ester adalah seorang yatim piatu sekaligus adalah seorang tawanan, tetapi Ester mempunyai Moderkhai pamannya yang sangat memperhatikan dirinya dan yang mengantarkanya menjadi Ratu. Ketika melihat keslamatan bangsanya terancam, Ratu Ester menghadap Raja Ahasyweros dan meminta agar bangsa Yahudi diselamatkan dari rencana jahat Haman. Permintaan yang tepat dari Ester menyelamatkan bangsa Yahudi dari kepunahan.

3. Matius 14 – Herodias

Herodias adalah istri dari Raja Herodes yang sangat membenci Yohanes Pembaptis karena ditegur telah mengambil Herodias, istri Filipus saudaranya. Saat ulang tahun Herodes, anak perempuan Herodias berhasil menyukakan hati raja dan karena dihasut oleh ibunya, dia meminta kepala Yohanes Pembaptis. Permintaan yang salah dari Herodias mengakibatkan kedukaan yang dalam bagi Yesus dan murid-muridnya.

4. I Raja-raja 21 – Izebel

Izebel adalah istri dari Ahab raja Samaria, yang mengingini kebun anggur Nabot untuk dijadikan kebun sayur seperti miliknya. tetapi Nabot orang Yisreel itu tidak mau memberikan kebun anggurnya karena kebun anggur itu adalah milik pusaka nenek moyangnya sehingga membuat geram hati raja Ahab. Ketika Izebel mengetahui kegundahan hati suaminya, dia segera membuat rencana jahat untuk mencelakakan Nabot sehingga setelah Nabot mati kebun anggurnya dapat dikuasai oleh Ahab. Keputusan yang diambil oleh Izebel sangat merugikan bukan hanya bagi Nabot tetapi juga bagi Ahab karena dia akan diperlakukan sama seperti Izebel telah mencelakakan Nabot.

5. II Raja-raja 4 – Perempuan Sunem

Perempuan Sunem ini berbaik hati membuatkan nabi Elisa sebuah kamar sebagai tempat peristiharatan setelah melalui perjalanan yang panjang. Suatu hari nabi Elisa menanyakan apa yang diingini oleh perempuan Sunem ini dan ketika nabi Elisa mengetahui bahwa ia belum mempunyai anak, ia bernubuat bahwa tahun depan pada waktu yang sama ia telah menggendong seorang anak. Bahkan ketika anaknya meninggal nabi Elisa menghidupkannya kembali. Keputusan yang diambil perempuan Sunem ini memberikan manfaat yang besar bukan hanya bagi dirinya tetapi juga bagi keluarganya.

Beberapa contoh orang-orang yang mengambil keputusan diatas membawa kita untuk melihat bagaimana kita harus sungguh-sungguh mengerti kehendak Tuhan agar dalam mengmbil keputusan dapat membawa dampak Ilahi bagi hidup, keluarga dan karier kita.

Berpeganglah pada didikan jangan melepaskannya, peliharalah dia, karena dialah hidupmu (Amsal 4 : 13)

 

 

Kesempatan

 

Hidup adalah kesempatan; kesempatan adalah anugerah Allah. Setiap kesempatan dapat berakhir, tanda-tanda jaman menunjukkan waktunya sudah dekat (bandingkan 1 Pet. 4:7, 2 Pet. 3:9-15b, Mat. 24:7). Setiap manusia diciptakan dengan sebuah tujuan. Allah tidak sembarangan menempatkan seseorang di bumi pada suatu keluarga, tempat, pelayanan, dan mempercayakan sesuatu kepadanya, entah itu kesehatan, uang, kedudukan, dll. Sebab itu setiap orang harus tahu tujuan hidup yang Tuhan berikan.

Sebagai anak Tuhan kita adalah duta kerajaan sorga. Tugas kita adalah memperluas kerajaan Allah di bumi, dimana hukum yang mengatur hidup kita adalah Firman Tuhan, dan pada akhir masa tugas kita akan kembali ke sorga. Di sanalah kita akan mempertanggungjawabkan semua pekerjaan kita. Bila baik, kita akan menerima pujian dan ikut memerintah dengan dia. Bila tidak, kita akan menerima hukuman kekal.

Yang Tuhan inginkan adalah:

1. Kita menjadi pengurus yang baik dari kasih karunia Allah (1 Pet. 4:10b). Kita bukan pemilik tetapi pengurus, dan sebagai pengurus kita harus lakukan dengan serius, sebagai wujud tanggung-jawab kita kepada Tuhan sebagai Sang Pemilik.

2. Bertumbuh dalam kasih karunia: menjadi dewasa rohani, supaya siap menjadi mempelai Kristus (2 Pet. 3:18).

Ciri-ciri Kristen yang dewasa:

  • 1 Kor. 3:1-3 : bukan lagi minum susu tetapi makan makanan keras, artinya mau ditegur/tidak mudah tersinggung.
  • 1 Kor. 3:3b : Tidak iri hati, ikut senang bila orang lain bertumbuh/diberkati.
  • 1 Kor. 3:3b : Tidak suka bertengkar, selalu membawa damai, mulai dari menjaga lidah, tidak suka gosip atau adu domba.
  • 1 Kor. 3:4 : Tidak menggolong-golongkan orang, termasuk hamba Tuhan, sebab setiap orang dapat dipakai Tuhan sama, dan setiap orang berharga di mata Tuhan; tidak mencari ajaran-ajaran yang menyenangkan telinga/dagingnya saja, tetapi memiliki gigi-gigi rohani yang kuat dan terlatih untuk mencerna Firman Tuhan (2 Tim. 4:3).
  • Tidak lamban/lambat sekali (idiot rohani: tidak mau berubah, terus berputar pada ajaran-ajaran dasar – lihat Ibr. 5:11-14). Sebaliknya, harus TAAT (Terus Angguk Aksi Terus) pada setiap kebenaran yang diterima.

3. Menjadi Kristen rajawali, bukan Kristen ayam kampung.

  • Rajawali terbang tinggi sehingga tidak terpengaruh gravitasi bumi (=keinginan mata dan dunia); ayam kampung lebih suka bermain di tempat rendah/di tanah.
  • Rajawali terbang sendiri, artinya tidak ikut-ikutan, tetapi berani membuat keputusan sendiri dengan Tuhan; ayam kampung suka beramai-ramai/takut sendiri.
  • Rajawali tidak takut badai/masalah, tetapi menjadikannya sebagai kendaraan untuk terbang lebih tinggi; ayam kampung takut badai dan bersembunyi dalam kandang (suka kenyamanan).

Tuhan mencari Kristen Rajawali untuk menerima kelimpahan kuasaNya sehingga dalam kesempatan hidup ini kita dapat melakukan karya-karya besar bagi kerajaan Allah.

Kunci untuk menjadi Kristen Rajawali adalah: “menanti-nantikan Tuhan” (Yes. 40:31). Terjemahan lainnya berarti menyatu dengan Tuhan dalam hadiratNya sehingga Tuhan menukarkan kekuatan kita yang terbatas dengan kekuatanNya yang besar. Hasilnya adalah kita berlari dan tidak lesu, berjalan dan tidak lelah, “kita akan berjalan semakin hari semakin kuat, menghadap Tuhan di Sion.”

Kata Yesus:

“Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku selama masih siang, akan datang malam, dimana tidak ada seorangpun yang dapat bekerja” (Yoh. 9:4). Amin.

 

 

Janji Tentang Pemulihan

 

Bacaan Firman Tuhan: Zefanya 3:9-20

Allah kita adalah Allah yang suka berjanji, dan semua janjiNya pasti ditepati.

Empat ciri orang yang siap menerima janji pemulihan dari Allah:

1. Ay. 9 : bibir yang bersih

Seringkali berkat Tuhan terhalang atas kita karena bibir kita tidak bersih.

  • Yes. 6:2-7 : Yesaya yang adalah seorang nabi Allah, pada waktu melihat kemuliaan Allah, seketika itu juga sadar bahwa ia najis bibir.
  • Roma 10:9-10 : Kita mengakui Tuhan dengan mulut kita, karena itu Tuhan menginginkan kita memiliki bibir yang bersih.
  • Amsal 18:21 : Hidup dan mati dikuasai lidah, bukan dikuasai penyakit. Jaga perkataan kita, hati-hati berbicara. Dalam kesunyian jaga pikiran, dalam keramaian jaga perkataan.
  • Matius 12:35-37 : kita dihakimi menurut perkataan kita, karena itu sebagai imam-imam kita harus berkata-kata dengan iman dan hidup kudus.
  • Bilangan 12:1-3 : otoritas yang dari Tuhan akan dibela oleh Tuhan sendiri. Miryam dan Harun terkena kusta putih karena mereka mengatai hamba Tuhan yang diurapiNya.

2. Ay. 12 : rendah hati

  • Memiliki hati seorang hamba, yaitu mau melayani, tidak menganggap dirinya super; beda dengan mental hamba, yakni selalu menuntut.
  • Memiliki hati seorang murid, yaitu siap diproses, dibentuk, mau belajar dan mengajar. Dalam mengalami proses, harus memandang kesakitan/penderitaan sebagai bahan baker untuk gairah.

Proses adalah salah satu cara Tuhan untuk membawa kepada tingkatan yang lebih tinggi lagi.

Yes. 40:31 : waktu persoalan datang, sikap kita adalah diam dan tenang. Kita harus memandang persoalan seperti seekor rajawali memandang badai sebagai kendaraan yang membawanya terbang tinggi.

Penderitaan juga merupakan alat pembangun iman kita.

· Memiliki hati seorang prajurit, yaitu tidak pernah mundur saat meghadapi persoalan, tetap melangkah maju.

· Memiliki hati seorang penyembah, yaitu sadar bahwa tanpa Tuhan ia tidak dapat melakukan apa-apa.

3. Ay. 14 : bersukacita dan bersorak-sorai

Selalu bersukacita meskipun dalam persoalan. Hati yang gembira adalah obat yang manjur.

Kapan bersukacita dan bersorak-sorai? :

  • Waktu hukuman disingkirkan dari kita (ay. 15)
  • Waktu dalam ketakutan (ay. 16)
  • Waktu Tuhan ada di tengah kita (ay. 17)

4. Ay. 20 : mempercayakan diri kepada Tuhan

Dosa/pelanggaran membuat kita berjalan jauh dari Tuhan. Kalau saat ini kita sedang mengemudikan hidup kita dengan kekuatan kita sendiri, maka mulailah percayakan hidup kita kepada Tuhan, biarkan Ia membawa kita pulang.

Rahasia sukses bagi orang percaya:

  • · Lukas 15:11 : mau dikontrol oleh Bapa di sorga, tidak seperti anak yang hilang, yang tidak mau dikontrol oleh bapaknya.
  • · Lukas 15:16 : lapar dan haus akan Tuhan, tidak seperti anak yang hilang, yang hanya menginginkan hal-hal duniawi.
  • · Lukas 15:17 : menyadari keadaan kita, siapa diri kita; hanya karena kemurahan Tuhan kita bisa dipakaiNya.
  • · Lukas 15:20 : menerima kasih Bapa, yang selalu menerima anak yang pernah meninggalkanNya

 

 

“Rahasia Sukses Ishak”

 

Bacaan : Kejadian 26:1-13

Setiap orang besar pasti pernah mengalami kegagalan (ada duri dalam dagingnya), contoh : Smith Wigglesworth. Orang yang dipakai Tuhan melalui karunia kesembuhan dan pemulihan. Dalam pelayanan semasa hidupnya, Smith Wigglesworth telah membangkitkan 14 orang yang telah meninggal, termsauk istrinya. Namun, setelah Smith meninggal, pembantunya menemukan darah dalam pakaian dalamnya, (penyakit ini dideritanya sekitar 5 tahun).

Juga contoh lain, John Wesley. Pembawa kebangunan rohani di Inggris dan Amerika, seorang muda yang dipakai Tuhan secara luar biasa. Kehadirannya di suatu kota membawa dampak seisi kota mengalami lawatan Tuhan dan orang-orang akan tahu bahwa ada John Wesley di kota tersebut. Tetapi, karena John menikahi seorang wanita yang mengalami depresi mental. Selama lebih kurang 20 tahun kehidupan rumah tangganya, John Wesley mengalami siksaan, penganiayaan dan perlakuan kasar lainnya dari sang istri. Seorang yang dipakai Tuhan luar biasa dan yang disegani di kalangan gereja Methodis pada jamannya, tapi juga yang selalu mengalami siksaan dari sang istri.

Setiap orang hebat pasti selalu pernah melewati ujian.

Dukacita terbesar, sebenarnya bukan pada masalah keadaan, tapi masalahnya pada pikiran kita.

Rahasia Sukses Ishak, yaitu :

  1. Tuhan mengijinkan Ishak mengalami masa krisis (ayat 1); dimana seharusnya ada janji Tuhan bisa didapatkan. Mari periksa hati kita, jika hari ini kita mengalami krisis. Jika itu disebabkan karena dosa (pelanggaran) kita, maka kita harus bertobat. Tapi, jika itu karena diijinkan Tuhan masuk dalam kehidupan kita, percayalah ada berkat besar yang Tuhan siapkan untuk kita.

Gerar artinya rumah / pondok penginapan..

Ada waktu-waktu tertentu dimana Tuhan tempatkan kita di tempat yang tidak mengenakkan. Sikap hati kita dalam suatu situasi menentukan apakah kita keluar sebagai pemenang atau pecundang (orang yang kalah) !

Dalam ayat 2, Ishak mengambil sikap yang tepat, yaitu :

a. Diam dan dengarkan Tuhan bicara. Justru dimana waktu yang tidak mengenakkan seperti itulah adalah waktu terbaik Tuhan bicara kepada kita (the Great time God speak to us).

b. Tinggal di negeri (Gerar, ayat 3-4). Tetap tinggal dalam masalah yang diijinkan Tuhan, sebab Dia berjanji untuk menyertai dan memberkati kita. Banyak kita maunya sesegera mungkin untuk keluar dari masalah atau persoalan yang sedang kita hadapi. Mungkin apa yang kita punyai akan hilang, segala yang kita miliki / kekayaan kita juga akan tidak ada lagi, bahkan status sosial / kedudukan akan lenyap. Tapi satu hal yang tidak boleh hilang yaitu penyertaan Tuhan dalam hidup kita.

Saat Tuhan menyertai, Tuhan memberkati. Saat Tuhan berjanji, Tuhan pasti menepati. Inilah sikap yang harus kita punya dalam kehidupan ini.

  1. Mau mengasihi dalam segala keadaan (ayat 8). Waktu Ishak dan Ribka berada di “rumah penginapan” yang tidak mengenakkan tetapi mereka tetap saling mengasihi (bercumbu-cumbuan). Tentu mudah kita saling mengasihi saat segalanya berjalan dengan baik dan diberkati. Tapi saat situasi yang tidak mengenakkan datang, bukanlah hal yang mudah untuk dapat saling mengasihi, bukan? Justru, inilah kunci kita diberkati itu. Alkitab berkata, dimana dua orang bersepakat dan meminta apa saja, Tuhan berikan kepada mereka (Matius 18:19).
  2. Tertawa (Joyfull).

Arti kata Ishak adalah “tertawa”. Justru di tempat dimana tidak ada suatu kepastian Tuhan melipatgandakan berkat kehidupanNya bagi kita, seperti Abraham. Saat Abraham tidak punya dasar untuk percaya atau dasar untuk tetap bersandar, saat itulah Allah memberikan Ishak (joyfull atau sukacita, tertawa) itu. dan saat Allah memberkati maka “…akan ada berkat seratus kali lipat, yang membuat Ishak menjadi kaya, bahkan kian lama kian kaya, sehingga ia menjadi sangat kaya.”

Mari lihat Tuhan yang besar dalam hidup kita. Sebab Dia sanggup melakukan perbuatan-perbuatan yang besar atas kita, yang percaya padaNya.

  1. Kita harus “menggali” sesuatu.

Arti kata gali, yaitu : mencari sampai ketemu sumber; menyelidiki untuk mendapatkan sesuatu. Ada 7 kali kata “menggali, digali” yang berarti Tuhan serius dengan hal ini. Arti sumur (dalam konteks untuk pribadi kehidupan kita) artinya kehidupan Tuhan yang harus meluap dari kehidupan kita. Jadi, kita yang harus mencari sampai menemukan sumber kehidupan dan itu meluap ke kehidupan orang lain.

Saat Ishak menggali sumur, ada beberapa hal yang terjadi, yaitu :

a. Sumur Esek (artinya : pertengkaran). Banyak kali saat kita mulai menggali sumur kehidupan kita, yang kita temukan justru malah sumur pertengkaran.

b. Sumur Sitna (artinya : permusuhan). Saat “sumur kehidupan kita” itu digali lebih lagi, acapkali yang kita temukan malah adalah permusuhan.

c. Sumur Rehobot (artinya : kebebasan). Tuhan tidak menginginkan kehidupan kita hanya terkungkung dalam pertengkaran dan permusuhan, tapi meningkat kepada kebebasan dari hal-hal tersebut. Saat kita menggali sumur, yang kita temukan justru pasri, batu, duri; tapi jangan pernah berhenti menggali. Pada saat kita gagal, jangan berhenti menyerah, terus berusaha dan percaya, bersama Tuhan, kegagalan itu diganti dengan kemuliaan akan penyertaan Tuhan.

d. Sumur Syeba (artinya : sumpah, janji).

Ada yang lebih berharga dari sekedar kebebasan yaitu menikmati sumpah atau janji. Setiap kita yang tidak punya pengharapan/putus asa, mari pegang janji Tuhan. Saat kita pegang janji Tuhan maka Tuhan akan buat “bertambah tujuh kali lipat janji (Bersyeba)”. Ketika kita pegang satu janji, Tuhan akan kasih 7 kali janjiNya. Artinya, yang Tuhan inginkan adalah adanya peningkatan dalam kehidupan kita.

Masa depan kita itu adalah janji Tuhan (akan bertambah tujuh kali lipat).

Mereka yang secara utama membicarakan masa lalu, sedang berjalan mundur;

Mereka yang membicarakan masa kini, sekedar sedang mempertahankan;

Tetapi mereka yang membicarakan masa depan, adalah orang yang sedang bertumbuh.

Amin.

 

 

Menjadi Pembawa Damai

 

Bacaan Firman Tuhan: Matius 5:9

Ciri-ciri pembawa damai

- Dapat menguasai lidah

- Untuk membawa damai : diam

- Untuk kebenaran : berbicara

- Meninggikan yesus lebih dari segala-galanya

- II Kor. 5:18 >> menyebarkan damai di mana-mana

Tidak ada pendamaian kalau tidak ada pengampunan

Pengampunan : membebaskan seseorang dari dalam penjara.

Orang yg mengampuni – mengasihi tanpa batasan.

Siapa yang lebih dahulu mengampuni adalah pemenang

Kejujuran – keterbukaan

Tanpa kejujuran tidak ada kepercayaan

Kejujuran datang karena kerendahan hati

HUMILITY

Kerendahan hati : adalah kebebasan tuhan mengerjakan apa yang dia mau lewat hidup saya

Tinggi hati : adalah kebebasan saya mengerjakan apa yang dia mau lewat hidup saya

Rendah hati : ketidakberdayaan = penyerahan diri

Membangun orang lain (Efesus 4:29)

SEKOLAH RENDAH HATI

Rektor : Tuhan Yesus

Dosen : Roh Kudus

Mata kuliah : Mengasihi

1. Siap untuk direndahkan!

Punya visi? Siap untuk direndahkan!

2. Mau dikerjakan oleh Tuhan

3. Belajar untuk tidak memperhatikan kekurangan orang lain

4. Menghormati orang lain (gereja yang lain juga)

5. Tuhan yesus adalah teladan

6. Tekun dalam ibadah

Setiap hari (bukan hanya tiap minggu)

Ibadah : segala sesuatu yang saudara buat dengan keyakinan bahwa itu dibuat untuk Tuhan

7. Roma 2:7 : selalu tekun berbuat baik berdasarkan kebenaran

8. Amsal 11:2 : hikmat ada pada orang yang rendah hati

9. Mazmur 133:11 : orang rendah hati akan mewarisi kota

Membangun masyarakat yang mesianik : esa – jaya – mulia.

Nilai : kerendahan hati

 

 

 

“HIDUP KEKAL”

 

Yohanes 10:10 “Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyai dalam segala kelimpahan.”

Beberapa pakar ekonomi memprediksikan bahwa kondisi ekonomi tahun ini tidak akan lebih baik dan mungkin saja membuat kita cemas, dan kuatir sehingga iblis mempergunakan kondisi ini untuk menghancurkan kehidupan keluarga, mencuri kebahagiaan, membunuh masa depan anak-anak muda dan membinasakan harapan kita. Iblis datang hanya untuk mencuri, membunuh dan membinasakan. Yesus datang supaya kita mempunyai hidup dan mempunyai dalam segala kelimpahan. Dalam kitab Yohanes 10:10 kata hidup dalam bahasa aslinya ZOE, dituliskan sebanyak 35 kali, artinya Tuhan sedang serius berbicara kepada gereja-Nya, bahwa Dia mau memberi hidup yang sesungguhnya kepada kita.

Arti hidup (zoe) yang dimaksudkan Tuhan Yesus adalah:

  1. Hidup kekal, artinya:

- Bebas dari kehancuran (karena pergaulan bebas dan ketidakpercayaan).

- Bebas dari kutuk (karena dosa kita mengalami kutuk sampai ke generasi selanjutnya, contohnya, Daud berzinah dengan Batsyeba dan membunuh Uria, sehingga anaknya, Salomo, memiliki 700 istri dan 300 gundik). Gal 3:13-14 “Kristus telah menebus kita dari kutuk Hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis: “terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib!”

- Bebas dari kematian kekal (memiliki hidup kekal bersama Yesus)

  1. Hidup yang berkualitas artinya hidup kita dikuasai oleh Yesus, sehingga hidup kita menjadi berkualitas.
  2. Hidup Allah ada di dalam kita, artinya ketika kita mengijinkan kehidupan Kristus menguasai kita, berita-berita yang tidak baik, rasa minder ketika diremehkan tidak akan melemahkan dan menggoncangkan iman kita. Agar kehidupan Kristus ada dalam hidup kita, kita harus mengalami proses pembentukan yang dari Tuhan.
  3. Kelimpahan, bahasa aslinya PERISOS artinya

- Super abundance : kelimpahan yang luar biasa, baik dalam kebahagiaan dan damai sejahtera.

- Over flowing : melimpah ruah tak terbendung.

- Surplus : tidak ada situasi/kata kekurangan (defisit), melampaui, lebih dari cukup, di atas rata-rata.

Kehidupan yang sesungguhnya akan ada dalam diri kita kalau Hidup (zoe), yaitu Yesus, ada dalam diri kita. Janji Tuhan pasti digenapi, karena janji Tuhan bukan janji yang bisa diingkari, tetapi janji (covenant) yang tidak bisa dibatalkan, ya dan amin!

Segala sesuatu dijadikan oleh Dia, dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan.

Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia.

(Yohanes 1:3-4)

 

 

 

YANG KUPERLUKAN

 

Sejak Tuhan Yesus melayani di muka bumi dan pada usia yang ke tiga puluh, Yesus banyak melakukan mujizat, pengajaran penuh kuasa, dan penuh dengan hikmat. Dalam Mar. 2:1-12 dikatakan bahwa ketika Yesus di Kapernaum (dalam bahasa aslinya Kefar = desa, Naum = nama orang) ada banyak orang datang dengan berbagai tujuan, ada yang hanya mau melihat Yesus, ada juga yang mau mencari kesembuhan. Tidak jarang ada orang mencari Tuhan, ke gereja, beribadah hanya untuk memenuhi kebutuhannya dan ketika sudah mendapatkan mujizat dan berkat, kemudian terhilang lagi dari kehendak Tuhan. Kita perlu tahu bahwa manusia memiliki kebutuhan dasar yang tidak bisa ditukar dengan apapun. Sekalipun kita memiliki emas dan perak tetapi jika kita tidak memiliki Yesus maka sesungguhnya kita tidak memiliki apa-apa. Sebab hanya Tuhan Yesus yang sanggup memenuhi seluruh kebutuhan dasar semua manusia.

Kebutuhan dasar dalam hidup manusia yaitu:

1. Pengampunan

Ayat 5, “Hai anakku dosamu sudah diampuni!”. Orang lumpuh itu membutuhkan kesembuhan, tetapi Yesus tahu bahwa itu bukan kebutuhannya yang sebenarnya. Yang sebenarnya dibutuhkan orang lumpuh itu pengampunan. Tujuan Yesus ke bumi adalah untuk memberi pengampunan. Kita sangat membutuhkan pengampunan karena kita orang berdosa dan inilah yang menjadi prioritas mengapa kita harus datang pada Yesus (ayat 10). Yesus berkuasa atas dosa; apa gunanya kesembuhan jika hidup kita berada dalam dosa. Upah dosa adalah maut.

2. Hidup yang kekal

Dalam Mat. 4:4b “Manusia bukan hidup dari roti saja, tetapi dari setiap Firman yang keluar dari mulut Allah”. Hidup yang dimaksudkan adalah hidup bersama Yesus, karena hidup itu sendiri adalah Tuhan (Yahwe). Jika kita tidak di dalam Yesus artinya kita mati (Yoh. 15:6). Di bumi ini ada dua tempat yaitu dunia orang hidup, maksudnya orang-orang yang menerima Kristus sebagai Tuhan dan tidak lagi dalam perhambaan dosa, dan dunia orang mati maksudnya orang-orang yang tidak menerima Yesus sebagai Tuhan dan hidup diperhamba oleh dosa. Yesus menyelesaikan dosa kita hanya melalui kematian (Ef. 1:7). 1 Kor. 15:54–57 ”…Maut telah ditelan dengan keenangan … hai maut, dimanakah sengatmu?…”. Ada banyak orang yang hanya mencari Yesus untuk memperoleh kekayaan harta di bumi tidak untuk mencari hidup yang kekal (Luk. 15:11–13).

3. Terang

Ayat 5, “ketika Yesus melihat iman mereka”, kita juga harus bisa melihat iman kita. Yesus melihat iman kita karena Yesus adalah terang dan di dalamnya tidak ada satupun kegelapan (Yoh 1:1–6). Pada waktu kita hidup dalam terang maka segala sesuatu akan menjadi jelas, tetapi tanpa cahaya maka semua akan menjadi gelap. Kalau kita tidak menerima cahaya yang dari Tuhan melalui firman dan menyadari bahwa kita orang berdosa, itu artinya kita buta. Dosa adalah kegelapan sehingga kita tidak melihat kalau diri kita berdosa dan perlu mendapat pengampunan. Terang adalah Kristus dan terang akan mengusir kegelapan. Kekristenan tanpa terang adalah kesia-siaan dan hidup dalam terang sama dengan hidup dalam Yesus dan Yesus dalam kita.

4. Perkataan

Ayat 2, “Sementara ia memberitakan Firman kepada mereka”; Mat. 4:4b, “Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi setiap Firman yang keluar dari mulut Tuhan”; Yoh. 6:.63, “Perkataan-perkataan yang kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup.” Kita membutuhkan Alkitab untuk dibaca, direnungkan dan diperkatakan. Misalnya yang dilakukan perwira dari Kapernaum dalam Luk. 7:7, “Tetapi katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh”. Perkataan Yesus bukan saja berkualitas atas dunia orang hidup tetapi menembus sampai dunia orang mati. Misalnya, Lazarus dibangkitkan oleh perkataan Yesus.

5. Pemerintahan otoritas

Tuhan memulihkan kita untuk membawa kita naik pada tingkat memerintah bersama Dia. Ayat 5, “Berkatalah Ia…Hai Anakku.” Ayat 11, “…kukatakanlah bangunlah, angkatlah tempat tidurmu pulanglah ke rumahmu!” Kej. 1 : 28 “…berkuasalah”. Mengeluarkan perkataan yang sesuai dengan Firman Tuhan akan melatih kita untuk bisa memerintah bersama dengan Tuhan. Misalnya, Petrus berkata “emas dan perak aku tak punya tapi yang ada akan kuberi dalam nama Yesus. Bangun dan berjalanlah.” Kej. 1:8, “Tetapi kamu akan menerima kuasa”; 1 Yoh. 4:4, “Sebab roh yang ada di dalam kamu lebih besar dari pada roh yang ada di dalam dunia.”

6. Restoration/pemulihan

Ayat 9, “Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalanlah”. Sukacita dan damai sejahtera adalah bagian yang diberikan oleh Allah. Kerajaan Allah bukan soal makan dan minum tetapi kebenaran, sukacita, dan damai sejahtera yang dikerjakan oleh roh kudus.

7. Istirahat

Kalau Tuhan saja memiliki waktu untuk istirahat/berhenti bekerja (Kej. 2:2), maka kita pun perlu untuk istirahat/berhenti dari kesibukan. Kalau kita terus memaksakan seluruh organ tubuh kita untuk tidak istirahat maka akan terjadi gangguan pada tubuh kita. Kapan kita beristirahat? Waktu kita masuk dalam hadiratnya, kita akan semakin mengerti apa yang menjadi kehendak Tuhan.

Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup,

dan mempunyainya dalam segala kelimpahan

(Yoh. 10:10)

 

 

D”Menang Atas Dosa”

 

Bacaan Firman Tuhan: Yohanes 20:19-23

Tahukah kita, masalah terberat dalam hidup kita itu apa sebenarnya? Masalah terberat bukanlah sakit penyakit, sebab kita tidak akan masuk neraka karena penyakit. Masalah terberat bukanlah kebangkrutan dalam usaha, sebab kita pun tidak akan masuk neraka karena bangkrut. Tapi masalah terberat dalam hidup adalah ”Dosa”. Dosalah yang menyebabkan hubungan manusia dengan Allah, terputus! Dan upah dosa ialah maut (Roma 6:23a). Namun, Allah telah memberikan otoritas kepada orang percaya untuk menyelesaikan masalah dosa tersebut. Dalam ayat 23,”Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada.” Kita yang adalah manusia biasa oleh Allah diberikan otoritas / kemampuan / kuasa hal ini.

Suatu waktu dalam pelayanan Yesus, ada seorang wanita yang membawa sebuah buli-buli berisi minyak narwastu yang mahal harganya; datang dan mengurapi Yesus. Lalu Yesus berkata, ”Dosamu sudah diampuni.” Atau juga pada kasus ketika Tuhan Yesus menyembuhkan seorang yang lumpuh, Tuhan pun berkata akan hal yang sama, ”Dosamu sudah diampuni.” Kedua hal ini membuat orang-orang protes. Baik dari abad pertama dan abad-abad selanjutnya, dosa tetap merupakan hak mutlak / otoritas penuh Allah. Sebab hanya Allahlah yang berhak / berotoritas melakukan sesuatu atas dosa itu.

Tetapi ayat ini menyatakan bahwa jika kita (orang percaya) mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, sebaliknya jika menyatakan dosa orang tetap ada, maka dosanya tetap ada. Artinya, orang percaya itu punya kekuatan/kuasa/ berkata tidak untuk dosa, menghindar dan menolak dosa, untuk menjauhi dosa dan meninggalkan dosa itu.

Jadi, jikalau ada orang yang mengaku orang percaya pada Yesus, tapi tidak bisa berkata tidak pada dosa (meninggalkan dosa), hal ini tentu merupakan hal yang “aneh” bukan? Tapi bukankah kalau kita cermati, memang ada orang yang sudah Kristen berpuluh-puluh tahun tapi masih jatuh, jatuh dan jatuh lagi dalam dosa. Ternyata ini bukan semudah membalikkan telapak tangan. Lantas siapa yang salah kalau begitu? Apakah Tuhan yang salah? Tentu tidak!

Hari ini, kita akan belajar bebrapa hal penting untuk kita (orang percaya) punya otoritas atas dosa, yaitu :

  1. (Ayat 19). Ketakutan selalu membuat pintu kehidupan menjadi terkunci. Hubungan kita dengan dunia luar (interaksi, relasi) akan tertutup. Apapun itu akan membuat kita menjadi takut, seperti takut akan masa depan, keamanan, jodoh, tidak dapat pekerjaan dan lain sebagainya.

Tetapi ketahuilah, ketakutan bukanlah datangnya atau anugerah dari Tuhan. Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan. Ketakutan akan selalu menghambat aktivitas kita. Ketakutan akan selalu membatasi ruang gerak/pelayanan kita. Ketakutan tidak pernah membawa kita pada kemenangan. Bukankah Alkitab menulis Allah di pihak kita dan jika Allah di pihak kita siapakah lawan kita? (Roma 8:31).

Dalam hidup ini banyak hal yang dapat membuat kita ”takut’. Ketakutan semacam ini hanya akan mengurung kita dalam suatu ruangan yang sempit dan membuat kita tidak bisa mengembangkan potensi yang sudah Tuhan taruh dalam setiap kita, manusia.

  1. (Ayat 19b-20). Ketika Tuhan Yesus masuk dan memperlihatkan bekas luka di tubuhNya, murid-muridNya bersukacita. Maksudnya adalah Yesus mau setiap kita melihat penderitaan karena salib itu bukan merupakan hal yang membawa ketakutan tapi sukacita. Berapa banyak kita tidak mengalami berkat Tuhan, ketika Tuhan membawa kita ke dalam dimensi yang lebih tinggi lagi dari rencana Allah, mereka ini menjadi takut. Sebab untuk dapat masuk ke dalam dimensi yang spektakuler dari penyataan Allah, diperlukan adanya harga yang mahal (harga salib). Dalam pengiringan akan Tuhan (termasuk dalam pelayanan kita) ketika menghadapi ujian / masalah, apa yang kita lihat? Apakah yang kita lihat (fokus kita) hanya pada ujian/masalah itu saja, ataukah kita melihat Tuhan di balik semuanya itu. Kalau kita dapat melihat Tuhan melampaui masalah itu, kita akan mendapat berkat dua kali lipat (dobel porsi).

Haleluya! Ini yang membuat murid-murid bersukacita, karena mereka melihat melampaui penderitaan salib Kristus. Tuhan Yesus sendiri lebih besar dari setiap masalah yang kita hadapi!

  1. (Ayat 21). Damai artinya “keamanan, tenteram,” Sejahtera artinya “apa yang kita butuhkan disediakan; kecukupan, kelimpahan.” Berarti damai sejahtera artinya ”menikmati segala kelimpahan dari Tuhan di dalam kedamaian.” Inilah berkat bagi mereka yang tetap dapat melihat Tuhan dibalik segala persoalan dan kesukaran yang ada .Berkat lain adalah orang tersebut mendapat tugas sebagai utusan Tuhan. Mengapa? Sebab, pelayanan misi erat kaitannya dengan taruhan nyawa! Misi berhubungan erat dengan mengorbankan nyawa. Seperti, dalam sejarah misionaris di tanah Papua (atau Irian), ada begitu banyak orang misi yang meninggal atau dibikin ”babi guling” di sana. Juga di Kalimantan dan Toraja.

Ada tipe orang lain lagi, yang berpikir nanti kalau sudah tua, duduk di kursi roda, tidak produktif lagi; barulah mereka mau ikut terlibat pelayanan misi. Bukan saat sekarang ini, ketika sukses dalam genggaman, masih punya kekuatan dan produktif. Salah! Berkat, harta, kesehatan, kekuatan dan produktivitas itu semua merupakan alat transportasi untuk menjalankan misi Tuhan.

  1. (Ayat 22). Ada perbedaan antara Yohanes 20:22 ini dengan Kisah 2 (turunnya Roh Kudus) dan juga Kisah 1:8. disini tertulis, ”Terimalah Roh Kudus”, berarti mereka (para murid) langsung menerima Roh Kudus, sedangkan da;am Kisah 1:8, itu belum menerima. Penggenapannya baru terjadi dalam Kisah 2. jadi, apa yang di sini, adalah ”empusao”. Dalam Alkitab sendiri hanya ada 3 padanan kata empusao ini yaitu dalam Kejadian 2:7, Yehezkiel 37:9 dan Yohanes 20:22.

Orang yang telah mengalami empusao dalam hidupnya, akan setia dan rela menyerahkan hidupnya total untuk Tuhan. Ini merupakan teladan Tuhan Yesus, yang telah menyerahkan total hidupnya untuk manusia. Dan kita pun harus naik level lagi, tidak hanya di level empusao saja tapi meningkat ke pemenuhan Roh Kudus, menjadi saksi-saksi Tuhan. Jangan merasa cukup hanya sampai pada tingkat memberi, setia beribadah, membantu pekerjaan Tuhan. Kita harus bertumbuh sampai mengalami pencurahan Roh Kudus, yang memampukan kita menjadi tenaga misi yang memberitakan firman Allah secara progresifitas.

Dengan mengalami empusao (kebangkitan spirit dan roh kita) kita menjadikan hati, roh dan misi Yesus masuk dan menguasai hati, roh dan misi kita. Saat roh Yesus berpindah ke diri kita, otomatis PribadiNya, kehendakNya kemauanNya sama dengan diri kita (masuk dan menguasai secara totalitas dalam hidup kita).

 

 

The Emotionally Healthy Church

 

Bacaan Firman Tuhan: Matius 22:37; I Tesalonika 5:23

Jemaat ini adalah seperti sedang ”membangun fondasi”. Dan dalam proses “membangun fondasi” ini, jangan gegabah! Jangan terlalu cepat melihat hasil dengan kacamata jumlah kehadiran (kwantitas) saja, sebab Tuhan lebih suka dengan yang di dalam kita (ini berbicara tentang : kwalitas) juga. Jangan terkonsentrasi hanya dengan hal-hal yang nampak di luar. Begitu pula manusia, sejatinya manusia terdiri atas 3 bagian, yaitu tubuh, jiwa dan roh.

Tapi yang terjadi di kalangan gereja Injili atau Pantekosta atau Kharismatik, cenderung hanya memfokuskan diri pada manusia rohaninya saja. Itu benar! Tapi coba periksa berapa porsi kita berbicara mengenai hal-hal yang berhubungan dengan manusia roh, tapi berapa banyak kita memberikan porsi untuk manusia emosi kita? Tuhan Yesus sendiri mengajarkan akan adanya keseimbangan, akan tubuh, jiwa dan roh (Matius 22:37). Tuhan juga menginginkan kita lengkap dalam mengasihi Tuhan. Tidak cuma itu, tapi hingga Dia datang kali yang kedua, yang diharapkan adalah kita sehat baik itu tubuh, jiwa dan roh (I Tesalonika 5:23).

Contoh kasus dimana tidak terjadi keseimbangan itu :

Bob Pierce, pendiri pelayanan World Vision, seorang hamba Tuhan yang telah memberkati banyak bangsa, mengadakan KKR di berbagai negara dan ada ribuan orang terberkati melalui pelayanan ini. Suatu ketika, anak gadis Bob Pierce ini mengalami stress, dan meminta ayahnya untuk pulang dari pelayanannya di luar negeri. Tapi Bob Pierce lebih memilih pelayanannya ketimbang permintaan anaknya. Hingga hal yang sangat fatal terjadi. Gadis ini memutuskan mengakhiri hidupnya dengan membunuh diri. Singkat cerita, ketika sang ayah kembali ke Amerika, hubungan keluarga itu tidak harmonis. Istri dan anak-anaknya yang lain membenci ayahnya.

Seorang hamba Tuhan yang luar biasa dipakai Tuhan di banyak bangsa, tapi tidak menjadi teladan (berkat) bagi keluarganya. Hal yang membuat Bob Pierce, akhirnya tekanan hingga tabiat lamanya, yaitu sikap temperamentalnya yang meledak-ledak itu kembali. Hal terakhir ini bahkan membuatnya dipecat dari yayasan yang didirikannya itu. Terjadi pernurunan drastis dalam pelayanannya. Mengapa? Jawabannya adalah : Seorang yang dipakai Tuhan secara luar biasa tapi tidak sehat emosionalnya.

Tuhan mau kita sehat seutuhnya, tidak cuma manusia rohani saja tapi juga yang tidak kalah pentingnya adalah sehat secara emosional juga! Saat melihat sebuah pohon (yang sedang berbuah dan ranum), kecenderungan kita adalah kita memuji akan buahnya itu. Tidak ada yang memuji akarnya, karena akar tidak kelihatan (berada di dalam tanah). Padahal pohon tersebut dapat tumbuh besar dan berbuah SEMUA dikarenakan ada akar yang kokoh di yang tidak kelihatan itu. Inilah ciri seorang murid, bukannya sekedar pengikut.

Lantas, bagaimana cara supaya sehat secara emosional. Ada beberapa hal yang dapat kita lakukan, seperti :

  1. Harus jujur dan mengakui kelemahan kita, kepada Tuhan dan kepada orang-orang yang dekat dengan kita. Apa adanya (diri kita) à Yak. 5:16.

Belajar jujur sama Tuhan dan akui kelemahan-kelemahan emosional kita. Contoh kelemahan emosional : kesombongan, iri hati, kedengkian, tidak mengampuni, kepahitan, dll). Dalam diri kita, yang tampk itu hanya 10% dan yang tidak kelihatan itu 90%. Sebab Yesus adalah bukti sahih mengenai kedewasaan baik secara keseluruhan (istilah sekarang tidak ”jaim” atau jaga imej). Buktinya :

Ø Ketika Yesus takut. Dia ekspresikan ketakutanNya di taman, sampai peluhNya menjadi seperi titik-titik darah yang bertetesan di tanah (Matius 26:36-46; bd. Lukas 22:44).

Ø Ketika Yesus sedang sedih (Yohanes 11 à Lazarus mati). Dia menangis!

Ø Ketika Yesus marah (Yohanes 2:13-25). Dia marah, dan benar-benar marah. Dia tegas akan ketidakbenaran. Yesus marah tapi bukan pemarah (marah pada saat itu saja, bukannya menjadi marah-marah berkepanjangan.)

Ø Ketika Yesus sedang gembira (sukacita) à Lukas 10-21. Kata ”bergembiralah”, bahasa aslinya ”agaliao” (Yunani). Artinya : sukacita yang berlimpah-limpah, dengan salah satu ekspresinya adalah menari melompat-lompat sambil berputar-putar.

  1. Mulai lepaskan pengampunan, akan kepahitan.

Mengapa Tuhan ijinkan kita bisa sakit hati? Supaya kita dapat belajar mengampuni. Itu praktek Firman Tuhan, bukan? Sebab siapa yang tidak bisa mengampuni, Bapa di sorga juga tidak akan mengampuni (Matius 6:14-15). Mau sehat secara emosional? Lepaskan pengampunan! Tuhan mau emosi kita sehat!

  1. Patahkan dosa generasi di atas kita (dosa keturunan)

Waspadalah! Ketika kita tidak hati-hati / waspada, dosa keturunan bisa menyerang kita, sehingga emosi kita tidak sehat. Contoh : Abraham, ketika dia tidak mengakui Sara istrinya ketiks di Mesir (Kej. 12:10-20). Ternyata sifat bohong ini menurun ke anaknya, Ishak seperti yang tertulis dalam Kej. 26:7. lalu turun ke generasi berikutnya, Yakub. Nama Yakub artinya penipu. Dan memang sikapYakub seperti namanya. Membohongi mertuanya dan juga bapanya. Generasi berikutnya, Yakub menghasilkan 12 suku Israel, yang 10 suku pendusta, kecuali Yusuf dan Benyamin. Itu bukti teologisnya! Kita percaya bahwa darah Yesus sanggup mematahkan dosa generasi tapi ketika tidak waspada – suatu hari – dosa itu bisa menyusup dalam kehidupan kita.

4. Belajar menerima pengalaman-pengalaman kehancuran sekalipun (Lukas 9:23)

Terkadang Tuhan ijinkan kita masuk ke dalam pengalaman-pengalaman kehancuran karena Tuhan punya maksud agar kita dibentuk semakin indah dan semakin menyerupai seperti Tuhan Yesus. Misalnya Daud. Penulis sebagian besar kitab Mazmur. Kitab ini sendiri ternyata lebih dari 50% dari 150 pasal atau lebih dari 75 pasal itu berisi ratapan dan tangisan; akibat mengalami tekanan, fitnah, aniaya, cemooh (contoh Mazmur yang begitu terkenal adalah Mazmur 23). Tapi apakah Daud dibenci Tuhan? Tidak. Bahkan dari keturunannya lahir Yesus.

Matius 4:1-11, adalah bukti lain dimana Yesus pun juga mengalami pengalaman yang tidak mengenakkan. Tidak cuma itu Dia rela disiksa hingga mati di salib, ganti kita, manusia.

  1. Hiduplah dalam sukacita Allah!

Orang yang penuh sukacita – menurut ilmu kedokteran – hidupnya lebih lama. Dan orang yang bersukacita, itu akan menghasilkan banyak hormon positif yang berguna untuk menolak serta menghancurkan virus/bakteri jahat. Hidup sukacita itu penting (Maz.16:11; Ams.17:22). Pilihlah hidup untuk bersukacita! Sukacita itu PILIHAN (Ams. 15:33)! Tidak ada ayatnya iblis tertawa, tapi yang ada : Tuhan kita di tahta TERTAWA (Maz.2:4)! Yes! Amin Tuhan!

Hati yang gembira adalah obat yang manjur,

tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang

(Amsal 17:22)

 

 

KUNCI MENERIMA JANJI TUHAN

Bacaan Firman Tuhan: Lukas 24:37-39, Kisah Para Rasul 1:4,8

Dalam Perjanjian Lama (Keluaran 19-24) dimana Musa naik ke gunung Sinai guna menerima dua loh batu yang berisi 10 Hukum Taurat, beberapa kalangan orang percaya menafsirkan itu sebagai “Hari Pentakosta-nya” PL “Hukum” itu menandakan lahirnya bangsa Israel. Tetapi dalam Keluaran 32 dan kitab Ulangan, disebabkan oleh ketidaksabaran Harun maka dibuatlah patung “anak lembu emas”, penyebab tewasnya 3000 orang. Dalam PB, peristiwa Pentakosta menandakan lahirnya “Gereja Tuhan”, ditandai dengan khotbah Petrus di Serambi Salomo yang membawa 3000 orang diselamatkan.

Dari kedua bacaan di atas, saat Roh Kudus dicurahkan maka hidup kita akan penuh dengan kuasa Allah, yang bahasa aslinya adalah “dunamis” atau “dynamic” (bahasa Inggris), yang berbicara tentang suatu kuasa yang dasyat; lalu ada keberanian untuk bersaksi, dalam bahasa aslinya “Martus” atau “Martir” (bahasa Inggris), artinya: orang yang berani mati dan hidupnya tetap di dalam kebenaran.

Tidak semua orang percaya dipanggil untuk menjadi martirnya Allah, tetapi setiap kita, orang percaya, wajib hidup sebagai martir, artinya kita mematikan keangkuhan/keakuan kita. Semuanya itu tentu saja tidak lepas dari adanya kuasa pencurahan Roh Kudus-Nya. “Dynamic” atau dinamo atau generator itu harus terus-menerus bekerja dan memenuhi hidup kita, yang memampukan kita menikmati janji-janji Allah.

I Korintus 10:1-11

Ini adalah sejarah gambaran perjalanan bangsa Israel ketika mereka keluar dari tanah perbuadakan, Mesir. Sebenarnya, ini merupakan gambaran perjalanan hidup orang percaya:

- ketika bangsa Israel keluar dari Mesir: gambaran hidup dimana kita meninggalkan (keluar dari) cara hidup yang lama, keberdosaan kita, atau born again (lahir baru);

- masuk ke padang gurun: gambaran hidup kita yang akan masuik ke dalam ujian/masalah untuk dibentuk dan diproses;

- masuk berjalan melewati laut merah: gambaran hidup kita yang dibaptis air;

- keluar dari laut merah, masuk ke padang gurun sampai tiba di Gunung Sinai: gambaran hidup kita yang sudah dibaptis, tetapi tetap mengalami proses pembentukan Tuhan hingga kita menerima baptisan Roh Kudus.

Perjalanan bangsa Israel di atas menggambarkan kehidupan kita yang walaupun sudah percaya, menerima keselamatan (lahir baru), dibaptis air hingga dibaptis Roh Kudus, tetapi masih sering gagal. Misalnya kegagalan dalam rumah tangga, ekonomi/bisnis, tidak menikmati ketenteraman/kedamaian dalam hati (tak terkecuali bagi mereka yang sudah bernubuat atau yang mendapatkan penglihatan dari Tuhan). Mengapa? Jadi apa yang harus kita lakukan supaya dapat menerima janji-janji Allah yang besar, khususnya dalam memperingati hari Pentakosta ini? Adapun kunci untuk menerima janji-janji Tuhan, kita dituntut untuk menyingkirkan beberapa penghalang berikut ini:

1. Penghalang I à Perbuatan jahat (ay.6; Yakobus 3:16).

Perbuatan jahat adalah perbuatan mementingkan diri sendiri dan/atau iri hati. Contoh : Saul dan Daud. Hanya karena bangsa itu menyanyikan “Saul mengalahkan beribu-ribu musuh, tetapi Daud berlaksa-laksa” (I Samuel 18:7) membuat Saul iri hatinya, hingga timbul kompetisi. Begitu juga dengan ROCK Ministry. Apaun program yang kita rencanakan dan kita buat, walau berbau rohani sekalipun, tetapi menimbulkan kompetisi dan hanya untuk kepentingan diri sendiri dan bukan untuk Tuhan, itu adalah perbuatan jahat!

Atau ada juga yang berkata, “Tuhan berbicara kepada saya pergi dan melayani ke daerah anu. Tapi, setibanya di sana ternyata untuk memuaskan hawa nafsu (membawa-bawa nama Tuhan untuk kepentingan sendiri). itu adalah perbuatan jahat! (baca juga: Matius 7:21-23).

Perbuatan jahat itu dasarnya hawa nafsu. Definisi hawa nafsu adalah segala sesuatu yang kita lakukan hanya untuk kepentingan diri sendiri dengan mengorbankan orang lain. Contohnya adalah perselingkuhan dalam rumah tangga, hamil di luar nikah. Sedangkan Kasih sebaliknya, yaitu melakukan segala sesuatu untuk kepentingan orang lain dengan mengorbankan diri sendiri, dengan maksud memberkati, membagi dan menghargai.

2. Penghalang II à Penyembahan berhala (ayat 7)

Ada 2 tipe penyembahan berhala, yaitu:

o tipe klasik (yang kelihatan, berupa fisik), seperti opo-opo, jimat, patung, dll.

o tipe masa kini, seperti uang/harta, cari uang/nama, bahkan bisa juga televisi.

Penyembahan berhala adalah suatu sistem yang diciptakan di dalam pikiran kita untuk memberi suatu nilai atau harga yang lebih pada hal-hal lain dibandingkan Tuhan. Hal-hal yang berpotensi untuk menjadi berhala, misalnya suami, istri, anak-anak, kebiasaan/hobby, olahraga, pekerjaan, pelayanan, bisnis.

Tuhan sebenarnya sudah memberikan kasih itu pada kita, kemampuan untuk memberi itu ada pada kita. Persoalannya adalah di mana kita menempatkan “kasih” itu, apakah di perasaan ataukah di keputusan kita? Jika kita menempatkan kasih itu pada perasaan, kita telah gagal. Kita akan menjadi orang yang mudah tersinggung, iri hati, atau bahkan menjadi kecewa dengan orang lain. Namun, ketika kasih itu kita letakkan pada keputusan, pasti beda.

Imamat 18:21, “Janganlah kauserahkan seorang dari anak-anakmu untuk dipersembahkan kepada Molokh, supaya jangan engkau melanggar kekudusan nama Allahmu; Akulah TUHAN.” Orang yang menyembah dewa Molokh pasti akan mengorbannya anak-anak (keluarganya). Misalnya, seorang pendeta yang mencurahkan waktunya lebih banyak pada pelayanan, maka keluarganya, baik itu istri/suami sampai anak-anaknya akan terlantar. Mereka bisa punya banyak waktu untuk mengkonseling jemaat, tetapi untuk keluarga tidak sempat. Tidak heran banyak anak-anak pendeta/hamba Tuhan, diaken bahkan majelis gereja yang kenakalan melebihi anak-anak jemaat pada umumnya?

3. Penghalang III à Percabulan [ayat 8]

Cabul berarti kotor, keji, tidak senonoh, melanggar kesusilaan dan kesopanan. Jadi, perbuatan cabul adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan perkara cabul, yaitu pelanggaran-pelanggaran kesopanan. Dunia hari-hari ini menganggap cabul sebagai hal yang biasa. Tetapi di mata Tuhan, dosa tetap dosa. Ketika kita mulai menganggap dosa sebagai hal yang biasa, maka pastilah keluarga kita akan hancur. Cara menyelesaikannya adalah dengan terbuka minta ampun kepada Tuhan. Kita akan diampuni, tapi belum sembuh. Kita baru akan sembuh ketika saling mengaku dosa dan saling mendoakan (Yakobus 5:16). Mau sembuh? Mengakulah! Suami mengaku kepada istri, dan sebaliknya. Tetapi jika perbuatan cabul itu terjadi dalam pikiran kita, cari orang-orang yang dapat dipercaya dan yang lebih dewasa rohaninya.

4. Penghalang IVà Mencobai Tuhan (ayat 9)

Kita memaksa Tuhan melakukan segala sesuatu di luar kehendak atau karakterNya. Misalnya,, kita datang beribadah memohon kesehatan, tetapi kita sendiri masih merokok. Atau kita terlibat dalam pelayanan tetapi hanya self-service dan bukan untuk menyenangkan Tuhan, itu juga mencobai Tuhan.

5. Penghalang V à Bersungut-sungut (ayat 10).

Ini adalah sikap hati, dimana kita berdiri di luar ke-Mahakuasa-an Tuhan. Sedangkan bersyukur adalah sikap hati yang menempatkan diri dalam ke-Mahakuasa-an Tuhan. Misalnya, kita yang selalu beribadah berkata, “Mana janji Tuhan? Mana buktinya? Bukankah saya sudah setia beribadah selama ini?” Tanpa kita sadari, sebenarnya kita sedang bersungut-sungut.

Kalau mau melihat perubahan terjadi di sekitar kita, maka kitalah yang harus terlebih dahulu berubah dan diubah Tuhan.

Saatnya kita tinggalkan penghalang-penghalang itu dan menatap hari-hari di depan kita. Jangan tawar hati dengan yang terjadi di sekitar kita, tetapi pandang Tuhan, sebab ada berkat besar di sana! /WM

Kesuksesan atau keberhasilan itu biasa, yang luar biasa adalah ketika orang mau bangkit dari kegagalan!

 

 

 

Tuhan tetap di Sion

 

 

Bacaan Firman Tuhan: Yoel 3:12-21; Zefanya 1:1-7

Ini adalah waktu dimana Tuhan sedang memurnikan gerejaNya. Ini adalah waktu pemurnian (juga atas kota dan bangsa kita). Sebab hari-hari ini umat Tuhan (baca = gereja) lebih menyibukkan dirinya dengan jadwal, program, acara, serta banyak kegiatan, dengan mengabaikan hal yang terpenting, yaitu kita melupakan Tuhan atau tidak mencari wajahNya.

Meskipun kita lupa mencari Tuhan dan menanyakan petunjuk-petunjukNya, tapi Tuhan bisa buat apa saja untuk menarik kita padaNya. Dalam Yoel tadi, Tuhan akan menanti menghakimi kita di lembah Yosafat. Lembah Yosafat adalah lembah berkat. Dan harihari ini adalah waktu penuaian besar juga atas bangsa kita. Tapi, lembah Yosafat juga disebut dengan lembah penentuan. Ini berbicara tentang disamping ada berkat dan tuaian besar, juga ada ujian yang besar pula bagi gereja. Baik itu saat kita sedang berkekurangan maupun berkelimpahan, ujian itu tetap ada.

Yoel menulis ada 2 berita di sini. Yang pertama; berita baiknya adalah dimana ada tuaian/kelimpahan dan berkat yang besar di dalam kehidupan kita (ay.12-13). Yang kedua; berita tidak baiknya adalah bahwa ada orang-orang kunci (anak-anak Tuhan) bahkan para pemimpin-pemimpin rohani yang ”kelihatan pudar (menghilang) cahaya” ditengah-tengah kelimpahan berkat.

Sedangkan dalam Zefanya 1:5, Aku akan menyapu bersih siapa saja yang naik ke atap untuk menyembah matahari, bulan dan bintang-bintang. Akan Kulenyapkan pula mereka yang menyembah Aku dan bersumpah setia kepada-Ku, tetapi juga bersumpah demi nama Dewa Milkom (BIS). Ini berbicara mengenai pada hari-hari ini, ada banyak orang-orang percaya (anak-anak Tuhan) bahkan para pemimpin ”menyembah” kepada orang-orang yang cahanya seperti ” matahari, bulan dan bintang-bintang”. Ini yang membuat Tuhan marah. Kita yang seharusnya menyembah Dia, Tuhan, tapi malah memilih menyembah para hamba-hamba Tuhan yang sebenarnya mendapat anugerahNya. Mari selidiki, apakah kita juga termasuk bilangan orang-orang itu.

Kita boleh menghormati para hamba-hamba Tuhan yang diurapi. Tapi ketika kita bergantung kepada mereka lebih dari kebergantungan kita akan Tuhan; ITU ADALAH PENYEMBAHAN BERHALA!

Kita sedang hidup di zaman anugerah. Kita harus menggunakan anugerah yang ada dengan sebaik-baiknya, sebab kita tidak tahu sampai kapan anugerah itu diberikan pada kita. Seperti Saul yang hanya mendapat satu kali kesempatan (Ibrani 12:16-17).

Jangan mencobai Tuhan, sebab Tuhan tidak bisa dipermainkan. Ketika kita merasa diri kita mampu (mengandalkan kekuatan diri sendiri) dan bukannya pada Dia, Tuhan; maka kita sebenarnya menjadi orang yang menyia-nyiakan anugerah (undangan); seperti dalam Lukas 14:15-24.

Mazmur 122:1-4. Ada 3 bukit ”yang bersambung rapat” di Yerusalem, yaitu :

  1. Gunung Ofel, artinya aktifitas/kegiatan. Banyak kali ketika pertama kali lahir baru, kita sibuk dengan kegiatan. Saat kelahiran baru, roh kita yang diselamatkan. Sedangkan jiwa kita melalui baca Firman Tuhan, renungkan dan ambil sarinya lalu jadi rhema.

Ketika kita beraktivitas/melakukan pekerjaan dengan kekuatan kita sendiri dan bukannya mengandalkan Tuhan, kita sebenarnya sedang bekerja dibawah kutuk (Kejadian 3:17-19). Baru dalam Kejadian 5:28-29, saat Nuh lahir oleh Lamekh, ayahnya, merupakan penghiburan. Arti nama Nuh adalah ”Rest Giver”, artinya pribadi yang memberikan perhentian. Ini tidak lain merupakan gambaran dari Roh Kudus. Bahkan ketika Nuh disuruh Tuhan membangun bahtera di atas gunung, hingga mengumpulkan hewan berpasang-pasangan. Nuh pasti berpikir bagaimana caranya mengumpulkan semua jenis hewan yang ada dan membedakan mana yang jantan dan betina. Tapi Allah yang melakukan semuanya itudan Nuh hanya sebagai usher di pintu bantera.

Artinya, jangan kita merasa mampu dengan kekuatan kita. Tidak sampai disitu saja, Allah yang mengerjakan bagi kita (Yesaya 26:7-12).

  1. Gunung Moria, artinya Vision of JEHOVAH atau visi yang dari Allah. Gunung dimana kita melihat visi yang dari Allah (penyediaan Tuhan).

Matius 3:25-34, dimana kata ”didandani” dalam bahasa aslinya berarti ”To Invest” atau inestasi. Artinya, bapa kita di sorga telah menginvestasikan Roh KudusNya juga nyawa AnakNya yang tunggal, bagi setiap kita yang percaya kepadaNya.

  1. Gunung Sion, artinya “Mountain of light” atau gunung terang yang menerangi. Tuhan ada di tempat yang terang, itu berarti – hari ini – saat kita berada dalam ”kegelapan” maka kita butuh terangNya Tuhan yang ajaib, untuk menerangi kita. Saat kita sungguh mencari wajah Tuhan maka kemuliaan Tuhan itu akan menerangi setiap sisi dari kehidupan kita.

Yang Tuhan mau supaya kita, semua orang percaya, bersungguh hati mencari wajahNya dan hadiratNya. Itu yang menjadi kerinduanNya, bukannya aktivitas / kegiatan / cara / program. Pribadi kitalah yang yang Tuhan cari.

Berdiam dirilah di hadapan Tuhan ALLAH! Sebab hari TUHAN sudah dekat. Sungguh TUHAN telah menyediakan perjamuan korban dan telah menguduskan para undangan-Nya.

(Zefanya 1:7)

 

 

DIPERCAYAKAN KEMULIAAN-NYA

 

 

Bacaan Firman Tuhan: Mazmur 8:4-7

Ada 4 hal yang orang percaya tidak boleh menyentuhnya, yaitu :

  1. Perpuluhan;
  2. Pembalasan;
  3. Hamba Tuhan, dan
  4. Kemuliaan.

Kita memang tidak boleh mencuri kemuliaan Tuhan, tapi justru menjadi kerinduan Tuhan adalah memberikan kemuliaan itu kepada setiap kita. Dari bacaan di atas, kita dapati bahwa Allah rindu memahkotai manusia dengan kemuliaanNya.

  1. Ketika Allah menciptakan manusia, Allah memberikan kemuliaan kepada manusia ciptaanNya itu. Pernahkah kita membayangkan, kita membangun sebuah rumah yang indah, lalu melengkapinya dengan perabot-perabot, ditata dengan bagus, dan setelah rumah itu selesai dikerjakan; kita menyerahkan kuasa atas rumah itu kepada orang lain.

Itulah Tuhan. DiciptakanNya langit, bulan, bintang dan semua yang ada di bumi ini, dan Allah memberikan manusia kuasa untuk mengelolanya. Sejak dari Eden hingga sekarang, manusia menjadi penguasa bukan dari apa yang dipunyainya dan ciptaannya tapi manusia berkuasa atas ciptaan Tuhan. Sebab manusia diciptakan menjadi serupa dan segambar dengan Allah.

Saat manusia itu jatuh dalam dosa, Alkitab berkata bahwa manusia itu kehilangan kemuliaan Allah. Tapi Allah justru menunjukkan keseriusannya dengan memberikan AnakNya, Yesus Kristus, untuk mengambil dosa manusia serta menawarkan kepada setiap manusia yang mau menerimaNya sebagai Tuhan adan Juruselamat, akan diberiNya kuasa untuk menjadi anak-anak Allah (Yohanes 1:12). Saat kita menjadi anak-anak Allah kita dapat melakukan apa yang Bapa kita lakukan bahkan melakukan jauh lebih besar dari pada itu (Yohanes 14:12).

  1. Kuasa untuk menjadi anak, ketika kita lahir baru. Ketika kita menjadi anak kita juga akan menjadi ahli waris. Apa yang Tuhan punya pasti kita juga akan memilikinya.
  2. Kemuliaan yang lebih besar lagi sedang Tuhan sediakan pada jaman akhir (Kisah 2:17-19). Kitab Kisah Para Rasul ini tidak ada penutupnya itu berarti kita semua di jaman ini juga akan mengalami hal-hal ”luar biasa” itu. Tuhan ingin memakai kita semua karena Roh Tuhan ada berdiam dalam kita. Kita semua Hamba Tuhan. Jangan lihat diri kita, kita memang bukan siapa-siapa tapi dengan adanya Yesus dalam kita atau ada Roh Allah yang luar biasa tersebut dalam kita. Sebab, inilah waktu dimana akan terjadi hal-hal yang lebih luar biasa dari jamannya para rasul.
  3. Kemuliaan kekal di sorga (I Korintus 2:9; Tetapi seperti ada tertulis: “Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia.”) Ini berbicara tentang akan hal-hal yang luar biasa yang terjadi.

Kita berbicara tentang sorga. Di dunia ini, emas di bumi ini mahal harganya tapi di sorga emas itu hanya digunakan sebagai jalan; batu-batu permata yang begitu mahal harganya, di sorga dijadikan dinding. Alkitab lebih lanjut menuliskan, semuanya itu disediakan bagi anak-anak Tuhan.

Poin 1 dan 2 hari ini sudah kita terima dan dan hari ini juga kita sedang dipersiapkan untuk menerima poin 3 dan 4; sebab kita sedang berada di akhir jaman. Tanda-tanda jaman yang terjadi seperti gempa bumi, gunung-gunung bergejolak, tindakan kriminal dimana-mana. Ini membuktikan kita sedang berada di ujung akhir jaman dan Tuhan Yesus akan segera datang.

Bagaimana kita mempersiapkan diri untuk menerima kemuliaan kekal yang besar yang Tuhan siapkan buat kita? Tuhan tidak menginginkan kita bermegah dalam kemuliaan yang Dia berikan (percayakan) buat kita untuk melakukan tanda-tanda heran. Pastikan paket kemuliaan yang Tuhan berikan buat gereja hari-hari ini, itu akan dibawa juga sampai kekal. Jadi, kemuliaan dan keselamatan harus kita jadikan satu paket yang kita miliki setiap saat.

Dan ketiga hal yang itu adalah (seperti yang tertulis dalam II Timotius 2:10-13) :

    1. Jika kita mati dengan Dia kitapun akan hidup dengan Dia (Yesus Kristus). Kita perlu dan dikubur mati bersama dengan Kristus. Dalam Roma 7:14-15; 6:23). Waktu kita mati bersama Kristus, maka Yesuslah yang menebus dosa manusia. Kita menjadi milik kepunyaan Kristus.

Yesus itu merupakan lambang kasih karunia.

    1. Kita harus bertekun (Ibrani 10:19,35-37; Wahyu 3:10). Tetap didalam kebenaran, Yesus tetap berada dalam kita karena Yesus yang akan mengaktifkan roh kita. Jangan pernah mundur. Tantangan, cobaan boleh datang, tapi tetap tinggal dalam Dia maka lihatlah ada perlindungan Tuhan menaungi kita.
    2. Kita harus setia (Lukas 16:10; ”Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar.”) Apa pun yang ada pada kita itu adalah milik (pemberianNya) Allah, baik itu harta kekayaan, istri/suami, anak-anak. Itu Tuhan beri untuk kita pertanggungjawabkan, apakah kita mengunakannya untuk kemuliaan Tuhan atau untuk diri sendiri. Harta sesungguhnya kita bukanlah yang ada di bumi ini tapi di sorga kekal karena ada Yesus yang menjadi miliknya kita. Tuhan mau Dia dipermuliakan dalam segala hal yang kita lakukan.

Inilah kunci, apakah kita bertanggungjawab dengan pemberian Tuhan atau tidak. Roma 11:36, ”Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!” Amin. /WM

 

 

“Jadilah Kehendak-Mu”

 


Bacaan Firman Tuhan: Matius 6:9-13

Apa itu Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR)? Yaitu Tuhan menyatakan diri-Nya di dalam setiap kita, umat-Nya. Dengan kata lain, kita mengalami Tuhan dalam kasih, kuasa dan kebenaran-Nya. Gereja akan mengalami kebangunan rohani jikalau gereja mau melakukan prinsip-prinsip Kerajaan Allah.

Dalam kehidupan sehari-hari kita mungkin melihat ada banyak orang yang kelihatannya rajin berdoa, tapi tidak banyak mengalami perubahan (terobosan) dalam hidupnya. Hal ini lebih dikarenakan orang tersebut tidak hidup dalam prinsip-prinsip Kerajaan Allah. Timbul sebuah pertanyaan. Lantas siapakah yang dapat masuk dalam Kerajaan Allah? Dalam Matius 28:19-20, dijelaskan bahwa orang yang mau menjadi muridlah yang dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah.

M U R I D!

Dalam kapasitas kita sebagai warga Kerajaan Allah (yang juga menjadi Representative Of Christ’ Kingdom), kita memerlukan sebuah komunikasi dengan Kerajaan Allah yang disebut dengan Komunikasi Kerajaan (the Kingdom Communication). Yang menjadi syarat mutlak kebergantungan kita akan Tuhan, dalam menyikapi berbagai hal dalam kehidupan sehari-hari, dalam keluarga, dan dalam pekerjaan/pelayanan, kalau hubungan (komunikasi) dengan Tuhan ini putus, maka kita akan “tersesat”, menjadi bingung, penuh dengan kekuatiran dan ketakutan.

Dalam Matius 6:9-13 ini kita dapati Tuhan mengajar tentang Doa Bapa Kami. Doa Bapa Kami ini sebenarnya merupakan juga doa apostolik. Doa apostolik hendaknya menjadi dasar atau fondasi dalam kehidupan kita orang percaya.

Adapun isi yang menjadi prioritas penting dalam Doa Bapa Kami adalah “datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga,” (ayat 10). Jadi, dapat kita lihat betapa Yesus pun mengangap penting hal Kerajaan Allah ini (di dalamnya akan kita dapati Kingdom supply, Kingdom mentality, Kingdom power, Kingdom Authorithy, dan Kingdom Connection).

Lukas 17:21, “juga orang tidak dapat mengatakan: Lihat, ia ada di sini atau ia ada di sana! Sebab sesungguhnya Kerajaan Allah ada di antara kamu.”

Kerajaan Allah datang dalam hidup kita jikalau kita membiarkan kuasa pemerintahan Kerajaan Allah menguasai seluruh/totalitas kehidupan kita. Kita dapat saja melayani pekerjaan Tuhan, tapi belum tentu kita melayani Tuhan. Contoh: kita dapat saja melayani sebagai pengkhotbah, pemimpin pujian dan penyembahan, singers atau apa saja dalam gereja; tapi di sisi lain kita juga banyak “menuntut” dari Tuhan. Orang yang melayani Tuhan adalah orang yang tidak punya hak lagi untuk menuntut, dendam, tersinggung atau kecewa, karena kita membiarkan seluruh pemerintahan Kerajaan Allah itu memerintah dalam kehidupan kita.

Ketika kita hanya melayani pekerjaan Tuhan (dan bukannya melayani Tuhan), hal ini dapat membuat kita terbentur, sakit dan sulit untuk bisa menerima pribadi-Nya, kehendak-Nya dan keagungan rencana-Nya. Akan tetapi, ketika kita melayani Tuhan, benturan itu tetap ada, tapi kita tahu di balik itu ada Tuhan yang berkuasa atas segalanya!

Tidak ada manusia yang tidak punya masalah, baik itu masalah pribadi atau keluarga. Masalah/persoalan itu justru akan “mengasah” kita menjadi lebih dewasa dalam menyikapi berbagai hal. Melalui masalah-lah, kuasa mujizat Tuhan dinyatakan.

Dalam Doa Bapa Kami ini kita jumpai 3 (tiga) kehendak yang merupakan fondasi/dasar tatanan kehidupan orang percaya :

  1. Kehendak Allah atas kehidupan jasmani/materi.

Sebagai orang percaya, seharusnya kita tidak mengalami yang namanya kelaparan (kekurangan/kemiskinan) sebab ada Kingdom supply dari Kerajaan Allah yang tidak pernah berkekurangan (more than enough). Yang kita lihat sekarang di mana-mana (khususnya dalam dunia perekonomian) ada banyak kekurangan, tapi orang-orang yang hidup dalam prinsip-prinsip Kerajaan Allah tetap ada berkat yang menyertainya. Tidak hanya itu, kita pun akan menjadi berkat sehingga nama Tuhan dipermuliakan. Apa yang ada di sorga akan di suplai bagi kita (ke dalam dunia).

  1. Kehendak Allah atas kehidupan sosial

Kehendak Allah atas hidup sosial ini dimaksudkan agar kita membangun sebuah hubungan (relationship) dengan orang lain; mulai dari dalam lingkup keluarga, pergaulan, pekerjaan, pelayanan dan masyarakat. Bagi Allah, hubungan itu penting, sebab di sorga tidak ada hubungan yang terputus. Contoh hubungan yang terputus: mulai timbul kepahitan, iri hati, kecewa, marah, dll. Sejak manusia jatuh dalam dosa, hubungan manusia dengan Allah juga terputus; karenanya Yesus datang ke dalam dunia dengan misi untuk memulihkan hubungan yang terputus tersebut.

I Kor. 15:33, “Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik.” Amsal 27:17, “Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya.” Untuk dapat saling menajamkan, dua buah besi harus saling berdekatan/bersentuhan. Ini berbicara juga bahwa orang yang akan ‘menajamkan’ sesamanya, bukanlah orang yang jauh melainkan mereka yang keberadaannya sangat dekat/intim, bahkan orang-orang yang paling disayangi, misalnya: dalam keluarga antara suami dengan isteri, orang tua dengan anak-anaknya.

  1. Kehendak Allah atas kehidupan rohani

Di sorga tidak ada lagi pencobaan atau perkara iblis, sebab kehendak Allah yang berkuasa. Tidak ada lagi pencobaan, sebab pencobaan bukan datangnya dari Allah. Yakobus 1:13, “Apabila seorang dicobai, janganlah ia berkata: “Pencobaan ini datang dari Allah!” Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia sendiri tidak mencobai siapapun.”

Saat kita mengalami pencobaan/masalah maka kita dapat ‘menurunkan’ Kerajaan Allah hingga menguasai secara total kehidupan kita, yang akan memampukan kita untuk pada akhirnya dapat bertahan dan keluar sebagai lebih dari pemenang (Allah yang memberikan kemenangan itu bagi kita).

Kedaulatan Allah hanya dapat terjadi jika ada penyerahan secara total kepada-Nya. Artinya, kita tetap melakukan apapun kehendak Tuhan walaupun hal itu berbeda (bertolak belakang) dengan kehendak perasaan kita.

Memasuki tahun 2007, ada banyak hal yang kelihatannya tidak pasti dan tidak seperti perkiraan kita, tapi percayalah –dengan berserah secara total pada Tuhan– di akhir dari semuanya ini pastilah akan mendatangkan kebaikan bagi kita yang tetap berpegang padaNya.

Waktu yang sulit pasti berakhir,

tapi orang yang tangguh imannya pada Yesus

yang akan bertahan sampai akhir!

 

 

“Kingdom Covering“

 

Saat ini kita sedang berada pada sebuah masa dimana terjadinya pergeseran (shifting) dari era institusi/organisasi (gereja) menuju era Pribadi (baca: Kerajaan Allah). Pergeseran ini membawa manusia ke dalam khairos (waktu) Tuhan, yang bergerak untuk menjangkau jiwa. Bukan sekedar untuk institusi gereja saja melainkan kepada setiap orang percaya. Sebab ketika kita menjadi orang percaya, Kita harus menyerahkan diri kita ke dalam Kerajaan Allah. Ketika kita menjadi orang percaya, kita sedang masuk ke dalam perjanjian kekal, dimana seluruh totalitas kehidupan kita menjadi tanggung jawab Raja di atas segala raja itu.

Jika kita ingin tinggal dalam Kerajaan Allah maka gaya hidup kita harus selaras dengan nilai-nilai dalam Kerajaan itu. Sebab setiap warga kerajaan menjadi representatif dari sang raja. Misalnya: jika rajanya perompak, maka pastilah warganya adalah perompak. Representasi yang dimaksudkan bukan sekedar menjadi representasi dari ROCK atau denominasi gereja, melainkan kita menjadi “representasi dari Kerajaan Allah.”

MATIUS 2:1-15

Dari bacaan di atas, kita dapati 2 golongan manusia dan bagaimana cara mereka merespon berita kelahiran Yesus. Golongan pertama, adalah kelompok orang Majus (ay. 1-3). Siapa orang-orang Majus ini? Ada hal menarik yang kita dapati dari orang-orang Majus ini, dimana mereka tidak mengetahui tentang “Mesias”, kitab Taurat/nabi-nabi, penglihatan-penglihatan, nubuatan. Alkitab hanya menjelaskan bahwa mereka datang dari Timur mencari Raja yang baru lahir karena mereka telah melihat bintangNya. Bintang yang berbicara juga tentang “kebenaran kehidupan Yesus.” Ketika mereka melihat ‘bintang’ itu mereka tahu mereka sedang melihat akan kebenaran, yang menuntun mereka datang mencariNya.

Pertanyaan untuk kita renungkan:

- Masih adakah suara Kebenaran itu yang menuntun kita untuk masuk dalam Kebenaran yang lebih dalam lagi?

- Cukup puaskah kita dengan Kebenaran yang telah kita terima selama ini? Ataukah kita memiliki rasa lapar dan haus akan Kebenaran itu lebih dalam lagi, seperti pewahyuan yang dibukakan lebih lagi?

Keputusan ada pada kita. apakah kita mau datang pada Kebenaran itu lebih lagi (selalu memiliki rasa lapar dan haus), ataukah kita cukup puas dengan “kebenaran” yang kita miliki selama ini.

Hal menarik lain yang kita dapati dari orang Majus ini adalah bahwa mereka – setelah menemukan ‘Bintang’ itu – tidak datang dengan tangan kosong; tapi mereka datang dengan mempersembahan emas, kemenyan dan mur. Mereka yang bahkan tidak mengenal sama sekali akan siapa Raja itu, tapi mereka telah mempersiapkan persembahan-persembahan yang terbaik. Teladan apa yang kita temukan di sini? Yaitu bahwa apapun persembahan kita, baik itu berupa perpuluhan, persembahan umum, misi ataupun diakonia – kita telah mempersiapkan sebagai pemberian yang terbaik; sebab pemberian itu bukan untuk gereja tapi untuk Raja yaitu Tuhan Yesus.

Ada tiga persembahan orang Majus, yaitu emas, kemenyan dan mur. Emas itu gambaran dari barang yang berharga. Yang berharga dalam kehidupan kita bukan pada apa yang dalam genggaman tangan kita tapi apa yang ada dalam kita, yaitu hati kita. begitu juga dengan Raja di atas segala raja, Raja tidak memandang apa yang kita punya, harta kekayaan kita; melainkan yang dikehendaki Raja adalah persembahan hati kita sebagai persembahan terbaik. Persembahan kedua, kemenyan. Kemenyan berbicara tentang pujian dan penyembahan. Ini berarti saat kita menaikkan pujian dan penyembahan kita, mengerti bahwa itu ‘korban’ yang terbaik untuk Raja. Apapun masalah/persoalan kita, milikilah gaya hidup memuji dan menyembah Tuhan, itulah korban yang menyenangkan Raja (kesukaan Raja). Persembahan ketiga, mur. Terjemahan Inggris adalah “Myrrh” atau getah yang mengeluarkan wangi-wangian. Mur ini berbicara tentang ketekunan (lihat juga Ibrani 10:36). Setiap kita yang setia dan tekun melakukan kehendak Allah, janji Allah pasti tergenapi dalam kehidupan kita! Dalam dunia ini, perkara sesederhana apapun itu jika kita tidak tekun tentu tidak akan sukses mengerjakannya. Janji Tuhan itu pasti digenapi. Pertanyaannya adalah apakah kita tekun dalam melakukan Firman Tuhan. Sebab Tuhan meminta ketekunan kita sebagai persembahan terbaik bagiNya.

Golongan yang kedua, yaitu kelompok ahli Taurat dan imam kepala (ay. 4). Mereka ini adalah orang-orang yang selalu berkutat dengan hal-hal rohani, yang menyelidiki dan mempelajari hukum Taurat dan kitab para nabi. Mereka mengetahui bahwa Mesias akan lahir di Betlehem tapi mereka tidak berada di tempat sang Raja lahir (menolak kedatangan sang Raja). Mereka yang seharusnya menuntun bangsa Yahudi untuk datang dan menyembah Raja yang baru lahir itu, namun mereka menutup semua kebenaran itu. Mengapa? Karena mereka takut kehilangan otoritas dan pengikut dari bangsa Yahudi. Para ahli Taurat dan imam kepala takut bahwa orang Yahudi tidak akan mendengar mereka lagi, sebab bangsa itu pasti lebih mendengar perkataan Raja (Yesus, Mesias itu).

Hari ini sama, ketika perkataan (Firman) dari sang Raja itu turun dalam kehidupan kita, maka perkataan manusia tidak akan berarti apa-apa.

Mari kita renungkan, dari kedua golongan di atas dimanakah kita berada? Apakah kita datang menyambut Mesias itu hanya sebagai Tuhan ataukah juga sebagai Raja? Sebatas tradisi, terpesona dengan kuasa (kesembuhan & mukjizat) dan janji Tuhan ataukah kita merajakan Dia, Yesus, sebagai Raja yang memerintah dalam hati kita? Persembahkanlah hatimu sebagai persembahan yang terbaik. Tuhan senang dengan hati kita!

TEGUH MENGHADAPI BADAI

Bacaan Firman Tuhan: Markus 4:35-41

Kisah ini dimulai, dimana Yesus mengajak para murid-muridNya untuk berlayar menyeberang. Dan saat berlayar itu terjadi badai dan ombak yang besar. Sebenarnya kita sedang diajarkan bahwa segala yang Tuhan perintahkan/tunjukkan semua itu tidak serta-merta mulus adanya (jalan by–pass) tapi juga ada badai/gelombang.

Jangan cepat menilai/menghakimi orang yang sedang mengalami masalah.

Ada hal yang tidak lazim terjadi, ketika ada taufan dan ombak yang besar menyembur masuk ke dalam perahu, di buritan kapal Yesus malah sedang tidur. Alkitab tidak menulis Yesus bahwa Yesus mengenakan mantel/jas hujan, tapi Alkitab menulis saat semuanya itu terjadi Yesus sedang tidur tenang. Artinya, saat kita melekat dengan Tuhan yang kita sembah, taufan/badai boleh saja dating menerjang, tapi denganNya ada KEAMANAN KEKAL.

Ayub 1:6-12; Ayub yang merupakan orang saleh dengan seijin Tuhan mengalami ujian (bukan pencobaan), dimana dalam sekejap harta bendanya habis, anak-anaknya meninggal, isterinya pun mencela dia dan dirinya pun mengalami sakit yang mengerikan. Tapi setelah melewati semua proses itu Tuhan mengembalikan kepada Ayub dua kali lipat (Ayub 42:10).

Mat. 16:21-25; saat Tuhan Yesus menceritakan tentang penderitaanNya dan bagaimana ia mati, Petrus menarikNya dan menegorNya (ay. 22). Ini juga yang kerapkali terjadi di gereja Tuhan, dimana kita mau menyingkirkan/menarik Tuhan dari apa yang Tuhan rencanakan dalam kehidupan kita, bahkan kita menegor Tuhan. Kita menjadi orang yang lebih tahu dari Tuhan yang membuat kita lupa bahwa Dialah Tuhan, Sang Pencipta dan yang pasti lebih tahu atas setiap kita, manusia.

Mazmur 44:1-26; Berbicara Kerajaan Allah bukan berbicara tentang apa yang kelihatan mata jasmani, tapi memandang dengan mata hati kita.

Tahun 2007 ini, dengan banyaknya kasus-kasus baik itu kecelakaan, badai, gelombang dan alam, jika kita melihat dengan mata jasmani cenderung kita mudah untuk menghakimi orang lain. Tetapi ketika kita melihat dengan mata hati, kita akan mengerti bahwa dibalik semuanya ini ada maksud dan rencana Tuhan (ayat 23).

Ibrani 11:33-40; tidak semua orang yang dipanggil untuk menjadi ‘martir”, mati dengan penyiksaan karena memberitakan Injil. Tapi kita semua dipanggil untuh hidup sebagai seorang martir, maksudnya ialah dalam kehidupan kita matikan segala keakuan dan kedagingan kita.

Jangan cepat untuk menghakimi/menuduh orang lain! Lantas, apa sebenarnya makna penderitaan bagi kita orang-orang percaya:

1. Setiap penderitaan datang dengan pesan khusus dari Tuhan (Ayub 42:10); Ayub tahu bahwa dalam setiap masalah yang bertubi-tubi menerpanya, Tuhan punya berita khusus untuk terjadi sebuah pelipatgandaan dalam hidupnya. Jangan hanya menjadi orang yang MENGETAHUI Tuhan, tapi hendaknya kita menjadi orang yang MEMAHAMI Tuhan; orang yang mengalami Tuhan dalam hidupnya.

2. Kita tidak pernah belajar sesuatu yang baru tentang Tuhan kecuali melalui kesengsaraan atau penderitaan; Kej. 22, merupakan pertama kali muncul kata “worship” atau penyembahan. Penyembahan berarti dari hati memberi yang terbaik. Ketika Tuhan meminta ‘anak mukjizat’ Ishak, Abraham mentaatinya. Dalam setiap masalah/badai, ada pelajaran yang baru dari Tuhan.

3. Kesengsaraan bukanlah suatu kecelakaan, melainkan suatu pemberian yang harus dihargai. Karena jika diterima dengan wajar akan mendatangkan dan memberikan penghormatan, kemasyuran dan martabat kekal (Kej. 37:20). Yusuf yang mendapat mimpi untuk menjadi pemimpin tapi mengalami proses yang berliku. Dia harus melewati “sekolah 6-D”, yaitu: dibuang, dijual, dicobai, dikhianati, dipenjara, dan dilupakan. Baru setelah melewati semuanya itu, Yusuf mendapatkan promosi.

4. Tak seorangpun menjadi kudus tanpa kesengsaraan. Karena kesengsaraan yang diterima dengan wajar merupakan jalan kepada kemuliaan (Daniel 3:16-18)

Apapun badai/gelombang yang menghadang, jangan mundur itu yang akan memurnikan kita dan membuat kita menjadi semakin kudus, ini merupakan jalan menuju kemuliaan (ini yang disebut dengan, Kita lebih dari pemenang). Amin.

Tipe-tipe Orang Kristen

Luther – 27/02/2005

Tipe-tipe Orang Kristen

Luther

Pause

Setiap kita diciptakan berbeda-beda, untuk itu tampilah seadanya kita. Dan terimalah orang lain yang berbeda dengan kita.
Ingatkah saudara akan cerita Daud yang disuruh ‘tampil’ seperti raja Saul untuk melawan Goliath? Daud tidak bisa memakai peralatan raja Saul, ia perlu tampil seadanya dan memakai keahliannya sendiri.
Bacaan kita hari ini diambil dari Injil Yohanes 12: 1-8
Berikut adalah beberapa tipe-tipe orang Kristen:
1. Tipe Lazarus
“Enam hari sebelum Paskah Yesus datang ke Betania, tempat tinggal Lazarus yang dibangkitkan Yesus dari antara orang mati. Di situ diadakan perjamuan untuk Dia dan Marta melayani, sedang salah seorang yang turut makan dengan Yesus adalah Lazarus.” (Yohanes 12:1, 2)
Lazarus adalah tipe orang yang mengalami mujizat Tuhan. Ia mati dan dibangkitkan dari kematian oleh Tuhan Yesus. Tetapi ia hanya duduk makan saja saat Yesus datang, Lazarus tidak melayani Tuhan.
Ini adalah tipe orang yang menerima mujizat Tuhan, namun tidak memberi. Janganlah kita seperti Lazarus; jangan punya mental meminta, tetapi memberi! Jangan hanya mau menikmati hadirat Tuhan, tetapi bersaksilah akan kebesaran-Nya.
Dengan kata lain, jangan jadi penonton. Ikut ambil bagian dan jadi pemain.
2. Tipe Martha
Martha sibuk di dapur, dan bukan di kaki Tuhan Yesus. Martha adalah tipe orang Kristen yang sibuk melayani pekerjaan Tuhan, dan bukan pribadi-Nya.
Jika kita melayani Tuhan seperti Martha maka kita akan cepat stress dan pelayanan kita akan segera menjadi rutinitas saja. Apapun yang kita lakukan, marilah kita memulainya di kaki Tuhan.
“sedang Marta sibuk sekali melayani. Ia mendekati Yesus dan berkata: “Tuhan, tidakkah Engkau peduli, bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri? Suruhlah dia membantu aku.” Tetapi Tuhan menjawabnya: “Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya.”” (Lukas 10:40-42)
3. Tipe Maria
“Maka Maria mengambil setengah kati minyak narwastu murni yang mahal harganya, lalu meminyaki kaki Yesus dan menyekanya dengan rambutnya; dan bau minyak semerbak di seluruh rumah itu.” (Yohanes 12:3)
Sewaktu Yesus datang, Maria duduk di kaki Yesus dan melayani pribadi Yesus.
Jika kita memulai segala sesuatu di kaki Yesus, maka yang kita dapat adalah yang terbaik, bukan hanya yang baik.
Seperti Maria yang mengurapi kaki Yesus dengan minyak narwastu murni yang terbaik, maka kita juga harus datang kepada Tuhan dengan yang terbaik, dan dengan hati yang hancur. Dengan begitu, maka yang kita bawa kepada-Nya akan menjadi suatu yang harum.
Di dalam hal mengikuti dan melayani Tuhan kita perlu boros (Markus 14:3-9). Segala keuangan dan talenta itu semuanya milik Tuhan. Segala yang kita miliki yang ada pada kita adalah milik Dia. Kita hanya sang penilik, sedangkan Tuhanlah pemiliknya.
4. Tipe Yudas
Jika Maria memberi, maka Yudas mengambil dan mencuri. Yudas adalah tipe orang Kristen yang menghitung-hitung dengan Tuhan.
Jika kita memberi, janganlah kita menghitung untung rugi. Memberi jangan karena ingin menerima kembali, tetapi karena kita cinta Tuhan.
“Sesudah Yudas pergi, berkatalah Yesus: “Sekarang Anak Manusia dipermuliakan dan Allah dipermuliakan di dalam Dia.” (Yohanes 13:31)
Untuk melihat kemuliaan Tuhan, sang Yudas di dalam hidup kita haruslah pergi terlebih dahulu.
Ingatlah bahwa segala sesuatu yang terbaik itu dimulai dari kaki Tuhan.
Hari ini tanyakanlah kepada diri kita masing-masing, tipe yang manakah hidup kita?


 

 

Ciri-ciri Gereja yang Dewasa

Date: Sunday, January 16th, 2005
Tags: Gerry Kasih

Menurut Stephen Covey, di dalam teori yang diberinya nama ‘Maturity Continuum’, kedewasaan manusia itu terbagi menjadi 3 tahap: 1. Dependent 2. Independent 3. Interdependent

Orang yang berada di tahap pertama biasanya selalu cenderung menyalahkan orang lain. Kata yang sering dipakai oleh orang ini adalah ‘kamu’ (contoh: “Gara-gara kamu sih”). Lalu orang yang di tahap kedua sering kali menyalahkan dirinya sendiri. Kata yang sering dipakai adalah ‘saya’ (contoh: “Saya tidak mungkin dapat melakukannya”). Sedangkan mereka yang di tahap ketiga, akan sering menggunakan kata ‘kita’. Dengan kata lain, orang ini akan memikirkan tentang kepentingan bersama, bukan hanya orang lain, atapun dirinya sendiri.

Teori Stephen Covey di atas berbicara tentang kedewasaan manusia secara umum. Hari ini kita mau melihat bagaimana kedewasaan di dalam gereja. Untuk itu kita perlu melihat bagaimana gereja pada mulanya berjalan. (Baca: Kisah Para Rasul 2:41-47).

Gereja (ecclesia) adalah suatu perkumpulan orang-orang yang dipanggil dan dipilih oleh Tuhan; Gereja bukanlah klub, dan janganlah dijadikan klub, sebab klub hanya untuk orang yang mau bersenang-senang.

Berikut adalah beberapa ciri-ciri dari gereja yang benar: 1. Fokus utama gereja adalah salib Kristus (Cross) Segala aktifitas dan kepercayaan gereja terpusat pada salib. Di dalam salib maka segala tragedi akan menjadi suatu suka cita.

Mengapakah salib begitu penting bagi suatu gereja? Sebab di mana ada gereja, belum tentu ada Tuhan Yesus. Tetapi di mana ada Tuhan Yesus, disitulah gereja-Nya.

2. Mengejar kekudusan (Holiness) Setiap manusia tidak kudus, sebab tidak ada dari kita yang sempurna. Tetapi jika mereka yang percaya kepada Tuhan Yesus berdosa namun bertobat, mereka akan diampuni melalui kasih anugerah Tuhan.

3. Kesatuan di dalam gereja, dan antara gereja-gereja (Unity) Gereja Tuhan adalah tubuh Kristus, yaitu satu kesatuan. Gereja Tuhan haruslah salaing membantu dan menguatkan.

4. Lahir baru (Reborn) “Orang-orang yang menerima perkataannya itu memberi diri dibaptis dan pada hari itu jumlah mereka bertambah kira-kira tiga ribu jiwa.” (ayat ke-41)

Mujijat akan terjadi di gereja, yaitu kelahiran baru jiwa-jiwa yang hilang.

5. Sikap peduli (Caring) “dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing.” (ayat ke-45)

Seperti gereja mula-mula, umat Tuhan perlu saling peduli dan memperhatikan satu sama lain.

6. Hidup dalam keharmonisan (Harmony) Umat Tuhan haruslah hidup bersama-sama dalam keharmonisan di dalam gereja walaupun terdapat perbedaan-perbedaan dari setiap individu.

“Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati, sambil memuji Allah. Dan mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan.” (ayat ke-46, 47)

Semua ini, Cross, Holiness, Unity, Reborn and Harmony (CHURCH) adalah tanda atau ciri-ciri dari suatu gereja yang dewasa. Marilah di tahun yang baru ini, setiap kita boleh melihat dan mengoreksi diri kita masing-masing; apakah kita adalah gereja yang sudah dewasa?

 

 

Murid Kasih Karunia (Disciples of Grace)

 

Date: Sunday, April 18th, 2004
Tags: Jonathan Pattiasina

“Karena kasih karunia Allah yang menyelamatkan semua manusia sudah nyata. Ia mendidik kita supaya kita meninggalkan kefasikan dan keinginan-keinginan duniawi dan supaya kita hidup bijaksana, adil dan beribadah di dalam dunia sekarang ini dengan menantikan penggenapan pengharapan kita yang penuh bahagia dan penyataan kemuliaan Allah yang Mahabesar dan Juruselamat kita Yesus Kristus, yang telah menyerahkan diri-Nya bagi kita untuk membebaskan kita dari segala kejahatan dan untuk menguduskan bagi diri-Nya suatu umat, kepunyaan-Nya sendiri, yang rajin berbuat baik.” Titus 2: 11-14

Salah satu penghambat pertumbuhan orang percaya adalah pandangan yang keliru akan kasih karunia. Banyak yang mengira bahwa kasih karunia memberikan kita kebebasan dan berbuat semau kita. Itu adalah suata pandangan yang salah. Walaupun kasih karunia itu mengampuni dosa, tetapi kasih karunia bukanlah ijin bagi kita untuk berbuat bebas, dan berbuat dosa.

Kasih karunia menurut perjanjian lama adalah suatu gambaran di mana seorang yang kuat membungkukkan dirinya dan turun kebawah untuk mengangkat orang ke atas sejajar dengannya. Dan tujuan dari orang percaya adalah supaya menjadi serupa dengan Yesus.

Dan menurut perjanjian baru, kasih karunia adalah kemampuan yang Tuhan berikan kepada kita supaya sanggup melakukan hal-hal yang tidak mungkin dilakukan dengan kemampuan kita sendiri.

Ketahuilah bahwa kita perlu kasih karunia-Nya, sebab kehidupan keKristenan itu bukanlah hal gampang maupun susah, tetapi hal yang mustahil tanpa kasih karunia.

Hidup di dalam kasih karunia adalah hidup di dalam didikan Tuhan. Inilah tujuan dari kasih karunia. Dan kasih karunia tersedia bagi setiap kita (ayat ke-11).

Untuk apa Tuhan mendidik kita?

1. Supaya kita meninggalkan kefasikan. Apakah kefasikan itu? Fasik tidaklah sama dengan kafir. Orang kafir adalah orang yang tidak mengetahui kebenaran, tetapi orang fasik adalah mereka yang sudah tahu kebenaran tetapi tetap menolak melakukannya.

Orang yang fasik adalah orang yang gagal menghidupkan firman Tuhan di dalam kehidupan sehari-hari.

2. Supaya kita meninggalkan keinginan-keinginan duniawi. Wajar dan normal bagi manusia untuk memiliki keinginan. Sebab keinginan kita itu bisa juga baik dan memberikan kita gairah untuk melakukan sesuatu. Namun kadang kala kita terlalu memaksakan keinginan kita dan mementingkan keinginan kita lebih dari kehendak Tuhan.

“Dan dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya.” (1 Yohanes 2: 17) 3. Supaya kita dapat hidup penuh hikmat. Hidup penuh hikmat adalah hidup yang penuh kebijaksanaan, keadilaan dan ibadah.

Orang bisa saja sangat pintar namun tidak punya hikmat. Hikmat dapat memberikan kita cara hidup yang benar.

“Tetapi hikmat yang dari atas adalah pertama-tama murni, selanjutnya pendamai, peramah, penurut, penuh belas kasihan dan buah-buah yang baik, tidak memihak dan tidak munafik.” (Yakobus 3: 17)

Sewaktu Salomo ditawarkan Tuhan mau meminta apa, dia minta hikmat; dan Tuhan berikan itu kepadanya. Bukan hanya hikmat yang Tuhan berikan, tetapi ada bonus lainnya yang Tuhan berikan, yaitu segala kekayaan materi.

Kekayaan dan harta benda adalah bonus! Namun sering kali kita berdoa meminta bonus itu kepada Tuhan. Apakah itu bonus?

Jikalau kita beli mobil, lalu dapat gelas atau payung, itulah bonus. Bukannya kita minta mobil, tetapi kita meminta payung kepada Tuhan, meminta bonus.

Kita perlu hikmat dari Tuhan. Dan takut akan Tuhan adalah awal dari segala hikmat. (Amsal 1:7; 9:10; 15:33)

 

 

 

Pertumbuhan Rohani

Date: Sunday, February 8th, 2004
Tags: Jonathan Pattiasina

“Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita. Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah.” Ibrani 12: 1-2

Setiap kita harus terus bertumbuh, bukan hanya secara jasmani tetapi juga betumbuh di dalam kerohanian kita. Ada beberapa hal yang kita perlu ketahui tentang pertumbuhan rohani ini.

1. Pertumbuhan rohani bukan berarti bebas dari masalah. Setiap kita pasti mempunyai masalah, namun bedanya adalah cara pandang masing-masing individu terhadap masalah mereka. Misalnya, sewaktu kita kecil semua tampak besar bagi kita, namun setelah kita bertumbuh menjadi dewasa, apa yang dulu tampak besar tidak lagi kelihatan begitu besar. Sudut pandang kita berubah!
Begitu juga jika kita bertumbuh dalam kerohanian kita dan menjadi dewasa rohani, masalah akan menjadi tampak kecil.

2. Pertumbuhan sama seperti orang yang belomba. Perlombahan iman bagi umat yang percaya adalah suatu kewajiban. Setiap kita harus ambil bagian dalam perlombaan ini. Perbedaan perlombaan ini dengan perlombaan olah raga yang ada di dunia adalah di dalam perlombaan iman kita tidak mempunyai orang lain sebagai saingan kita. Saingan dalam perlombaan iman adalah diri kita sendiri, yaitu manusia lama kita. Kita harus mengalahkan manusia lama kita, kesombongan, dan juga segala kedagingan kita.

“Dan supaya aku jangan meninggikan diri karena penyataan-penyataan yang luar biasa itu, maka aku diberi suatu duri di dalam dagingku, yaitu seorang utusan Iblis untuk menggocoh aku, supaya aku jangan meninggikan diri.” (2 Korintus 7)

Rasul Paulus sadar bahwa masalah yang paling besar ada di dalam dirinya sendiri supaya ia tidak menjadi sombong.

Janganlah juga kita mencintai diri sendiri (2 Tim 3: 1-5), sebab segala sesuatu yang kita cintai lebih dari Tuhan adalah suatu penyembahan berhala.

Dalam perlombaan ini, kita juga perlu menanggalkan segala beban yang ada. Tiga macam beban adalah: i. Pola hidup yang salah Contohnya: tidak mengatur keuangan kita dengan baik sehingga kita harus berhutang sana sini, tidak mengatur dan menggunakan waktu dengan baik, dsb.

ii. Beban palsu Contohnya: ketidak mampuan kita untuk menolong semua orang.
Sebagai manusia, kita mempunyai batas. Kita tidak bisa menolong setiap orang. Janganlah membebani diri kita dengan beban palsu ini.

iii. Kepercayaan yang salah Kita harus meneliti Firman Tuhan. Jangan hanya menerima semua asumsi, fakta dan spekulasi yang dilontarkan oleh pengkhotbah. Yang harus kita terima adalah kebenaran yang ada di balik semuanya itu. Begitu juga dengan kesaksian-kesaksian hidup orang lain, jangan tiru kesaksiannya, namum lihatlah apa kebenaran yang ada di dalam kesaksian tersebut.

3. Di dalam pertumbuhan kita harus terfokus kepada Yesus Setiap kita harus fokuskan mata kita kepada Yesus sebab Ia yang memulai iman kita, dan Ia jugalah yang akan menyempurnakannya. Janganlah kita fokuskan mata kita kepada seorang individu selain Yesus. Jikalau kita memandang hanya kepada Yesus, maka kita akan dapat bertekun dalam penderitaan.

Menjadi tua itu otomatis, tetapi menjadi dewasa adalah suatu keputusan!

 

 

Kehidupan Kristen Yang Seimbang

 

Date: Sunday, October 12th, 2003
Tags: Jonathan Pattiasina

“Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah. Jadi mana yang harus kupilih, aku tidak tahu. Aku didesak dari dua pihak: aku ingin pergi dan diam bersama-sama dengan Kristus–itu memang jauh lebih baik; tetapi lebih perlu untuk tinggal di dunia ini karena kamu.” Filipi 1: 21-24

Kita perlu hidup seimbang. Jangan sampai kita menjadi orang Kristen yang sok rohani dan agamawi (over spiritual) sampai menjadi aneh (spooky). Kehidupan Kristen kita perlu seimbang seperi yang Rasul Paulus katakan di dalam kitab Filipi ayat yang pertama.

Bagaimanakan kehidupan Kristen yang seimbang itu? Dan apakah keseimbang itu?

1. Keseimbangan dalam keKristenan adalah kehidupan yang proposional. Kita jangan salah, proposional dan seimbang bukan berarti kita hidup dalam kesuaman. Keseimbangan bukan berarti hidup 50% untuk Tuhan, 50% untuk dunia. Apapun yang kita lakukan kita perlu perbuat itu dalam Kristus, 100%.

“Hanya, hendaklah hidupmu berpadanan dengan Injil Kristus, supaya, apabila aku datang aku melihat, dan apabila aku tidak datang aku mendengar, bahwa kamu teguh berdiri dalam satu roh, dan sehati sejiwa berjuang untuk iman yang timbul dari Berita Injil” (Filipi 1: 27)

Biarlah ada keseimbangan antara otoritas dan karakter di dalam hidup kita!

“Demikianlah kita ketahui kasih Kristus, yaitu bahwa Ia telah menyerahkan nyawa-Nya untuk kita; jadi kitapun wajib menyerahkan nyawa kita untuk saudara-saudara kita.” (1 Yohanes 3: 16)

Semua kita yang telah menerima keselamatan melalui Yesus Kristus dengan cuma-cuma, hendaklah kita juga gampang memberi pengampunan kepada sesama kita. Kehidpan yang proposional, seimbang!

2. Keseimbangan itu adalah hasil dari orang yang menangkap dan mengerti akan waktu Tuhan.

“Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya.” (Pengkhotbah 3:1)

Janganlah terlalu gampang untuk menghakimi orang lain ataupun diri sendiri. Jikalau ada sakit penyakit misalnya, jangan langsung pikir itu dosa. Jikalau ada dalam kekusahan, itu bisa saja rencana Tuhan. Jangan selalu menganggap penderitaan itu dosa.

“Sebab kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita untuk Dia” (Filipi 1: 29)

Kehidupan yang seimbang itu adalah kehidupan orang yang tahu akan waktu Tuhan.

“Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir.” (Pengkhotbah 3:11)

3. Kehidupan salib adalah kehidupan yang seimbang. Salib Kristus adalah contoh kehidupan yang seimbang. Yesus menunjukkan kasih horizontal dan vertikal di atas kayu salib.
Kita juga perlu hidup seperti Kristus, mengasihi Tuhan dan juga sesama kita.

“Jawab Yesus kepadanya: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” (Matius 22: 37-39)

 

 

Pentingannya Hubungan Di Dalam Kehidupan Manusia

Date: Sunday, April 27th, 2003
Tags: Jonathan Pattiasina

“Tetapi aku menasihatkan kamu, saudara-saudara, supaya kamu waspada terhadap mereka, yang bertentangan dengan pengajaran yang telah kamu terima, menimbulkan perpecahan dan godaan. Sebab itu hindarilah mereka!” Roma 16: 17

Firman Tuhan mengatakan bahwa kita harus waspada terhadap pengajaran-pengajaran yang bertentangan dengan pengajaran Kristus. Apakah pengajaran-pengajaran Yesus Kristus yang dimaksudkan itu?

“Kasihilah Tuhan, Allahmu dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Lukas 10:27). Itulah perintah yang Tuhan berikan kepada kita semua. Perintah ini adalah perintah tentang hubungan manusia; hubungan antara kita dengan Tuhan, dan juga kita dengan sesama kita.

Hubungan adalah sesuatu yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Jikalau kita ada masalah di dalam hubungan kita, baik itu hubungan kita dengan Tuhan, maupun hubungan kita dengan sesama kita, iblis akan segera menyerang kita! Ada tiga kutuk yang sedang menyerang manusia di dunia ini: 1. Anak-anak yang tidak berayah. 2. Penceraian antara suami istri. 3. Pengguguran bayi di dalam kandungan. Semua kutuk-kutuk ini ada sangkut pautnya dengan hubungan di dalam kehidupan manusia.

Maka dari itu, kita harus waspada terhadap orang-orang yang mengajari pengajaran-pengajaran yang bertentangan dengan ajaran-ajaran Tuhan. Yaitu ajaran-ajaran yang membawa perpecahan, sebab Tuhan membenci penceraian. Sebaliknya, marilah kita hidup sesuai dengan Firman Tuhan yang mengajarkan agar kita hidup saling mengasihi, hidup dalam kesatuan (Matius 18:19-20), keharmonisan dan juga dalam damai.

Ada 5 tipe orang Kristen yang harus kita hindari/waspadai: 1. Boncengan – Contohnya: Ke gereja hanya ikut-ikutan saja, ikut istri/suami, ikut teman, dsb.
2. Bertapa – Contohnya: Suka kritik cara kerja gereja, pendeta, dsbnya, namun sendirinya tidak ingin terlibat sama sekali. 3. Kupu-kupu – Contohnya: Suka pindah-pindah gereja. 4. Landak – Contohnya: Lebih suka dan lebih sering berpisah/berpecah dari pada berkumpul/bersatu. 5. Lintah – Contohnya: Hanya ingin mencari untung saja. Selalu ingin menerima dan tidak memberi.

Ke-5 tipe orang yang di atas adalah tipe-tipe orang yang tidak memiliki hubungan. Orang-orang yang demikian lebih suka hidup sendiri, menjadi orang luar dan tidak ingin terlibat.

Mengapa kita harus memperhatikan hubungan kita dengan baik? Pertama-tama, bukan saja karena itu adalah perintah Tuhan, suatu hubungan yang baik juga dapat menyembuhkan luka batin, dan sampah-sampah dari hidup masa lalu seseorang. Kedua, sebab menghancurkan hubungan manusia adalah salah satu strategi yang dipakai iblis untuk menyerang kita.

“Sebab barangsiapa yang kamu ampuni kesalahannya, aku mengampuninya juga. Sebab jika aku mengampuni, – seandainya ada yang harus kuampuni -, maka hal itu kubuat oleh karena kamu di hadapan Kristus, supaya iblis jangan beroleh keuntungan atas kita, sebab kita tahu apa maksudnya” (2 Korintus 2:10-11).

Ketahuilah bahwa ketika hubungan kita dengan Tuhan ataupun dengan sesama kita sedang tidak baik, iblis akan mengambil keuntungan untuk menyerang kita. Marilah kita selalu menjaga baik hubungan di dalam hidup kita.

Jalan keluar agar kita tidak diambil keuntungan oleh iblis adalah, pertama, mentaati perintah-perintah Tuhan (Roma 16:19), yaitu dengan mengampuni orang yang bersalah kepada kita dan menerima serta mengasihi musuh-musuh kita, sebab pembalasan itu adalah miliknya Tuhan. Kedua, marilah kita senantiasa hidup bersama-sama dengan orang lain, menjalin hubungan yang baik. Belajar untuk rendah hati, panjang sabar, dsb.

“Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah” (Matius 5:9). Jikalau kita ingin hidup dalam kemenangan, kita perlu hidup dalam perdamaian. Perdamaian menghancurkan iblis! (Roma 16:20). Apakah kita sudah membawa damai hari ini?

 

 

Kuasa Itu Di dalam-mu!

 

Date: Sunday, April 15th, 2001
Tags: Jonathan Pattiasina

Di hari Paskah ini, kita akan melihat kuasa kebangkitan dari Yesus Kristus dan pengaruhnya atas kehidupan kita saat ini!

Kebangkitan Yesus 2000 tahun yang lalu bukanlah hanya satu kejadian yang kita peringati setiap tahun, tetapi ada kuasa yang dahsyat yang bekerja sejak Yesus bangkit dari kematian. Kebangkitan Yesus itu adalah peristiwa yang sangat penting. Itu merupakan titk balik!

“Dan supaya Ia menjadikan mata hatimu terang, agar kamu mengerti pengharapan apakah yang terkandung dalam panggilan-Nya: betapa kayanya kemuliaan bagian yang ditentukan-Nya bagi orang-orang kudus, dan betapa hebat kuasa-Nya bagi kita yang percaya, sesuai dengan kekuatan kuasa-Nya, yang dikerjakan-Nya didalam Kristus dengan membangkitkan Dia dari antara orang mati…” Ef 1:18-20. Allah mau supaya kita mempunyai mata hati yang melihat jauh kedepan! Orang sering berkata “What You See IS What You Get” (WYSIWYG), apa yang kita lihat itu yang kita dapati. Kita perlu memeperbaiki mata hati kita! Mata hati kita perlu diterangi!

3 Hal yang harus kita mengerti, waktu mata kita terbuka:

Harapan didalam panggilan-Nya. Kemuliaan Tuhan tidak turun atas gedung, musik, atau apapun juga, melainkan atas daging dan darah (manusia). Didalam Perjanjian Lama, kemuliaan Tuhan hanya dilihat dari jauh, tetapi di dalam Perjanjian Baru, kemuliaan itu turun didalam kita! Tahukah saudara bahwa seluruh kuasa sorga turun keatas Yesus sehingga ia bangkit dari kematian! Dan….ada berita yang dahsyat buat saudara: Kuasa yang sama, kuasa itu sekarang ada didalam saudara!!! “Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja didalam kita.” Ef 3:20. Bayangkan kuasa itu ada didalammu! Kuasa yang membangkitkan Yesus!

Mati atas dosa.
“Sebab siapa yang telah mati, ia telah bebas dari dosa.” Rom 6:7.

Kita harus memiliki “I.D.D service” yaitu “I Die Daily service”. Setelah kita mati , kita akan hidup bagi Allah! Untuk itu engkau perlu kuasa kebangkitan itu! Alkitab berkata, “Roh memang penurut tetapi daging itu lemah…” Masalahnya adalah tubuhmu!

Dan kuasa kebangkitan itu akan memampukan tubuhmu untuk menang atas dosa! Kuasa itu diberikan buat kita supaya kita bisa menang atas dosa! Kuasa itu akan berpengaruh bukan hanya atas roh dan jiwamu tetapi juga tubuhmu! Haleluyah!!

Rom 6:13, “Dan jangalah kamu menyerahkan anggota-anggota tubuhmu kepada dosa untuk dipakai sebagai senjata kelaliman, tetapi serahkanlah dirimu kepada Allah sebagai orang-orang yang dahulu mati, tetapi yang sekarang hidup. Dan serahkanlah anggota-anggota tubuhmu kepada Allah untuk menjadi senjata kebenaran.” Sadarkah engkau bahwa tubuhmu adalah senjata kebenarannya Allah?? Tubuh kita sebetulnya adalah senjata yang sangat berbahaya buat iblis. Itulah sebabnya iblis berusaha merusak tubuh kita ini!

Ada satu contoh di Alkitab, yaitu Simson, seorang yang sangat kuat tubuhnya tetapi lemah hatinya! Walaupun ia diurapi Tuhan begitu rupa, tetapi mata rohani Simson tidak terbuka, sehingga ia akhirnya dikalahkan hanya oleh seorang wanita. Tubuhnya tidak menjadi senjata kebenaran yang menakutkan tetapi menjadi bahan tertawaan dan cemoohan!

Tuhan berdiam didalam tubuh kita. “Makanan adalah untuk perut dan perut untuk makanan tetapi kedua-duanya akan dibinasakan Allah. Tetapi tubuh bukanlah untuk percabulan, melainkan untuk Tuhan dan Tuhan untuk tubuh.” 1Kor 6:13. Saudara yang terkasih janganlah bawa tubuh kita kepada persungutan, percabulan dan dosa! Dikatakan diatas, jika tubuh untuk Tuhan, artinya tubuh kita sebagai persembahan. Tuhan untuk tubuh berarti Tuhan berdiam atas tubuh kita! “Allah yang membangkitkan Tuhan, akan membangkitkan kita juga oleh kuasa-Nya.” Ay.14. Sesungguhnya semua kelemahan kita termasuk juga dosa percabulan hanya bisa dikalahkan dengan kuasa kebangkitan itu! Orang yang hidup didalam percabulan sebetulnya ia menghina kuasa kebangkitan Tuhan!! Ingat! Kemuliaan Allah itu tinggal didalammu!

Saudara sekalian….Allah menghendaki tubuhmu, karena tubuhmu adalah pelaksana Firman-Nya! “Karena itu ketika Ia masuk ke dunia, Ia berkata: “Korban dan persembahan tidak Engkau kehendaki, tetapi Engkau telah menyediakan tubuh bagiku. Kepada korban bakaran dan korban penghapus dosa Engkau tidak berkenan. Lalu Aku berkata: Sungguh, Aku datang; dalam gulungan kitab ada tertulis tentang Aku yang melakukan kehendak-Mu, ya Allah-Ku.” Ibr 10:5-7.

Jadi saudara yang terkasih, Allah kita bukanlah Allah yang memberikan apa yang tidak bisa kita jaga dan meminta apa yang tidak bisa kita beri! Dia adalah Allah yang setia. Dan Ia telah memberikan kuasa kebangkitan itu, kuasa yang telah membangkitkan Yesus dari kematian. Kuasa yang sama sekarang ada didalammu! Dan dengan kuasa kebangkitan itu kita akan sanggup untuk mengalahkan tubuh kita dari kuasa dosa!

 

 

Persiapkan Dirimu

 

Date: Sunday, December 3rd, 2000
Tags: Santoso

Saudara yang terkasih, suatu ibadah bukanlah hanya datang ke gereja setiap hari minggu atau bernyanyi di gereja, tetapi suatu ibadah itu adalah kita hidup didalam Firman Tuhan. Didalam Mat 24 dan 25, Tuhan Yesus berkotbah tentang akhir jaman dan pada ayat 3 Yesus ditanyai tentang tanda kedatangan Tuhan. Peperangan, bangsa bangkit melawan bangsa, kelapran, gempa bumi…itulah tanda-tandanya dan Alkitab menjelaskan bahwa dunia sedang lenyap dengan keinginannya! “Tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat.” Mat 24:13. Yesus mengajarkan cuma orang yang setia dan tekun sampai pada akhir yang akan selamat. Ini berarti bukan betapa bagusnya kita mulai tetapi bagaimana kita mengakhirinya! Saudara ada kabar baik buat engkau, kita adalah orang-prang pilihan Allah yang ditentukan untuk melihat kegenapan firman Allah terjadi. “Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu” ay.36.

Yesus didalam 1 Yoh 2:15, memberi perintah kepada kita semua, yaitu “Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada didalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu…Dan dunia sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selamanya.” Yesus dengan jelas menyuruh supaya kita tidak mengasihi dunia! Jika kita ikut mengasihi dunia…maka kita juga akan lenyap bersama-sama dengan dunia! Mungkin saudara pikir bahwa “Tuhan kok’ tidak datang-datang….katanya mau segera datang….mana??” Saudara yang terkasih, “Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian, tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat.” 2Pet 3:9. Adalah kerinduan hati Allah supaya tidak seorangpun yang binasa!

Saudara, kita harus mengerti bahwa kita bukanlah berasal dari dunia ini karena dunia ini milik si jahat, tetapi kita adalah milik Tuhan berasal dari Dia! “Kita tahu , bahwa kita berasal dari Allah dan seluruh dunia berada di bawah kuasa si jahat.” 1 Yoh 5:19. Dosa telah begitu menguasai dunia, itulah sebabnya kita tidak perlu diajari untuk berbuat dosa, tetapi kita sudah pandai berdosa (berbohong, mencuri, dll). Hari-hari ini adalah hari-hari yang jahat! Waspadalah! Lalu bagaimana supaya kita bisa hidup didalam kebenaran Tuhan? Yaitu dengan hidup sesuai firman Tuhan. Dengan hidup sesuai firman, maka kita bisa menjaga kekudusan. Firman Tuhan itu akan menelanjangi segala kenajisan dan dosa kita! Iblis berusaha untuk menarik banyak orang dengan berbagai-bagai cara, ia sodorkan hal-hal yang kelihatana enak, baik atau juga dia serang dengan rasa sakit hati, kepahitan, kekecewaan dll. Itulah sebabnya Daud mengajarkan bahwa hanya dengan Firman Tuhan kita bisa menjaga kelakuan kita bersih! Firman Tuhan akan memimpin, menuntun dan memperbaharui kita! Saudara, engkau harus memperhatikan hidupmu! Bagaimana cara hidupmu saat ini?

Waktunya dusah dekat….! Kita hanya punya 2 pilihan, yaitu: ikut firman Tuhan dan mendapat hidup yang kekal, atau ikut dunia dan kita binasa!

Bagaiman supaya kita tetap tinggal dalam Firman Allah walaupun banyak tantangan?? Yud 17, “Bangunlah dirimu sendiri diatas dasar imanmu yang paling suci dan berdoalah dalam Roh Kudus.”

Pertama, kita sendiri harus membangun diri kita, jadi bukannya orang lain atau pendetamu. Bangun diatas dasar iman! Iman itu adalah dasar dari segala sesuatu….Jadi segala sesuatu yang engkau kerjakan, harus dasarnya itu iman! Dari mana iman itu tumbuh? Iman tumbuh dari pendengaran akan firman Tuhan.

Yang kedua, berdoa didalam Roh Kudus. Saudara, jika engkau berdoa didalam Roh, kita mendapatkan kekuatan untuk melawan tipuan/ajakkan iblis. Kita perlu kekuataan Allah supaya kita tidak kompromi terhadap tawaran dunia!

Yang ketiga, pelihara dirimu didalam kasih Allah, ay 21. Janganlah kita kasih kesempatan untuk kekecewaan, kepahitan itu tinggal di hati kita. Miliki hati yang mengampuni.

Yang keempat, kita perlu menunjukkan belas kasihan, ay 22.

Yang kelima, Kita harus menyelamatkan jiwa dengan jalan merampas mereka dari api. Rebut jiwa-jiwa! Saudara yang terkasih, di waktu-waktu yang semakin jahat ini, kita perlu hidup dengan waspada dengan menjaganya sesuai dengan firman Tuhan. Amin

 

 

 

Kesatuan

 

 

Date: Sunday, November 26th, 2000
Tags: Ps. Terry Apel

Kel 25:17-22, Didalam ayat 19, kita lihat bahwa Allah memberikan instruksi kepada Musa untuk membuat kerub di kedua sisi dari tutup pendamaian, dan seluruhnya harus dibuat dari emas. Kita lihat disini bahwa Allah memberikan satu contoh yang Tuhan miliki di sorga. Jadi orang-orang pada jaman Musa dapat mengerti apa itu hadirat Tuhan. Sama seperti Tuhan menunjukkan kepada Musa, demikian juga kita harus menemukan “mercy seat” (tutup pendamaian). Disana kita akan menemukan belas kasihan Tuhan. Pada waktu engkau bertemu seseorang, apakah engkau menemukan “mercy seat” atau “judgement seat”? Kita hanya bisa menyambut orang dengan dua cara, yaitu dengan belas kasihan atau menghakimi. Yesus berkata, “Berbahagialah orang yang murah hati (mercy), karena mereka akan beroleh kemurahan.” Mat 5. Jika saudara mau mendapatkan kemurahan dari orang lain….engkau harus bermurah hati! Saudara tahu bahwa hadirat Allah, kemurahan Allah, God’s mercy ada didalammu karena engkau adalah “the ark of God”- bait Allah! Kita adalah tempat dimana Allah menyatakan hadirat-Nya dan di tengah-tengah tabut perjanjian itu ada tutup pendamaian….seharusnya tutup pendamaian yang sama itu ada juga dihatimu! Saudara tidak mungkin bisa memiliki mercy seat dan judgement seat didalam waktu yang sama. Sesuai dengan belas kasihan yang saudara beri, sebanyak itulah yang akan saudara terima kembali didalam hidupmu!

Allah mau supaya kita mempunyai belas kasihan dihati kita! Orang datang bukan untuk mencari penghakiman, tetapi belas kasihan. Ada tiga hal yang kita perlukan untuk membangun tabut perjanjian dan itu juga kita perlukan untuk membangun diri kita! Pada Tabut itu ada kerub-kerub yang menutupi tabut itu. Alkitab menjelaskan bahwa malaikat-malaikat itu diciptakan satu demi satu, tetapi waktu mereka ada di mercy seat, mereka menjadi satu dengan yang lainnya. Demikian juga dengan kita yang bermula dari individual-individual, tetapi dalam proses Tuhan, kita kemudian menjadi satu dengan Allah dan dengan yang lainnya! Kesatuan itu hanya terjadi setelah Allah selesai membentuk kita! Banyak orang tidak tertarik kepada gereja, karena mereka hanya tertarik pada apa yang mereka bisa dapat dari gereja.

Ada tiga aspek pada mercy seat:

1. Terbuat dari emas. Emas berbicara tentang kemurnian. Saat kita datang ke gereja Minggu pagi, apa yang ada didalam hatimu….apa alasanmu datang ke gereja? Jika engkau datang bukan untuk menyembah Tuhan, maka engkau akan pulang dengan keadaan yang lebih buruk dari saudara datang! Kita diciptakan oleh Tuhan, bagi Tuhan dan untuk kemuliaan Tuhan selamanya. Kita ada untuk satu alasan, yaitu menyembah Dia! Itulah sebabnya banyak orang “mati” digereja, karena mereka mempunyai maksud yang berbeda dengan maksudnya Allah!

2. Emas itu ditempa.
Ini berbicara soal hancur hati, Mat 21:44, “Barangsiapa jatuh keatas batu itu, ia akan hancur dan barangsiapa ditimpa batu itu, ia akan remuk.” Jika kita menolak untuk dibentuk Allah, maka Ia akan menjatuhkan diri-Nya (batu=Yesus) dan kita akan hancur! Maz 34:18 berkata, “Allah dekat kepada orang yang hatinya hancur” Maz 51:17, “Korban yang berkenan kepada Alllah adalah hati yang hancur” Mengapa Allah mencari hati yang hancur? Jika sebuah gelas pecah, maka isinya akan tumpah keluar. Jika hati kita tidak hancur….berkat-berkat Allah itu tidak akan mengalir kepada orang lain.

3. Mercy seat dan malaikat adalah emas yang satu.
Ini berbicara soal kesatuan. Waktu seorang ahli membuat itu, mereka menempa…dan menempa terus emas itu sampai emas itu menjadi lembut dan mudah dibentuk. Apa yang mereka coba lakukan? Mereka mencoba menempa emas itu menjadi lunak dan membentuk emas itu sampai malaikat dan tutup pendamaian itu menjadi satu sampai kerub-kerub itu samapi ditempat menyembah! Waktu Allah membentuk kita, Dia sedang membawa kita kepada posisi penyembahan kepada Dia! Penyembahan bukan hanya mengenai menyanyi lagu-lagu, tetapi seluruh ekspresi kita kepada Allah. Penyembahan adalah gaya hidup! Allah akan terus membentuk kita sampai kita sampai pada tempat penyembahan. Dia sedang menarik perhatian kita!

Allah menghendaki penyembahan, tetapi tanpa kesatuan tidak mungkin ada penyembahan. Di tutup pendamaian, para malaikat saling berhadapan muka dengan muka, tetapi mata mereka memandang kepada tutup pendamaian itu! Mengapa mata mereka kebawah? Karena hanya ditengah-tengah belas kasihan kita menemukan kepenuhan rencana Allah sesungguhnya! Kesatuan, hubungan dan perjanjian….semuanya berbicara soal bagaimana kita berhadapan satu dengan lain tetapi tidak melihat satu dengan lain, satu-satunya tempat kita melihat adalah di mercy seat, belas kasihan. Apa yang akan terjadi jika kita mulai melihat kepada sesama kita dan bukan kepada mercy seat? The judgement seat akan muncul! Segera kita akan melihat kesalahan teman kita, mulai kita menghakimi…! Tuduhan-tuduhan mulai muncul…! Saudara….kita harus melihat dengan belas kasihan!! Allah menginginkan belas kasihan! Jika gereja kita mau bertumbuh, kita harus menghadap satu sama lain, tetapi mata kita harus tertuju kepada belas kasihan. Mata kita harus melihat kepada apa yang Yesus sudah lakukan. Berbahagialah orang yang murah hati!

Rom 8:28, “Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia” Saat Allah membentuk kita, Allah lebih tertarik kepada karaktermu dari pada kenyamanan kita! Jika kita membiarkan Allah bekerja atas kita….maka itu pasti untuk mendatangkan kebaikan kepada hidup kita! Waktu Allah menempa…kita mungkin merasa sakit…tidak enak….tetapi jika kita biarkan Allah membentuk kita….kita akan sampai pada tempat yang benar….tempat penyembahan. Ditempat dimana ada kesatuan hati…disanalah engkau akan mendengar suara Tuhan. “Dimana ada dua, tiga orang berkumpul, percaya dalam nama-Ku, Aku ada ditengah-tengah mereka” Ditengah-tengah kesatuan hati….disana Allah hadir. Waktu kita datang kegereja, jangan kita mencari duduk untuk dirimu sendiri, tetapi cari seseorang….duduk dengannya! Satu hati berbicara soal kesatuan didalam gereja! Orang-orang tidak akan datang ke tahta penghakiman, tetapi mereka akan datang ke tahta belas kasihan! “Blessed are the merciful, for they shall obtain mercy.” Mat 5:7.

 

 

Menjadi Rumah Doa

 

Date: Sunday, October 15th, 2000
Tags: Ps. Samuel Yusuf

Mat 21:12-15, “Lalu Yesus masuk ke Bait Allah dan mengusir semua orang yang berjual beli di halaman Bait Allah. Ia membalikkan meja-meja penukar uang dan bangku-bangku pedagang merpati dan berkata kepada mereka: “Ada tertulis: Rumah-Ku akan disebut rumah doa. Tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun.” Maka datanglah orang-orang buta dan orang-orang timpang kepada-Nya dalam Bait Allah itu dan mereka disembuhkan-Nya. Tetapi ketika imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat melihat mujisat-mujisat yang dibuat-Nya itu dan anak-anak yang berseru dalam Bait Allah: “Hosana bagi Anak Daud!” hati mereka sangat jengkel.” Tidak semua orang yang ada di Bait Allah itu beribadah kepada Allah! Tidak semua orang datang ke gereja sungguh-sungguh beribadah, mencari Tuhan. Banyak orang datang ke gereja dengan banyak alasan dan motivasi! Apa alasanmu datang ke gereja? Apa motivasimu…. mengapa engkau datang? Apakah butuh pertolongan adalah motivasimu atau kebutuhan keuangan….atau mencari pacar…??? Apa yang engkau lakukan di Rumah Tuhan, akan menentukan apa yang akan engkau bawa pulang ke rumahmu! Waktu Yesus melihat orang-orang yang berjual beli di Bait Allah…Ia mengusir mereka! Mereka pulang dari Bait Alah dengan tidak membawa berkat apa-apa, hanya perasaan marah, kesal, kecewa dll. Motivasimu menentukan hasil akhir ibadahmu!

Allah sedang menyucikan Bait-Nya! Ia mau rumah-Nya disebut rumah doa! Saudaralah rumah-nya itu dan Allah menjadikan hidupmu menjadi rumah doa! “Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam didalam kamu?” 1 Kor 3:16. Allah tidak ingin jika kita hanya menjadi “pengunjung” gereja yang rajin dan setia, tetapi Ia mau menjadikanmu rumah doa-Nya! Dimana hidup kita menjadi tempat diaman Allah akan mencurahkan isi hati-Nya dan rencana-Nya. Menjadi orang yang berdoa bagi orang lain!

Berdoa adalah nafas orang percaya merupakan kalimat yang tidak asing lagi bagi kita semua, tetapi apakah itu sungguh-sungguh sudah terjadi di hidupmu? Jika saudara perhatikan di Alkitab, pahlawan-pahlawan Allah sejati adalah orang-orang yang suka berdoa! Yesus sendiri, Dia selalu berdoa untuk mengetahui kehendak Bapa-Nya! Karena Yesus tidak melakukan sesuatu jika Bapa tidak memerintahkannya. Yesus sangat bergantung dengan Bapa! Bagaimana dengan saudara…??

Kehidupan doa membuat engkau menjadi hidup! Bagaiman menjadikan hidup kita sebuah rumah doa yang menyenangkan hati Allah?

Pertama, engkau harus membuang semua kotoran atau sampah, Yoh 2:16, “Ambil semuanya ini dari sini, jangan kamu membuat rumah Bapa-Ku menjadi tempat berjualan.” Ambil semua sampah yang mengotori hatimu dan buang itu semua!! Motivasi yang salah, kekecewaan, dosa adalah sampah-sampah yang menghambat kita menjadi rumah doa Allah yang dahsyat!

Kedua, adalah jangan kompromi, hidup dalam kebenaran! “Karena itu tunduklah kepada Allah, dan lawanlah Iblis, maka ia akan lari dari padamu! Mendekatlah kepada Allah, dan Ia akan mendekat kepadamu.” Yak 4:7,8. Tanpa penundukkan diri kepada Allah, tidak mungkin kita bisa melawan iblis! Penundukkan diri kepada Allah menghasilkan otoritas, kuasa! Submit yourself to God and then… you can ressist the devil!

“Tahirkanlah tanganmu, hai kamu orang-orang berdosa! Dan sucikanlah hatimu, hai kamu yang mendua hati (double-minded-Red).” Tangan, hati dan pikiran adalah tiga aspek hidup kita yang harus di tahirkan, disucikan! Apakah perbuatan kita sudah melakukan Firman Allah…., apakah hati kita bersih…., apakah pikiran kita masih merancangkan yang jahat terhadap saudara yang lain…??? Pertanyaan-pertanyaan ini harus kita jawab dengan jujur. Allah mengasihi orang yang jujur dan keterbukaan adalah kunci dari penyelesaiaan masalah! “Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.” Mat 5:8. Suci hatinya, bersih hatinya, juga jujur hatinya! Jujurlah terhadap dirimu sendiri!

“Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh.” Yak 5:16. Kejujuran akan menyembuhkan banyak hal…! Penyakit, hubungan yang retak, luka hati, studi, pekerjaan…..apa saja dalam aspek hidup kita akan dipulihkan, disembuhkan jika kita mulai membuka hati kita dan jujur! Tahukan saudara hal yang iblis taruh dalam hidup orang percaya adalah ketertutupan, karena ia tahu pada waktu anak-anak Tuhan hidup dalam kejujuran dan tidak ada satupun yang disembunyikan….iblis tidak lagi mempunyai tempat didalam hidup mereka! Iblis hanya tinggal ditempat-tempat yang gelap, ia tidak mungkin bisa tinggal di tempat ynag terang!! Saling mengaku dosa adalah membuka sisi-sisi gelap hidup kita sehingga…..tidak ada lagi ruang gelap dalam hati kita! Halleluyah!! Jika saudara mau supaya iblis tidak tinggal dalam hidupmu…..buka ruang gelap itu dan biarkan terang kebenaran itu masuk, maka iblis akan pergi dengan sendirinya!

Akhirnya, “Doa orang yang benar, bila denga yakin didoakan, sangat besar kuasanya.” Yak 5:16. Waktu kita sudah tidak mempunyai lagi ruang gelap dalam hati dan hidup didalam kebenaran Tuhan…..doamu menjadi doa yang menggoncangkan kerajaan gelap! Doamu akan menajdi saaaangat besar kuasanya! Saudara mau tahu seberapa besar kuasa doa orang benar…? Kuasanya sebesar kuasa yang membangkitkan Yesus dari antara orang mati!!! Kuasa yang sama akan ada didalam doa-doamu! Bayangkan betapa besar potential yang saudara miliki….! You can change this world by your prayer!! Let’s do it, in the name of Jesus….!!! “My house shall be called a House of Prayer.”

 

 

4 Macam Alasan Ujian

Date: Sunday, August 27th, 2000
Tags: Ps. Samuel Yusuf

Allah itu baik…! Amin? Jika Allah itu baik….mengapa kita mengalami sakit, masalah-masalah…? Pernahkah saudara gagal…? Pertanyaannya : “Beranikah saudara menghadapi kegagalan?” Kita semua pernah gagal, hanya Yesus yang tidak pernah gagal! Test/ujian diijinkan oleh Tuhan! Untuk apa? Supaya kita tahu keberadaan kita sendiri. Didalam Tuhan bukan berarti bebas dari masalah. Masalah dan ujian berguna untuk membuat kita bertumbuh! Sesungguhnya Allah melatih kita supaya kita kuat didalam menghadapi masalah. Didalam hidup ini, yang terjadi biasanya adalah Ujian, setelah Janji Allah diberikan sebelum penggenapan janji Allah terjadi. Contoh: hidup Abraham, Yusuf dll. “Sampai saat firman-Nya sudah genap, dan janji Tuhan membenarkannya (NASB: The Lord tested him).” Maz 105:19. Seperti kita sekolah/kuliah ….maka sekolah akan memberikan ujian. Hampir semua orang tidak suka yang namanya ujian dan kebanyakan orang malah stress! Karena sebetulnya kita tidak ada persiapan menghadapi ujian itu! Ujian itu diijinkan Tuhan! “Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kami dapat menanggungnya.” 1 Kor 10:13. Allah itu baik! Tetapi seringkali kita tidak siap menunggu waktunya Tuhan.

Abraham mendapat janji Tuhan, setelah ia keluar dari Ur-kasdim, Kej 11:31. Tetapi waktu tiu Abraham tidak keluar dengan istrinya saja, tetapi ia membawa juga Lot, saudaranya! Akhirnya Tuhan mengijinkan Lot meninggalkan Abraham. Setelah Abraham menungu 10 th, ia mulai tidak sabar menunggu penggenapan janji Tuhan, sehingga Sarai menyarankan Abraham tidur dengan Hagar (hamba mereka) dan melahirkan Ismael yang sampai hari ini menjadi masalah besar! Abraham gagal didalam ujian waktu itu. Janji Tuhan tertunda lagi selama 14 th! Kej 18:9-15, Allah mengingatkan janji-Nya lagi.

Sekarang kita akan melihat dengan jelas, ada 4 point ujian alasan:

1. Kej 16, God reasoning test. Alasan berdasarkan firman Tuhan atau agama. “Engkau tahu, Tuhan tidak memberi aku melahirkan anak.” Ay2. Dengan kata lain Sarai berkata: “Rencana Tuhan tidak akan terjadi, karena Tuhan membuat aku mandul.”

2. Good source reasoning test. Kej 16:2, Abraham mendengar perkataan Sarai, artinya istri juga bisa mempengaruhi suami. Suami-istri yang tidak saling mempengaruhi,tidak mungkin bisa bersatu! Good source…belum tentu God source! Hati-hati dengan good source atau ide yang baik. Rom 14:23, “…Dan segala sesuatu yang tidak berdasarkan iman adalah dosa.” Jadi jika kita mau berbuat sesuatu kepada Tuhan cuma karena “alasan yang baik” … itu dosa!

3. Natural, insting resoning test. Kej 16:3. Setelah menunggu 10 th, Abraham mulai berpkir secara natural (Ia melihat keadaan naturalnya sendiri) Menurut kebiasaan (culture) waktu itu, bagi istri yang mandul, maka suaminya boleh berhubungan denga orang lain (supaya ada keturunan). Jadi idenya Sarai itu sebetulnya bukan dosa tetapi itu natural, insting reasoning!

4. Cultural reasoning, Tradition. Kej 16:16. Keadaan sekitar/culture harus dibandingkan kembali dengan firman Tuhan.

Cara untuk mengatasi test adalah Rom 4:19, “Imannya tidak menjadi lemah, walaupun ia mengetahui, bahwa tubuhnya sudah sangat lemah, karena usianya telah kira-kira seratus tahun, dan bahwa rahim Sarai telah tertutup.” Iman kita tidak tergantung dengan keadaan fisik atau natural kita!! Janganlah lemah iman kita…!!

Kej 21:1, “Tuhan memperhatikan Sara, seperti yang difirmankan-Nya, dan Tuhan melakukan kepada Sara seperti yang dijanjikan-Nya.” Sebetulnya Tuhan sudah mempersiapkan semuanya, Dia sudah menetapkan waktunya….oleh karena itu kita harus menunggu waktu-Nya Tuhan itu! Jika kita mau “menolong” Tuhan maka kita akan melahirkan Ísmael”, tetapi jika kita memperlambat maka kita akan menghasilkan hutang. Iman itu bukannya nekad, tetapi tahu persis apa yang dilakukan, tahu itu berdasarkan kehendak Tuhan!

Maz 65:9-14, “Sebab itu orang-orang yang diam di ujung-ujung bumi takut kepada tanda-tanda mujisat-Mu; tempat terbitnya pagi dan petang Kaubuat bersorak-sorai. Engkau mengindahkan tanah itu, mengaruniainya kelimpahan, dan membuatnya sangat kaya. Batang air Allah penuh air; Engkau menyediakan gandum bagi mereka. Ya, demikianlah Engkau menyediakannya; Engkau mengairi alur bajaknya, Engkau membasahinya gumpalan-gumpalan tanahnya, dengan dirus hujan Engkau menggemburkannya; Engkau memberkati tumbu-tumbuhannya. Engkau memahkotai tahun dengan kebajikan-Mu, jejak-Mu mengeluarkan lemak; tanah-tanah padang gurun menitik, bukit-bukit berikat pinggangkan sorak-sorai; Padang gurun rumput berpakaian kawanan kambing domba, lembah-lembah berselimutkan gandum, semuanya bersorak-sorai dan bernyanyi-nyanyi.”

Pada waktu Allah melawat hidupmu,maka “kemandulanmu” terbuka! Kita akan bersorak-sorai! Waktu Ia melawat….maka hujan itu akan dicurahkan dan dari hidup kita akan mengalir air-air kehidupan itu! Kemanapun engkau pergi…berkatlah yang akan mengalir, kehidupan Allah akan dibagikan kepada sekitar kita!!

 

 

ORANG-ORANG YANG BERJUBAH PUTIH

 

WAHYU 7:9 – 17

7:9 Kemudian dari pada itu aku melihat: sesungguhnya, suatu kumpulan besar orang banyak yang tidak dapat terhitung banyaknya, dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa, berdiri di hadapan takhta dan di hadapan Anak Domba, memakai jubah putih dan memegang daun-daun palem di tangan mereka.
7:10 Dan dengan suara nyaring mereka berseru: “Keselamatan bagi Allah kami yang duduk di atas takhta dan bagi Anak Domba!”
7:11 Dan semua malaikat berdiri mengelilingi takhta dan tua-tua dan keempat makhluk itu; mereka tersungkur di hadapan takhta itu dan menyembah Allah,
7:12 sambil berkata: “Amin! puji-pujian dan kemuliaan, dan hikmat dan syukur, dan hormat dan kekuasaan dan kekuatan bagi Allah kita sampai selama-lamanya! Amin!”
7:13. Dan seorang dari antara tua-tua itu berkata kepadaku: “Siapakah mereka yang memakai jubah putih itu dan dari manakah mereka datang?”
7:14 Maka kataku kepadanya: “Tuanku, tuan mengetahuinya.” Lalu ia berkata kepadaku: “Mereka ini adalah orang-orang yang keluar dari kesusahan yang besar; dan mereka telah mencuci jubah mereka dan membuatnya putih di dalam darah Anak Domba.

Di masyarakat berkembang ajaran atau kepercayaan tentang keselamatan yang dihubungkan dengan cara kematian seseorang. Apabila seseorang mati dengan tenang, dan tidak sampai menderita sakit yang lama, kita sebut pasti arwahnya masuk surga. Tetapi apabila seseorang mati dengan keadaan menderita, sakit yang sangat lama, sulit melepaskan nyawa apalagi mati secara tidak wajar karena kecelakaan atau dibunuh; sering dianggap dia akan menjadi arwah penasaran. Bagaimana pandangan saudara terhadap keyakinan atau kepercayaan demikian? Apakah kita setuju apabila orang yang mati dengan tenang, tidak menderita, sakitnya sebentar, dan tidak menyusahkan anggota keluarga pastilah merupakan pertanda bahwa dia akan masuk surga? Jika demikian, bagaimana pula pandangan saudara terhadap orang-orang yang mati dengan penderitaan, sakit yang lama, dan mati secara mengenaskan seperti mati karena kecelakaan dan terbunuh? Apakah dia pasti akan menjadi arwah penasaran? Bukankah ada banyak contoh fenomena atau gejala mistik, di mana melalui cenayang terlihat arwah orang-orang yang mati dengan cara yang mengenaskan dan tragis menjadi arwah yang penasaran?
Apabila kita menekankan keselamatan dan hidup kekal ditentukan oleh latar-belakang kematian yang dialami oleh seseorang, maka keselamatan atau hidup kekal tersebut dapat terlihat pada cara mati yang dialami oleh seseorang. Dalam kehidupan nyata, dapat saja terjadi orang yang hidup tidak benar sebagai seorang koruptor, penipu, pencuri atau perampok dapat saja mati dengan tenang karena mendapat serangan jantung yang mendadak, sehingga dia tidak sempat menderita dan sakit yang terlalu lama. Banyak kasus terjadi, orang-orang yang sedang berzinah mati secara mendadak karena mendapat serangan jantung. Mereka mati justru dalam keadaan sangat bahagia. Tetapi bagaimana dengan orang-orang yang hidup benar, beriman dan takut akan Tuhan? Apakah orang-orang yang hidup benar dan beriman selalu mati dengan tenang, tanpa rasa sakit, dan tanpa penderitaan yang lama? Dalam sejarah gereja, banyak orang beriman, yang mengasihi Tuhan dan setia harus mati dengan cara yang sangat mengenaskan. Uskup Polikarpus yang adalah murid dari rasul Yohanes harus mengalami kematian dengan cara dibakar hidup-hidup. Perhatikan pula bagaimana para murid Tuhan Yesus, yang sebagian besar harus mati dengan cara dibunuh. Pertanyaannya adalah apakah mereka yang hidup benar, mengasihi Tuhan dan beriman tetapi mati dengan cara yang mengenaskan atau mati secara tidak wajar karena dibunuh juga berarti mereka menjadi arwah yang penasaran? Bagaimana jawaban saudara?
Ini berarti cara kematian seseorang tidak menentukan atau menjamin keselamatan atau hidup kekal seseorang. Kematian dengan tenang tidak menjamin seseorang bahwa dia pasti selamat. Tetapi juga kematian yang dialami dengan cara yang mengenaskan seperti mati dibunuh tidak menunjukkan bahwa dia pasti menjadi arwah penasaran, asalkan dia sampai mati tetap setia dan mengasihi Tuhan dengan segenap hati mereka. Jikalau demikian yang menentukan keselamatan atau hidup kekal adalah bukan cara mati seseorang, tetapi yang menentukan selamat atau tidaknya adalah bagaimana cara hidup mereka di atas muka bumi ini. Apakah mereka memiliki iman, khususnya bagi kita umat Kristen apakah kita tetap beriman kepada Kristus sampai maut merenggut kehidupan kita?
Di Why. 7:9, disaksikan bagaimana rasul Yohanes melihat orang banyak dari segala bangsa, suku, kaum dan bahasa berdiri di hadapan Anak Domba. Mereka disebutkan mengenakan jubah putih dan memegang daun-daun palem sambil bernyanyi: “Keselamatan bagi Allah kami yang duduk di atas takhta dan bagi Anak Domba!”. Dalam hal ini rasul Yohanes melihat orang banyak tersebut bukanlah sebagai orang-orang yang masih hidup secara fisik. Orang banyak tersebut yang disaksikan dalam kitab Wahyu pasal 7 adalah para martir, yaitu orang-orang percaya kepada Kristus dan mereka mengalami kematian karena kesetiaan imannya. Para martir tersebut walau mati secara mengenaskan disaksikan tetap menikmati keselamatan dan hidup kekal karena kesetiaan mereka kepada Tuhan Yesus sebagai Anak Domba Allah. Di Why. 7:14, dengan jelas disaksikan identitas orang banyak yang berdiri di hadapan Anak Domba Allah, yaitu: “Mereka ini adalah orang-orang yang keluar dari kesusahan besar; dan mereka telah mencuci jubah mereka dan membuatnya putih di dalam darah Anak Domba”.
Penulis kitab Wahyu yaitu rasul Yohanes diberikan karunia oleh Tuhan untuk dapat melihat peristiwa yang terjadi di dalam surga. Rasul Yohanes dapat melihat bagaimana arwah para martir dapat hidup bahagia dan menikmati keselamatan, serta hidup dalam persekutuan dengan Allah. Penampakan yang dialami oleh rasul Yohanes tersebut tentunya mempunyai tujuan khusus. Sebagaimana kita ketahui bahwa jemaat Kristen perdana waktu itu hidup dalam kesusahan besar. Mereka dikejar-kejar, dianiaya, dibunuh dan dihancurkan secara sistematis. Kalau saudara melihat film “Quo Vadis”, saudara dapat memiliki gambaran yang sedikit jelas bagaimana keadaan jemaat Kristen yang dianiaya dan dibunuh pada zaman kaisar Nero. Itu sebabnya kehidupan jemaat Kristen perdana senantiasa berada dalam bayang-bayang kematian. Jumlah martir yang harus mati karena pengakuan imannya begitu banyak. Karena itu Allah menyatakan wahyunya kepada rasul Yohanes agar jemaat yang berada dalam bahaya dan setiap saat harus mengalami kematian secara mengenaskan perlu dikuatkan dan diteguhkan. Jadi penyataan Allah yang mana rasul Yohanes diperkenankan dapat melihat kehidupan arwah orang Kristen yang menjadi martir adalah bertujuan untuk menghibur, menguatkan, memberi keyakinan dan kepastian kepada jemaat Kristen bahwa kematian mereka tidaklah sia-sia. Buah iman dan kesetiaan mereka kepada Tuhan Yesus adalah keselamatan dan hidup yang kekal.
Beberapa anggota jemaat yang mengalami kematian yang mengenaskan. Kita dapat melihat dalam kehidupan sehari-hari di mana orang-orang yang melayani Tuhan baik sebagai aktivis maupun hamba Tuhan yang mengalami kematian secara tidak wajar. Sekitar tahun 1990, pernah ada seorang pastor yang mati dalam kecelakaan karena ditabrak oleh bus. Kematian pastor tersebut menimbulkan rasa duka dan kehilangan, karena dia seorang yang pandai, cerdas, dan mampu menjalin relasi dengan banyak pihak. Tetapi kita yakin bahwa mereka kini menikmati kehidupan kekal dan sukacita surgawi karena imannya kepada Kristus. Jadi apakah menurut saudara kita semua juga akan menjadi salah satu dari para martir yang dapat hidup dalam sukacita dan keselamatan surgawi? …….. Kita sering tersanjung dengan ungkapan bahwa setiap orang Kristen pasti masuk surga. Tetapi karena kita tersanjung dengan ungkapan tersebut, kita melupakan satu hal yang penting, yaitu apakah kita sebagai orang Kristen telah hidup secara kristiani? Padahal tidak setiap orang Kristen senantiasa hidup secara kristiani. Apakah saudara setuju bahwa orang Kristen yang tidak hidup secara kristiani juga masuk surga dan menikmati keselamatan atau hidup yang kekal? Sebagai gereja Tuhan yang memegang asas kekudusan Tuhan, kita harus berani mengatakan bahwa hanya orang-orang yang hidup secara kristiani, yang sungguh-sungguh mengasihi Tuhan dan beriman kepada Kristus dengan segenap hati saja yang diperkenankan masuk ke dalam kerajaan surga.
Itu sebabnya arwah para martir di kitab Wahyu tersebut digambarkan sebagai orang-orang yang berjubah putih, karena mereka telah hidup kudus dengan kuasa darah Anak Domba Allah. Dengan kata lain, orang Kristen yang tidak berjubah putih tidak akan diperkenankan masuk ke dalam kerajaan surga. Orang-orang Kristen yang hidupnya penuh dengan kecemaran dan kenajisan pastilah tidak akan masuk ke dalam kerajaan surga hanya karena mereka menjadi anggota suatu gereja. Tidaklah mungkin orang Kristen yang peminum, pezinah, pendusta, pencuri, kurang ajar terhadap orang-tua, dan pembunuh dapat masuk ke dalam kerajaan surga. Label kekristenan sebagai agama tidak menyelamatkan manusia. Tetapi yang menyelamatkan kita adalah apakah kita memiliki iman kepada Kristus dan hidup kudus, sehingga kita layak untuk mengenakan jubah putih.
Tetapi apakah makna berpakaian jubah putih hanya sekedar mereka taat terhadap hukum gereja dan moral kekristenan? Bagaimana dengan orang Kristen yang mencemarkan nama Allah yang kudus? Maksud dari ungkapan ini adalah mereka yang menghujat nama Tuhan, tetapi juga bagaimana dengan orang-orang Kristen yang menyangkal kekudusan Tritunggal Allah? Mungkin saudara masih bingung dengan pernyataan saya ini. Tetapi yang saya maksudkan sederhana saja, yaitu bagaimana dengan orang Kristen yang telah dibaptis dengan nama Allah Tritunggal, kemudian dalam perjalanan waktu mereka baptis ulang? Bukankah baptis ulang juga meniadakan atau menyangkal meterai nama Allah Tritunggal? Kita perlu mempertanyakan apakah gereja-gereja yang mendorong orang-orang Kristen yang sudah dibaptis untuk dibaptis ulang merupakan gereja yang memiliki wewenang yang dapat dipertanggungjawabkan secara teologis? Saya kuatir ajaran ini kelihatannya sangat rohani dan Alkitabiah, tetapi mendorong anggota jemaat yang lemah untuk meniadakan meterai nama Allah Tritunggal yang pernah diterima dalam sakramen baptis yang sebelumnya. Bagaimana kita dapat disebut berpakaian atau berjubah putih, tetapi dilandasi oleh perasaan superioritas bahwa baptisan selam dan baptis ulang di gereja-gereja tersebut sebagai yang paling benar?
Perlu dipahami bahwa mereka yang berjubah putih adalah mereka yang mencuci dengan darah Anak Domba Allah, bukan karena disebutkan mereka telah dibaptis ulang. Bagi saya, baptisan ulang tidak akan membawa orang kepada Kristus. Tetapi baptisan dengan darah yang dibuktikan melalui iman dan kesetiaan kepada Kristus, pastilah membawa orang tersebut untuk menerima mahkota kemuliaan sebagai warga kerajaan surga. Saya yakin, keluarga pendeta yang terbunuh dalam kerusuhan Situbondo karena mati terbakar bersama gedung gerejanya tidaklah mati secara sia-sia. Mereka akan dikaruniai mahkota kemuliaan, dan kepada mereka dikenakan jubah putih sebagai bukti atas iman dan kesetiaannya yang tidak tergoyahkan kepada Kristus. Jika demikian, bagaimana sikap hidup saudara sebagai orang Kristen dan sebagai anggota jemaat GKI Perniagaan? Mari kita yakini bahwa baptisan dan sidi yang kita terima merupakan meterai Allah yang sah, sebab baptisan kita didasarkan pada nama Allah, yaitu Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Yang terpenting dalam kehidupan kita selaku umat Kristen di atas muka bumi ini adalah bagaimana kita bersedia menjalani kehidupan ini sebagai orang-orang yang telah ditebus dengan darah Kristus, dan kita bersedia setia kepada Kristus sampai akhir hidup kita. Amin.

 

 

Jemaat Sebagai Tiang Gereja

Date: Sunday, August 20th, 2000
Tags: Ps. Lydia Yusuf

Gereja yang berhasil dan bertumbuh kuat adalah gereja yang mempunyai STRATEGI (untuk menyerang), VISI (untuk maju) dan NILAI (kuasa untuk mencapai visi). Nilai dari murid Yesus adalah saling mengasihi.. “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi…” Yoh 13:34-35 Kalau saudara mau hidup dalam kesuksesan; bergabunglah sebagai anggota keluarga Bethany! Puji Tuhan! “…bagaimana orang harus hidup sebagai keluarga Allah, yakni jemaat dari Allah yang hidup, tiang penopang dan dasar kebenaran” 1Tim 3:14-15. Nilai dari gereja Bethany adalah “successful Bethany Families” (Keluarga-keluarga Bethany yang sukses) Nah…untuk menjadi keluarga Allah harus didasari dengan saling mengasihi dan komitmen; dalam 2Kor 8:5b, dikatakan: “Mereka memberikan diri mereka, pertama-tama kepada Allah, kemudian oleh karena kehendak Allah juga kepada kami” 2Kor 8:5b. Pertama kali saudara, menyerahkan diri saudara kepada Kristus untuk diselamatkan; kemudian saudara menyerahkan diri saudara saudara kepada anggota Kristen lainnya sebagai anggota keluarga Allah dalam gereja local! Ada yang menarik….ada satu survey di USA, dilaporkan bahwa ternyata 93% orang datang ke gereja karena gembala sidangnya! Tetapi waktu ditanya “Bagaimana jika sang gembala sidang itu pindah, apakah engkau juga akan pindah?” Mereka menjawab…. TIDAK! Mengapa ?? Karena saya memiliki saudara-saudara disini! Luar biasa!! Saudaraku, “hubungan” merupakan perekat yang menjaga kesatuan gereja! Sedangkan “persahabatan” adalah kunci untuk menahan anggota-anggota. Betapa pentingnya kita mempunyai hubungan dan persahabatan dengan saudara-saudara yang lain!

Gereja harus bertambah besar dan kecil secara bersamaan! Maksudnya adalah harus ada keseimbangan antara jumlah anggota yang hadir dalam ibadah raya dengan jumlah kelompok-kelompok kecil (Family Altar) yang tersedia untuk menggembalakan anggota-anggota tersebut. Keduanya sangat penting bagi kesehatan sebuah gereja. “Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup didalamnya” Ef 2:10. “untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus” Ef 4:12. Tuhan mau supaya setiap orang Kristen menggunakan karunia dan talentanya dalam pelayanan, bukan hanya sebagai jemaat. Ada 4 pillar pelayanan “kaum awam” sebagai dasar bangunan gereja (Rom 12:1-8):

1. Setiap orang percaya adalah pelayan. Allah memanggil setiap orang untuk melayani dunia dan gereja. Melayani dan memberi adalah cirri-ciri khas yang menegaskan gaya hidup seperti Kristus yang diharapkan dari setiap orang percaya. Setiap kita diciptakan unutk melayani, Ef 2:10, diberi kuasa untuk melayani Mat 28:19-20, diperintahkan untuk melayani Mat 20:26-28, diselamatkan untuk melayani 2Tim 1:9.

2. Setiap pelayanan adalah penting! Tak ada orang kecil dalam tubuh Kristus dan tidak ada pelayanan yang tidak berarti! “Memang ada banyak anggota, tetapi hanya satu tubuh…malahan justru anggota-anggota tubuh yang nampaknya paling lemah, yang paling dibutuhkan.” 1Kor 12:20-22. Pelayanan yang kecil seringkali memberi pengaruh yang besar!

3. Kita bergantung satu sama lain, saling membutuhkan! Budaya individualisme dan kemandirian harus diganti dengan saling ketergantungan dan bekerjasama.

4. Pelayanan merupakan ungkapan dari shape yang menentukan pelayanan, apa yang harus dilakukan seseorang. Masing-masing kita dibentuk/direncanakan secara unik oleh Allah untuk melakukan hal-hal tertentu.

S = Spiritual gift, (karunia rohani).

H = Heart. Hati! 1Sam 12:20, “…beribadahlah kepada Allah dengan segenap hatimu”

A = Abilities (Kemampuan). merupakan talenta alamiah yang sudah ada sejak

saudara lahir. Pakilah itu untuk melayani Tuhan!

Kel 31:3, “…keahlian dan pengertian dan pengetahuan, dalam segala macam pekerjaan…” Allah juga memberikan kemampuan untuk menghasilkan uang! “Tetapi haruslah engkau ingat kepada Tuhan Allahmu; sebab Dialah yang memberikan kepadamu kekuatan untuk memperoleh kekayaan” Ul 8:18.

P = Personality (Kepribadian). Ada macam-macam sifat kepribadian seseorang. Allah menjadikan saudara sebagai diri saudara sendiri. Jika saudara melayani sesuai dengan kepribadian yang Allah berikan kepada saudara; maka saudara akan merasakan hasrat hati terpenuhi dan mengalami kepuasan serta keberhasilan dalam pelayanan.

E = Experience. (Pengalaman). Allah tidak pernah menyia-nyiakan pengalaman! (termasuk pengalaman pendidikan, pekerjaan, kerohanian dan pelayanan). Saudara akan menjadi sangat efektif dan puas dalam pelayanan, ketiak saudara menggunakan karunia-karunia rohani dan kemampuan saudara dalam bidang yang sesuai dengan hasrat hati dan mengungkapkan kepribadian serta pengalamn saudara. Keberhasilan merupakan hasil dari pelayanan yang sesuai! “Kita tahu sekarang bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia; yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai rencana Allah” Rom 8:28.

 

 

Menghancurkan Hukum Dosa Dalam Keluarga

Date: Sunday, May 14th, 2000
Tags: Ps. Lydia Yusuf

Sejak manusia jatuh ke dalam dosa manusia menjadi terkutuk dan dikuasai oleh hukum dosa. Hukum dosa juga termasuk dalam keluarga (pernikahan). Apabila hukum dosa tidak dikalahkan. Maka ia akan merusak setiap keluarga.

4 kekuatan dosa yang merusak keluarga (Kej 3:8-19):

1. Ketertutupan akibatnya

a. Tidak dapat berkomunikasi

b. Hati nurani tumpul/saling menyalahkan (ayat 12-13)

2. Serangan iblis (ayat 14-15) saling melukai/bermusuhan

3. Kekacauan peranan (ayat 16) akibatnya

a. Suami diktator/ menguasai istri

b. Istri ingin menguasai suami

4. Kesulitan ekonomi (ayat 17-19) akibatnya

a. Susah payah/ bekerja keras untuk mencari nafkah

b. Penuhapenderitaan/semak berduri/penuh keringat

Cara mengalahkan hukum dosa (Roma 8 : 1-2):

1. Hidup menurut roh / memikirkan hal-hal yang dari roh:

2. prinsip firman tuhan (Roma 8:5)

3. suami yang mengasihi

a. Suami yang memimpin (Efesus 5 :23) memimpin dengan keyakinan firman Tuhan.
b. Suami yang mengasihi(Efesus 5: 25-29) suami yang mengasihi istri dengan tiga hal :

i. Menguduskan/menyucikan istrinya ( Efesus 5:25-28)

ii. Mengasihi dan merawat istrinya (Efesus 5:29)

iii. Suami yang membangun istri.

Hal –hal yang dapat merusak pernikahan /menghancurkan istrinya: 1. Gagal menjadikan istri sebagai no.1 dalam hidupnya. 2. Gagal memimpin istri dan anak. 3. Mengadakan perubahan mendadak tanpa memberi kesempatan kepada istri untuk berpikir dan bersiap. 4. Membandingkan istri dengan orang lain/ wanita lain. 5. Kurang disiplin dalam mengontrol keramahan dan kebiasaan-kebiasaan buruk. 6. Gagal memuji hal-hal yang kecil yang baik dari istri. 7. Mengoreksi istri didepan umum. 8. Menolak pendapat istri. 9. Mendisiplin anak dengan marah.
10. Tidak bersedia minta maaf.

Istri yang mendukung

1. istri yang tunduk pada otoritas suami (Efesus 5:22)

2. istri yang menghormati ( Efesus 5 :33)

3. istri yang mendukung dan menolong suaminya.

Hal-hal yang dapat merusak pernikahan(suami):

1. Tidak menghargai suami sebagai laki-laki.
2. Tidak menerima suami sebagai pemimpin rohani.
3. Gagal mengoreksi suami dengan kasih.
4. Gagal mengembangkan kecantikan batiniah.
5. Gagal menunjukan rasa syukur kepada suami.
6. Menolak perlindungan suami.
7. Bereaksi atas kebutuhan suami untuk “bersaat- teduh.” (hubungan intim).

 

KRISTUS ADALAH PUSAT KEHIDUPAN

Oleh :Dra. Ria Pasaribu M.Div

Ayat Pokok: Surat Filipi SURAT PAULUS KEPADA JEMAAT FILIPI

Introduksi:

1. Dari seluruh surat Rasul Paulus kepada Jemaat, Filipi merupakan surat yang sangat pribadi dan hangat adanya. Kecintaan Paulus kepada Jemaat terekspersi dengan indah dan mendalam [AD 49 & 52].

2. Kata kunci yang seringkali diuraikan dalam tulisannya dari Penjara: “Sukacita” [chara {khar-ah’}] (1:3-4, 18, 25, 2:1-2, 16-18; 3:1; 4:1, 4), sehingga banyak orang mengatakan: surat Filipi adalah: Himne sukacita Paulus.

3. Kata kunci lain yang cukup dominan dipakai adalah : “Dalam Kristus” (2:1; 3:1; 10; 4:1: 10, 13).

Dalam Eksposisi ini kita akan bagi dalam 4 bagian, sbb:

Pasal 1. Kristus adalah hidup kita

Pasal 2. Kristus adalah teladan kita

Pasal 3. Kristus adalah tujuan kita

Pasal 4. Kristus adalah kelengkapan bagi orang kristen KRISTUS ADALAH HIDUP KITA (1:1-30)

I. PENULIS

1. Penulis surat yang indah ini, a. memperkenalkan dirinya sebagai Paulus b. seseorang yang masa lampaunya adalah penindas pengikut Kristus (persecutor, Kis 8:1-3, 1 Tim 1:13) c. namun sekarang ditindas (persecuted, Fil 1:12-14; Kis 28:30) [AD 60 & 62]

2. Penulis ditemani oieh Timotius,

a. bersama Paulus dalam perjalanan misi kedua (Kis 16:1-3)

b. seorang muda, yang membaktikan diri melayani Paulus, dan dikasihi Paulus sebagai anaknya (Fil 2:9-22)

3. Bersama mereka menyatakan diri sebagai “hamba” [doulos {doo’-los} | surat kepada jemaat Filipi & Roma, selain itu adalah Rasul]…

a. titel “hamba” ini mengandung unsur: ketergantungan, ketaatan, dan menyadari diri dimiliki oleh (ownership).

b. digunakan dalam hubungannya dengan Yesus Kristus: – adalah kata yang diikuti dengan harga diri yang nyata/real dignity – pengabdian yang mendalam kepada Tuhan (Fil 2:5)

II. A. PENERIMA SURAT PAULUS

1. diidentifikasikan sebagai “Orang-orang kudus dalam Kristus Yesus”

a. titel “kudus” adalah panggilan yang umum bagi pengikut Kristus dalam Perjanjian Baru. Ide dasar dari titel ini adalah “dipisahkan”/separation, untuk tujuan pengabdian/persembahan (Keluaran 19:6).

b. Kudus “didalam Kristus”, di dalam Dia kita dipisahkan. Dan hanya dengan berada di dalam Dia dan mengalami pengampunan dosa-dosa melalui darah-Nya kita dipanggil menjadi orang-orang kudus (cf. Wah 1:5-6; 5:9-10).

c. Adalah hal yang menarik untuk memperhatian kata yang kontras antara “hamba-hamba” dan “Orang-orang Kudus”. Melalui titel tersebut, Paulus dengan segera merendahkan dirinya dan meninggikan mereka, yang kepadanya ia menulis. Paulus mempraktekkan hal yang ditulisnya kemudian tentang kerendahan hati (Fil 2:3). [Education & Ethics]

2. Secara khusus, surat ini adalah bagi Orang-orang kudus di Filipi

a. Jemaat di Filipi, permulaan jemaat terdapat pada Kis 16:9-15. Di mana Paulus mendapat panggilan melalui penglihatan, dimulai dengan pertobatan Lydia.

b. Permulaan pertumbuhan terdapat dalam Kis 16:16-40, melalui pertobatan seorang kepala penjara dan keluarganya.

c. Melalui persekutuan di rumah Lydia.

d. Melalui kedatangan Lukas setelah Paulus tiba.

3. Karakteristik jemaat Filipi

a. Umumnya adalah orang Yunani (terlihat melalui ketadaan sinagoge di sana).

b. Umumnya wanita (terlihat melalui pertemuan di rumah Lydia dan referensi di 4:2).

c. Sangat mendukung dalam pekabaran Injil (Fil 4:15-16).

d. Menyediakan kebutuhan orang-orang kudus di wilayah yang lain (2 Kor 8:1-5).

e. Memperhatikan Paulus saat dalam keadaan tertekan (Fil 4:10,14).

II. B. JUGA DITULISKAN KEPADA “PARA PENILlK JEMAAT DAN DIAKEN” Melalui ayat ini kita melihat Organisasi gereja lokal yang Allah kehendaki

a. dibangun oleh jemaat

b. dikoordinir oleh Penilik Jemaat, (oversees: yang menjagai dan memelihara kerohanian Jemaat; Presbyters/Pastors (cf. Kis 20:17, 28; 1 Pet 5:1-2, memberikan makan Jemaat yang dilayani). Menurut Perjanjian Baru, mereka dipilih dengan syarat-syarat yang terdapat dalam 1 Tim 3:8-13; 1:15-19). Selalu ada kemajemukan di dalam jemaat (cf. Kis 14:23; 20:17; Fil 1:1).

c. dibantu oleh para diaken [diakonos {dee-ak’-on-os}], titel yang dipakai: “hamba” atau “pelayan”, dipiiih juga dengan beberapa persyaratan (1 Tim 3:8-13), yang berperan untuk memenuhi kebutuhan jemaat, dibawah koordinasi dari Penilik. Kesimpulan: Jemaat Filipi adalah Jemaat yang dibangun dengan organisasi yang baik yang mendemonstrasikan kasih dan mendukung pelayanan Paulus.

III. SALAM

a. Kasih Karunia [charis {khar’-ece}], salam yang umum dipakai orang Yunani, yang artinya mengharapkan berkat/kasih atas mereka, bukan karena mereka layak.

b. Damai sejahtera [shalom {shaw-lome’}], salam yang umum dipakai di Yunani, hasil dari menerima kasih karunia.

c. Dari Allah Bapa kita dan dari Tuhan Yesus Kristus, sumber dari kasih karunia dan damai sejahtera yang Paulus rindukan dialami oleh Jemaat. Di mana seseorang menerima hal-hal di atas dari Allah melalui Kristus Yesus, Anak-Nya, seseorang akan benar memiliki: · Damai dengan Allah (Rom 5:1) · Damai dengan manusia (Ams 16:7) · Damai dengan diri sendiri (Fil 4:6-7)

IV. UCAPAN SYUKUR ATAS PERSEKUTUAN (1:3-5)

a. Memori akan persekutuan mereka adalah sumber sukacita (ay.3, setiap kali aku mengingat kamu), sukacita yang tetap, sehingga setiap kali ia berdoa ia mengingat mereka, yang dilayaninya (Kol 1:3; 1 Tes 1:2)

b. Memori Sukacita tsb adalah hasil dari sharing mereka bersama dalam berita Injil; sejak hari pertama (Lydia bertobat, Kis 16:15); sampai sekarang ini (termasuk memberi dan menerima, termasuk bagi Tesalonika (Fil 4:15-16), dan sekarang saat Paulus ada di Roma menerima pemberian yang disampaikan oleh Epafroditus, 4:18).

c. Hal ini menggambarkan berkat dari memori yang menyenangkan dan persekutuan yang menciptakan mereka. – Berkat untuk Paulus disaat-saat ia sedang dalam kesulitan (dipenjara). Sekalipun dipenjara Paulus dapat berdoa dengan sukacita. Seperti ada pepatah: “God gave us memory so that we might have roses in December”. – Namun memori dapat menjadi kutukan daripada berkat, jika kita mengunakan hidup dalam dosa dan mengalami masalah dengan sekitar kita. Seperti seseorang mengatakan: “Most People live the first half of their life making the second half of their life miserable” . Jika kita ingin memori yang menjadi berkat bagi kita, kita harus menjadi berkat bagi orang lain. Persekutuan yang indah yang dimiliki Paulus dan jemaat diciptakan melalui, persekutuan dengan berita Injil Yesus Kristus. Dan juga bersama memnyebarkan Injil, langsung atau tidak langsung melalui mendukung mereka yang mengajar. Betapa menyenangkannya hal ini bagi Paulus yang sekalipun harus mengalami di penjara, dapat mengingat kembali kebelakang akan hubungannya dengan jemaat Paulus yang merupakan memori sukacita. d. Keyakinan Paulus akan kehendak Allah yang akan meneruskan pekerjaan-Nya di antara jemaat Filipi (6-7) – kepastian akan kesetiaan Allah sendiri dalam Firman: menolong orang percaya dalam menghadapi pencobaan (1 Kor 10:13), menyediakan pengampunan saat orang percaya jatuh dalam pencobaan (1 Yoh 1:9; 2:1). – Kepastian akan kesetiaan Jemaat Filipi, di mana jemaat bersedia berbagi saat Paulus dipenjara (2:29-30), bersedia untuk berbagi dalam mendukung Paulus, hal ini dikarenakan mereka berbagi bersama dalam anugerah Allah.

d. Mengingatkan orang percaya bahwa tidak pernah sendirian dalam bertumbuh sebagai orang kristen, karena: – Allah yang memulai pekerjaan yang baik dalam pertobatan orang percaya. termasuk di dalamnya: Providensia Allah yang memberikan kepada orang percaya kesempatan untuk mendengarkan Injil (Tit 2:11), dan Regenerasi Allah, ketika orang percaya meresponi Injil (Tit 3:4-7) – Dalam melanjutkan iman percaya, orang percaya harus mengerjakan keselamatan (work out your salvation), Allah juga disitu (God work in) bersama orang percaya, maka orang percaya harus bekerja sama dengan Allah (2:12); tetapi Allah yang bekerja di dalam orang percaya (2:13). Dan Ia akan menyediakan pertolongan yang kita butuhkan (4:13) – Pertolongan Allah akan selalu beserta dengan kita sampai hari kedatangan Tuhan Yesus Kristus (2 Tes 1:10; 11-12). – Ia yang akan menyempurnakan (ay 6; Ibr 1:12-14). f. Kerinduan Paulus kepada Jemaat Fiiipi, Allah menjadi saksi dan kasih mesra Yesus Kristus.

V. DOA PAULUS BAGI JEMAAT FILIPI

1. Semoga kasihmu makin melimpah, kasih mereka sudah amat nyata kepada Paulus (4:15-16); Jemaat yang membutuhkan di Yerusalem (2 Kor 8:1-5); namun prinsip di sini, kasih harus selalu bertumbuh! Dalam mengembangkan karakter seperti Kristus (2 Pet 1: 5-8).

2. Dalam pengetahuan yang benar (prinsip moral yang benar) dan dalam segala macam pengertian (memiliki hikmat untuk melakukan prinsip moral tersebut, Yak 1:5; Ams 2:1-9).

3. Agar mereka dapat memilih yang baik/Execellent, supaya suci dan tak bercacat menjelang hari Kristus; Penuh dengan buah kebenaran yang dikerjakan oleh Yesus Kristus (1 Yoh 3:16; Fil 4:13) Untuk memuliakan dan memuji Allah (Mat 5:16; 1 Pet 2:12).

VI. KESAKSlAN PAULUS DALAM PENJARA (12-18)

1. Filipi Tahu keadaan Paulus (4:14).

2. Filipi tidak usah kuatir berlebihan, karena: Pemenjaran itu akibat dari mengabarkan “Kabar Baik” dan bukan kabar buruk. Menyebabkan kemajuan Injil.

3. Kabar Baik masuk ke dalam penjara. Menjadi contoh bagi orang lain untuk melakukan penyebaran Injil (14); sekalipun ada yang bermotivasi lain (15-18), namun Paulus tetap bersukacita (18).

VII. MEMULIAKAN KRISTUS DALAM HIDUP ATAU MATI (19-26)

1. Memuliakan Kristus dalam kehidupan, melalui sikapnya kepada (21), fokus hidupnya (3:7-8); melayani Kristus (Gal 2:20, 22). Selama hidup (25-26).

2. Memuliakan Kristus dalam kematian (21, 23). 3. Bagaimana Paulus bersedia untuk hal di atas? (2 Tim 4:6-8), melalui kesetiaannya, bahkan sampai mati (menurut tradisi Paulus mati martir dalam penguasaan kaisar Nero).

VII. NASIHAT PAULUS BAGI JEMAAT (27-30)

1. Tetap berjuang, berpadanan dengan Injil Kristus.

2. Tiada digentarkan oleh pihak lawan.

3. Rela menderita = kasih karunia.

This entry was posted in Khotbah, kumpulan khotbah and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s